
Kota terbesar kedua di Spanyol ini diberkati dengan arsitektur memikat, museum kelas dunia, dan jalan-jalan yang dipenuhi aroma dan ritme Catalonia.
Barcelona adalah ibu kota Catalonia dan merupakan kota metropolis tepi pantai yang dihuni oleh 2,5 juta jiwa. Jalanan kotanya yang berliku-liku diapit oleh bar-bar tapas di kanan kirinya, dan penari-penari tradisional menghibur pengunjung di alun-alun kota. Pengaruh arsitek modernis Antoni Gaudi
Tentu semua keunikan dan Panorama itu sangat dinikmati oleh Kellen yang tak melepas pandangannya ke luar jendela Mobil yang melaju stabil.
Mereka tengah dalam perjalanan menuju Bukit Carmel, tempat yang cukup jauh dari pusat kota dan membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Kell!"
Kellen tak begitu mendengar bisikan Axton yang tengah bersandar ke kepalanya. Pria itu terlalu asik memainkan jemari lentik Kellen di pahanya tapi juga agak risih karna sedari tadi Kellen sibuk melihat keluar.
"Kell!!"
"Apa?" baru sadar dan segera mengadah menatap wajah datar Axton untuk pertama kalinya setelah di dalam mobil.
"Apa?" imbuh Kellen lagi.
"Tidak ada."
"Lalu kenapa memanggilku?!" kesal Kellen bukan main. Ia kembali ingin melihat kearah Jendela tapi ia terperanjat kala jendela itu sudah di tutup dengan kaca hitam.
"Cas!! Kenapa begini?"
"Ada apa?" tanya Castor yang tengah menyetir. Martinez yang ada di kursi samping Castor tampak tertidur memakai Earphone karna mereka pergi dari dini hari tadi.
"Jendelanya! Aku masih mau melihat keluar!!"
"Itu. Bisa kau buka dari.."
Kalimat Castor terhenti kala menangkap tatapan dingin Axton yang menyeramkan. batin Castor sangat mengumpat akan kelakuan dua mahluk ini, tapi apalah dayanya, ia tak bisa melarang Axton.
"Buka darimana?" Kellen mencari-cari.
"Itu tak bisa di hilangkan."
"Kau yang benar saja. Cas! Tadi bisa. Kenapa sekarang tidak?!" omel Kellen mencoba mencari tombol atau sejenisnya disini.
Castor menggeleng jengah kala melihat wajah puas Axton dari kaca spion yang masih setia dengan raut datar tak berdosa itu.
"Ax! bantu mencarinya!"
"Hm."
Axton belagak sibuk mencari tapi dimana Kellen meraba maka tangannya juga akan ke sana membuat wanita itu menahan rasa kesal dan akhirnya menghentikan pencarian.
"Kell!"
"Sudah! Jangan bicara lagi." gumam Kellen beralih memejamkan matanya bersandar ke kursi Mobil. Mereka memakai pakaian hangat karna di bukit nanti termasuk cuaca yang dingin.
Melihat Kellen yang kesal. Axton hanya menyunggingkan sudut bibirnya pelit beralih menarik kasar kepala Kellen agar bersandar ke bahunya.
"Ax!"
"Hm."
"Jangan mulai lagi." gumam Kellen ingin kembali ke tempatnya tapi tekanan Axton ke kepalanya sangat kuat membuat Kellen tak bisa berpindah.
"Aax!!"
"Disini."
"Kepalaku sakitt. Kau ini.."
Axton hanya menuli. Yang jelas, selama Kellen masih memberontak maka ia akan menekan ini terus. Alhasil wanita itu menyerah dengan memasrahkan dirinya terkurung dalam dekapan hangat dan kokoh ini.
Setelah beberapa lama perjalanan panjang membuat Kellen mengantuk. Wanita itu tertidur karna lelah menghadapi sikap aneh Axton padanya.
"Hubungkan aku dengan Nicky!"
"Baik."
Castor memberikan Hansfree Bluetoothnya pada Axton yang segera memakainya. Pria itu tampak serius karna mereka akan segera sampai sebentar lagi.
"Hello. Ax!"
"Hm."
"Aku sudah siap. Kau tinggal masuk saja dan nanti ada satu anggota kita di depan Gerbang. Dia akan memberikanmu alatnya."
"Hm. 10 menit."
Ucap Axton belum mematikan sambungan. Nicky sudah lebih dulu kesana karna pria itu bertugas menjelaskan dimana saja tempat yang banyak penjagaan dan siapa saja yang datang di Markas besar Darkness kemaren.
"Belum ada pergerakan yang besar. Mereka masih memperketat penjagaan di bagian pintu masuk dan di Block 9, tak ada tanda-tanda kedatangan Masimo disini."
Axton diam dengan tatapan yang sangat tegas dan pasti. Jika Masimo tak ada disana dan bisa di katakan jarang, berarti pria itu tengah membuat aliran baru di luar.
Bisa saja selama bertahun-tahun ini Masimo mengembangkan kekuasaannya sampai keluar Benua Biru ini.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Castor kala Axton tampak berfikir.
Axton tak menjawab. Ia hanya memandang Martinez dengan tatapan dan pikirannya sendiri. Ntah apa yang ada di dalam otak pria itu, Castor tak mengerti.
Lama Axton memandang Martinez membuat pria itu merasa ada ancaman yang tengah menelan keberaniannya di alam bawah sadar sana.
Bulu kuduk Martinez berdiri menandakan ia tengah dekat dengan mautnya.
"Emm.. Sayang!!" igauan Martinez meraba tempat di sampingnya. Ia dengan sensual meraba lengan Castor yang tengah mengemudi.
"Kau marah? Apa aku terlalu buas. Hm?"
"Menjijikan!!" geram Castor menepis tangan Martinez kasar. Wajahnya sudah kelap karna membayangkan otak mesum Martinez yang sangat liar bermain wanita.
Tersadar karna tepisan tangan kasar Castor tadi. Martinez spontan membuka matanya dengan setengah nyawa baru terkumpul.
"Ini dimana?"
Tak ada yang menjawab. Axton beralih memejamkan matanya bertopang dagu ke kepala Kellen yang ada di bahunya. Lengan kekar itu membelit pinggang Kellen posesif.
"D...dimana ini? Kau..."
"Kita ke Markas besar. Tuan!" sela Castor menahan kesabaran. Ia sesekali melihat dua mobil di belakang karna itu adalah anggota Johar yang menjemput tadi.
"M..Markas! Siapa?"
"Fucking shitt!"
Batin Castor mengumpat kasar. Sangat menjijikan jika sampai Martinez yang memimpin Klan besar Spanyol ini. mungkin akan ada banyak wanita yang menari-nari di sepanjang jalan karna perintah konyol Martinez.
"Ouhh.. Iya. Aku ingat! Ini terlalu berat untukku." gumam Martinez memijat pelipisnya yang pusing.
"Jika di sana nanti. Anda jangan terlihat seperti ingin melawan, ikuti saja arahanku nanti."
"Aku tak pernah kesana. Pasti mereka sangat mengerikan."
Mendengar jawaban Martinez. Ingin rasanya Axton menembak kepala pria ini. Martinez dulu sangat belagak menyiksanya di ruangan bawah tanah itu tapi nyatanya pria ini tak lebih dari seekor rakun.
"Sebentar lagi kita akan sampai."
"B..Benarkah? Kenapa cepat sekali?" Martinez gelisah. Jujur ia tak pernah bergelut dengan hal seperti ini karna ia hanya menikmati harta Miller saja.
"Kita sudah melakukan perjalanan cukup panjang. Anda juga tertidur, Tuan."
"Shittt. Aku lupa."
Castor hanya menunjukan wajah datarnya. Kalau bukan karna rencana mereka, sudah sedari tadi ia menolak semobil dengan pria ini.
Setelah beberapa lama. Akhirnya suara desiran angin mulai terdengar jelas dan berat. Sayup-sayup alunan biola ranting dengan nyanyian burung-burung hutan diiringi tangisan kucing liar disini.
Martinez menatap ke luar jendela. Ia menegguk ludahnya kala sudah memasuki hutan Subtropis yang tampak dingin dengan dedaunan yang lembab.
"Kenapa ini seperti tempat pedalaman?!"
"Ini masih belum sempurna."
Batin Castor ingin menakuti Martinez. Ia sudah biasa melihat ini apalagi Axton yang bernostalgia ke masa kecil. Hutan dingin yang dulu mengincar nyawa Axton yang di latih disini oleh Tuan Fander Houlten.
"Itu..itu siapa??"
"Mereka bagian pemantau." jawab Castor menghentikan mobil.
5 pria itu membawa senjata laras panjang di bahunya membuat Martinez menelan ludah kasar. Wajah mereka juga sangar-sangar dan di penuhi bekas luka.
"Kami mengawal merekaa!!!"
"Dia membawa senjata?"
Percakapan para anggota di luar yang memastikan jika mereka tak membawa senjata dari luar.
"Kami sudah memeriksa. Mereka bersih!"
"Kami akan mengulang pemeriksaan." ucap para anggota di dekat Mobil Castor yang melempar pandangan pada Axton dari dalam mobil.
"Kita.. Kita kemana?"
"Turun! Atau mati disini."
Martinez segera membuka pintu mobil lalu turun seraya menghindari jalan becek ini. Suhu sangat beku terbukti dengan serbuk salju menempel di bahu Mantelnya.
Brakkk..
"Daddy!!!" pekik Kellen terperanjat kala Boddy Mobil di tendang kasar.
Axton mengeraskan rahangnya kala merasakan jantung Kellen berpacu cepat karna suara keras ini.
"A..Ax!" gumam Kellen memucat kala mereka sudah tak di kota lagi.
Orang-orang bertubuh kekar di luar sana tampak memeriksa Castor dan Martinez dengan senjata yang di acungkan berjaga-jaga.
"I..itu anggota Johar?"
"Takut?"
Tanya Axton mengamati wajah pucat Kellen. ia belum pernah datang ke tempat seperti ini apalagi orang-orangnya terlihat kejam.
"Ax! Apa yang akan mereka lakukan padamu?"cemas Kellen takut mereka menembak.
Axton menggeleng tak tahu, alhasil Kellen memendam rasa cemasnya dengan memasang Kupluk ke kepalanya.
" Kau tak usah takut. Jika mereka macam-macam, kita akan melarikan diri."
"Iya." jawab Axton mengangguk patuh.
Tiba-tiba saja pintu di samping Kellen di buka kasar oleh para anggota pemantau dan pemeriksa.
"Keluaarr!!! Kau tuli. Ha??"
Menarik lengan Mantel Kellen keluar dengan kasar membuat wanita itu terseret paksa jatuh ke kubangan lumpur di dekat Mobil.
Mereka menertawakan itu seakan lucu melihat Kellen kesusahan bangkit karna tubuhnya kotor.
"Dasar lemahh!!"
"Jangan terlalu sadis pada wanita." timpal salah satu rekannya ikut menahan kekehan pada pria botak yang mendorong Kellen tadi.
Namun. Castor memucat di tempat bersama satu anggota kiriman Nicky yang melihat wajah kelam Axton dari kaca spion mobil.
"Cepat keluarr!! Kau mau sepertinya??" pria botak itu beralih pada Axton.
Tetapi. Ia tak sanggup berdiri disini lebih lama karna pandangan Axton yang melihat Kellen sudah di baluri lumpur itu benar-benar dingin dan mengerikan.
Ia pergi menghandle bahu Kellen yang lagi-lagi ingin jatuh tapi untung saja ia berpeggangan ke Body mobil.
"Jangan menghalangi jalan!!!"
"Kau yang menabrakku." geram Kellen tapi pria itu ingin memukulkan senjatanya ke arah Kellen yang agak terperanjat membuatnya terkekeh mengolok.
"Lamban!! Cepat bawa dia keluarr!!" melenggang ke arah depan Mobil.
Kellen hanya mengumpat beralih ke arah Axton yang masih duduk di dalam.
"Ax! Ayo turun."
Axton diam dengan kepalan tangan menguat. Urat-urat kemarahan di lengannya tertutup oleh mantel tebal yang membaluti tubuh kekarnya.
"Ax! Ayo, nanti mereka marah."
Akhirnya Axton turun dengan tinggi badan melebihi mobil menjadi objek perhatian para anggota yang tampak saling pandang.
Mereka kenal dengan Axton tapi pria botak tadi itu anggota baru yang dimasukan dari pencarian kemaren.
"Dia itu putra tinggal Tuan Fander. Bukan?"
"Diamlah." bisik salah satunya agar jangan membicarakan itu.
Axton tak bergeming. Ia masih membeku di samping mobil dengan netra tajamnya menatap Castor dengan perintah yang nyata.
"Kellen! ayo bersihkan dulu Mantelmu."
"Dimana?" tanya Kellen melihat tak ada air disini.
"Berikan aku air." pinta Castor pada anggota suruhan Nicky yang memakai sarung tangan hitam.
Pria itu mengiring mereka ke arah Tembok pagar belakang dengan anggota lainnya memeriksa Martinez yang tampak heboh karna tubuhnya di geledah
"Apa-apaan kalian. Ha? Aku ini pewaris Miller, aku bisa saja memecat kalian!!"
"Diammm!!"
Suara sibuk itu memberi kesempatan Axton untuk meluapkan kerak amarah yang sekarang tengah menyala-nyala.
"Kauu!!!"
Suara berat Axton membuat mereka menoleh. Martinez masih sibuk berceloteh tak jelas di tempatnya.
"Apa? Kau mau mati disini?"
"Jangan kesana." salah satu anggota menahan pria botak itu mendekat. Mereka sudah tahu jika ini tak akan baik.
"Apa yang kalian takutkan. Tuan Johar sudah menunggu di dalam."
"Tapi.."
Pria itu tetap kekeh mendekati Axton yang berdiri dengan tegap dengan pandangan lebih dingin dari salju yang berderaian.
"Apa? Kau mau apa?"
Sarkasnya menunjuk-nunjuk wajah Axton dengan senapan miliknya. Tanpa ia sadari, Axton merampas senapan itu kilat membuat mereka syok.
"Kauuu.."
Axton menendang pinggang pria itu yang langsung masuk ke dalam pintu mobil yang ada di sampingnya.
Kedua mata elang Axton masih menatap dingin para anggota yang membeku di tempat. Jantung mereka tengah memberontak ingin lari.
Pergerakan tangan Axton sangat teliti memasang peredam yang ntah kapan ia ambil dari pinggang pria botak itu.
"K..kau..kau mau apa? Dan.."
Deggg..
Seketika mata mereka melebar kala kaca-kaca Mobil di jiprati cairan merah kental tanpa suara tembakan yang nyaring.
Axton menembak sesuka hatinya sampai Mobil itu di penuhi darah dan serakan daging yang menempel di kaca Mobil.
"I..ini..."
Mereka menjatuhkan senapannya spontan dengan tungkai mengigil. Raut wajah Axton masih sangat beku seakan menguarkan bahwa JANGAN BERMAIN-MAIN.
Martinez tak melihat semua itu. Ia masih sibuk memperbaiki penampilannya yang di rusak para anggota Klan yang tampak tak lagi bisa berdiri kokoh.
.....
Vote and Like Sayang..