My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Kenyataan di balik pengkhianatan!



Tatapan mereka masih belum teralihkan dari sosok pria paruh baya yang tampak tersandar di tumpukan beton yang menopang tubuhnya.


Jambang yang hampir memutih itu sudah di lumuri darah dengan wajah paruh baya yang tampak tak begitu Familiar tapi masih terasa pernah bertemu.


Tatapan tajamnya tak berhenti menghunus Axton yang tak menduga jika pria inilah yang menjadi sekutu Johar dan Vacto.


"Ax! Dia ini.."


"Peint!"


Sambar Axton mengepalkan tangannya kuat. Pria paruh baya yang bernama Peint itu terbahak melihat reaksi orang-orang di sekitarnya. Sangat tak menyangka bukan?


"Terkejut. Hm?"


"Bukankah dia ini Ayahnya Joy?"


"Joy?" gumamnya lalu mengangguk. Luka di dadanya sudah sangat parah tapi pria itu masih bisa bertahan selama ini.


"Putra bodohku itu memang patut di kenal."


"Kenapa bisa? Kau bukan bagian dari Klan Dark dan kau tak ada hubungan dengan para petinggi Miller." sambar Castor merasa tak cukup percaya.


Axton hanya diam dengan pandangan berapi-api. Walau bagaimana-pun pria ini bergabung ia tak akan melepaskannya.


"Kau masih bocah dan sangat lugu! Otakmu tak akan sampai kesana."


"Kauuu..."


"Dia sudah bergabung dengan rekannya sejak Petinggi Miller ingin melakukan lencana pengubahan Klan." potong Axton dengan pengamatan tak salah dan itu benar-benar membuat Peint kagum.


"Kau menjadi rekan luar dari Vacto dan Johar agar bisa membantu dari segi apapun. Kau bekerja di balik perlindungan Johar dan Vacto yang kau jadikan tameng."


"Kau sudah tahu rupanya." desis Peint benar-benar merasa Axton menuruni bakat yang pas dan melebihi kedua orang tuanya. Ia sudah lama mengamati perkembangan pria ini termasuk dalam masa sakit itu.


"Kau pikir Axton sebodoh itu. Ha??" ketus seseorang yang telah keluar dari balik kegelapan sana.


Nyatanya itu adalah Hugo dan Robert yang tampak sudah sadar dengan mengusap tengkuknya. Hal ini benar-benar mengejutkan apalagi darah itu membanjiri pakaian mereka.


"Kalian punya sembilan nyawa."


"Tidak! Ini adalah darah buatan dari Dokter Hugo yang sudah mendesain Rompi anti peluru pada kami sesuai perintah Axton kala datang ke Markas kemaren." jelas Castor menaikan ujung pakaiannya hingga Rompi itu terlihat. Sama halnya dengan Hugo dan Robert yang sudah berjaga-jaga dan mungkin..


"Cih.. Mereka juga." decah Peint melihat para anggota yang tadi terlihat sudah tiada karna tembakan itu nyatanya masih hidup dan berdiri dengan kokohnya.


"Axton tahu jika Vacto sengaja membuat desakan pada kami agar membawa Johar ke Lab besar yang kalian inginkan. Tentu, Axton tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengumpulkan kalian disini."


"Sangat licik." desis Peint menatap Axton yang hanya setia dengan wajah iblisnya. Dendam itu membara habis tetapi masih ada satu hal yang ingin Axton tanyakan sebelum menghabisi pria ini.


"Aku tak menemukan satu-pun jasad Ayahku maupun teman-temannya. Dimana mereka?"


"Mereka?" tanya Peint kembali dengan wajah benar-benar mengolok. Hal itu tentu membuat para anggota yang sudah membekuk anggota Masimo ini semakin naik darah.


"Mereka sudah di neraka."


"Jika memang mereka meninggal dunia saat itu, dimana mayatnya?" tanya Castor ingin tahu dimana ayahnya.


Peint menaikan bahu acuh memilih tak mau menjawab. Hal itu tentu tak lagi Axton tunggu atau bersabar lebih lama, ia menodongkan senjatanya tepat membidik kepala Peint yang terlihat santai-santai saja.


"Aku juga tak butuh ceritamu!"


"Benarkah? Apa kau tahu kenapa aku begitu menginginkan Lab itu?" tanya Peint meremas luka di dadanya sampai darah itu tak berhenti keluar.


Tak ada ringisan sakit apapun atau sekedar wajah yang gentar. Peint tampak sudah siap mati dan tak mau terlihat lemah.


"Aku bisa mencari jawabannya."


"Kau tak akan bisa." sarkas Peint mengadah menatap langit yang begitu pekat malam ini. Jika ia mati maka tak akan ia biarkan siapapun yang berkaitan dengan Keluarga Miller selamat.


"Aku bisa melakukan apapun."


"Darah Miller memang sangat angkuh dan sombong. Pantas kau menuruni semuanya." ucap Peint memejamkan matanya. Axton melihat jika ada sesuatu yang belum sepenuhnya terungkap.


"Kau menunggu rekanmu yang satu lagi?"


"Rekan?" gumam Peint membuka matanya. Ia melempar pandangan hera pada Axton yang menurunkan pistolnya.


Sementara Castor. Ia ingin tahu segalanya disini dan jangan sampai ia mati penasaran.


"Yah. Nyonya Verena, bukankah dia rekanmu?"


"Wanita itu rupanya." gumam Peint menimbang-nimbang. Ia agak geli mengatakan ini tapi, akan menyenangkan jika Axton sampai tahu satu kenyataan yang selama ini di sembunyikan oleh Verena yang mengkhianatinya.


"Dia bukan lagi rekanku."


"Kau jangan menipu kami lagi. Dia yang kau suruh untuk menyiksa Axton dan menipu seluruh dunia tentang kekuasaan MILLER bukan??" bentak Castor menyala-nyala. Ia tak terima dan begitu membenci masa-masa kelam itu.


"Kau memanfaatkan Trouma Axton dan membuat seluruh dunia mengenalnya dengan Kelainan. Iyakan??"


"Apa kau tak sadar sesuatu?" tanya Peint menyeringai dengan darah yang terus keluar dari bibirnya. Sangat di sayangkan dan begitu mengharukan.


"Kau jangan memutar cerita!!"


"Dia yang menyelamatkan AXTON!"


Deggg..


Seketika mereka terkejut akan pernyataan Peint yang terkekeh kecil melihat raut syok semua orang. Axton hanya diam dengan urat kemurkaan yang melingkar di tangannya.


"Sudah cukup kau membohongiku."


"Aku tak membual. Itu benar, Tuan Muda Miller!" desis Peint kala merasa jika lukanya begitu dalam. Sulit untuk lolos dari kepungan orang-orang ini.


"Maksudmu apa. Ha???" Castor tak mengerti.


"Dia adalah adik dari Tuan Fander yang telah menipuku dengan taktik lembutnya."


"Omong kosong!!!" geram Axton tak percaya itu. Tak mungkin jika Nyonya Verena yang selama ini berbuat kejam padanya melakukan hal seperti malaikat.


"Dia menanamkan kebencian dan dendam padamu agar kau membalaskan kesakitan masa lalu. Dia tahu jika kau akan di bunuh dan sejak itu dia berpura-pura menyarankan rencana untuk menjadikan-mu pimpinan Klan karna kau tak akan ingat jika kau memang penerus Klan dan Keluarga besar Miller. Dia begitu na'if dan munafik sampai berkorban sebesar itu hanya demi Putra KAKAKNYA!!! Dan aku BENCI dia." geram Peint mengatakan dengan penuh emosi.


"Karna wanita itu kau masih hidup sampai sekarang dan karna dialah kau berdiri disini menghabisi semua yang telah menghancurkan-mu." imbuh Peint menyeringai.


Castor tak bisa bicara lagi. Ia menatap Axton yang tampak mematung kosong dan tatapan yang rumit.


"Kalau saja saat itu dia tak mendongeng tentang rencana mencuci otakmu ketika dewasa. Maka kau sudah lama ku lenyapkan."


"A..Ax!" gumam Castor melihat Axton tak bergeming. Tentu semua ini benar-benar menjadi bongkeman bagi Axton yang tak menduga jika hal inilah yang terjadi.


"Ax! M..mungkin dia berbohong, kau tak perlu memikirkan itu."


"Apa aku terlihat berbohong. Hm?" tanya Peint menertawakan wajah mereka. Ia tak lagi menahan diri untuk membuka sesuatu yang baru ia ketahui baru beberapa hari ini.


Sementara Axton. Ia tengah membayangkan ke belakang hidupnya. Ia ingat jika Nyonya Verena tak pernah membiarkannya kelaparan dan saat Martinez ingin membunuhnya dia selalu menolak dengan alasan kekuasan masih atas nama dirinya.


"P..Pagi itu.."


Batin Axton sadar jika saat itu Nyonya Verena menangis dan ia tanpa di duga mengatakan berapa jumlah Masimo dan apa sebenarnya yang terjadi saat itu.


"Cas! Kau urus disini!"


"Ax! Kau..."


Axton berbalik ingin pergi tetapi tawa Peint menghentikannya. Suara lulungan anjing liar di sekitar sini bersenyayu dengan tawa misterius dari pria itu.


"Kau mau kemana? Hm."


"Ax! Pergilah, pastikan semuanya." dukung Castor mengambil alih.


"Semuanya sudah hancur. Axton! Dia sudah lenyap bersama Istrimu."


Duaarr..


Bagai di sambar petir Axton tercekat di tempat. Tiba-tiba saja ia merasakan dadanya sakit dan perasaan gelisah ini mulai merambat di nafasnya.


"Kauuu..."


Axton berbalik memberikan sorot membunuhnya pada Peint yang merasa kali ini Axton benar-benar akan lepas kendali.


"Aku sudah mengatur rencana kedua. Terlambat 10 menit saja. Maka.. Buuummm!"


"BRENGSEEEK!!!" geram Axton dengan brutal menembaki kepala Peint hingga mereka di buat diam menahan nafas yang terhenti sejenak.


Wajah Axton berkilat murka dan lebih mengerikan dari sebelumnya. Tak ada ketenagan atau rasa sabar untuk menunggu.


"NICKYYY!!! NICKYY DIMANA KAU SIALAAN???" bentak Axton memanggil Nicky yang sedari tadi tak ada bersuara.


Emosinya sudah mengubun tak lagi bisa Axton tahan. Dengan ringan dan penuh kekelaman Axton menendang besi di bawah kakinya untuk menusuk ke arah jantung Peint.


"Aku..aku tak akan mengampuni mu!!!


"Ax! Kita harus cepat, aku akan melacak dimana keberadaan Nicky." ucap Castor mencoba menenagkan Axton yang tampak sudah memburu panas.


Ia berlari ke arah Mobil diikuti separuh anggota yang berpencar karna harus mengurus kekacauan yang ada disini.


Pikiran Axton sangat kelut. Bernafas saja ia sangat susah membayangkan ucapan Peint barusan.


.......


Vote and Like Sayang..