
Mobil hitam pekat dengan kaca tebal itu melesat cepat bak angin tornado menerjang jalanan sunyi yang jauh dari keramaian Kota Barcelona.
Kecepatan ban yang bergesekan dengan jalan aspal ini menembus angin malam dan suasana langit lengang detik ini.
Tentu di dalam sana Kelllen di buat heran karna ia tak di bawa ke Dapartemen Kepolisian Spanyol, melainkan ke arah jalan pinggiran.
"Kalian mau apa?" geram Kellen masih duduk di kursi belakang.
Dua pria yang tadi menjemputnya itu hanya diam seakan menuli dan terus melajukan benda ini cepat.
"Kalian mau apa. ha?? jangan mencoba berniat buruk padaku!"
Ucap Kellen lagi menendang kursi belakang kemudi dengan ayunan kaki jenjang indahnya. Spontan hal ini mengejutkan keduanya.
"Kau memang sangat ingin mati disini. ha?"
"Katakan pada Tuan penjilat-mu itu. aku sama sekali tak sudi melihat wajahnya." geram Kellen tapi kedua pria itu hanya saling pandang dengan isyarat sendiri.
"Mengocehlah sesukamu. sebentar lagi kau juga tak akan bisa bersuara."
"Mereka mau membawaku kemana?"
Batin Kellen tak mengerti jalanan ini. semakin lama ia jauh dari lokasi Apartemen dan masuk ke sebuah Gerbang tua yang Kellen sendiri tak tahu kenapa bisa begini.
"Kita lewat samping saja. ini agak jauh dari Kediaman Utama."
"Sesuai perintah Tuan. jangan sampai dia lolos ke sana."
Mereka bicara dengan lirikan mata tajamnya ke beberapa tempat tua ini. mata Ember Kellen mulai melihat pesisiran jalan yang di tumbuhi rerumputan liar diantara remangan lampu yang berkedip lemah.
Reruntuhan bangunan yang ada di depan sana membuktikan jika dulu ada kehidupan disini.
"Ini seperti bekas rumah seseorang."
Batin Kellen mengamati segalanya. Rumah tua yang klasik dengan lumut sudah merambat diantara reruntuhannya.
Mobil ini terhenti tepat di tepi jalan ke arah samping dengan lampu yang agak rusak masih berusaha berkedip menerangi jalan.
"Turun!"
Pintu di buka hingga lengan Kellen langsung di tarik kasar keluar pintu mobil. mereka mendorong bahu Kellen ke arah tempat lembab yang gelap membutakan mata.
"Kalian mau apa??"
"Jalan!!"
Kellen terpaksa melangkah menuruti dorongan lengan kekar itu. sesekali Kellen nyaris terjatuh tapi tetap kembali stabil.
Ia di bawa menuju reruntuhan di samping dengan hawa dingin menyapu tubuh Kellen yang hanya mematung saat lantai berbatu di bawahnya tiba-tiba di tarik hingga tanah ini membuka diri.
"A.. apa ini?"
Batin Kellen tak mengerti dengan tangga beruntun ke bawah. ia tak menyangka akan ada ruangan seperti ini bahkan tempatnya begitu lembab.
Namun. Kellen tersentak saat punggungnya di dorong masuk ke dalam hingga pekikan keras itu tak terhindarkan.
"Dady!!!!"
Brughh...
Suara gerudukan keras tubuh Kellen yang terguling menyusuri tangga pendek sana. tanpa belas kasih mereka menatap santai Kellen yang di telan kegelapan di bawah.
"Kau pikir kau akan bebas dengan mudah setelah turun perintah dari Tuan kami?"
"Cihh. jangan harap kau bisa keluar."
Suara mereka bak dengungan singa di telinga Kellen yang sadar atau tidak kepalanya tengah berdenyut dengan rasa hangat tiba-tiba mengalir di pelipisnya.
"D..Dad." gumam Kellen dengan mata sayu melihat kabur ke atas sana. Pintu di lantai itu perlahan di tutup hingga cahaya dari atas semakin menyempit di lensa mata Kellen yang menggeleng lemah.
"J..jangan di.."
"Selamat Tinggal!!" ucap mereka langsung menutup rapat benda itu hingga secercah cahaya yang tadi masih tercermin di netra Kellen seketika hilang tanpa sisa.
Gelap? yah, disini tak bisa ia lihat dengan jelas. terbuka atau menutup tetap saja matanya tak mendapatkan apapun.
"D..Dad." gumam Kellen menarik dirinya diantara kelembaban ini mencari sandaran. tubuh yang terasa remuk dengan kaki terkilir akibat hantaman anak tangga ini sungguh menyedihkan.
Sekarang. bukan rasa takut untuk mati tapi Kellen takut jika ia tak bisa keluar dari sini dan membuat Dadynya cemas. sakit pria itu akan kambuh bahkan kemungkinan terbesar sulit ia bayangkan.
"I..ini tempat apa?"
"Apa..apa ada orang?" tanya Kellen dengan suara menggema. dari sini ia tahu jika tempat ini berbentuk lorong tak hanya satu petak ruang saja.
Suara desisan dan beberapa hewan pengerat di sekitar sini membuat Kellen memucat merapat ke dinding.
Sumpah demi apapun ia sangat tak biasa dengan kondisi ini bahkan Kellen tak pernah membayangkan akan kesini.
"S..Siapa??" panik Kellen menekuk kedua kakinya. Aroma amis itu menyeruk dikala ada yang mentes dan mengalir di pipinya.
"D..Darah?"
Gumam Kellen dengan nafas tersendat. jika ia tak bisa keluar dari sini, maka ia tak akan bisa pulang ke Negaranya.
"Tidak.. aku..aku harus keluar."
Imbuhnya segera menarik buta. kaki jenjang yang terkilir akibat Heels yang patah itu ia seret meraba tangga yang tadi menghantam tubuhnya.
"T..tolong!!!"
Suara Kellen kembali menggema. perlahan anak tangga itu ia daki dengan mata tertutup mencoba bayangan di kepalanya.
Terus menarik diri menahan rasa sakit yang semakin terasa menjalar di pori-pori kulitnya.
"T..Tolong!!! Keluar..Keluarkan aku!!!" teriak Kellen segera mendaki ke atas hingga kepalanya terbentur ke bebatuan tadi. ia mendorongnya kuat tapi sedikit saja bergeser itu hanya ilusi.
"T..Tolong!!! Tolong!!"
Tak satupun yang mendengar. Kellen terus mendorong dan sesekali memukul bebatuan rapat ini hingga tangan lembutnya terluka.
Wajah Dadynya terbayang di benak Kellen hingga menghadrikan rasa sesak di dadanya. Ia takut.. bahkan sangat takut ada disini terlalu lama.
"D..Dad." gumam Kellen bergetar menyandarkan tubuhnya ke atas tangga ini. tanpa sadar air matanya keluar melukiskan angan sang ayah yang pasti mengira ia akan cepat pulang.
"M..Maaf. maafkan Kellen. Dad."
Kellen memilih meringkuk merapat ke dinding di sampingnya. ia tak tahu kapan bisa keluar dari sini dan siapa yang akan membantunya keluar.
........
Mendengar laporan dari bawahannya. Senyum merekah di wajah oriontal pria itu semakin abadi. ia begitu senang bahkan sangat bahagia karna wanita itu sudah ada di bawah kendalinya.
"Kau begitu percaya diri datang ke Perusahaanku. menghina dan merendahkan seorang MARTINEZ." gumamnya mencengkram ponsel yang tadi menghubungkannya dengan dunia luar.
Martinez berdiri tepat di depan sebuah pintu ruangan bawah tanah yang tengah di jaga ketat oleh pengawal Kediaman.
Tempat remang dengan lampu sayup ini menunjukan susunan bata dari dinding yang berlapis baja di dalam sana.
"Tuan! airnya sudah kering, apa dia harus di pindahkan?" tanya Groel Kepala Penjaga disini. pria berjambang itu tampak kualahan karna semakin hari pria itu semakin sulit di kendalikan.
"Untuk sekarang dia.."
Kalimat Martienz terhenti dikala mendengar suara hantaman besi itu kembali. ia mengepal membuktikan jika rasa muak dan amarah itu telah terpupuk dalam.
"Beri dia obat"
"T..tapi Tuan.."
Martinez menatapnya tajam hingga mau tak mau Groel tetap menjalankan titahan Pria ini. Hanya dengan memberinya obat itu maka dia akan kembali tenang.
"Tuan. dari pada seperti ini terus, kenapa kau tak menghabisinya saja?" tanya Groel yang sudah jengah mengurus pria itu.
"Maksudmu?"
"Nyonya sangat menjaganya agar tak keluar dari ruang bawah. Nyonya juga tak ingin dia hidup dan kenapa harus repot-repot begini?!"
Martinez terdiam membisu. ucapan Groel memang ada benarnya juga, tapi jika ia membunuh pria itu sekarang maka akan jadi masalah besar ke depannya.
"Nyonya pasti sudah jengah melihat tingkah arogannya. Tuan bisa usulkan ini pada Nyonya."
"Kau benar. dia sangat menyusahkan." geram Martinez seraya berfikir jauh. ia harus segera membujuk Momynya untuk mencampakan sampah itu.
Tapi. tak mungkin, wanita sibuk itu sangat menjaga keberadaan peliharaan Miller ini.
"Shitt! apa yang harus aku lakukan dengannya?!"
...
Vote and Like Sayang..