
Langit sudah membiru dan mentari tampak lebih segar dari biasanya. Suasana kota yang ramai dengan lalu-lalang masyarakat untuk bekerja kembali membuat Central Full di penuhi dengan kesibukan ekstra.
Kondisi jalan tetap stabil dengan Toko-toko besar yang semalam tutup sekarang sudah di banjiri pelanggan setianya.
Namun, di suasana yang begitu ramai dengan lalu-lalang kendaraan roda empat itu terasa hambar dan kosong bagi seorang pria yang sudah berbulan-bulan berkeliling di Kota ini tanpa ada kepastian.
Ia tak tahu lagi harus kemana dan seketika hidupnya terasa kosong.
"Kau kemana?" gumaman putus asa menatap langit yang meneduhi kepalanya. Tak ada yang tersisa baginya, baik itu kekuasaan atau kehangatan yang tak pernah di dapat.
"Ini sudah hampir satu tahun. Kau pergi tanpa memberi tahuku, tak seperti dirimu yang biasanya."
"Permisi!!"
Teguran seorang wanita di belakangnya membuat pria itu menoleh. Wajah tampan oriental yang tampak keheranan.
"Kau siapa?"
"Bukankah anda teman dekat Dokter Kellen?"
Pertanyaan itu membuat dahinya mengkerut memindai sosok wanita bertubuh kecil ini. Namun, sedetik kemudian ia kenal ini siapa?
"Kau Asisten Kellen?"
"Yah. Anda Tuan Martinez, bukan?"
Martinez mengangguk dengan raut wajah tampak tak bergairah dan terlihat semakin murung. Tentu hal ini sangat berbeda dengan yang Agatha temui kala di Klinik dulu.
"Saya sering lewat disini dan selalu melihat anda berkeliling, kalau boleh tahu kemana tujuanmu?"
"Aku.."
Martinez terdiam kala ia sendiri juga tak tahu kemana arahnya melangkah. Ia tak lagi menemui Kellen atau pergi ke sana karna ia malas melihat Axton.
"Aku hanya berkeliling."
"Ouh. Begitu! Saya pikir anda ingin mengunjungi suatu tempat." gumam Agatha mangut-mangut mengerti. Paper-bag yang ia bawa tetap di tentang tampak canggung untuk melanjutkan pembicaraan.
Martinez yang lebih santai terlihat kembali fokus ke arah jalan yang di lalui banyak kendaraan. Central Full sangat maju dan ia nyaman disini.
"Tuan!"
"Yah?" Martinez melirik dari ekor matanya Agatha mengeluarkan sesuatu dari Paper-bag itu.
"Ini!"
Menyodorkan Botol minum yang tampak masih terisi penuh. Alis Martinez terangkat menatap Agatha yang tersenyum canggung.
"Saya pikir anda butuh minum. Disini memang segar dan dingin tetapi, tak mungkin anda tak kehausan."
"Baiklah. Aku terima." jawab Martinez mengambilnya. Senyuman Agatha melengkung tampak lebih senang.
Walau Martinez terkesan angkuh saat bertemu dulu tetapi, sekarang dia tampak lebih hangat.
"Apa ada masalah?" tanya Martinez melihat Agatha senyam-senyum sendiri. Agatha tersadar lalu pamit pergi membuat Martinez menggeleng saja.
Ia menghela nafas kembali berjalan-jalan memutari pemandangan Kota yang bisa memendam kerinduannya pada seseorang.
Namun. Kala langkahnya semakin menjahui tempat berdiri tadi, tiba-tiba saja ponsel Martinez berbunyi. Dengan kesal melihatnya dan itu adalah Nyonya Verena.
"Kenapa wanita tua ini tiba-tiba menelfon? Apa dunia akan berubah segi empat?" gumam Martinez aneh segera mengangkatnya.
"Apa? Mom!"
"Kemana saja kau berkeliaran. Ha?"
Martinez hanya menghela nafas seraya melanjutkan langkahnya. Ada beberapa gadis yang berselisih-jalan dengannya tetapi Martinez hanya mengacuhkan hal itu.
"Mom! Kenapa kau menelfonku?"
"Berhentilah bermain hal menjijikan itu."
Suara Nyonya Verena terkesan marah besar tetapi Martinez terbiasa. Ia hanya menganggap ini sebagai pembersih rongga telinga.
"Mom! apa kerongkonganmu memiliki baja ekstra?"
"Kauuuuu!!"
Martinez merotasikan matanya malas. Cobaan hidupnya terlalu berat dan sangat membosankan.
"Sudahlah! Aku akan mencari senjata untuk membungkam auman Naga Mommy."
"KENAPA KAU SELALU SAJA MENYEBALKAAN?? CEPAT PULANG SEKARANG!!!"
Suara keras Nyonya Verena membuat Martinez menjauhkan ponselnya. Telinganya berdengung dan nyeri.
"Cih. Dia selalu saja memerintahku."
"KAU BILANG APA???"
Martinez terkejut saat Nyonya Verena nyatanya mendengar itu. Dengan gelagapan Martinez berusaha mencari jalan pintas.
"Mom! Aku mengatakan kalau Mommy tak hanya punya Kerongkongan baja tapi juga Telinga Gajah."
"Martineeeeezzz!!!"
Martinez terkekeh geli segera mematikan ponselnya. Hal menyenangkan membuat wanita itu marah besar dan akan melakukan sesuatu yang mengerikan.
"Sebaiknya aku pulang ke Negaraku saja." gumam Martinez menyimpan ponselnya lalu pergi ke arah Apartemen yang ia tinggali.
Walau disana bukan lagi tempatnya tapi Nyonya Verena masih ibunya. Ia tak mau terjadi sesuatu pada wanita itu.
Lama Martinez berjalan sambil menikmati alunan musik para Pengamen kelas atas di jalan-jalan yang jadi objek wisata.
..........
Sementara di dalam ruangan rawat sana. terlihat sunyi dan sangat damai. Hanya suara denyutan Monitorlah yang bebas mengalun tanpa hambatan.
Sosok yang terbaring diatas Bangkar itu terlihat mulai menunjukan respon atas apa yang ia alami. Dahinya mengkerut kala merasakan tangannya pegal dan begitu hangat.
"Apa aku sudah tiada?"
Batin yang bergejolak kala merasa di landa kegelapan. Ia tak melihat apapun dan rasanya tubuh itu sangat sakit.
Hanya hamparan kegelapan tanpa cahaya apapun. Jiwanya terasa melayang antara sadar atau tidak ia sangat ketakutan.
Kalimat putus asa keluar membuat air mata itu lolos dari ujung pelupuk netranya. Rasa sesak dan begitu merindu akan seseorang yang tak akan bisa ia lihat lagi.
Jadi, ini akhir dari segalanya. Mereka sudah meninggalkan aku.
Deraian air mata itu terus mengalir dengan pelupuk netra masih tertutup. Terlihat jelas wajahnya tengah menahan kesedihan dan rasa sakit.
"Aku.."
Tiba-tiba saja ia merasakan kehangatan di wajahnya. Belain lembut mengusap cairan bening yang jatuh terasa hangat dan sangat lembut.
"A..Ax! A..apa itu kau?"
Ia masih belum bisa bangun dan melihat siapa yang memberikan rasa ini. Ia kenal dan tak asing lagi tetapi ia sangat merindukannya.
"A..Ax! A..aku..aku takut."
Gumamnya dengan bibir bergetar menahan desakan rasa sesak yang teramat. Tiba-tiba saja ia merasa jiwanya di tarik keluar dari kegelapan ini hingga..
"Aaax!!"
Spontan ia membuka matanya dengan tatapan kosong keatas tepat di pahatan tampan yang sekarang bisa ia lihat.
Dua pasang netra itu saling menatap dalam menembus jantung masing-masing. Manik amber Kellen menyimpan ketakutan yang besar hingga cairan bening itu kembali menggenang.
"A..Ax!" gumam Kellen bergetar mengangkat tangannya yang mengigil menyentuh rahang tegas dan wajah tampan milik suaminya.
A..apa aku bermimpi? Ini.. Ini hanya mimpi?
Rasa takut itu semakin kuat membuatnya tak tahan langsung merengkuh leher kokoh itu memeluknya erat.
"Aku..aku takut. Aku takut. Hiks!" isak Kellen mengeratkan pelukannya. Begitu juga sepasang lengan yang sekarang sudah melingkar di pundaknya.
"K..kau akan meninggalkanku. Aku.. Aku tak bisa melihatmu.. Aku.."
"Suuttt!!"
Tangan kekar itu terangkat membelai surai kecoklatan Kellen yang sungguh merasakan ini sangat hangat. Ia tak mau kehilangan ini semua tapi..
"A..aku.. Aku hanya bermimpi. Aku.."
"Tidak. ini nyata."
Kellen terdiam akan bisikan di telinganya. Aroma mind yang ia kenal dan terasa sangat menyatu. Mata Amber Kellen bergerak memindai ruangan ini, ia terperanjat kala melihat Nicky yang ada di depan pintu ruangan dan Castor ada di atas sofa tak jauh dari sini.
"K..kalian.."
"Selamat datang kembali!"
Ucap keduanya membuat Kellen benar-benar tak mengerti. Jika ini Mimpi kenapa semuanya terasa nyata?
"A..Ax! i.. Ini.. "
"Ini nyata. Sayang!" bisik Axton melayangkan kecupan ke kening Kellen yang segera meneggang hebat.
Matanya berbinar dengan perasaan tak menyangka dan sangat terkejut.
"A..aku.. Aku m..masih hidup?"
"Apa kau pikir kau bisa meninggalkanku? Hm." desis Axton dengan tatapan tegas dan sama dinginnya.
Melihat semua ini Kellen tak lagi bisa menahan diri kembali memeluk erat Axton yang juga sangat senang Kellen sadar setelah sekian lama ia menunggu. Rasanya beban di nafas itu hilang seketika.
"Aax. Hiks!"
"Terimakasih. Kau kembali padaku." gumam Axton menghujami pundak Kellen dengan kecupan hangat darinya. Ia sangat takut hingga terus menunggu disini dan melihat jika Kellen menangis dengan mata masib terpejam. itu sangat membuatnya tersiksa.
Melihat itu Nicky dan Castor tersenyum hangat juga ikut lega. Setidaknya masa terberat Axton sudah terlewati dalam fase ini.
"Syukurlah kau baik-baik saja. Axton bisa mati-muda menunggumu terus." ucap Nicky seketika mendapat tatapan membunuh Axton yang tampak kesal.
"Ayolah. Berhenti membuatku ingin menangis, cepat selesaikan urusan kalian kalau tidak putramu akan mencari Ayah baru."
"Nickyy!!" geram Axton sungguh meluap-luap. Kellen terdiam merasa sangat ingin melihat putranya.
"Ax! Bagaimana dengan anak kita. Sayang?"
Axton terdiam. Ia belum menjenguk putranya karna terlalu fokus pada Kellen, tapi Hugo selalu ia perintahkan memantau kondisi si kecil itu.
"A..aku.."
"Dia belum melihat anaknya."
"Apaaa???" pekik Kellen keras sampai luka di perutnya terasa nyeri. Ia mendesis memeggangi bagian operasi itu.
"Kau..kau jangan banyak bergerak. Lukamu masih basah."
"A..Ax! Kau.. Kau .."
Kellen melihat Axton yang memeggangi perutnya. Seketika ia sadar jika Axton memang sosok yang tak bisa untuk memulai sesuatu yang hangat.
"Maaf, aku belum bisa menemuinya." gumam Axton menunduk paham jika Kellen akan marah padanya.
Tetapi, bukan cubitan yang ia dapat tapi satu kecupan di bibir membuat Nicky dan Castor membuang muka.
Axton juga terlihat termenggu tak percaya ini. Kellen tak marah padanya?!
"K..kau.."
"Kita lihat Baby sama-sama. Hm?"
Alangkah senangnya Axton mendengar itu. Ia tak cukup berani melihat anaknya sendiri karma rasa takut tak mampu menanganinya.
"Sayang!"
"Jangan terlalu di pikirkan. Kau bisa melakukannya." gumam Kellen mengusap kepala Axton lembut sampai rasa tenang dan keberanian Axton kembali terkumpul jelas.
"Aku sangat mencintaimu." lirih Axton langsung menyambar bibir Kellen dengan sangat syahdu membuat Nicky dan Castor berlarian keluar tak mau menyiksa diri dengan ini semua.
"Axton sangat kejam. Aku bahkan hanya bisa menghisap jempol." gumam Nicky menatap jempolnya dengan sendu membuat Castor membelo jengah.
...
Vote and Like Sayang..