My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Kekuasaan Miller!



Dahi Galvin menyeringit melihat sosok tinggi gagah yang tampak begitu menakjubkan. Pahatannya begitu tegas dengan sorot mata tak biasa, wajah yang punya kesan mendalam dan begitu berwibawah membuatnya merasa di tepis oleh aura yang kuat dari sosok kekar yang tengah melangkah mendekat ke arah sini.


Berbeda dengan mereka yang berwajah tegang dan tampak terusik. Kellen justru merasa aneh dan heran. Ntah kenapa Axton kesini padahal jelas tak ada urusannya sama sekali?


"Kau siapa? Dan siapa yang kau maksud Istrimu?" tanya Galvin menyelidik. Ia memang kalah telak dengan sosok ini tapi bukan berarti ia akan mundur, dengan nama dan kekuasaannya ia bisa melakukan apapun.


"Ax! Kenapa kau kesini?"


"Apa salah?" tanya Axton menaikan satu alisnya seraya meraih tangan kanan Kellen yang tadi di gunakan untuk bersalaman dengan pria ini.


"Siapa yang mengizinkanmu bersentuhan dengan pria SELAIN AKU. SAYANG?"


"Kau..."


Galvin membulatkan matanya kala melihat Axton mengusap tangan Kellen lalu memberikan kecupan di sana. Agatha juga sudah memucat bersama Ferry yang kebingungan.


"Ax!"


"Hm? tanganmu kotor. Jadi aku bersihkan." jawab Axton masih mengusap lembut dan seperti memancing Galvin yang sudah kebakaran. Wajah pria itu memanas melihat bagaimana mesranya Axton bersikap dan seperti bebas menyentuh tangan halus Wanita yang ia sukai.


"Jangan menyentuhnya!!!"


"Tuan!" gumam Ferry terkejut kala Galvin membentak Axton yang tampak setia dengan wajah dingin liciknya. Tatapan netra elang yang misterius dan selalu menyimpan bahaya.


"Kau.. Kellen! Ada apa ini? Dia.. Dia dia siapa?"


"Dia suamiku!"


Degg..


Seketika Galvin terbungkam dengan jawaban Kellen yang lugas dan jelas. Tatapan mata Amber itu juga optimis dan berkomitmen.


"K..Kalian.."


"Dia suamiku, memangnya kenapa?" tanya Kellen melihat raut kecewa Galvin yang benar-benar terluka.


"K..kau sudah.."


Ia tak bisa berkata-kata lagi kala melihat cincin pernikahan yang nyatanya melingkar di jemari lentik Kellen. Ia tak menyadari itu apalagi cincin yang sama juga ada di jari kekar Axton.


Cincin perak berwarna silver dengan kuningan tembaga kecil di kedua sisinya. Ini seperti hanya syarat nikah saja.


"T..tidak.. K..kau tak mungkin menikah dengan pria seperti dia. Kell! L..lihat cincin kalian, itu.. Itu murahan. Aku..aku bisa memberimu lebih dari itu dan.."


"Cincin?" gumam Kellen melihat cincin di tangannya. Memang benda ini tak mahal tetapi, hanya ini harta berharga yang menjadi saksi pernikahan pada masa itu.


"Yah. Memang tak mahal, tetapi aku menyukainya." imbuh Kellen membuat Galvin benar-benar emosi.


"Kau..kau tak bisa begini. Aku.. Aku mencintaimu. Kellen! hanya.. Hanya aku yang bisa membahagiakanmu."


"Aku sudah menikah." tegas Kellen bersembunyi di belakang Axton yang menatap dingin Galvin yang merasa sangat terancam.


"Kau.. Aku.. Aku akan memberikan apapun yang kau mau tapi.. Tapi serahkan dia padaku."


Seketika kepalan Axton menguat mendengar kalimat rendahan ini. Istrinya bukan sebuah barang yang bisa di tukar.


"Katakan.. Kau..kau ingin apa? Kau...kau ingin Apartemen atau .."


"Tuan! Sudah." bisik Ferry tapi tampaknya Galvin sudah kelut. Ia tak bisa menerima ini dan tak akan bisa.


"Aku.. Berikan dia padaku!!!" geram Galvin melayangkan tinjuan ke arah wajah Axton tetapi tangan kekar itu sudah lebih dulu menangkap kepalan tangannya dengan santai.


Ferry terkejut kala tinjuan Tuannya bisa di tahan oleh satu tangan kekar itu dan ia semakin merinding kala melihat Axton meremas kuat kepalan Galvin sampai berbunyi retakan.


"Ssiaaall!!" umpat Galvin menahan rasa sakit akibat tekanan tangan Axton. Ia benar-benar tak menyangka kekuatan pria ini begitu besar dan sangat mengerikan.


Melihat wajah Galvin yang pucat menahan tekanan kuat dari Axton. Kellen menjadi cemas jika nanti Axton hilang kendali.


"Ax! sudahlah, lepaskan dia!"


"K..Kellen!" gumam Galvin masih menatap penuh damba pada Kellen membuat rasa panas di dada Axton sudah meledak-ledak.


Dengan ringan Axton memelintir tangan Galvin sampai pria itu menjerit hebat merasakan tulangnya patah dengan posisi tubuh sudah terjatuh ke lantai Resort.


Para pelayan dan pengawal yang melihat itu dari luar sana menelan ludahnya berat. Mereka tengah di kepung anggota Axton yang sudah berjaga di luar.


"K..Kauuu brengsek!!"


"Tuan!"


Ferry melihat lengan Galvin sudah tampak berputar dan begitu mengerikan. Ia kembali melempar pandangan ngeri pada Axton yang terlihat kelam.


"Aku.. Aku akan membuat kau menyesal. Kellen! Kau.."


"Sebelum kau bicara. Cobalah melihat berita hari ini."


Suara Nicky berkumandang menunjukan layar ponselnya. Disana terlihat jika Kediaman Christofer tengah di serbu oleh Media karna kecurangan dan tindakan kriminal pencemaran nama baik.


Dan mata Galvin terbelalak melihat Mommynya sudah di giring pihak Kepolisian ke dalam Mobil tahanan.


"M..Mommy!!"


"Ini ibumu. Bukan? Sangat di sayangkan." desis Nicky menyudahi tontonan singkat ini. Mereka juga terkejut apalagi Kellen yang menatap Axton.


Apa yang terjadi dan kenapa bisa seperti itu?


"Aku akan menjelaskannya nanti. Sayang!" ucap Axton mengerti arti tatapan Kellen padanya.


Ia menatap Nicky yang mengangguk melempar sebuah Dokumen ke samping Galvin yang tampak masih syok. Ferry mengambil benda itu dengan wajah kebingungan.


"Bacalah! Lihat siapa yang sekarang sudah berani kau lawan."


Ferry membuka Map itu dan seketika Galvin lemas melihat apa yang telah di utarakan surat ini. Jantungnya seakan lari keluar dengan nyawa diambang-ambang tak berani melihat Axton.


"K..Kalian.."


"Perusahaan Christofer sudah di beli oleh Perusahaan MCC. Dan seluruh saham di sana hanya milik MILLER. Kau tak lagi berhak memakai nama Keluargamu di tempat itu."


Penjelasan Nicky benar-benar sangat mengejutkan. Agatha lemas duduk di kursinya begitu juga Kellen yang tak mengerti.


Wajah Galvin sudah tak lagi punya nyali dan terlihat seperti rongsokan dan seorang pecundang. Sangat menyedihkan.


"Kau begitu percaya diri. Tapi sayangnya, lawanmu kali ini berbeda." desis Nicky miris dan simpati.


"K.. Kau.."


Melihat raut wajah tak lagi bergairah Galvin. Axton menatap Castor yang mengangguk menyuruh Anggota untuk membawa dua pria ini keluar.


"Bawa mereka keluar! Merusak pemandangan."


"Baik!!"


Galvin menatap Kellen yang tampak hanya diam duduk di kursinya. Raut menyedihkan Galvin membuat Kellen iba.


"Ax! Aku.."


"Aku tak menerima bujukan." tegas Axton menatap tegas Kellen yang seketika diam memandangi para anggota yang menyeret kasar pria itu.


Sekarang. Tinggallah Agatha yang masih syok sampai wanita itu meminum air di atas meja dengan gemetar.


"Agatha!"


"D..Dokter! A..aku.. P..pulang!"


Agatha dengan mengigil berdiri lalu sekuat tenaga menyusuri dinding dengan kaki lemas. Ia seakan bermimpi dan ia harap ini hanyalah mimpi.


"Agatha! Kau baik- baik saja?"


"A.. I..iya!"


Kellen menghela nafas berat melihat itu semua. Pasti Agatha sangat terguncang dengan semua ini apalagi Axton mengejutkannya.


"Ax! Kenapa kau melakukan ini? Dan kau menggunakan nama Keluargamu. Bukankah itu berbahaya?" tanya Kellen bergeser ke kursi Agatha tadi lalu menarik lengan Axton untuk duduk di kursinya.


Castor dan Nicky tampak mengurus urusan lain di luar sana membiarkan mereka bicara.


"Aku sudah mengambil alih Perusahaan!"


"Apa? Tapi.. Tapi Martinez.."


"Tak ada hubungan dengannya. Itu Perusahaan Daddyku, dia hanya memeggang sementara." jelas Axton tegas menatap mata amber Kellen yang berfikir.


"Tapi, untuk apa kau membeli Perusahaan mereka. Lalu, kenapa bisa Nyonya Soulen di tangkap dengan isu itu."


"Bukan sekedar Isu. Sayang!" jawab Axton merapikan pita kain di rambut Kellen. Ia ingin Kellen lebih bisa menerima dan tak membela siapapun.


"M..Maksudnya?"


"Ibunya pria itu ingin menghancurkan Klinik mu agar kau bekerja sama di naungan Perusahaan mereka. Dia memasukan salah satu suruhan untuk membuat nama baikmu hancur di mata pengunjung hingga kau menutup Klinik mu dan menguntungkan mereka, dan kau tahu sendiri dua wanita itu memang tak ada niatan baik padamu." jelas Axton menggenggam tangan Kellen yang terdiam mendengar ucapannya.


Kellen benar-benar tak menyangka jika Novena mengkhianatinya padahal ia kira itu hanya sebuah kesalah-pahaman belaka. Ia sudah baik tetapi..


"A.Ax aku.. Aku salah apa padanya? Aku.."


Axton merengkuh bahu Kellen untuk masuk ke pelukan hangatnya. hembusan angin dari arah pantai sana membuat keduanya damai.


"A..aku salah apa? Bahkan aku.. "


"Kau tak salah. Sayang!" bisik Axton mengecup lama puncak kepala Kellen. Ia paham bagaimana perasaan Kellen yang pasti merasa terluka.


"Selama ini aku selalu mencoba bersikap baik dan tak mengusik siapapun. Aku selalu mengutamakan perasaan mereka dan.. Dan aku tak pernah ada niatan buruk."


"Selama kau masih ada di dunia ini dan kau masih terlihat oleh mata semua orang, maka. Apapun bisa terjadi. Hm?" ujar Axton mengusap kepala Kellen lembut menghadirkan kehangatannya.


"Tapi, aku merasa serba salah."


"Sudahlah. Jangan pikirkan mereka yang tak menyukaimu, karna mereka hanya debu yang menghalangi kesuksesanmu. Tetap jalani apa yang kau yakin dan percaya itu baik."


Jelas Axton memberikan nasehat yang benar-benar tak di sangka akan keluar. Biasanya pria ini begitu kaku dan hanya bisa bertindak sesukanya.


Mata Kellen menyipit terheran-heran.


"Dari buku mana lagi kau dapatkan itu? Hm"


"Buku?" gumam Axton merasa Kellen terlalu mengejeknya.


"Yah. Romansa Cinta, Panduan Ibu Hamil lalu apa Kata-kata bijak Axton?"


"Kalau kau suka. Aku akan mempelajarinya." jawab Axton serius membuat Kellen kembali mendesah kasar. Memang sudah ada kemajuan tetapi masih saja begitu serius.


"Lupakan saja."


"Kau marah?"


Kellen hanya diam memandangi air laut sana. Tiba-tiba saja ia sangat ingin bermain disana apalagi ada sebuah Poster yang mempromosikan Resort ini.


Dua wanita memakai Bikini tengah berjemur mentari dengan deru angin yang segar. Terlihat menyenangkan.


"Ax!"


Panggil Kellen kala Axton tengah meminum botol air putih yang belum di buka di atas meja.


"Ax!"


"Hm?"


"Boleh aku pakai Bikini?"


Degg..


Mata Axton termenggu kosong dengan air yang sudah ia teguk dengan sangat lancar. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Axton merinding.


"Aku mau pakai itu, sepertinya menyenangkan mandi disana!"


Tanpa berbicara lagi. Axton segera membuka ponselnya dengan ide gila yang muncul di benaknya tetapi tak sejalan dengan Kellen yang hanya ingin mandi dan bermain air.


"Ax!"


"Aku sudah pesan!" jawab Axton menunjukan ponselnya. Ia terlihat bersemangat membuat Kellen senang Axton tak menolak dan Overprotektif.


"Benarkah? Aku mau main air. Sayang!"


"Hm. Nanti mereka akan mengantarkan kesini." jawab Axton mencari bahan yang sesuai fantasinya. Ia terlihat sibuk memilih-milih sedangkan Kellen tengah melihat kesegaran pantai ini.


Dua pikiran yang berbeda dan selalu saja tak sejalan jika soal seperti itu.


....


Vote and Like Sayang..