My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Kericuhan antara dua Keluarga!



Rembulan diatas sana sudah bersinar dengan terang. Kemalut hitam yang membentang ditemani percikan kilat bintang tampak semakin dingin karna suasana mendaki larut.


Ditengah pendakian malam ini apa saja bisa terjadi termasuk kehebohan di Kediaman Miller karna kedatangan sepasang manusia dengan keadaan membuat mereka sangat syok. Apalagi Vidio yang beredar di Media langsung tersebar sampai membuat Nyonya Verena jantungan.


"M..Martin! kau.. Kau kenapa. Ha??"


Nyonya Verena berlari menyongsong Martin yang dibopong oleh Miss Barbie untuk masuk ke dalam Kediaman. Darah itu masih tampak mengalir segar tetapi senyuman pria idiot ini masih saja tampak senang.


"Mom!"


"Kenapa? Aku melihat Vidio itu, kau di pukuli. Katakan siapa yang melakukannya? Akan ku buat dia menyesali hal itu." geram Nyonya Verena sangat cemas melihat keadaan putranya.


Mendengar ucapan amarah itu Miss Barbie terdiam jadi merasa bersalah atas kejadian yang Martinez alami.


Ia menunduk seraya berjalan mengiring Martinez ke arah sofa. Tahu akan suasana hati Miss Barbie, Martinez segera memeggang pundak Nyonya Verena yang terlihat begitu khawatir.


"Mom!"


"Duduk! Aku..aku akan panggilkan Dokter untukmu."


"Tidak. Aku baik- baik saja." jawab Martinez sedikit meringis kala lukanya terasa kembali berdenyut. Melihat hal itu amarah Nyonya Verena kembali meluap-luap belum menyadari jika Miss Barbie tengah ada disini.


"BAIK KAU BILANG? LIHAT DARAH DI KEPALAMU. KAU MAU MATI. HA???"


"Mom!" lirih Martinez memelas penuh permohonan. Ia segan dengan Miss Barbie yang tampak diam duduk di sampingnya.


Nyonya Verena melirik ke arah samping. Seketika matanya termenggu melihat Miss Barbie menunduk meremas tangan Martinez yang juga menggenggam jemarinya hangat.


Jadi.. Aku mengerti sekarang.


Seketika Nyonya Verena menegaskan pandangannya. Ia tahu Miss Barbie bukanlah dari Keluarga sembarangan, pasti hal yang terjadi pada Martinez itu karna suruhan Tuan Besar di Keluarga itu.


"Mom! Aku baik-baik saja. Dan.."


"Kau diam!" tekan Nyonya Verena membuat Martinez bungkam. Ia memandangi Nyonya Verena yang menelfon seseorang dan itu sepertinya Hugo.


Sementara Miss Barbie. Ia sangat merasa tak enak disini, apalagi ada Tuan Benet yang sampai terdiam di dekat tangga menyaksikan mereka.


"Hugo! Kau datang kesini, bocah idiot ini ingin mati secepat mungkin." maki Nyonya Verena dengan kepala yang pusing. Ia harus menahan kesabaran untuk bertahan disini.


"Mom!"


"Yagatri!!! Ambilkan kotak obat!!" pinta Nyonya Verena lalu mematikan sambungan. Ia kembali melihat Martinez yang tampak begitu membuatnya sangat cemas.


Ibu mana yang akan terima jika putranya di pukuli sampai seperti ini? Walau Martinez itu ceroboh dan pembuat onar tapi ia membesarkannya dengan penuh biaya dan pengorbanan.


"Mom! Darahnya juga mau berhenti."


"Berhenti? Lihat wajahmu sudah seperti mayat hidup. Kau mau membunuhku. Ha??" tanya Nyonya Verena dengan mata berkaca-kaca. Hal itu membuat Martinez menggeleng cepat meraih lengan Nyonya Verena mendekat.


"Mom! Jangan katakan itu."


"Kau..kau mengurung diri tanpa makan selama berhari-hari. Lalu.. Lalu ini.."


"M..Maafkan aku!" sela Miss Barbie menaikan wajahnya menatap Nyonya Verena yang pasti sangat khawatir akan keadaan Martinez.


"Sayang! Kau.."


"Ini semua terjadi karna aku. Jika.. Jika aku.."


"Tidak.. Jangan, jangan katakan hal itu." sela Martinez menggeleng. Ia tak menyalahkan siapapun akan keadaanya yang sekarang, tidak sedikitpun.


"T..tapi, tapi kalau aku tak menemuimu maka kau tak akan di.."


"Aku senang mendapatkan ini." sela Martinez serius dengan tatapan yang begitu hangat membuat mereka semua diam membisu.


"Dengan seperti ini aku bisa bersamamu. Aku tak menyesal sedikitpun, tidak pernah."


"M..Martin kau.. Kau kenapa sangat idiot?" tanya Miss Barbie dengan suara yang bergetar dan mata mengigil hebat. Ia menunduk menjatuhkan cairan bening itu untuk kesekian kalinya.


Melihat itu Martinez masih punya tenaga untuk memeluk wanita yang tak akan ia lepaskan walau apapun yang terjadi.


"Aku memang idiot, ceroboh dan bajingan. Tapi, aku sangat serius denganmu. Maafkan aku telah mempermainkanmu sebelumnya."


"Cih. Kenapa dia selalu membuatku dalam masalah?"


Batin Nyonya Verena mengusap sisa air mata di ujung pelupuk netranya. Tadi, ia benar-benar ingin marah tapi melihat ketulusan dan keseriusan Martinez, ia akhirnya tak bisa menyalahkan siapapun.


"Sudah! Sekarang bersihkan dulu lukamu." Nyonya Verena mengambil Kotak obat yang di bawakan oleh Yagatri padanya.


Ia ingin berjongkok tapi Miss Barbie segera berdiri memeggang lengannya.


"M..Mom! A..apa bisa.." ucapan Miss Barbie agak ragu mengatakannya. Tetapi, Nyonya Verena yang terdiam sejenak-pun segera bangkit.


"Hm. Kau saja."


"A.. baik."


Miss Barbie mengambil alih. Ia duduk di samping Martinez yang mengulum senyum kecil membelit pinggang ramping wanita ini.


Ia menatap tak berkedip wajah cantik Miss Barbie yang terlihat takut-takut dan ngeri kala membersihkan darah di kepalanya.


"Lukamu dalam. Pasti sangat sakit. Iyakan?"


Martinez tak menjawab. Ia hanya diam beralih fokus pada bibir pink segar Miss Barbie yang seakan memanggil-manggilnya untuk segera mencap kepemilikan.


"Mooommm!!!"


"Singkirkan pikiran kotormu. Bocah!!" ketus Nyonya Verena membuat Martinez meringis dengan tatapan mata kesal mencuat keluar.


Miss Barbie hanya bisa fokus pada luka Martinez sampai akhirnya Dokter Hugo datang masuk ke Kediaman bersamaan dengan Keluarga kecil Axton yang tadi berpapasan.


"Mom!" gumam Kellen masuk ke dalam Kediaman dengan tatapan syok ke arah Martinez. Ia tadi langsung pulang kala melihat Video yang beredar di Media, nyatanya ini memang benar.


Sementara Axton. Ia hanya menatap datar Martinez seraya memeggang bokong Baby San yang tampak tidur di bahunya.


"Ax! Ini.."


"Dia belum mati." jawab Axton santai menarik Kellen untuk pergi ke Lift menuju kamar. Menurutnya hal itu sangat wajar dan patut di dapatkan Martinez.


Mendengar jawaban Axton tadi, mereka hanya bisa memaklumi sedangkan Martinez ia menjadi Dewa kebaikan seakan tak memasukan itu kedalam hati tak seperti biasanya.


"Kau tak marah?"


"Tidak. Mom! Axton itu sangat Cool." jawab Martinez membuat Nyonya Verena membelo jengah. Ntah apa yang di lakukan Axton sampai Martinez begitu mengidolakannya.


Sementara Hugo. Ia lebih memilih segera menangani luka Martinez yang tergolong cukup parah.


"Apa sebelumnya ini di hantam besi atau sejenis Kunci Mobil?"


"Mungkin. Aku tak terlalu melihat mereka, aku lebih fokus melihat Mobil yang membawa Barbie ke arah mana." jawab Martinez santai membuat Miss Barbie merasa berkecamuk. Antara senang dan kesal yang ia tahan.


"Kau menculiknya?" tanya Nyonya Verena curiga.


"Yah, tidak juga. Barbie juga mau lari, jadi sekalian denganku."


"Shitt. Kau tahu resikonya. Ha?" geram Nyonya Verena membuat Martinez terdiam. Ia tahu jika akan terjadi permusuhan nantinya.


"Mom! Daddyku pasti sangat marah, dia akan menjemput ku."


Miss Barbie terlihat panik dan cemas. Ia takut jika nanti Keluarganya datang membuat masalah besar disini.


"Kau tenang saja. Aku akan tetap bersamamu."


"Martin! Masalahnya dia tak setuju, dia.."


"Walau dia akan membunuhku. Aku akan tetap menghadapinya." sela Martinez memberi ketenagan pada Miss Barbie yang gelisah. Walau Martinez bicara begini tapi ia masih belum tenang dan baik-baik saja.


"Aku..aku tak ingin Keluarga kita saling bertengkar."


"Memangnya kau mau pada Putraku?" tanya Nyonya Verena memastikan. Martinez menatap penuh harap pada Miss Barbie yang terdiam sejenak membuat keputusan.


"Jika kau mau dan bersedia. Kami bisa melindungimu, jika kau terpaksa. Maka.."


"Aku mau, tapi.."


"Jangan pikirkan yang lain." sela Martinez dengan raut wajah sangat bahagia mengabaikan Hugo yang tengah membalut kepalanya.


"Kita hadapi bersama-sama. Hm?"


"Kau yakin?" tanya Miss Barbie agak ragu. Ia yakin besok pasti akan terjadi kerusuhan besar apalagi Daddynya juga orang yang Arogan.


"Yah. Aku tak akan mundur."


"Tapi, berjanjilah jangan menyakiti Daddyku!" pinta Miss Barbie takut Keluarganya yang kena imbas buruk. Pasalnya Keluarga Miller bukan lawan yang seimbang.


"Tidak akan. Aku akan bicara baik-baik dengannya."


"Cih." Nyonya Verena berdecih. Masih saja berpikiran positif padahal sudah jelas keadaanya sekarang.


Benar-benar benih Redomir yang tak lagi ada di Kediaman. Pria itu pastinya hanya bisa keluyuran kemana tempat yang dia suka.


..............


Sementara di dalam Kediaman yang tampak mencekam ini tampaklah seorang Pria paruh baya yang tengah berdiri dengan nafas memburu dan mata terkobar amarah yang jelas.


Rambutnya yang hampir memutih tak menyurutkan gelora kebencian dan terlihat sangat naik pitam.


"Beraninya dia!!!"


"Tuan! sepertinya akan sulit melawan mereka." jawab Pengawalnya yang mengabarkan pesan dari suruhan yang ada di Negara Spanyol sana.


"Aku tak perduli. Yang jelas, Putriku harus kembali. Keluarga Hancock juga harus bekerja sama denganku." geram pria itu kembali duduk di Sofa singelnya.


Ia sangat muak akan kedok kepura-puraan Keluarga Miller yang dengan seenaknya selama ini mempermainkan sebuah hubungan apalagi itu Putri tunggalnya.


"Brengsek!! Setelah mencampakkan Putriku dan sekarang ingin mempermainkannya lagi? Memang tak bisa di maafkan."


"Apa rencana anda. Tuan?" tanya bawahannya menunggu perintah untuk bergerak.


"Kumpulkan semua orang yang berpengaruh di Negara itu. Aku harus membawa Putriku kembali dan segera menikahkannya."


"Baik."


....


Vote and Like Sayang..