My Ex Husband

My Ex Husband
Mikaila Adira (2)



...••••...


"Bu, saya temenin Balqis dulu! kalo ada apa-apa boleh panggil saja." Sisil berdiri tepat di depan kamar Balqis.


Anna yang masih terlihat syok pun hanya mampu menganggukan kepala, nafasnya bahkan tersenggal-senggal saat debaran itu tak kunjung hilang.


Astaga Anna! kau ini kenapa?


Batin Anna berbicara, kemudian duduk di kursi teras.


Klek!


David menutup pintu rumah, lalu duduk tepat di samping Anna.


"Cepatlah, aku lelah!" ucap Anna ketus.


David tersenyum.


"Ingat! jangan memotong pembicaraan, jangan keras kepala, cukup dengar sampai aku selesai, dan menyuruh mu untuk berbicara," jelas David.


"Hemmm.." prempuan itu hanya bergumam.


David menghirup udah sebanyak mungkin, kemudian menghembuskan ya perlaha.


"Ini tentang Mika_" ucapannya terhenti ketika Anna lansung menyela.


"Nggak ada! aku nggak mau kalau bahas itu!" sergah Anna.


David diam beberapa saat.


"Kamu selesai?" pria itu menatap Anna lekat. "Sudah ku katakan, jangan memotong pembicaraan ku." ucap David lagi.


Prempuan itu terlihat memutar bola matanya jengah, seraya mencebikan bibir.


"Mika ingin bertemu dengan mu, Anna. Sekarang dia ada di ...


"Apa? kamu gila mas!" sambar Anna, ia terkejut dengan penuturan mantan suaminya itu.


"Aku belum selesai bicara! dengarlah dulu. Baru kau boleh memutuskan." suara David memekik, berusaha sabar menghadapi Anna malam ini.


"Kalau soal ini aku tidak mau menunggu mu sampai selesai bicara! apa mas tidak tau kalau dia selalu mencaci dan memaki ku? apa dia juga ingin melakukan itu sekarang?"


Wajah Anna memerah, nafasnya memburu dengan mata yang terlihat membulat sempurna.


"Pulanglah, sesungguhnya aku tidak mau hubungan kita terus memburuk. Tapi aku juga lelah kalau harus terus-menerus disalahkan!" Anna bangkit, namun David meraih tangannya agar prempuan itu kembali duduk.


"Ann ... dengarkan aku dulu! aku mohon."


Suaranya terdengar sangat rendah, dengan tatapan penuh permohonan.


"Ann? please!" dia kembali berbicara.


Keduanya saling menatap. "Dia sekarang dirumah sakit, keadaannya kembali memburuk! jadi ikutlah karena dia ingin bertemu dengan mu."


"Lalu kenapa? kondisi istri mas sedang memburuk! kenapa kamu malah kesini, temanilah dia! bukannya ini rencana mu sejak 5tahun lalu? kau bahkan meninggalkan ku hanya karena ingin fokus merawat Mika .. oh sorry maksud ku Dira." ujar Anna.


"Kamu yang menggugat cerai, Ann. Buka aku!" sergah David."


"Itu karena kamu yang menikah lagi! kau berkhianat, menjalin hubungan baru di belakang ku!" Anna mulai berteriak.


David frustasi, pria itu beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar.


"Hah ... Anna, sebaiknya kita bahas ini belakangan. Ada Mika yang ingin bertemu dengan mu, berbaik hatilah! mungkin dia sudah tidak kuat dan ...


"Astaga mas! kau mendoakannya mati!?"


"Ya Tuhan ... kenapa susah sekali memberi penjelasan kepada wanita ini!" cicit David, kesabarannya benar-benar Anna uji.


"Maka dari itu pulanglah!" seru Anna.


"Datanglah, dia bahkan sudah mengumpulkan semua orang. Termasuk Alvaro, entah apa tujuannya, tapi ini permohonan terakhir yang Mika minta." David meraih tangan Anna, menggenggamnya dengan tatapan penuh sendu.


Sesaat Anna berpikir, hatinya mulai tergerak ketika menatap iril kelam milik David.


"Kumohon ... kita sudahi kesalah pahaman ini." ia bersimpuh dihadapan Anna.


"Mengertilah mas, aku tidak mau mengingat masa lalu itu! rasanya sakit."


"Jadi kau benar-benar tidak mau?" David mencoba meyakinkan.


Anna diam.


"Baiklah, ituhak mu Ann." David melepaskan genggaman tangannya, kemudian bangkit.


Dengan rasa sesak yang memenuhi rongga dada pria itu beranjak pergi, menuju mobilnya tanpa meminum kopi yang tadi Sisil siapkan sedikitpun.


"Apa setelah ini mas bisa menjamin mbak Dira tidak akan mengganggu ku lagi? jika ya makan aku akan ikut." Anna berteriak.


Akhinya Anna luluh, tentu saja dia seorang manusia waras yang masih mempunyai hati dan akal sehat.


Langkah David terhenti, pria itu menoleh menatap Anna dari kejauhan.


"Aku janji." David mengangguk pelan, dengan senyum tipis yang juga ia perlihatkan.


"Aku ambil kunci mobil dulu, sekalian pamit sama Sisil." dengan langkah cepat Anna masuk kedalam rumah.


...••••...


David terus mengemudikan mobilnya di bekalang mobil Anna. Mengawalnya dengan kecepatan sedang mengimbangi laju kendaraan yang Anna bawa saat ini.


Kini berubah menjadi wanita yang kuat, tangguh dan mandiri.


"Dunia menjadikan mu setegar ini Anna." seulas senyum itu terlihat bersamaan dengan jatuhnya air mata yang langsung David tepis.


Hampir satu jam mereka berkendara, akhirnya mobil masing-masing sudah berhenti tepat di parkiran rumah sakit.


Tempat Anna mengetahui segala rahasia David dan Mika 5tahun silam.


Anna keluar dari dalam mobil miliknya, menghampiri David yang sudah berdiri tidak jauh dari pintu masuk.


Rasa sedih yang selama ini Anna pendam kembali menyeruak, mengingat potongan-poongan kecil kejadian yang sangat menyakitkan dan membuat batinnya hancur berkeping-keping.


"Tuhan membantu ku berdiri sampai saat ini, maka berhentilah bersikap lemah Anna! kita bisa melaluinya, ini hanya sebentar." ucapnya pada dirisendiri.


Anna terus berjalan membuntuti David, menyusuri lorong rumah sakit yang sudah sangat sepi.


Samar-sama suara orang berbicara dan merintih bersahutan.


Anna menjengit.


Klek!


David membuka pintu ruangan tempat Mika dirawat.


Tubuh Anna bergetar, hatinya berdegup lebih kencang lagi dari pada sebelumnya.


Wajahnya terlihat sangat pucat, bibirnya kering, tangannya terpasang jarum infus, dengan selang oksigen yang terpasang di hidung.


Perlahan Anna mendekat, hingga pandangan keduanya bertemu saat prempuan lemah itu menoleh.


Dia tersenyum, seraya mengangkat tangannya yang terlihat sudah tidak bertenaga.


Tubuh Anna membeku.


"Kemarilah!" suara itu terdengar sangat pelan, namun Anna masih bisa melihat pergerakan bibir Mika dengan sangat jelas.


Anna masih diam, ia syok melihat keadaan Mika saat ini.


"Bu .. Mika meminta anda mendekat." Alvaro mulai bersuara.


Akhirnya Anna mengangguk, dan berjalan mendekat.


"Syukurlah kau masih Sudi menemui ku Ann."


Suaranya terdenga sangat pelan, sampai Anna sedikit membungkuk untuk memperjelas apayang Mika ucapkan.


Lalu Anna mengangguk, saat wanita itu mengulangi ucapannya.


"Maaf!" suara Mika lirih.


"Apa?" Anna kembali mendekatkan telinganya kepada Mika.


"Maaf!"


Anna menarik pandanganya, hingga pandangan mereka kembali bertemu.


Tangan Mikaila terulur, meraih tangan Anna kemudian menggenggamnya erat.


"Tuhan sudah menghukum ku Ann. Dulu satu ginjal ku yang rusak, setelah David memberi ku pendonor tapi aku masih serakah, dan sekarang satu ginjal ku rusak lagi."


Anna diam, termasuk kedua orang tua Mika, Alvaro dan juga David.


"Aku tidak berharap sembuh, tapi jika aku harus pulang sekarang, setidaknya tuhan tidak akan menghukum ku lagi karena tidak mendapat maaf dari mu."


"Aku sudah memaafkannya." ucap Anna singkat.


"David sudah menalak ku, kembalilah untuk kebahagiaan putri kalian!"


Deg!!


Anna menggelengkan kepala, seraya tersenyum getir.


"Untuk yang satu itu aku tidak bisa!" sergah Anna tegas.


David membeku, aliran darahnya terasa berhenti saat mendengar pernyataan Anna.


Sungguh? apa tidak ada kesempatan untuk ku? Batinnya berbicara.


"Tenang saja, dia benar-benar menikahi ku karena kasian dan merasa bersalah. Bahkan dia selalu tidur di sofa ruang kerjanya!" Mika terkekeh pelan. "Sempat beberapa kali aku mau menjebaknya, membuat dia mabuk, tapi David tetap melihat aku sebagai dirimu, Ann. Itu menyakitkan .. memang sesuatu yang di paksakan itu tidak akan berjalan dengan baik." kata Mika lagi.


"Aneh bukan? pria dewasa mampu menahan hasratnya selama hampir 5tahun!" kekehan Mika masih jelas terdengar.


"Sudah? kalau selesai saya harus pulang! takutnya Balqis bangun dan mencariku." Anna menghindari percakapan antar keduanya.


"Nak Anna .. terimakasih sudah berkenan datang, dan memaafkan kesalah kami dan putri kami." wanita tua itu berbicara.


Anna hanya menjawabnya dengan seulas senyum tipis di bibir.


Entahlah, keadaan ini sangat sulit untuk Anna terima, walau dia memaafkan Mikaila, tetap saja rasa sakit itu masih bersemayam dalam lubuk hati terdalam.


"Semoga lekas membaik, kalau begitu saya pamit."


Pamit Anna yang langsung berjalan keluar dari ruangan tersebut, dengan banyaknya pertanyaan di dalam isi kepala.


...•••••...