My Husband's Darkness

My Husband's Darkness
Kedatangan Johar?



Tak ada jawaban apapun. Ia membisu menatap datar Castor yang berusaha menahan gelombang perasaan yang tengah mengaduk batinnya.


Tak di sangka perjuangan keras itu tak sia-sia. Namun, ia merasa kecewa karna Axton tak memberi tahu mereka sama dekali.


"Kau ingat aku, Nicky dan Emon. Tapi..tapi kenapa kau rahasiakan?"


Axton tak menjawab atau sekedar memberi penjelasan. Ia masih menyimpan semua itu sendiri dan enggan untuk berbicara.


"Kenapa? Apa kau tak menganggap kami ini.."


"Ada apa?"


Castor terhenti bicara kala pintu di samping Axton terbuka. Kellen tampak menyeringit kala mendengar sayup-sayup suara Castor yang membicarakan sesuatu.


"Siapa yang tak menganggap? Kau bicara pada, Axton?"


"Aku..."


Axton melempar pandangan dinginnya membungkam Castor untuk jangan mengatakan apapun. Tentu pria itu menurut karna ingin Axton menjelaskan, kenapa dia bisa melakukan ini?


"Aku mencoba mengingatkan dia tentang masa lalu."


"Benarkah? Dan apa kau ingat?" tanya Kellen beralih pada Axton yang hanya diam beralih merangkuh pinggang Kellen merapat ke arahnya.


"Dia bicara apa? Kau tahu sesuatu?"


"Tidak."


Kellen menghela nafas halus. Ia memberi semangat pada Castor melalui pandangan mata embernya.


"Tak apa. Kita akan terus mencobanya."


"Aku mengerti."


Jawab Castor beralih keluar kamar mandi. Ia duduk di sofa singel sana menatap Axton yang masih belum menemukan cela untuk menghilang dari sini.


"Ax! Aku akan mengantar nampan ini. Hanya sebentar."


"Ikut!"


"Hey! Di luar itu tak aman, kau disini saja." ucap Kellen mengusap punggung kekar Axton yang kekeh untuk ikut.


"Pergi saja. Aku akan menemaninya disini."


"Kau yakin?" Kellen menaikan satu alisnya memandang Castor yang mengangguk.


Axton menahan pinggang Kellen agar tak pergi tapi wanita itu lagi-lagi melepas belitan tangannya dan dengan cepat mengambil nampan.


"Hanya sebentar. Ya?"


"Kell!"


"No. hanya sebentar, Ax!!" ucap Kellen dengan cepat keluar meninggalkan Axton yang berdiri di depan pintu.


"Kell!!!"


"Sebentar!!! Aku tak lama !!"


Suara Kellen di ujung sana menghilang dari pandangannya. Seketika wajah kosong Axton yang tadi terkesan polos berubah derastis.


"Dia sudah pergi. Sekarang kau bisa menjelaskannya padaku."


"Mereka!"


Axton menatap para penjaga yang tengah ada di depan sana. Tentu Castor mengerti hingga ia memandang penuh isyarat pada Axton agar mengikutinya.


"Aku tahu tempat yang tepat."


"Hm."


Castor melangkah duluan dengan hati-hati keluar dan melewati jalan samping. Axton tak membuang waktu banyak untuk menyalip ke samping sana hingga mereka telah menjauh dari bangunan kecil itu.


Castor membawa Axton ke tempat yang cukup jauh dari sini. Ia meloncati beberapa pagar taman sampai akhirnya mereka sampai ke sebuah kolam yang nyatanya tak jauh dari pohon rindang yang menjadi saksi ciuman Axton tadi.


"Aku rasa disini aman."


"Hm."


Axton menatap datar lapangan hijau dan kolam air di sini. Ntah dari mana awal ia akan bercerita Axton tengah memilihnya.


"Kenapa kau melakukan ini? Aku yakin kau punya alasan yang kuat."


"Aku tak akan mengulang dua kali." tegas Axton memantapkan pandangannya. Castor mengangguk menyiapkan semuanya untuk mendengarkan.


"Jika mereka sampai tahu aku sudah ingat maka, mereka akan melakukan rencana yang lebih besar. Dalam posisi seperti ini, tak akan bisa memberi perlawanan apalagi separuh Kekuasaan Klan di peggang oleh Johar dan mereka."


"Jadi. Apa rencanamu kedepannya?" tanya Castor mengerti itu. Walau Axton Tuannya tapi hubungan keduanya melebihi tali persaudaraan.


"Rebut kembali sepenuhnya Klan itu."


Jawab Castor menggeleng. Ia tak tahu bagaimana keadaan di Luar sana karna selama ini akses keluar itu terbatas.


Jika mereka keluar dari Negara ini. Maka, Anggota Johar dan Nyonya Verena akan tahu karna hampir seluruh orang-orang penting di Negara ini tunduk pada kekuasaan Miller.


"Disini yang hanya bisa di percaya itu aku dan Nicky. Sedangkan anggota bayaranku sudah ku kirim ke Amerika."


"Jangan tarik penjagaan itu."


Castor mengangguk. Ia tak mungkin menarik anggota yang sudah ia kirim ke tempat Tuan Benet sana. Jika tak seperti itu maka Kellen tak akan setuju tinggal disini.


"Bagaimana cara kita untuk mengambil alih? Kita hanya bertiga. Ax!"


"Lihat beberapa hari ini." jawab Axton dengan wajah datar dan tatapan dingin menukik. Castor pastikan jika Axton sudah lebih dulu bergerak darinya. Pria ini selalu berjalan sesuai apa yang ia inginkan.


"Apa rencananya?"


"Lihat dan lakukan." jawab Axton melempar sesuatu dari sakunya ke tangan Castor yang spontan menangkapnya. Pria dengan wajah simetris dan rambut agak ikal ini terhenyak melihat botol kecil bening dengan cairan yang sama warnanya.


"I..Ini..."


"Nostalgiamu cukup memberiku ide!" ucap Axton memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Terlihat sangat tampan dan berkharisma berbeda kala ia bersama Kellen yang terkesan seperti anak kecil.


"Ini sangat berbahaya. Ax!"


"Aku tak perduli." acuh Axton masih dengan intonsai datar dan tak bersahabat. Amarah itu terkobar jelas di kedua netra elangnya menyimpan dendam dan kebencian.


Rahangnya mengetat dengan wajah mengeras. Castor bisa merasakan aura Axton sudah semakin pekat ntah ingatan apa yang tengah Axton kenang.


"Kau sudah sembuh. Dan aku rasa kita tak lagi membutuhkan Kell.."


Kalimat Castor terhenti kala hunusan netra tajam Axton menelan keberaniannya.


"Itu bukan urusanmu." geramnya penuh penekanan.


"Lalu bagaimana? Jika Kellen bebas kita tak akan punya penghalang untuk.."


Bughh...


Castor terjungkal akibat pukulan keras Axton yang masih berdiri gagah di tempatnya. Sorot mata membunuh itu muncul dengan aura yang tak bisa di tundukan.


"K..kau.."


"Jangan mencoba MENGUSIKNYA." tekan Axton benar-benar membuat Castor terhenyak diam.


Ia memandangi Axton yang kembali ke arah Bangunan kecilnya. Ia tak mungkin membuat wanita itu kembali cemas walau ia menyukainya.


Masih terlintas wajah murka Axton di benak Castor yang tengah mengusap hidungnya. Darah itu keluar membuktikan betapa keras dan tak menahan Axton memukulnya.


"Bilang saja kau tak mau di tinggalkan olehnya. Ax!" gumam Castor berdecih meludahkan darah di mulutnya.


Ia masih belum percaya jika Axton benar-benar mencintai Kellen. pasalnya, bisa saja Axton hanya memanfaatkan wanita itu untuk menggapai tujuan terbesar mereka.


"Apapun rencanamu nanti. Yang jelas, kau juga akan menghadapi kerumitan perasaanmu. Kau akan jatuh dalam kalimat mautmu dulu, Ax."


Imbuh Castor kembali berdiri. Ia menyimpan botol kecil yang Axton berikan tadi karna ia juga tak sabar untuk melakukan ini.


............


Kedatangan rombongan dengan penjagaan yang sangat ketat itu membuat para pelayan di boyong pergi dari Kediaman Utama untuk sementara waktu.


Para pria berbadan kekar turun mendampingi seorang pria parih baya yang tengah memeggang tongkat kayu dengan lapisan tembaga murni dan Giok China yang langka.


Kulitnya coklat dengan bola mata hitam pekat. Rambut yang sudah memutih seluruhnya dengan jambang tipis yang sampai ke lehernya. Namun, satu matanya tengah di tutupi oleh penutup seperti bajak laut amerika.


"Kau terlambat!"


"Yah. Ada sedikit kendala."


Jawab Pria itu masuk ke dalam Kediaman besar Utama. Mata tajamnya memindai setiap sudut bangunan ini seakan membayang akan kejadian lama.


"Tak ada yang berubah."


"Benar. Kediaman ini masih sama!"


Nyonya Verena menyambut dengan hangat tapi waspada. Pria ini bisa saja melakukan aksi yang akan menikamnya dari belakang nantinya.


Tuan Redomir sama sekali tak turun. Ia hanya mengamati dari lantai atas. Kedatangan anggota pria itu pasti memiliki maksud yang sangat penting.


Tak hanya Tuan Redomir. sedari tadi Kellen juga tak melewatkan kesempatan mencari tahu siapa yang di ajak ke sini oleh Nyonya Verena?


Dan ia memang agak syok kala melihat sosok pria yang tak asing lagi di Dunia Politik dan Keneggaraan.


"Apa dia itu Johar?"


......


Vote and Like Sayang..