My Ex Husband

My Ex Husband
Ngidam parah.



...•••••...


"Hallo?" sapa Anna kepada seseorang yang ada di sebrang telfon sana.


—Ann, kok rumah lu cuma ada Syaif sama Sisil? lu kemana?


"Ya masa mereka nggak bilang gua dimana!"


—Bilang sih, cuma gua lagi basa basi busuk sama lu, Ann.


"Hilih, dasar sahabat nggak ada rahang!"


Kemduadian suara kekehan Rika terdengar.


—Kerumah boleh? atau mau ketemu di luar?


"Kerumah aja sini, gua lagi nggak boleh kemana-mana sama om bewok." jelas Anna kepada sahabatnya.


—Yaudah gua otw yah?


"Yaudah, kesinilah!"


—Sip .. tunggu Onti paling kalem seantariksa ini yah.


"Dih, kalem apanya!" ledek Anna.


—Yaudin, gua jalan dulu Ann. Papayo .. sampai ketemu disana.


"Yok, hati-hati ya besti."


Kemudian sambungan telfon itu terputus.


Anna kembali meletakan ponselnya di atas nakas, kemudian dia berjalan kearah meja rias, agar saat Rika melihatnya. Prempuan itu tidak terlihat seperti orang yang sakit.


Klek!


Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka, dan munculah sosok pria yang masih lengkap dengan pakaian kerjanya.


"Hai sayang!" David meletakan jas yang ia tanggalkan di atas tempat tidur, kemudian berjalan kearah Anna, membungkuk lalu mencium pipi istrinya.


Anna tersenyum, prempuan itu menoleh.


"Papah sudah pulang? ini masih jam dua!" kata Anna.


Pria yang masih berdiri di belakang tubuh Anna itu terlihat mengangguk, dengan kedua tangan yang memijat perlahan bahu istrinya.


"Kamu berhias?" pria itu kembali bertanya, saat kedua matanya saling menatap dari pantulan cermin.


"Ada Rika mau kesini, tidak enak kalau kelihatan pucat!" jelas Anna.


David mengulum bibirnya kuat, dengan mata yang terus memperhatikan istrinya itu.


"Kau mau pergi?"


Anna menoleh, mendongak untuk menatap wajah suaminya yang menatap Anna penuh curiga.


"Nggak tau, bisa jadi dia ngajak aku sama Balqis makan di luar ... biasanya dia seperti itu!"


"Nggak ada, nggak boleh kemana-mana. Kamu baru aja enakan, nanti kalau pusing di luar bagaimana? sementara aku nggak ada."


"Ada Rika, atau Edgar yang akan membantu ku mas."


"Apa!" David berteriak.


"Ish, responnya biasa aja kenapa sih!" Anna memukul lengan suaminya.


"Hanya di rumah, nggak boleh keluar. Kecuali teras yah!" tegas David.


"Mana bisa begitu! Rika mau kesini siapa tau mau ajak aku jalan-jalan, nggak pasti juga sih ... siapa tau cuma mampir."


"Kaka kemana? masih sama Nenek kah?" mulai ketus.


"Tadi main sama Bibi di taman belakang rumah, kenapa?"


"Aku merindukan putri ku!" katanya, dia beranjak, berjalan kearah pintu kamar untuk segera keluar.


"Mas .. kau tidak merindukan aku?"


Prempuan itu berteriak, kemudian bangkit dan berjalan cepat untuk menyusul suaminya.


"Tidak, aku pulang saja kau malah berdandan untuk sahabat mu!" ekspresinya datar.


Anna menelusup kan kedua tangannya kepada celah pinggang pria itu, kemudian memeluk dan menyandarkan kepalanya disana.


Senyuman samar terlihat terbit dari kedua sudut bibir David.


"Jangan marah dong Pah, cuma mau ketemu Rika aja lho!" jemari Anna menusuk-nusuk dada David dengan jari telunjuk.


Senjata andalannya keluar! batin David.


"Mas jangan marah!" prempuan itu merengek.


Lama David terdiam, akhirnya pria itu terkekeh, dengan tangan yang juga ikut menepuk bahu Anna.


"Malah ketawa."


"Yasudah bersiaplah, aku hanya ingin menemui Balqis."


Cup!


David mencium bibir Anna singkat, kemudian meraih handle pintu dan keluar, meninggalkan Anna yang masih berdiri mematung disana.


...•••••...


Prempuan itu berjalan perlahan kearah pos security, dia tersenyum saat seorang pria berdiri dan tersenyum kearahnya seraya menganggukan kepala.


"Temannya neng Anna?" Pak Yasir menyapa.


Rika mengangguk, dengan senyuman hangat seperti biasa.


"Nggak di minta KTP kan pak?" Rika melontarkan candaan.


"Masuk saja, kalau berbuat macam-macam bapak sudah hafal wajahnya neng Rika." Pak Yasir menjawab, lalu ketawa.


Lalu Pak Yasir membukakan salah satu pintu kecil di samping pos untuk Rika.


"Terimakasih, pak Yasir."


Pria paruh baya itu mengangguk, kemudian menutup pintu gerbang dengan segera.


Sementara Rika terus berjalan kearah dalam, dan berhenti tepat di depan pintu rumah yang terbuka.


"Permisi?!" Rika mengetuk pintu rumah itu pelan, dengan pandangan yang melihat kearah dalam.


Anna yang duduk di sofa ruang keluarga pun bangkit, saat mendengar suara Rika yang terdengar menggema di dalam ruang sana.


Anna berjalan cepat, dengan wajah yang juga terlihat berbinar. Dan disanalah Rika, beridir membelakangi pintu, dengan jemari tangan yang terus prempuan itu mainkan.


"Masuk Onti Rika." sambut Anna kepada sahabatnya.


"Eh, Mama Anna!" Rika langsung memeluk tubuh sahabatnya erat. "Kok lu kurusan sih? padahal baru beberapa Minggu nggak ketemu!" Rika merenggangkan pelukannya, seraya menatap Anna lekat.


Anna hanya tersenyum, lalu menarik prempuan itu masuk kedalam rumah besar milik kedua mertuanya.


"Onti!" suara jeritan gadis kecil itu menggema.


Rika tersenyum, ketika melihat Balqis keluar dari salah satu kamar, dan berlari kearahnya.


"Hey cantik ... apa kabar sayang!?" Rika berjongkok, merentangkan tangan lalu meraih tubuh kecil itu yang memeluknya cukup kencang.


"Selamat sore Bu Rosa?" Rika menyapa.


Rosa tersenyum. "Ayok kita minum teh." ajaknya kepada Rika.


...••••...


Empat prempuan berbeda-beda usia itu tangah asik berbincang, duduk di sebuah kursi taman belakang rumah, dengan hembusan angin sore yang terasa sangat sejuk.


"Gimana suaminya? baik kan sama kamu?" Rosa mengusap punggung Rika.


"Baik Bu, cuman ya gitu .. sibuk sama kerjaannya. Aku sampe bosen nunggu dirumah sendirian." jelas Rika.


"Emang nggak kerja lagi?" kata Anna, sambil meletakan cangkir kembali di atas meja setelah meneguk teh hangatnya sedikit.


"Udah berhenti Ann, nggak boleh kerja sama suamiku."


Anna mengangguk.


"Kapan nyusul? aku udah nih!" Anna tersenyum kearah sahabatnya.


Rika diam, berusaha mencerna perkataan Anna saat dia tidak mengerti.


"Maksudnya ... nyusul apa?"


"Balqis mau punya Adek Onti!" Balqis menjawab.


Seketika raut wajah Rika berubah. Dia terkejut namun wajahnya tampak berbinar.


"Wahh .. berapa bulan?" Rika langsung mendekat, dan mengusap perut Anna.


"Sekarang jalan enam minggu."


"Aih .. jadi mau!" Rika mengusap perutnya sendiri.


"Nggak boleh Onti, itu adek aku!" sergah Balqis kepada sahabat ibunya.


Sementara Rosa tertawa saat melihat ekspresi Balqis, yang menurutnya terlihat menggemaskan.


"Pantesan kurus, lu hamil? kaya dulu lagi yah ngidamnya?"


"Ini lebih parah Rik, malem aja mual muntah gue."


"Bagus, bikin bapaknya susah!" Rika tergelak, kemudian berhenti saat menyadari adanya keberadaan Rosa disana.


"Eh maaf bu!" Rika tersenyum gugup.


"Santai saja!" Rosa terkekeh.


"Lupa saya Bu, kirain ini rumah Anna dulu!" katanya lagi.


"Untung orangnya nggak denger, kalo denger abis gue!" Anna tertawa kencang, begitupun dengan sahabat dan ibu mertuanya. Sementara Balqis, gadis itu sibuk menikmati teh hangat tawar dan kue kering rasa coklat kesukaannya.


"Siapa bilang aku nggak denger?" suara bariton itu tiba-tiba terdengar.


Seketika keadaan hening, dengan mata yang saling menatap satu sama lain.


Mampus gue! batin Rika menjerit.


...•••••...


Jangan lupa like, komen dan hadiahnya yah!