
Penyiksaan Kellen itu berangsur membaik kala ia sudah di boyong kembali ke Kediaman. Seperti biasa mereka harus melewati lorong bawah tanah agar tak ada yang mengetahui apa yang telah mereka lakukan.
Tepat jam 11 malam, mereka tiba di Kediaman dimana Kellen tampak sudah sangat lelah dan ia juga terlihat kegerahan ingin mandi.
"Kalau tahu begini aku tak akan pergi." umpat Kellen memijat bahunya yang terasa nyeri. Ia melangkah kembali ke arah bangunan kecil di samping dimana keadaan Kediaman masih sunyi seperti biasanya.
Namun. Kellen masih di kuntit Axton yang memeggang lengannya terus menerus, Castor yang melihatpun hanya menggeleng melangkah pergi ke tempatnya.
"Istirahatlah. Besok kita lakukan lagi."
"Jangan sampai dua kali!!" jawab Kellen melempar pandangan membunuh. Castor hanya menaikan bahunya acuh lalu melangkah pergi meninggalkan keduanya.
Untung saja tak ada penjaga disini hingga Kellen bebas melenggang ke arah kamarnya.
"Ax! Kau sudah kenyang. Bukan?"
"Hm." menganggukinya. Tadi mereka sempat makan dan baru pulang kesini.
"Kalau begitu mandi dan langsung tidur. Tubuhku sudah remuk.. Ehmm."
Axton tak bersuara. Ia mengikuti Kellen yang berjalan gontai sesekali melenturkan lehernya. Hari ini sangat melelahkan dan begitu menguras tenaga.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai ke pintu kamar. Mata elang Axton memperhatikan letak Pot yang ada di samping pintu.
"Ada apa?"
"Hm?"
"Kenapa melamun?" tanya Kellen seraya membuka pintu kamar. Ruangan tak terlalu luas dan sederhana ini kembali Kellen lihat.
"Aku mandi duluaaan!!"
Axton hanya diam masih di tempat. Kellen sengaja bicara begitu karna biasanya Axton bersicepat mendahuluinya ke kamar mandi agar tak di tinggalkan.
Saat mengambil handuk di lemari. Kellen terhenti kala tak ada jawaban dari Axton yang masih ada di depan pintu.
"Ada apa dengan Monster tampan satu ini?!" gumam Kellen mengambil handuk lalu kembali menutup kemari.
Ia berjalan mendekat ke pintu memandang Axton yang masih menatap datar pot bunga di lantai sana.
"Ax! Ada apa? Ini sudah larut dan dingin. Nanti kau masuk angin."
"Kell!"
"Ada apa? Masih lapar?"
Tanya Kellen merapat ke tubuh Axton yang selalu ia perlakukan seperti anak kecil. Kellen bisa santai karna ia menganggap Axton masih anak-anak.
"Tidak ada."
"Kenapa diam?"
Memeggang bahu Axton memastikan. Helaan nafas Axton muncul beralih merapatkan tubuh keduanya.
"Jangan mandi!"
"Whaaa? Big no, Ax! Aku sudah berkeringat." pekik Kellen mengibas wajahnya dengan satu tangan pertanda ia tengah gerah walau cuaca dingin.
Kellen tak mengerti apa yang tengah Axton pikirkan. Pria ini hanya melihat Pot bunga itu lalu menatap kedalam kamar dengan intens.
"Hm."
"Hm. Apa?"
Axton tak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam kamar tak melepas belitannya kepinggang kellen.
"Ayolah! Jangan membuat kepalaku pusing malam ini."
Gerutu Kellen mengikuti Axton ke kamar mandi. Sangat mengherankan jika pria ini tidak berulah malam ini.
Dan benar saja dugaan Kellen. Axton tampak melakukan tingkah anehnya lagi, pria ini menghidupkan Shower lalu menyemprotkan airnya ke semua dinding kamar mandi.
"Aax! Kau sedang apa?"
"Mandi!"
Jawaban singkat yang menyebalkan. Kellen mengangkat tangannya sudah jengah dan memilih membuka Sweaternya dengan gamblang.
Ia yakin Axton tak mengerti tentang apapun termasuk tubuh wanita. Terbukti saat dulu Axton dengan polosnya memasukan daleman Kellen ke keranjang kotor.
Seakan tak ada beban. Kellen hanya memakai Bera dan Daleman dengan warna yang sama. Warna coklat yang sangat kontras dengan kulit putihnya.
"Ax! Kau mandilah duluan, aku ingin ke kamar kecil dulu."
Kellen masuk ke pintu di samping sini dimana ada Toilet meninggalkan Axton yang menggeleng mencoba menepis pikirannya kala melihat tampak belakang Kellen yang memunggunginya tadi.
Sorot mata Axton berubah kala melihat sesuatu di dekat gantungan handuk. Ia mengambilnya dengan kasar meremas benda itu sampai hancur.
Tak cukup itu saja. Axton mengibas handuk Kellen lalu menyiramkan semua sudut ruangan ini dengan air hangat yang ia steel ulang.
"Ax!"
Axton menghentikan aktifitasnya. Ia mengubah Stelan air ke yang dingin kembali seraya wajah datar menatap kosong sosok cantik ini.
Shitt. Betapa indahnya pemandangan yang ia lihat, gudukan sekang dan lekukan tubuh jenjang itu sangatlah sempurna dan mulus.
"Ax! ayo mandi, ini sudah malam. Lebih cepat lebih baik."
"Hm."
Axton meletakan sesuatu yang ia genggam di saku celananya. Tanpa dosa apapun Axton membuka kaos dan celana yang ia pakai membuat rona malu Kellen tercipta.
"Untung saja dia tak ingat apapun. Kalau benar-benar menjadi lelaki, aku tak akan sanggup disini."
Batin Kellen mencoba untuk tenang. Walau sudah berkali-kali melihat tubuh berotot dan Atletis Axton. Ia tetap saja gagal fokus.
"Ax! Berikan Shower-nya!"
"Ini!"
Kellen mengambil Shower di tangan Axton yang hanya memakai Boxser jantan itu. Sangat sempurna dan gagah perkasa.
"Duduklah! Aku akan memandikan-mu lebih dulu."
"Hm."
Tak mau berlama-lama disini. Kellen melakukan rutinitasnya setiap pagi, siang dan malam hari. Axton memejamkan matanya agar tak melihat lekuk tubuh Kellen agar tak memancing hal yang rumit.
"Ax! Kau belum menjawabku. Kemana tadi saat kau menghilang?" seraya membersihkan rambut Axton dengan Shampo.
"Jalan?" mengerutkan dahinya.
"Hm."
"Ax! Disana bukan tempat bermain, kalau aku terlambat sedikit saja. Ntah apa yang akan terjadi padamu."
Ucapan Kellen sangat percaya diri tapi tak sesuai yang terjadi di lapangan.
"Lain kali jangan begitu. kau selalu menyusahkan aku."
Umpat Kellen langsung mengundang tatapan tajam Axton. Pria itu membuka mata dengan pandangan dinginnya.
"Gosok gigi dulu. Lalu buang air kecil dan Tidur, kau ini sudah besar tapi masih mau di arahkan."
Sebenarnya ada raut dongkol di wajah Axton tapi Kellen tak menyadarinya. Ia hanya fokus mengurus bayi besarnya ini sampai lupa batasan antara lelaki dan perempuan yang ia ajarkan padanya kemaren.
"Kau sakit?"
"Tidak."
"Kenapa menunduk terus?"
Cemas Kellen mengusap wajah Axton dengan tangannya. Ia tak bisa peka atau memang tak sadar bagaimana keadaannya sekarang.
"Tidur!"
"Baiklah. Aku akan cepat."
Kellen tergesa-gesa menyabuni tubuh Axton. Beberapa kali terdengar helaan nafas berat pria ini tapi Kellen tak sempat berfikir.
Setelah mengurusi Axton barulah Kellen membersihkan dirinya. Ia keramas karna tadi dedaunan itu jatuh mengotori surai emas milik Kellen.
"Ax! Ambilkan shampo-ku!"
Tak ada bantahan keluar. Axton yang sudah memakai handuk meraih shampo wangi Vanila Kellen di sampingnya.
"Ini."
"Terimakasih. Agak jauh berdirinya, nanti kena air."
Axton mengangguk menunggu Kellen selesai mandi. Mata elangnya bergerak tajam memindai setiap sudut ruangan ini seakan mencari benda itu lagi.
Kellen asik dengan ritual lamanya sedangkan Axton berdiri membelakanginya. Pria itu menatap kearah peralatan mandi Kellen.
Tangannya terulur memeriksa semuanya sampai tak menemukan apapun.
"Mencari apa?"
Kellen yang tampak membasahi kepalanya yang berbusa dengan air. Axton tak menatap kebelakang, gemercik air mandi itu saja mampu membuatnya merinding.
"Ax! Pergilah keluar duluan, aku masih lama."
"Disini."
"Terserah, kalau kau mau menungguku."
Jawab Kellen mandi dengan sangat bersih. Ia merawat wajah cantiknya penuh kasih dan sayang seorang ibu. Pijatan lembut dan beberapa perawatan kecil itu mampu membuat Kellen lebih bercahaya.
Saat Kellen sibuk membersihkan diri. Axton segera meraih celana pendeknya tadi yang tergeletak di atas lantai tangannya merogoh saku celana kembali menggenggam benda itu.
"Ax! Tolong ambilkan handuk-ku di situ!" menunjuk pintu yang terbuka.
"Dua?"
"Genius!" ucap Kellen mengusap rambut Axton dengan sedikit berjinjit. Pria ini lebih tinggi darinya.
Axton mengambil dua handuk itu lalu memberikannya pada Kellen. Lagi-lagi ia melihat ke bawah dan Kellen anggap itu isyarat mengantuk.
"Aku akan selesai sebentar lagi."
"Hm."
Kellen menggeleng saja. Ia terburu-buru menyudahi segalanya seraya menggulung rambut panjangnya dengan handuk kecil.
"Ax! Kau.."
"Tidur!"
Axton menarik lengan Kellen keluar tak sempat mengemas peralatan mandi mereka lagi. Tak mau memancing keributan, tentu Kellen pasrah mengikut saja.
"Aku mau berpakaian. Ax!"
"Tidak usah."
"Dingin. Perutku bisa kembung."
Axton tak menjawab apapun. Ia mematikan lampu kamar agar gelap samar lalu, menarik Kellen agar berbaring.
"Ax!"
"Apa?"
Tadinya ia ingin menyangga. Tapi, Kellen lihat Axton benar-benar sudah mengantuk. Setidaknya tak apa sekali lagi untuk malam ini.
"Baiklah. Selamat malam!"
"Hm."
Kellen berbaring tepat di samping Axton. Seperti biasa posisi Axton masih seperti bayi tapi Kellen sudah biasa hingga tak canggung lagi.
........
Braaakk..
Earphone yang tengah ia peggang beralih mencium lantai dan berserakan. Amarahnya jelas terlihat ke layar monitor yang gelap dan tak seperti tadi.
"Sialll!? Siapa yang mengambilnya? Dia merusak kesenaganku!!"
Umpatnya kasar kala tadi sedikit lagi ia akan melihat keindahan surgawi itu. tapi, tiba-tiba semuanya mati dan seperti eror.
Sudah lama ia menunggu kesempatan ini. Saat berkunjung dalam diam dulu, ia sudah jatuh hati dan berfikir untuk mencoba lebih ekstrem.
Tapi nyatanya... Double Shitt. Ada saja pengganggunya.
...
Vote and Like Sayang..