
Suasana seketika hening. Suara tembakan itu membuat mereka termenggu kosong menatap kearah belakang dimana tubuh seorang pria terjatuh tepat di samping Kellen yang seketika memucat melihat darah yang mengalir tepat di dekat kakinya.
Nicky tak terkejut sama sekali karna ia juga tahu sedari tadi mereka di rekam dan hampir di sepanjang jalan tadi banyak kamera tersembunyi yang memancar kesini.
"I...ini..."
"Siapa yang mengizinkanmu. Keluar?" tanya Axton menatap tajam Kellen yang menelan ludah berat. Ia terdiam kaku kala Axton melangkah mendekat dengan pistol masih di genggamannya.
"Tuan!"
"Bereskan ini dan ambil hasil salinan Rekamannya." titah Axton pada Vacto yang mengangguk segera menyeret tubuh pria ini pergi.
Sementara Nicky. Ia mengambil kamera yang tergeletak di lantai, tampaknya masih menyala dan siap di sambungkan.
"Nyatanya Johar tak sebodoh yang kita kira."
"M..maksudmu?" tanya Kellen tak mengerti apa yang Nicky katakan. Ia beralih memandang wajah tampan datar Axton yang sepertinya menyembunyikan sesuatu.
"Kalian kenapa? Aku pikir kau tengah ada masalah besar. Dan.."
"Kau mencemaskan-ku?" tanya Axton menatap intens Kellen yang seketika tersadar. Ia merubah raut wajahnya ketus dengan pandangan kesal.
"T...tidak. Aku..aku hanya bertanya, kau..kau juga .. Aku.. Aku tak perduli." gagap Kellen tak jelas.
"Kau yakin?"
"I..iya!!! Memangnya kenapa? kau tak suka??" tanya Kellen mendongakkan wajahnya pada Axton yang menyunggingkan seringaian liciknya. Itu membuat bulu kuduk Kellen merinding.
"Aku suka!"
"Terserah kau saja." umpat Kellen ingin melangkah pergi tapi lengannya langsung di tahan tangan kekar Axton yang ingin membicarakan sesuatu.
"Dengarkan aku bicara!"
"Apanya?" tanya Kellen bermuka masam. Nicky masih mengotak-atik Kamera ini karna urusan tertentu.
"Jawab dengan jujur."
"Maksudmu apa?" Kellen mulai frustasi memandang serius Axton yang yakin disini tak ada lagi bagian pengintai. Ia tak merasakan ancaman itu.
"Apa benar kau bukan orang asli Amerika?"
"Memangnya kenapa?"
"Bisa kau jawab saja?!" tanya Axton dengan pandangan dinginnya. Kellen jadi merasa gugup di tatap begitu hingga akhirnya ia mulai membuka suara.
"Aku .. Aku memang bukan orang Amerika asli. Kau lihat mata-ku bukan? Ini mirip dengan Mommyku. Dia orang Prancis."
"Kesini!"
Dahi Kellen menyeringit kala Axton menarik lengannya hingga tubuh keduanya merapat. Ia tak tahu apa yang tengah bersarang di kepala pria ini.
"Apa?"
"Apa kau pernah tinggal berpindah-pindah?"
"Yah!"
Nicky tersentak. Ia menatap Axton yang masih belum mendapatkan rasa yang pas untuk mengexspresikan bagaimana sudut pandangnya sekarang.
Axton tak mau salah jalan atau termakan rencana musuh yang sudah ia duga sebelumnya. Axton sudah melihat semua File yang di kirim Nicky melalui Laptopnya. Tetapi, ia yakin ada yang sudah memasukan data palsu agar ia percaya akan data yang di temukan di identitas mereka.
"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?"
"Kellen! Kau tahu, Masimo yang kami cari itu datanya sesuai dengan kehidupanmu."
Dahi Kellen menyeringit mendengar kalimat Nicky barusan. Dengan kata lain Nicky mencurigai keluarganya.
"Jadi, maksudmu kami terlibat. Begitu? Mana mungkin kami melakukan hal sejahat itu. Apalagi Daddyku, dia tengah sakit jantung dan kalian malah menuduhnya melakukan ini. Apa kalian tahu aku.."
"Dengarkan dulu." sela Axton mengerti bagaimana respon Kellen. Ia hanya bertanya dan meyakinkan data itu palsu dan mereka tengah ada di permainan musuh.
"Ax! Kau mencurigai-ku?"
"Aku percaya padamu." jawab Axton tegas tanpa ada keraguan sama sekali. Kellen sadar jika jawaban Axton itu tiba-tiba saja membuat hatinya senang bukan main.
"Tapi, jawabanmu tadi cocok dengan apa yang mereka berikan. Bisa saja ini bukan permainan, Axton!"
"Apa?"
"Mereka hanya mempermainkan kita. Johar sebenarnya sudah tahu jika aku tak hilang ingatan sama sekali, dia diam karna ingin menjebak kita dalam permainan busuknya. Dan memanfaatkan Kellen yang sangat penting bagiku."
Degg...
Tiba-tiba saja jantung Kellen bergetar mendengar penjelasan Axton yang hanya beraut datar tapi kalimatnya sangat teliti dan dalam.
"Dia sudah curiga saat aku bertanya soal Masimo itu berulang kali. Johar orang yang sangat licik, dia memanfaatkan itu untuk memutar balikan keadaan dimana Aku mencurigai Kellen dan rencana mereka berhasil. Sedari tadi dia telah memantau Markas ini termasuk bagian teras Atap."
"Jadi kau..."
Axton mengangguk. Ia sudah menduga jika sedari tadi banyak yang sudah mengintai mereka dan sekarang Castor tengah menjalankan rencana tambahan mereka untuk mencari siapa saja yang menjadi anak buah setia Johar yang berani berkhianat padanya.
"Aku tahu kita tengah di awasi. Sebisa mungkin ikuti saja permainan mereka, cepat atau lambat Masimo itu sendiri yang akan menunjukan siapa dirinya."
"Wowww Ax!" decah Nicky kagum. Ia tadi tak terpikir kesana karna ia fokus pada bukti yang ada di tangannya tapi nyatanya, Axton bisa menebak dengan sangat detail.
"Ax! Ini benar-benar sesuatu." imbuh Nicky gemas sendiri.
Tatapan jengah Axton muncul menarik Kellen ke arah tempat duduk di dalam. Ntah kenapa saat ini Kellen merasa ingin menemani Axton yang berlaku lembut padanya.
"Kau.."
"Duduk disini."
Kellen tak mau membuat perdebatan. Ia duduk di sofa panjang ini seraya menatap Axton yang mengisi peluru di pistolnya.
"Apa rencanamu kedepan? Ax!"
"Ikuti saja permainan mereka. Aku tak suka terlalu menonjol." jawab Axton seraya melempar pandangan pada Kellen yang pura-pura memainkan kukunya. Ia tak mau terlihat jelas memperhatikan pria itu.
"Tapi. Mereka pasti akan melanjutkan semuanya, bisa saja nanti keadaan mendesak kita. Axton!"
"Aku tak perduli! Biarkan saja mereka melakukan apapun dan aku juga akan melakukan apa yang aku mau." tegas Axton menembakan pistolnya ke arah botol kaca yang jauh di ujung sana.
Benda itu pecah berserakan di lantai beriring dengan pandangan menusuk Axton yang harus selalu berhati-hati. Ia yakin Kellen tak ada sangkut pautnya disini dan ia tak akan pernah meyakini itu.
"Ax! Aku pikir kau berpendapat yang sama denganku." gumam Nicky yang awalnya memang terkejut dan mulai tak yakin dengan Kellen tetapi nyatanya Axton punya pemikiran sendiri.
"Aku tak ingin membuat kecurigaan. Melihat mereka mengintai di mana tempat, sudah di pastikan jika target selanjutnya itu Istriku."
"Yah. Sepertinya memang begitu." jawab Nicky menoleh kebelakang dimana Kellen masih asik memainkan kuku cantiknya.
Sebenarnya Axton merasa cemas karna bisa saja mereka mengincar Kellen. Ia harus mendesak Masimo itu keluar menunjukan siapa sebenarnya dia.
"Kukumu tak akan berubah di pandangi begitu."
"Hm." gumam Kellen hanya menunjukan ketidak kesukaan. ia tak mengerti apa yang Axton lakukan karna ini terlalu rumit baginya
"Sini!"
"Kenapa?" ketus Kellen tak mau.
"Kesini!"
"Aku ngantuk. Kau lakukan saja apa yang kau suka." gumam Kellen berdiri lalu melangkah pelan kearah pintu keluar.
Ia harus memikirkan lagi cara menebak apa yang akan Axton lakukan dengan para musuh yang menggunakan dirinya untuk membuat taktik.
"Ax! Sepertinya Kellen terlalu berani padamu."
"Aku tak masalah. Selagi dia tetap disini." jawab Axton melempar Pistolnya lalu mengikuti Kellen yang masih berjalan pelan di luar.
Terdengar suara pekikan Kellen kala tubuhnya melayang pindah ke gendongan kokoh sang suami. Makian itu terlempar tapi tak ada balasan dari Axton yang memastikan keselamatan Kellen sampai ke kamar sana.
Melihat itu Nicky diam. Ia salut dengan Axton yang bisa menduga rencana musuh, tapi bukan berarti mereka aman. Ia masih memikirkan soal Ayah Kellen yang masih membuatnya curiga.
"Terserah kau percaya atau tidak Ax. Tapi aku akan menyelidiki ini, bisa saja mereka itu merencanakan hal di luar dugaan nantinya."
.........
Vote and Like Sayang..