My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Penculikan!



Keramaian di Bandara ini tak dapat dielakkan. berbagai jenis orang terlihat lalu-lalang dan menunggu jadwal penerbangan mereka yang akan di lakukan beberapa jam lagi.


Petugas keamanan juga semakin ketat menjaga di setiap sudut Bandara termasuk di dekat kursi tunggu dimana sudah di penuhi para penumpang nantinya.


Namun. Mereka terlihat saling pandang kala ada seorang wanita hamil yang tengah berbantahan dengan pria paruh baya yang terlihat membujuk dengan sangat tegas.


"Kita akan pergi dari Negara ini."


"Dad! Kenapa Daddy begini?" gumam Kellen tak mau dan terus ingin pulang. Ia tadi di bawa Tuan Benet keluar rumah dengan alasan ingin membeli peralatan bayi tetapi nyatanya, Tuan Benet membawanya ke Bandara pusat dan tiba-tiba saja para anggota Axton dan Nicky juga tak ada di rumah.


"Kellen! Ini demi keselamatanmu dan bayimu."


"Tapi.. Tapi aku.."


"Tak ada waktu lagi. Ayo!"


Tuan Benet menarik lengan Kellen yang tengah memakai Mantel ringan karna dia hanya memakai Daster Hamil tanpa lengan. Ia terlihat berusaha lepas karna masih kebingungan.


Salah satu petugas keamanan yang melihat itu segera mendekat karna mengantisipasi keadaan.


"Excuse me. Sir!"


Sapanya membuat Tuan Benet dan Kellen terhenti. Tampaknya mereka terlalu membuat masalah.


"Yah?"


"Is there any problem?"


Tanya pria itu mengatakan 'apa ada masalah?' Tuan Benet terdiam ingin menjawab tapi Kellen lebih dulu memotong mengatakan jika ia hanya takut penerbangan.


"Note. I'm just afraid of flights.


"Oh sorry! Then I'll excuse you." jawab pria itu meminta maaf telah menganggu dan pergi meninggalkan mereka.


Kellen menghela nafas lega memandangi Petugas Keamanan itu dan segera melepas cengkraman tangan Tuan Benet ke lengannya.


"Dad! Jelaskan padaku kenapa kau tiba-tiba begini?"


"Suamimu itu seorang MAFIA."


Degg..


Kellen terperanjat akan pernyataan Tuan Benet yang menekan kata-katanya dengan exspresi geram dan marah. Ia tak menyangka Kellen akan merahasiakan ini darinya.


"D..Daddy.."


"Mafia itu pekerjaan yang kotor dan ilegal. Kau bisa terkena bahaya besar bahkan, sekarang suamimu terlibat dalam pembunuhan di Negaranya. aku tak bisa membiarkan dia melukaimu." desis Tuan Benet ingin kembali menarik Kellen tetapi di tepis cepat oleh tangan lentik itu.


Tatapan mata Tuan Benet berujung nanar melihat Kellen yang tampak menggeleng.


"Kellen!"


"Dad! Daddy tahu dari mana?"


"Kenapa kau sangat keras kepala. Ha? Jika hukum Negara ini tahu status suamimu dan semua kasus yang dia lakukan maka kau akan DALAM BAHAYA."


"Itu tak benar. Dad!" bantah Kellen tampak berkaca-kaca. Ia tahu Axton memang pernah membunuh dan dia juga memiliki Kasus kriminal yang mengerikan tetapi dia tak pernah terlibat hukum di negaranya.


"Axton tak seperti yang Daddy pikirkan. Dia .. Dia.."


"CUKUP!!" bantah Tuan Benet terlihat tak lagi bisa di bantah dan kekeh akan ucapannya. Ia tadi sore bertemu dengan Peint dan pria itu mengungkap jati diri Axton bahkan bagaimana pria itu menyiksa seseorang, ia tak mau Kellen terlibat hal seperti ini.


"D..Dad!"


"Jika kau tak mau pergi, maka kau siap menyaksikan mayatku di sini."


Kellen terkejut mendengar itu. Air matanya turun merembes keluar menggeleng cepat akan ucapan serius sang ayah.


"D..Dady. Hiks!"


"Ini semua demi kau dan bayimu! Axton tak benar-benar mencintaimu." ucap Tuan Benet mengepalkan tangannya. Kellen menggeleng menggenggam tangan Tuan Benet dengan rasa sesak berkumpul di dadanya.


"D..Dad! A..Axton pria yang baik, dia.. Dia bahkan rela melakukan apapun demi aku. Dan.."


"Itu hanya untuk mempermainkan-mu. Sayang! Daddy tak mau kau di tempatkan dalam bahaya besar, Daddy tak mau kau terluka." bantah Tuan Benet memeggang pipi Kellen yang basah.


Perasaan Kellen sekarang tengah berkecamuk. Ia tak bisa menjelaskan bagaimana Axton pada Tuan Benet padahal pria itulah yang sudah membuatnya hidup sampai sekarang.


"D..Dad!"


"Kita pergi sekarang!"


"Tapi.."


Tuan Benet menekan pandanganya membuat Kellen menunduk. Rasa takut membantah karna ancaman Tuan Benet membuatnya gelisah tetapi ia sangat mencintai Axton.


"D..Dad! K..Kellen mencintai Axton."


"Dia hanya akan merusak hidupmu. Kellen!"


Suara seseorang di belakang sana membuat Kellen menoleh. Nyatanya itu Joy yang mendekat kemari.


"Kau?"


"Aku akan ikut. Aku tahu dimana tempat yang aman."


Jawab Joy sudah mengatakan hal ini pada Tuan Benet sebelumnya.


Tak lagi ingin menunda. Akhirnya Tuan Benet kembali menarik Kellen untuk pergi ke Pesawat yang akan membawa mereka pergi dari negara ini.


Kellen terus menatap kebelakang berharap jika ada seseorang yang sekarang tengah membuatnya terasa mati dan sangat terluka.


"Ax! Sedari tadi aku menelfonmu kau tak mengangkatnya, kau dimana?"


Batin Kellen menyimpan perasaan yang bergejolak menyiksa batinnya. Ia tak bisa menolak atau memberi alasan lagi.


"Kau jangan menangis."


"Jangan menyentuhku." desis Kellen menepis tangan Joy yang ingin menyentuh pipinya. Kellen menjaga jarak agar Joy tak berjalan bersamaan dengannya.


Melihat penolakan Kellen. Joy hanya memberi senyuman, ia melihat kebelakang dimana tak akan ada lagi penghalang dan pastinya pria itu telah tiada.


Suara Monitor pemberangkatan sudah bergema. Kellen merasa sangat risih dan tak nyaman disini.


"Dad!"


"Yah. Aku sudah siap." jawab Joy menunjukan tiga Tiket pesawat di tangannya. Kellen hanya menatap datar itu lalu membuang muka ke sembarang arah.


Namun. Tiba-tiba saja ada keriuhan di belakang dekat Pintu Masuk Bandara dimana semua orang berlarian pergi.


"Aaaa!!!"


"Dia menembak!!"


Teriakan-teriakan itu membuat seisi Bandara menjadi heboh dan semua orang disini berlarian menjauh mendesak Kellen yang di senggol beberapa orang yang ketakutan.


"D..Dad! P. Perutku.."


"Kellen!"


Tuan Benet terkejut kala Kellen mencengkram lengannya seraya memeggangi perut besar itu. Para Pria berstelan jas lengkap di depan sana tampak berlari ke arah sini kala melihat Kellen yang tengah meringis.


"D..Daddyy!"


"Mereka..mereka pasti suruhan suamimu!" gumam Tuan Benet segera membopong Kellen untuk pergi secepatnya ke arah Pesawat mendekati para petugas Keamanan yang mendekat tetapi tak bisa mencegah mereka.


Joy merasa aneh. Kenapa anggota Ayahnya malah menangkap Kellen? Padahal perjanjiannya Kellen akan hidup bersama dengannya.


"Kalian!! Apa yang kalian lakukan? Ha!"


Mereka hanya melewati Joy yang di landa kebingungan. Sementara Tuan Benet, ia berusaha membawa Kellen menjauh tapi tempat ini sudah di kepung para anggota musuh.


"Kau ingin lari kemana. Ha?"


"D..Dad.. Ehmm." desis Kellen merasa perutnya sangat sakit. Bahkan, keringat dingin itu mulai membanjiri kening dan leher Kellen yang sudah tak bisa berjalan lagi.


"Kalian tak bisa menyakiti Putriku!! Dia tak bisa melakukannya!!"


"Dia siapa yang kau maksud? Hm." tanya salah satu dari mereka menyeringai mendekat membuat Tuan Benet mundur.


Melihat itu Joy segera berlari menyela di tengah mereka melindungi Kellen yang tampak sekarat.


"Jangan mengganggunya!"


"Siapa kau mau mengatur kami?"


"Kalian.."


Salah satu dari mereka melayangkan pukulan ke tengkuk Joy yang segera tak sadarkan diri. Hal itu membuat Tuan Benet ingin maju tapi Kellen menahannya.


"Dad! M..mereka bukan anggota suamiku."


"Dari mana kau tahu. Ha?" tanya Tuan Benet waspada di dekat Kellen yang menggeleng. Ia kenal betul bagaimana anggota Axton dan mereka adalah anggota Masimo.


"D..Dad! I..itu musuh, dia.."


Kellen tak bisa melanjutkan ucapannya karna denyutan hebat itu tiba-tiba terasa menekan perutnya.


"D..Daddy s..sakit."


"Kellen! Kau..kau akan baik-baik saja." gumam Tuan Benet panik karna merasa tubuh Kellen berkeringat dan dingin bahkan begitu dingin.


Melihat Tuan Benet yang lengah. Mereka langsung menarik Tuan Benet menjauh dari Kellen yang di seret kasar oleh 3 pria berbadan kekar ke arah pintu keluar Bandara.


"Kellleeen!! Lepaskan putriku!!!"


"DIAM." tekan mereka memukul tengkuk Tuan Benet hingga pria itu hilang kesadaran. Dengan begini mereka mudah membawa mereka ke sebuah tempat yang sudah di sediakan sedari awal.


Sementara Kellen. Ia menahan sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya, ia tak tahu kenapa semakin lama rasa sakit itu terasa begitu kuat.


"Percepat langkahmu!!" geram mereka menarik lengan Kellen kasar melewati beberapa orang yang hanya bisa diam menyaksikan itu.


Tak ada yang berani mengeluarkan ponselnya untuk merekam karna petugas kemanan disini juga mengalami pengancaman.


"A..aku..aku t..tak bisa.."


"Cepaat!!!"


Kellen hanya bisa menahan rasa sakit mengikuti langkah cepat mereka. Sesekali ia terjatuh ke bawah membuat perutnya terasa semakin di lilit hebat.


"A..aku..aku t..tak bisa, ini.. Ini sakitt." desis Kellen sudah memucat. Ia memang sudah merasa nyeri sedari di rumah tapi tak ia duga akan seperti ini.


"Hey! Waktumu hidup hanya beberapa jam saja, kau harus berkumpul dengan wanita sialan itu."


"K..kalian m. ..mau apa?"


Mereka hanya tertawa jahat menarik Kellen agar lebih cepat berjalan.


"Suamimu akan datang. Tapi, sangat di sayangkan itu butuh waktu."


"A..apa yang terjadi sebenarnya? Dimana Axton?"


Batin Kellen merasa cemas jika terjadi sesuatu pada Axton. Kellen tak tahu soal penyerangan Masimo ini karna tak ada yang memberitahunya sebelumnya.


Sedari tadi ia berusaha bergerak dari ikatan rantai ini. Tubuhnya tiba-tiba merasa kaku dan tak bisa digerakkan padahal ia tak merasakan hal aneh sebelumnya.


Ruangan dengan pencahayaan remang ini membuatnya sulit menerka kemana para pria sialan itu membawanya dan yang jelas Nicky ingat di perjalanan kesini adalah suasana seperti diperairan.


"S..Siapapun itu jangan diam saja?? Dimana ini???" geram Nicky berusaha bergerak. Seluruh tubuhnya terasa mati rasa dan tak bisa merasakan apapun.


"Masimo sialaaan!!! Apa lagi yang kau mau. Ha???"


"Jangan bergerak!"


Nicky terperanjat kala ada suara tepat di sudut gelap yang ada tak jauh dari tempatnya. Suara itu sangat tak asing dan terasa Familyar.


"Kau siapa? ha!!" tanya Nicky tak mengalihkan pandangannya ke arah titik buta itu. Ia menelisik mencoba mencari keterangan hingga ada bayang-bayang cahaya dari arah sela langit-langit atas memperlihatkan seorang yang tengah diikat sama dengannya.


"Siapa?"


"Jika bergerak tubuhmu akan semakin mati rasa."


"Kauuu!!!" pekik Nicky tak menyangka dengan sosok ini. Kenapa dan bagaimana bisa dia disini bahkan dalam keadaan yang tak baik-baik saja?


....


Vote and Like Sayang..


Maaf ya say.. Tadi author pulang lama jadi nggak sempet nulis🐼