My Ex Husband

My Ex Husband
(Aku mencintai mu)



...•••••...


Setelah terlibat perang dingin di sepanjang perjalanan. Kini Sisil terus mengekor di samping Alvaro, dengan tangan yang juga mencengkram lengan suaminya itu cukup erat.


Beberapa kali Sisil mendongak, menatap wajah yang terlihat dingin tanpa ekspresi apapun.


Plip .. klek!


Al mendorong pintu itu dengan bahunya, kemudian terdiam, agar Sisil masuk terlebih dulu.


"Masuk!" katanya ketus.


Sisil menggelengkan kepala dengan cepat, seraya mengeratkan pelukan di lengan suaminya.


"Terus kita mau berdiri disini sampai kapan?" Alvaro berujar, dengan pandangan yang terus menatap lurus kedepan, seolah enggan menatap Sisil walau sesaat.


"Masuk sama-sama ayok!" Sisil menarik lengan Alvaro, namun pria itu terlihat menolak.


"Masuklah, aku kesini untuk mengantar mu."


"Abang mau kemana?" Sisil mendongak, menatap wajah Al.


"Kemana saja, asal bisa menghilangkan rasa sesak di dada ku."


Deg!


Seketika Sisil mengatupkan mulutnya.


"Aku harus bicara, biarkan aku menjelaskan semuanya."


Akhirnya pria itu menoleh, menundukan pandangannya untuk menatap Sisil, yang kini menatapnya dengan tatapan sendu.


"Semuanya sudah jelas, sungguh aku tidak ingin mendengar lagi apapun itu, kejadian tadi saja sudah membuat ku sangat sakit."


Sisil diam.


"Abang nggak mau dengerin aku?"


"Untuk saat ini tidak!"


Sisil mengangguk pelan, lalu melepaskan lilitan tangannya di lengan pria itu.


"Abang mau nenangin diri? yasudah pergilah." Sisil tersenyum, namun matanya tampak memerah.


Alvaro diam, dia menatap manik hitam itu lekat.


"Kalo Abang pulang malam, .. kasih tau yah! Sisil mau nginep di rumah ibu saja." ucap Sisil, kemudian dia masuk, meninggalkan Al yang masih berdiri di ambang pintu.


Sisil masuk kedalam kamar, kemudian menutup pintunya dan berjalan kearah tempat tidur.


Dia berbaring miring, meringkuk bak sebuah janin yang masih berada di dalam rahim sang ibu.


Dia menangis pelan.


Sisil menyesali apa yang sudah terjadi hari ini, begitupun beberapa hari sebelumnya, karena dia terus terpancing dengan pertanyaan Syaif yang selalu ingin tahu tentang seluk-beluk rumah tangganya.


Dan itu benar-benar membuat suaminya kecewa, sampai tidak mau mendengarkan penjelasannya sedikitpun.


Klek!


Pintu kamar terbuka perlahan, kemudian masuklah Alvaro, berjalan pelan kearah tempat tidur, dimana Sisil berbaring memunggungi nya.


Alvaro berangsur naik, berbaring miring kemudian memeluk tubuh Sisil dan menenggelamkan wajahnya di punggung prempuan itu.


Suara rintihan Sisil semakin terdengar kencang, saat mengetahui Alvaro yang sedang memeluk tubuhnya.


Pria itu bangkit, menggeser tubuhnya lebih keatas, dan meletakan pipinya di atas kepala Sisil yang saat ini sedang menangis.


"Kamu yang salah, kamu yang membuat aku kecewa ... tapi kenapa malah kamu yang menangis?" suaranya pelan, namun terdengar lembut seperti biasanya Alvaro berbicara.


Sisil diam.


"Abang tau ke khawatiran kamu. Tapi kenapa tidak bertanya langsung soal rasa itu, kenapa malah bertanya kepada orang lain?"


"Aku nggak nanya sama bang Syaif, dia yang nanya ... ya aku jawab, aku kira nggak bakalan kaya gini." Sisil masih menangis.


"Abang bisa melepaskan Mika walau sangat mencintainya, tapi sekarang tidak mau. Kita harus tetap bersama, tidak boleh ada yang membawa milik Abang untuk kedua kalinya!" Alvaro berbisik.


Sisil tidak menjawab.


Alvaro menarik tangan Sisil, sampai posisi prempuan itu kini berbalik menghadap kearahnya.


Wajah sembab, dengan mata yang juga terlihat sedikit membengkak, begitupun dengan hidung yang terlihat sangat merah.


Alvaro tersenyum, merangsek untuk lebih mendekat, dan mencium bibir Sisil sekilas.


"Oh .. ayoklah, aku sangat kesal tapi rasa cinta dan sayang ini mengalahkan rasa kesal didalam diriku." Alvaro terkekeh.


Sisil menatap wajah suaminya.


"Cinta?"


Alvaro mengangguk.


"Apa kamu tidak bisa merasakannya? kenapa masih butuh pengakuan? padahal perlakuan ku jelas-jelas sudah menunjukan kalau aku sangat mencintai kamu Naisilla!" Alvaro mengusap pipi istrinya lembut.


Alvaro bangkit, dia terlihat turun dari atas ranjang, lalu berjalan kearah sudut ruangan untuk menarik sebuah tirai putih dan membentangkannya agar menutupi kaca besar itu.


Sisil menatap dengan seksama gerak-gerik suaminya, dia terkejut saat tiba-tiba saja Al menarik kaos hitam yang dikenakannya.


Tubuh tinggi, memiliki kulit putih, dengan otot perut yang membuat Sisil selalu mematung dan mengunci pandangannya.


Pria itu menyeringai, dengan langkah yang terus mendekat, dia naik dan mengungkung tubuh Sisil di bawahnya.


"Mau pacaran?" Sisil memandang pria di atasnya penuh tanya.


Alvaro mengangguk, dia terus tersenyum kemudian membungkukkan tubuhnya setelah beberapa detik menatap mata Sisil, dan mulai memangut bibir istrinya perlahan.


Sisil langsung menyambut lum*tan Alvaro dengan sangat menggebu-gebu, bahkan tangannya sudah ikut melilit erat di bahu suaminya.


Hawa panas mulai memenuhi kamar yang mereka tempati, saat decapan saling bersahutan di selingi lengguhan Sisil yang terdengar saat tangan suaminya mulai menyentuh setiap inci tubuh dengan sangat nakal.


Pria itu mulai membuka kancing kemeja Sisil satu-persatu, lalu membungkuk untuk mencari sesuatu di belakang tubuh Sisil.


Kain berenda itu terlepas, sampai memperlihatkan dua gunung kembar yang selalu membuat Alvaro menggila.


Ia merematnya pelahan, lalu menyesap salah satunya, sampai membuat tubuh Sisil bereaksi.


Dadanya membusung, dengan kepala yang juga ikut mendongak, ketika rasa nikmat itu terus menjalar keseruluh tubuhnya.


"Abang!" Sisil memekik, ketika gigitan makan Alvaro berikan di puncak buah dadanya.


Alvaro berhenti, dia merangsek lebih mendekatkan diri kepada wajah Sisil yang sudah terlihat memerah.


Cup!


"Shhhtt!" Sisil berdesis.


"Baiklah, aku akan mulai."


Katanya lalu menarik celana Sisil, melemparnya entah kemana. Lalu beralih meraih sebuah kasih segitiga, dan dia juga menariknya dengan semangat.


Kini tubuh istrinya sudah benar-benat polos, tatapan matanya sudah terlihat sayu, juga rambut panjang yang sudah terlihat kusut, namun membuatnya terlihat semakin menggoda.


Alvaro berdiri, dia membuka kancing celana, dan menanggalkannya. Begitupun dengan celana ketat yang masih membungkus sesuatu yang sudah terlihat menengang.


Dada Sisil terlihat naik turun, saat debaran itu semakin intens ia rasakan.


Alvaro menarik kedua paha istrinya, membukanya lebar dan segera mengarahkan miliknya kedalam gerbang surga dunia itu.


Sisil memejamkan mata, dengan tangan yang juga ikut menahan perut suaminya.


"Kenapa? biarkan dia masuk." Al menyingkirkan tangan itu, kemudian mendorong pinggulnya perlahan.


"Oh my God!" Sisil memekik, saat inti tubuhnya terasa di penuhi sesuatu.


Pria itu tersenyum samar, pemandangan wanita di bawahnya sungguh membuat dia selalu ingin berbuat lebih dan lebih lagi.


"Kau menyukainya?" Alvaro berbisik, dan memberikan wajah Sisil beberapa kali kecupan basah.


Sisil mengangguk, dia tersenyum.


Alvaro mulai melakukan aksinya, menghentakan pinggulnya cukup kencang.


Sampai membuat Sisil m*ndesah dan merintih secara bersamaan, begitupun dengan tangan yang meraba bantal di atasnya, lalu mencengkeram bantal itu dengan sangat kuat.


"Ngghh ... abang!" Sisil berusaha menggapai tubuh diatasnya.


"Ya sayang?" Alvaro menggeram.


Dia menghentikan kegiatannya sesaat. Menghujani Sisil dengan banyak kecupan cinta, juga sesapan yang meninggalkan bekas merah keunguan di leher jenjangnya.


"Hey .. mau ku ajarkan sesuatu yang berbeda?" pria itu berbicara dengan jarak wajah yang sangat dekat.


Perlahan Sisil mengerjap, lalu menatap pria yang sedang tersenyum nakal kearahnya.


"Abang ingin melakukan hal yang lebih gila? maka lakukanlah." Sisil menyentuh tulang rahang suaminya.


Alvaro mengangguk, dia lemepaskan tautan tubuhnya lalu berbaring.


"Kemarilah." Al meraih tangan Sisil, dan menuntunnya sampai duduk di atas perut Alvaro.


Sisil bingung.


"Bisakah kamu yang memimpin permainan?" suaranya terdengar sangat rendah.


Sisil mengangguk pelan.


Melihat Sisil yang menyetujui keinginannya, dia mulai mengangkat pinggul Sisil dan ...


"Ah .. ini ...


"Shuuttt, nikmati saja sayang. Jangan menolaknya, atau kamu akan merasa sakit."


Mata Sisil terbelalak, dengan mulut yang juga terbuka. Saat ia menahan sesuatu yang menerobos masuk di bawah sana.


"Ini lebih sesak lagi!" Sisil merengek manja.


"Tidak apa, dia akan membuat mu gila sebentar lagi!" Alvaro mulai menuntun Sisil, agar prempuan itu bergerak dengan semestinya.


Sisil bergerak maju mundur, kepalanya nya kembali mendongak, dengan bibir yang terus mengeluarkan rintihan.


Mata Sisil terpejam, telapak tangannya bahkan sudah meremat kuat dada Alvaro yang sedikit lebih berotot.


Semakin lama gerakan Sisil semakin tidak bertempo, lalu dia mulai mempercepat saat sesuatu di dalam dirinya mulai menyeruak.


"Aaahh .. Abang .. aku!" Sisil berteriak.


Pria itu menyeringai, saat mengerti istrinya akan segera menjemput pelepasan pertamanya. Dengan cepat Alvaro bangkit, memeluk tubuh Sisil dan mengubah posisi keduanya tanpa melepaskan pautan tubuh mereka.


Tangan Sisil berpegangan kepada tangan kekar suaminya, saat pria itu mulai berpacu dan lebih tidak terkendali.


"Ngghh ... Abang .. lebih cepat!" Sisil mencengkran tangan suaminya.


"Ahh .. kau selalu membuat ku Gila Naisilla!" pria itu menggeram kuat.


Suara erotis yang mereka hasilkan menggema memenuhi ruangan itu, dan berhenti setelah beberapa detik, ketika Alvaro menghujamkan miliknya di dalam sana saat lava miliknya menyembur memenuhi rahim Sisil untuk kesekian kalinya.


Nafas mereka tersenggal-senggal, dadanya naik turun dengan peluh yang terasa membasahi tubuh polos keduanya.


Sisil mengerjapkan mata, saat merasa pria itu bangkit namun belum juga melepaskan milinya yang masih terasa mengeras di dalam sana.


Alvaro tersenyum, dia mendekat dan menyatukan kening keduanya.


"Berhentilah berteriak, atau suara mu akan hilang sebentar lagi?" dia terkekeh.


"Ini semua karena Abang!" balasnya lirih, dia terlihat sangat kelelahan.


"Naisilla, istriku! aku mencintai mu, sangat-sangat mencintai mu." ucap Alvaro dengan posisi yang masih sama.


Cup!


Sisil mencium bibir Alvaro yang berada sangat dekat itu.


"Me too!" Sisil menjawab.


Mereka tersenyum, lalu Al mengusap perut Sisil pelan.


"Kehadiran dia akan menjadi sebuah bukti, kalau kita sudah saling mencintai." Alvaro tersenyum.


Cup!


"Ayok kita mandi, setelah itu tidur." Alvaro melepaskan tautan tubuhnya, lalu meraup tubuh Sisil dan membawanya kedalam kamar mandi.


...•••••...


Baiklah, jangan lupa like sama komenya.


Klik favorite please : )


Yang masih ada hadiah dan vote, boleh lempar kesini, othor mempunyai harapan besar, ya siapa tau bisa naik kepermukaan.


~Papayo~