
Malam yang dinanti-nanti itu telah tiba. Pesta yang di rencanakan oleh Team Perusahaan memilih Aula besar Miller yang memang dapat menampung Tamu yang cukup banyak sampai ratusan. Desain yang begitu mewah mengusung Tema Kerajaan ini benar-benar memukau mata siapa saja.
Karpet merah terbentang disepanjang jalan menuju pintu utama Gedung dimana sudah ada para pengawal berstelan jas lengan berdiri tegap membatasi para Media yang berjejer di tepi Karpet memotret Tamu-Tamu istimewa yang datang malam ini.
Berbagai Tamu istimewa datang dari berbagai penjuru Dunia. Apalagi, kawasan bisnis Perusahaan Miller sudah mencakup kanca Internasional yang begitu bergensi.
Tak hayal Mr Jaico yang merupakan seorang Milyarder di Swiss dan Mrs Ricardo juga hadir membuat suasana semakin berkelas.
"Woww! Konsep pesta kali ini sangat mewah, bahkan Gedung ini di pakai khusus."
"Lihat lampunya! Ini berkilau seperti berlian."
Mereka semua mengagumi setiap dekorasi yang ada. Semuanya benar-benar memanjakan mata dengan Lampu Tulip langka yang di pasang di setiap sudut Gedung dan ada Kristal berbentuk untaian bulir-bulir air yang bergerak otomatis di atas langit-langit memberikan kesan yang segar.
"Aku dengar akan ada hal yang spesial selain perayaan Perusahaan besar ini."
"Yah. Ntah apa yang akan mereka berikan lagi pada kita?!"
Mendengar percakapan para Tamu yang masuk. Para anggota Axton yang tengah ada di berbagai sudut Gedung itu saling mengkode agar tetap memantau apa ada yang aneh atau tidak.
"Kenapa Tuan Belum datang?"
"Ntahlah. Tapi, Nyonya Verena dan Tuan Martinez sudah ada di Gerbang depan." jawab salah satu anggota berdiri didekat Tirai bak patung hidup memantau semuanya.
Suara riuh di depan sana mulai terdengar menandakan jika sosok yang mereka tunggu memang sudah hadir.
"Itu Nyonya Verena!!"
"Tuaan Martiiin!!"
Mereka menyapa Nyonya Verena yang keluar dari Mobil dengan Gaun Merah yang dikombinasikan dengan warna hitam bergradasi. ia tampil selalu glamor tersenyum ke arah Kamera.
Namun. Kali ini mereka terdiam melihat Martinez turun dari Mobil dengan kepala di perban menggandeng seorang wanita tentu tak asing lagi di dunia Publik.
"Benar. Vidio itu ternyata benar."
"Tuan! kenapa bisa Vidio itu beredar dan apa motif pemukulan yang anda alami?"
"Tahun sebelumnya Miss Barbie dan anda memang ingin bertunangan. Lalu kenapa kalian menghilang beberapa bulan belakangan ini?"
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Miss Barbie yang tengah menggandeng lengan Martinez terbungkam. Bulu mata lentik dengan kecantikan yang terpancar indah itu tak bisa berkutik.
"Nyonya! Apa yang terjadi?"
"Kenapa kalian terlihat menutupinya?"
Nyonya Verena diam melirik ke arah Martinez yang tetap menatap mereka tegas. Ia mengusap jemari Miss Barbie yang dingin.
"Aku rasa kalian tahu peraturan sebelumnya. Bukan?" tanya Martinez membuat mereka pucat. Memang aturan dari Perusahaan mengatakan jika tak diperbolehkan bertanya mengenai urusan pribadi.
"A.. Maksud kami.."
"Sudahlah. Malam ini adalah malam puncak Perusahaan. Aku tak ingin merusaknya." ujar Martinez tetap angkuh membawa Miss Barbie berjalan mengikuti Nyonya Verena.
Ia membiarkan kilatan Kamera itu menangkap gambar mereka karna tak perlu di tutupi.
"Martin! Apa tak masalah membawaku kesini?"
"Sutt! Memangnya kenapa? Kau istriku. Siapa yang mau menegurnya?" bisik Martinez mengedipkan mata nakalnya membuat Miss Barbie bersemu. Belum menikah tapi sudah mengaku-ngaku, itulah Martinez.
Ketika sampai di dalam tepatnya di lantai dasar. Mr Jaico dan para petinggi lainnya mulai berbaur dengan Nyonya Verena yang menyambut mereka hangat.
"Nyonya Verena! Lama tidak bertemu."
"Mrs Ricardo. Kau terlihat semakin cantik." puji Nyonya Verena memeluk Teman lamanya. Wanita dengan mata menonjol dan tubuh agak berisi ini terlihat Humble.
Sedangkan Martinez. Ia tengah memucat ditempat kala Mantan-mantan kekasihnya dulu nyatanya hadir mengerumuninya dengan sok akrab membuat Miss Barbie segera melepas gandengannya tadi.
"Sayang! Ada apa dengan kepalamu?"
"Siapa yang berani memukulimu? memang sangat tak termaafkan."
Para wanita berpakaian minim ini sampai mendesak Miss Barbie agar mundur. Mereka tampak berebut memperhatikan Martinez yang gelagapan melihat raut wajah marah Miss Barbie.
"Martinez. Dulu saat bersamaku kau tak pernah ku biarkan terluka."
"A.. Aku..." Martinez menepis tangan-tangan nakal yang mencoba membelai dadanya. Ia berusaha keluar dari himpitan gunung-gunung besar sampai satu kalimat berbisik di telinganya.
"Kau lupa malam itu. Hm?"
Degg..
Miss Barbie mendengar semua itu. Ia menatap kecewa Martinez lalu melangkah pergi ke arah tempat penyajian Minum di sampingnya.
"S..Sayang!"
Miss Barbie hanya mengabaikannya. Ia memilih diam meraih gelas anggur yang di sodorkan untuknya.
"Hey! Jangan marah. Please."
"Hm."
Miss Barbie menatap beberapa CEO perusahaan lain yang juga mencuri pandang padanya. Tentu hal itu membuat Martinez geram menghalangi tatapan mereka dengan berdiri di depan Miss Barbie.
"Awaas!"
"Tidak"
"Menyingkirlah. Kau bisa pergi kemanapun kau suka." kesal Miss Barbie ingin melangkah pergi tapi Martinez membawanya ke dekat sudut yang agak sepi.
"Lepaas!!"
"Sayang! Dengarkan aku." pinta Martinez menangkup pipi Miss Barbie dengan tangannya.
"Itu masa lalu. Masa depanku itu kau."
"Tapi.. Tapi tetap saja. Kau pasti sering melakukan itu-kan?" ketus Miss Barbie menepis tangan Martinez yang agak heran. Kenapa respon Miss Barbie seakan-akan hal ini Tabu baginya?
"A.. Aku selalu pakai pengaman."
"Kauuu.. Aku membencimu!!" geram Miss Barbie ingin pergi tapi Martinez membelit pinggangnya.
"Mereka menatap kita. Jangan terlalu mengundang perhatian. Sayang!" bisik Martinez membuat Miss Barbie diam membuang wajah jengkelnya ke sembarang arah.
"Maaf. Tapi, aku tak lagi melakukannya. Sumpah Sayang, sudah lama aku tak melakukan itu. Kau..aku bisa menghukumku. Atau bisa menghukum ini."
Menurunkan tangan Miss Barbie ke bagian bawahnya sampai gelas yang tengah dipegang di tangan satunya gemetar dengan wajah bersemu panas.
"K..kau.." menyentak tangannya cepat lalu berbalik dengan jantung berdetak sangat kencang. Baru kali ini ia memeggang senjata seorang pria walau belum bangkit sepenuhnya.
Melihat respon Miss Barbie yang sangat malu. Martinez jadi penasaran untuk menduga sesuatu.
"Sayang!"
"A..apa..?"
"Apa kau.." Martinez mendekatkan bibirnya ke telinga Miss Barbie yang meneggang hebat.
"Belum pernah melakukannya?"
"A.. Aku.."
Wajahnya benar-benar merah tertunduk malu membuat Martinez menduga hal yang membuat ia sangat syok jika iya.
"Sayang! Kau.."
"Ehmm." Miss Barbie menggeleng meremas gelas di tangannya membuat Martinez membalikan tubuhnya dengan mata menunggu.
"B..benar kau.. Kau belum.."
"B..Belum! Kau tahu sendiri teman baikku hanya Kellen. Dia.. Dia itu sangat m..menjaga diri jadi.."
"Aaaaaaaaa!!!!!"
Teriak Martinez sejadi-jadinya membuat seisi Gedung terkejut melihat ke arahnya. Mata mereka terpaku pada seorang pria yang tampak berjingkrak tak perduli citranya yang angkuh.
"Aku.. Aku. Kauu.. Ehhmmm.. Aku sangat beruntung." gemas Martinez memeluk Miss Barbie melayangkan kecupan ke pipi merah wanita itu sampai lara wanita yang tadi mengerumuni Martinez begitu geram.
"M..Martin!"
"Maafkan aku. Sayang! kau yang tak beruntung mendapatkan aku." sesal Martinez pada dirinya sendiri. Seandainya ia seperti Axton, pasti bisa seimbang dengan Kellen.
Mendengar itu Miss Barbie hanya tersenyum pelit. Mau bagaimanapun ia menerima bagaimana masa lalu Martinez asalkan mau merubahnya.
Setelah beberapa lama. Pekikan para gadis mulai mencuat dengan gemercik Kamera heboh akan kedatangan Tamu yang lain di depan sana.
Martinez dan Miss Barbie sudah menduga kalau kedatangan Pasutri itu akan membuat guncangan di dalam Gedung.
"M..Mereka siapa?"
"Sangat Tampan!"
"Bukankah itu Dokter Kellen?"
Bisik-bisik mereka kala 3 sosok yang di tunggu itu telah tiba. Mereka begitu tak percaya jika disini ada lagi sosok Tampan nan berkharisma hadir membawa si kecil yang memakai Jas sama seperti Daddynya yang begitu mempesona.
Kellen memakai Gaun hitam bergradasi berlian. di pinggirnya menjuntai menutupi kaki jenjang indahnya dengan bagian Rompi yang menutupi area dada. Terlihat sangat mewah dan elegan khas wanita Terhormat.
Senyumnya mekar menyapa semua orang dengan aura kecantikan yang meruak kemana-mana. Rambutnya yang di gulung ke atas dengan Make-up Natural itu membuatnya tampak lebih muda.
Berbeda dengan Kellen yang sumringah. Axton dan Baby San justru mendinginkan suasana. Pesona mereka memang sangat tak terbantahkan bahkan para wanita disini termenggu kosong akan manik elang dan perawakan tegas Spanyol itu.
"Berhentilah tersenyum." geram Axton meremas pinggang Kellen yang ia belit dengan posesif. Sangat menyebalkan kala istrinya jadi objek buas para lelaki disini.
"Ax! Kita bukan di kamar, ini ramai dan acara penting." jawab Kellen seraya menyapa Media yang bak kesurupan memotret mereka.
Axton dan Baby San sangat risih. Ia memilih hanya menunjukan wajah datarnya tapi itulah nilai tertinggi dari sosok keduanya.
"Mereka siapa?"
"Ntahlah. Tapi itu Dewa milikku."
Desis mereka mengiba pada Axton yang hanya menatap lurus kedepan dimana Nyonya Verena tersenyum lebar.
"Kalian datang sangat mengguncang."
"Mom! Aku rasa itu terlalu berlebihan." malu Kellen tetapi memang iya. Axton benar-benar mengibarkan aura membunuh kala para pengusaha-pengusaha muda disini melirik nakal istrinya.
"Verena! Kau kenal mereka? Aku juga ingin mengenalnya."
"Ouh. Nanti akan ada waktunya." jawab Nyonya Verena pada Mrs Ricardo yang cemberut penasaran ia sangat gemas melihat Baby San di gembul tampan ini.
"Apa dia anakmu?"
"Apa tak mirip?" tanya Kellen bercanda. Tetapi, hal itu bisa mencairkan suasana yang tadi sunyi.
"Dia mirip lelaki tampan di sampingmu. Apa dia suamimu?"
"Yah. Maaf jika agak aneh." lirih Kellen takut Axton mengamuk padanya.
Saat suasana terfokus pada mereka. Nyonya Verena memilih untuk membuat Axton yang tak terbiasa dengan Keramaian ini bisa berbaur dengan yang lain.
"Baby San! Ayo Grandma ajak bermain. Hm?"
"Iya. Aku akan menggendongnya." semangat Mrs Ricardo mengambil alih Baby San yang saling pandang dengan Axton.
Keduanya seakan berkomunikasi dengan Axton yang menekan agar menurut saja. Alhasil Baby San pasrah kembali berdrama sepolos malaikat.
"Kami pergi dulu. Kalian bicaralah dengan Tamu-tamu disini."
"Iya. Mom!" jawab Kellen memandangi Nyonya Verena dan teman lamanya itu membawa Baby San ke tempat Nyonya-Nyonya Sosialita di samping sana.
Melihat itu Kellen segera ingin pergi ke area Tamu yang terlihat menyapanya dengan isyarat dari kejahuan. Tetapi, Axton mencengkalnya.
"Ax!"
"Disini saja."
"Jangan mulai lagi." tekan Kellen melotot tajam membuat Axton menyimpan kekesalan ekstra. Kalau tahu begini lebih baik ia hanya hadir lewat Vidio saja.
"Kau pergilah berbaur dengan yang lain. Ingat kau mengemban tanggung jawab KELUARGA. Paham?"
"Hm."
Gumam Axton dengan tak rela melepas pinggang ramping ternyaman Kellen yang segera bergabung dengan yang lain.
Sementara dirinya. Cih, siapa yang akan berani mendekati Axton yang memasang wajah sebeku Kutub utara itu.
"Hey!"
Martinez datang mendekat membuat Axton hanya diam sangat tak perduli.
"Axton! ayolah, kita Berpesta." ajak Martinez tetapi Axton memilih untuk pergi ke Kursi di area sudut yang cukup menyembunyikan pesonanya.
"Axton! Disini kesempatanmu untuk mencari Rekan kerja."
"Aku tak butuh." santai Axton masih memantau Kellen yang terlihat tertawa kecil begitu terlihat menggemaskan bagi para pria disini.
"Ayolah. Jangan terlalu kaku, kita bersenang-senang."
"Awas!" geram Axton menendang betis Martinez dengan ujung tumit sepatunya membuat pria itu segers mengambil aman.
Suara MC acara ini mulai berkumandang mempersilahkan semuanya untuk menikmati Pesta. Sambutan pertama akan di mulai oleh Nyonya Verena yang di persilahkan naik ke atas Podium megah ini.
"Dipersilahkan kepada Nyonya Verena selaku Pimpinan besar di Perusahaan." Ucapnya penuh hormat.
Nyonya Verena berdiri tepat di kedua pengeras suara yang ada di hadapannya. Tatapan sangat bersahabat dari tahun-tahun sebelumnya.
"Selamat malam semuanya!!!"
"Seperti biasa Perusahaan Miller yang bergerak dalam bidang Kosmetik dan masih banyak lagi cabang besar lainnya, bisa meraih puncak setiap Tahunnya. Saya selaku pimpinan sangat bangga akan kinerja semua Rekan dan Karyawan yang setia sampai saat ini. Tapi, terlepas dari semua itu saya memohon maaf jika memang ada hal yang membuat Kalian semua merasa kesal dengan perlakuan saya selama ini."
"Mom!" gumam Martinez menatap lembut Nyonya Verena yang tampak sangat berubah.
"Saya berharap. Kalian bisa berjalan bersama kemajuan Perusahaan, karna sikap tegas saya hanya ingin kalian jaya. Hanya itu."
Mereka bertepuk tangan akan ucapan tulus Nyonya Verena yang menatap ke arah Axton dan Kellen bergantian.
"Disini. Kalian juga akan di kejutkan oleh satu hal yang selama ini saya sembunyikan."
"Sembunyikan?" gumam mereka saling pandang.
"Yah. Hal yang seharusnya sudah pantas di suarakan Malam ini juga." sambung Nyonya Verena menarik nafas dalam. Mungkin ini saatnya ia Pensiun dari masa jayanya.
"Karna, seseorang yang..."
"Berhentilah membuaaal!!!!"
Suara keras yang menghentikan kalimat Nyonya Verena. Semua mata tertuju pada seorang pria pria di depan pintu utama yang tampak datang beramai-ramai.
Para anggota Axton yang ingin menyergap diluar tadi segera berhenti karna Castor dan Nicky tahu ini siapa.
"Bukannya itu Tuan Besar Norenel?"
"Itu ayahnya Miss Barbie."
"Tuan Hancock juga?"
Mereka tercengang melihat orang-orang penting itu datang kesini.
Miss Barbie memucat disamping Kellen yang tahu jika ini bukanlah hal yang baik.
Tatapan Tuan Norenel langsung menajam pada Martinez yang diam tapi ia tak percaya jika Pria ini membawa rombongan yang tangguh.
"Tuan! Apa anda juga bagian dari Perusahaan Miller?" tanya salah satu Media yang memberanikan diri.
Mendengar itu Tuan Norenel tertawa lebar dengan tatapan jijiknya melihat Nyonya Verena di atas podium sana.
"Siapa yang akan berminat menjadi Rekan Perusahaan sampah ini?"
"Mereka menculik calon istri putraku!!" timpal Tuan Hancock memberi seringaian membuat mereka semua saling pandang.
Mereka baru sadar jika Miss Barbie adalah calon istri dari Tuan Muda Hancock yang undangannya baru tersebar kemaren.
"Kenapa bisa begitu?"
"Dia bahkan datang dengan Tuan Muda Miller."
Miss Barbie meremas pinggir Gaunnya tak lagi taha dengan ucapan Ayahnya. Semua ini memojokkan Keluarga Martinez.
"Daddy!!"
"Putriku yang nakal." desis Tuan Norenel geram melihat Miss Barbie yang melangkah mendekatinya. Spontan Martinez juga ikut mendekat membuat suasana begitu tegang.
"Sayang!"
"Sudah. Ini sudah cukup." gumam Miss Barbie berdiri di hadapan ayahnya dengan tatapan yang begitu kecewa.
"Kenapa Daddy melakukan ini. Ha???"
"Kau berani meninggikan suaramu." geram Tuan Norenel membuat Martinez segera menarik lengan Miss Barbie hingga berdiri di belakangnya.
"M..Martin."
"Aku saja." jawab Martinez membuat Miss Barbie beralih mencengkram pinggiran Jasnya. Tatapan takut itu tampak jelas bersembunyi di balik bahu Martinez yang tampak serius dan tak gentar.
"Aku mencintai Putrimu!"
Bughhhh..
"Martiiin!" jerit Miss Barbie hebat kala tinjuan Tuan Norenel menghantam wajahnya sampai tersungkur ke lantai.
Mereka semua berdiri bak patung dengan wajah pucat pasih menyaksikan kejadian dramatis ini.
Nyonya Verena yang ingin mendekat tiba-tiba terhenti kala melihat pandangan dingin Axton menyuruhnya untuk tetap diam.
"SETELAH KAU MEMBUAT PUTRIKU BAGAIKAN SAMPAH. DAN SEKARANG KAU MENGATAKAN HAL BUSUK INI. HA??"
"D..Dad. Hiks! Sudah." isak Miss Barbie memeggang lengan Tuan Norenel yang tampak berapi-api. Ia begitu dendam dan benci akan perbuatan tak mengenakan dari Keluarga besar ini.
Mereka tak ada yang berkutik. Martinez yang tampak mimisan darah hanya diam memang memaklumi amarah Tuan Norenel.
"Dimana otak kalian ingin merencanakan permainan busuk itu. putriku bukan MAINAN yang bisa kau otak-atik sesukamu. Aku membesarkannya dengan NYAWAKU.. Kau tahu itu." geram Tuan Norenel dengan mata merah menahan semua luapan amarah dari batinnya selama ini.
"M..Maaf. Maafkan aku."
"Aku tak butuh kalimat sampah itu." desis Tuan Norenel benar-benar kecewa. Ia beralih menatap Nyonya Verena yang menerima balasan akan perbuatannya itu.
"Dan kau!! Aku pikir kau ini sama saja seperti anakmu, sangat licik."
"Aku minta maaf atas semua itu." ucap Nyonya Verena mengakuinya. Alhasil mereka hanya bisa jadi penonton peperangan antara dua Keluarga besar ini.
"Untuk apa? Jangan pernah menganggu kehidupan putriku. Ayo pergi."
"Daddy. Hiks!" isak Miss Barbie di tarik paksa oleh Tuan Norenel untuk keluar dari Gedung ini. Tapi, Martinez segera bangkit menghalangi jalannya.
"Tunggu!! Aku..aku mohon, jangan bawa Barbie! Aku..aku minta maaf dan berikan aku satu kesempatan saja."
"T..tidak. Martin." lirih Miss Barbie kala Martinez didekati oleh anak buah Tuan Norenel yang ingin membunuhnya disini.
Melihat kondisi yang mulai tak terkendali. Kellen tak bisa diam saja duduk melihat semua ini.
"Kau memang sangat menjijikan."
"Aku akan melakukan apapun asalkan kau merestui hubungan kami." ucap Martinez tak bisa merelakan Miss Barbie yang sudah menangis melihat semua ini.
"Kau yakin?"
"Yah. Aku bersumpah akan melakukannya." jawab Martinez bersungguh-sungguh. Tentu hal itu membuat Tuan besar Norenel dan Tuan besar Hancock saling pandang licik.
"Kau yakin anak muda?"
"Yah. Katakan!"
"Jilat sepatuku!"
Daaarr...
Kali ini mereka semua langsung terkena serangan jantung terutama para Tamu yang sudah tak mampu berdiri.
Kehormatan Keluarga Miller benar-benar di permalukan sampai di titik terendah jika Martinez melakukan hal seperti itu.
"Ayo!! Buktikan tekadmu."
"Tekad apa yang kau maksud. Ha??" geram Kellen naik darah berjalan mendekat ke arah Martinez yang diam di tempat.
"Tekad apa? Pantaskah seorang ayah mengatakan hal ini? PANTAS??"
"Kau siapa?" desis Tuan Hancock menatap remeh Kellen yang hanya Dokter kecantikan. Cih, sangat berani menentangnya.
"Aku tahu, kesalahan yang di perbuat oleh Martinez itu memang tak termaafkan. Kau sangat menyayangi putrimu dan menjunjung tinggi kehormatannya. Aku mengerti."
"Kau.."
"Tapi, bukan berarti semua itu menjadi alasan yang tepat bagimu untuk menyiksa Putrimu sendiri."
"Kau bicara omong kosong." desis Tuan Norenel membuat Kellen tersenyum sinis dan mengejek.
"Wow! Apa benar omong kosong? Apa kau tak melihat air mata Putrimu. Tuan? Kau tak melihat perjuangan sampah yang kau sebut ini mendapatkan hati Putrimu? Apa kau buta?"
"JAGA BICARAMU!!" bentak Tuan Hancock mengangkat tangannya untuk menampar Kellen yang tak sempat mengelak.
Namun. Sekilat kemudian ada tangan kekar seseorang yang sudah menangkap lengan Tuan Hancock dengan aura membunuh sudah mencekik nafas mereka semua.
Tuan Noronel terdiam melihat sosok ini terutama para bawahan mereka yang merasa jika aura pria ini tak sama dengan Martinez.
"K..kau... L..lepass!!"! Desis Tuan Hancock kala tangannya terasa mau patah di genggam kuat oleh jemari kasar Axton yang tampak menatap mereka dingin menikam.
" Ka..kau ingin mematahkan tanganku. Ha???"
"Aku saja .. Tak pernah MENGANGKAT tanganku PADANYA." desis Axton segera memelintirnya kuat sampai lengan pria paruh baya itu terbalik menyakitkan.
Jeritannya mencuat hebat berlutut tepat di kaki Axton dengan tangan masih belum di lepas Raja kegelapan ini.
Melihat hal itu mereka semua menelan ludah kasar takut dan merinding. Kellen ikut cemas jika Axton kehilangan kendalinya.
"Ax! Lepaskan tangannya."
Axton hanya diam. Seumur-umur dan selama ia jatuh cinta pada wanita ini, satu suara tinggi saja tak pernah ia lepaskan sama sekali. Dan sekarang, berani-beraninya mengangkat tangan didepan matanya.
"L...Lepasss!!!"
"Aku saja tak pernah membentaknya. Tapi. Kau..."
Axton menjeda ucapannya lalu dengan kilat kakinya menendang kerongkongan Tuan Hancock yang langsung muntah darah membuat Kellen syok apalagi yang lainnya.
"Axtoon!!"
"Kau bertanya dia siapa? Bukan." gumam Axton segera menarik pinggang Kellen merapat ke tubuhnya.
Tatapannya segera menyapu setiap mata bergetar ketakutan semua orang disini dan terlihat serius.
"Aku adalah PUTRA tunggal MILLER dan dia adalah ISTRIKU."
Spontan hal itu benar-benar mengejutkan bagi mereka semua bahkan, ada yang sampai terduduk merasa sangat terkejut.
"Kau..tidak.. Putra Miller itu pria ini." bantah Tuan Norenel menatap Martinez yang hanya bisa diam.
"Apa kau begitu berfikir nama Miller itu sebuah lelucon?"
"K..kau..."
"Aku diam bukan berarti aku menerimanya. Ingat kembali ucapanmu tadi." desis Axton membuat Tuan Norenel dan Tuan Hancock yang sudah terkulai lemas itu memucat di tempatnya. Bagaimana tidak?
Anggota Axton langsung keluar mengacungkan Pistol dan senjata tajam yang mematikan. Belum lagi ada laser yang membidik tepat di kepala mereka dengan pas akan meledak.
"K..kalian.."
"D..Daddy." gumam Miss Barbie gemetar. Ia tahu betul kalau Axton tak pernah bermain-main dengan ucapannya dan pasti akan terjadi.
Melihat para Tamu yang sudah tak sanggup disini. Castor dan Nicky yang tadi memantau segera memboyong mereka keluar terutama para Media yang gemetar tak sempat merekam.
"Pergilah cepat! Jangan main-main lagi." ucap Nicky menakut-nakuti mereka yang segera berlarian Keluar.
Hanya tinggal Tuan Jaico dan Mr Ricardo yang beralih ke dekat Nyonya Verena karna takut seraya mengendong Baby San.
Melihat keadaan tak stabil. Miss Barbie segera memohon agar bisa pergi dari sini.
"D..Dad. Ayo..ayo pergi, kita.."
"Barbie!" lirih Martinez menggeleng tapi ia takut. Takut jika terjadi sesuatu pada Daddynya.
Melihat sikap kekeh Tuan Norenel. Axton tak akan segan menunjukan bagaimana berkuasa dan rumor tentang Keluarga Miller itu akan terbukti.
"K..kau..kau tak bisa melakukanya."
"Kau sangat cerdas." puji Axton mengiring Kellen untuk menjauh. Melihat gelagat aneh Axton Martinez segera menarik Miss Barbie agar ikut menjaga jarak.
"A..Ax! Kau jangan aneh-aneh." gumam Kellen menggenggam tangan Axton yang membelai pipi mulusnya dengan tatapan sangat misterius.
"K..kau mau apa? Sayang!"
"Kau tak diperbolehkan melihat ini." bisik Axton menarik tubuh Kellen kepelukannya dengan wajah dibenamkan di dada bidang itu dan telinga Kellen di tutup kedua lengan Axton yang menyeringai.
"A..Ax!"
"Perlihatkan padanya. Dengan siapa mereka BERURUSAN." desis Axton dengan spontan membuat tembakan itu serempak melesat ke kepala para bawahan Tuan Norenel yang terkejut segera menghindar melihat semua orang-orangnya sudah berlumuran darah tanpa kepala.
Bahkan, darah itu sampai menjiprat ke dinding membuat Tuan Norenel dan Tuan Hancock memucat jatuh ke lantai bermandikan darah semua rekannya.
Melihat itu mereka semua langsung muntah lemas ke lantai. Ini benar-benar gila dan sangat mengerikan.
Tuan Jaico sampai membuang muka tak berani melihat hal sekejam ini. Apalagi Tuan Norenel dan Tuan Hancock yang sudah bak mayat hidup berada di tengah-tengah aliran sarah segar yang membanjiri tubuh mereka.
"A..Ax!" Kellen mendengar ada suara tembakan yang tak begitu nyaring karna di bekap Axton.
"Tetap begini."
"K..kenapa?" lirih Kellen mengadah menatap wajah tampan Axton penuh tanya. Dengan santai Axton menyatukan kening mereka dengan sudut bibir terangkat kecil.
"Lihat Baby!"
"A. Ha?"
"Dia sangat bahagia." desis Axton mengecup kilas bibir Kellen yang menyeringit melihat Baby San tersenyum lebar ke arah belakang Axton. Apa yang sebenarnya terjadi?
.....
Vote and Like Sayang..
TAMAT ya say..
Untuk besok sinopsis cerita baru ya🥰
Bab nya emang panjang🥲