
Tubuh Kellen di dekap erat Axton yang menarik diri ke arah kamar mandi. Ia menghindari jendela di kamar dengan wajah yang sudah mendingin.
"A..Ax." gumam Kellen memucat di tempat. Ia memasrahkan tubuhnya berada di kurungan lengan kekar Axton yang benar-benar sudah merapatkan rahangnya.
"Kell!"
"A..Ax. Kau..kau jangan keluar." ucap Kellen menahan lengan Axton yang ingin keluar. Mata pria ini masih menyimpan amarah yang besar hingga tak bisa ia bendung.
"D..Disini.."
"Ax! Sudah, kau bisa di tembak. Aku..aku mau kau disini." tekan Kellen cemas jika tembakan itu akan terjadi lagi.
Saat keduanya saling kekeh tiba-tiba pintu terbuka memperlihatkan Castor yang masuk dengan wajah cemasnya.
"Ada apa?"
"Awas! Tadi ada yang menembak di.."
Belum sempat Kellen bicara. peluru itu sudah melesat ke dalam tapi untung saja Castor sigap menghindar hingga hanya mengenai dinding kamar.
"Siall!! Periksa di bagian selataan!!!"
"Baiik!"
Suara penjaga di luar berlarian ke arah asal tembakan. Castor tadi bersicepat kesini karna mendengar suara tembakan yang cukup keras.
"Urus Tuan! Aku akan mengejar mereka."
Kellen mengangguk memandangi Castor yang melangkah keluar. Ia masih merasa gugup membayangkan kejadian tadi.
Kalau sedikit saja Axton terlambat menarik Kellen. Maka sudah di pastikan kepala Kellen akan hancur di tempat.
"Mereka..mereka sudah pergi. Sekarang pakai pakaianmu."
"Kell!"
Axton menahan Kellen agar jangan keluar dulu. Walau Axton tak tahu tentang apapun tapi ia punya insting bahaya bahkan bisa merasakan ancaman di sekitarnya.
"Castor sudah mengejarnya. Kita aman."
"B..Belum."
Gumam Axton merasa tak aneh dengan tembakan itu. Ia seakan pernah mendengar berulang kali tapi masih abu di benaknya.
Melihat Axton yang menyeringit memeggangi kepalanya. sikap sigap Kellen muncul memeggang bahu kokoh ini.
"Kau kenapa?"
"I..itu.."
Axton berusaha mengingat segalanya. Ia mencengkram lengan Kellen kuat sampai wanita itu merasakan sakit yang sangat hebat.
"A..Ax. Kau..kau menyakiti lenganku!!"
"Kell!"
Ia tersadar dan cepat melepasnya. Tatapan Axton kembali linglung dan frustasi karna ia tak tahu apa yang telah terjadi.
"Sudahlah. Jangan memaksakan diri, sekarang pakailah pakaianmu."
"K..Kell." gumam Axton saat Kellen melangkah keluar kamar mandi ke arah Paper-bag yang tergeletak di lantai.
Kepala Axton berdenyut sakit merasakan dunia ini berputar dalam pandangan dan benaknya.
"Ayo. Pakai ini! Kau bisa masuk angin."
"K..Kell.." gumam Axton menyipitkan matanya kala penglihatannya kabur. Ia tak mendengar suara Kellen yang memanggilnya mendekat tapi dalam pandangan Axton ada suara orang di luar sana yang menderu kesini dengan perasaan panik mendengar suara tembakan ke arah Kellen.
"Kell!!"
Axton berlari menarik tubuh Kellen yang tertabrak ke dada bidangnya. Mata Kellen bertanya-tanya kenapa Axton jadi aneh dan semakin aneh ketika keluar.
"Ax! Ada apa?"
"D..Di luar.. I..itu.."
Wajahnya mulai pucat melihat ke arah jendela yang tadi sudah pecah dan beralih ke pintu. Axton persis seperti menyimpan rasa takut yang tersembunyi di batinnya.
"P..Pergi.. itu.."
"Hey!"
"Kell! M..mereka.."
Kellen menatap ke semua yang di pandang panik Axton. Tak ada yang berubah disini, suara ramai apa? Tak ada yang menderu kemari.
"K..Kell!! Kell!!!"
"Hey! Tak ada apapun."
Axton menggeleng keras. Jelas ia mendengar suara itu dan semakin nyata di telinganya. Ntah apa yang terjadi tiba-tiba Kellen merasa genggaman Axton mendingin dan sangat beku.
"K..Kell!! Kell!!!"
"Hey. lihat... lihat aku." pinta Kellen menangkup rahang tegas pucat ini. Tatapan mata kepanikan itu sangat tak di mengerti Kellen.
"K..Kell."
"Tak apa. Semuanya baik-baik saja, aku bersamamu." bisik Kellen kembali memeluk Axton yang memburu. Nafas pria ini sangat barat dan serak.
"Tenanglah kita aman disini."
"A..Aku.."
"Aku senang kau bisa bicara lebih banyak." gumam Kellen mengusap kepala Axton lembut menghadirkan rasa nyaman dan kehangatan dari aroma Vanilla tubuhnya.
Saat di rasa Axton mulai tenang. Barulah Kellen memberikan pakaian itu. Ia membantu memasangkan kaos lengan pendek hitam ini.
Untuk celana dan Boxernya. Kellen juga ikut membantu karna ada pengaman handuk yang menjaga pandangannya.
"Sudah. Kau sudah sangat tampan." puji Kellen tersenyum melihat Axton sudah rapi dan sangat gagah. Jika pria ini sehat maka pasti banyak wanita yang mengantri untuknya.
"Ranjangku masih bersih. Kau berbaring disini."
"Kell!"
"Aku akan menutup tirai jendela. Hanya sebentar."
Axton tak mau melepasnya. Alhasil Axton membuntuti Kellen dengan genggaman tak terlepas ke arah jendela.
Terlihat para penjaga di luar sana masih mencari-cari. Kellen memilih memendam pertanyaan di benaknya dengan menutup kembali tirai kecil ini.
"B..Basah.."
Gumam Axton saat pakaian Kellen basah dan wanita itu baru sadar sekarang.
"Aku akan ganti baju."
"Hm."
"Pergilah ke sana dulu."
"D..Disini." tegas Axton datar. Helaan nafas Kellen muncul akhirnya pasrah, toh Axton tak akan tahu tentang postur tubuh wanita.
"Berbalik! Tapi peggang tanganku!"
"Hm."
Axton menurut. Ia berbalik membiarkan Kellen menarik turun Dress di tubuhnya. agak susah bergerak tapi Kellen usahakan cepat.
Ia mencari baju kaos yang lebih besar dan Hotpants santai agar tak terlalu banyak berbelit.
"Kell!"
"Sebentar."
Kellen mengganti ********** dengan yang kering. benda itu tergorok tepat di lantai hingga lirikan mata elang Axton tertuju pada benda segitiga maron itu.
"Ax! Jangan berbalik."
"Hm."
Kellen tak menyadari jika Axton sudah meraih benda itu lalu membawanya ke arah kamar mandi.
"Ax!" panggil Kellen kala selesai berpakaian.
Tak ada jawaban dari belakang dan genggaman itu juga terlepas membuat Kellen berbalik.
"Ax!"
"Kell!"
"Ada apa?" tanya Kellen mendekat saat Axton berdiri di samping keranjang kotornya.
"Kenapa? Kau..."
Degg..
Mata Kellen melebar kala Axton menggenggam ********** dengan enteng. Mata pria ini tertuju ke arah keranjang kotor yang ada kemejanya tadi.
"A..Ax. Kau.."
"Disini!"
"Astaga! Berikan!"
Axton memberikannya dengan tatapan yang datar. dengan malu Kellen mengambilnya lalu memasukan benda itu ke dalam keranjang dan segera menarik Axton keluar.
"Berbaring! Kau..kau butuh tidur."
"T..tidur?"
"Yah. Cepat."
Axton mengangguk duduk di tepi ranjang. sementara Kellen tengah menahan rasa dongkol, malu dan geram sekaligus.
"Kell!"
"Berbaring. Dan tidur."
Kellen mendorong bahu Axton pelan agar bisa berbaring. Pria ini hanya diam dengan wajah datarnya menurut tapi sangat menguras kesabaran Kellen.
"Pejamkan matamu."
"Kell."
Axton menarik Kellen untuk berbaring di sampingnya. Mau tak mau Kellen menurut juga saling membujur satu sama lain.
Tak ada pembicaraan. Axton masih menatap kosong langit-langit kamar dengan pandangannya sendiri. Sedangkan Kellen, ia tengah berusaha tenang akan kejadian tadi.
"Hari ini dia berani memeggang dalamannku. Besok apa lagi, ya Tuhan?"
Batin Kellen frustasi. Ia sejenak memunggungi Axton yang masih diam beralih memandang punggung Kellen.
"Kell!"
"Hm?" masih belum berbalik.
Tak ada sahutan dari Axton. Lama menunggu juga tak ada jawaban hingga Kellen berbalik.
Spontan kedua mata mereka saling memandang. Tak ada kedipan di tatapan Axton yang seakan mengingat semua tentang Kellen.
"Ada apa?"
"Hm."
"Kenapa?"
Axton hanya diam. Ia menggeser tubuhnya mendekati Kellen lalu ke bawah sedikit memposisikan tubuhnya agar bisa terbenam ke gundukan sintal itu.
Karna sudah biasa akhirnya Kellen menarik ke atas pinggiran kaosnya membiarkan Axton terlelap tenang memeluk perutnya dengan wajah kembali terbenam di bantalan hangat ini.
"Tidurlah. Semuanya baik-baik saja."
"Hm."
Kellen mengusap kepala keangkuhan ini lembut. Aroma Shampo Axton masih terasa menyegarkan.
"Aku harus membawamu ke Psikologi. Bisa saja nanti kau kembali melukai orang lain atau dirimu sendiri. Ax!".
Batin Kellen kala mengingat jika Axton selalu berperilaku aneh melihat sesuatu yang tak terjadi. Rasa takut, panik dan cemas itu tiba-tiba datang secara cepat hilang tapi kembali lagi.
Kellen berputar dengan pikirannya tanpa menyadari jika sedari tadi ada mata yang melihat dari sela pintu kamar. Walau hanya melihat bagian belakang Kellen, ia sudah sangat memiliki hasrat akan wanita ini.
" Tak akan ku biarkan dia sembuh dan memiliki bidadari sepertimu." desisnya menyeringai menjijikan.
.....
Vote and Like Sayang...