
...•••••...
Tepat pukul delapan pagi Syaif memarkirkan motornya tepat di halaman rumah kedua orang tua Sisil.
Syaif langsung berjalan kearah pintu dapur yang sudah terbuka lebar, dan terlihatlah Ningsing yang sedang sibuk mencuci piring.
Tok .. tok ...
"Selamat pagi Bu Ningsih!"
Wanita itu menutup kran airnya, lalu menoleh kearah Syaif yang saat ini berdiri di ambang pintu.
Syaif berdeham saat Ningsih berjalan mendekat, tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering.
"Sisil ada bu?" Syaif tersenyum gugup.
"Sisil ada, tapi sepertinya tidak enak badan."
"Boleh panggil sebentar Bu? ada yang mau Syaif omongin ke Sisil, ini penting!"
"Yasudah, mari ibu antar ke kamarnya."
Ningsih berjalan terlebih dulu ke arah pintu kamar Sisil yang terus tertutup, bahkan gadis itu tidak terlihat keluar kamar hanya sekedar berbincang seperti hari-hari biasanya.
"Sisil?"
Tok .. tok ...
"Iya Bu, kenapa? masuk aja nggak Sisil kunci."
Wanita itu menekan handle pintu kamar Sisil, membukanya sedikit lalu menyembulkan kepala.
Gadis itu berbaring miring, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Tatapan Sisil tertuju kepada sang ibu, dia tersenyum.
"Ada Om Aip, katanya mau ngobrol." ucap Ningsing sambil terus tersenyum.
Namun raut wajah Sisil berubah seketika, dengan senyumam yang tampak memudar.
"Sisil nggak mau ketemu siapapun hari ini" cicitnya sambil menggelengkan kepala.
"Hanya sebentar, kata Syaif penting."
"Nggak mau! ibu boleh tutup pintu kamar aku sekarang!" katanya lalu mengalihkan pandangan.
Ningsih diam, dia bener-benar merasa bingung dengan sikap anak gadisnya saat ini, yang terlihat seolah tidak memiliki gairah hidup.
Gadis yang selalu tersenyum ceria, kini berubah menjadi seorang gadis yang senang mengurung diri dengan tatapan sendu, bahkan pagi hari ini dia sudah beberapa kali melihat Sisil menangis secara diam-diam.
Ningsih kembali menutup pintu kamar Sisil, lalu kembali menatap Syaif yang berdiri di belakangnya.
"Sisil nggak mau ya bu?" Syaif menatap Ningsi.
Wanita itu tersenyum samar.
"Duduk dulu, ibu bikinin teh anget. Siapa tau nanti Sisil keluar."
Syaif mengangguk, kemudian duduk di kursi rotan ruang tengah rumah itu.
Syaif duduk, dengan pandangan yang terus tertuju kepada pintu kamar Sisil yang tertutup rapat. Kemudian rasa bersalahnya kembali menyeruak.
Sisil ayoklah, keluar walau hanya sebentar. Biarkan aku meminta maaf secara langsung, agar rasa bersalah ini tidak terus menggangguku!
Syaif berbicara dalam hati, dengan tatapan mata sendu ke arah sana.
"Di minum dulu, Sisil memang begitu kalau tidak enak badan." Ningsih tersenyum.
Syaif mengangguk.
"Sepertinya Sisil nggak sakit Bu, tapi ini salah Syaif ... kemarin sem ...
"Apa! jadi ini semua karena kelakuan kamu?!" Irwan berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Pak ... jangan teriak-teriak ah, malu di denger orang!" ujarnya kepada pria yang sedang berjalan mendekat.
"Jadi ini semua gara-gara kamu?" Irwan menunjuk Syaif, seraya mengulangi pertanyaannya.
Tanpa ragu Syaif mengangguk.
Bugh!
Satu pukulan mendarat di rahang Syaif, sampai ia terseungkur ke samping, sambil memegangi pipinya yang terasa sangat panas.
"Ya ampun Bapak!" wanita itu berteriak histeris, lalu meraih suaminya agar berhenti menghajar Syaif yang bahkan tidak menghindar sedikit pun.
Sisil yang mendengar ibunya berteriak pun bangkit, dia menyibakkan selimut dan segera keluar dari kamarnya.
Gadis itu tertegung, menatap wajah Syaif yang tampak berdarah.
"Beraninya kamu berbuat hal yang sangat menjijikan ...
"Bapak!" Sisil memanggil.
"Nak, apa dia yang sudah menyakiti mu?"
Sisil diam, begitupun dengan Syaif. Sampai keduanya terlihat saling memandang satu sama lain.
"Sisil? maafin gue!" kata Syaif.
Mendengar Syaif berkata seperti itu, Irwan kembali mendekat, namun suara seseorang langsung menghentikannya.
"Pak Irwan, bisakah kita berbicara dengan kepala dingin dan lebih tenang?!"
Semua mata menoleh, menatap David lalu kepada Anna yang terlihat cukup terkejut.
"Dia berbuat buruk kepada putriku, mana bisa aku diam." jelas Irwan.
"Saya tahu pak," David melangkah lebih mendekat. "Maka dari itu, mari kita bicarakan, penyebab awalnya apa?" David menatap Sisil yang terus berdiri, dengan mata yang sudah mulai kembali terlihat berkaca-kaca.
Tubuh Sisil terasa lemas, aliran darahnya bahkan terasa berhenti saat kejadian semalam kembali terulang, dan dia sangat menyesalinya.
"Aaaaaa!" gadis itu berjongkok, dengan kedua tangan yang menutupi telinga.
Anna berlari kearah Sisil, berusah meraih tangannya namun Sisil tepis.
"Ini semua salah ibu!"
Deg!
Seketika keadaan menjadi hening.
"Andai saja kalian tidak meninggalkan saya, laki-laki itu tidak akan mengambil hal yang sudah saya pertahankan sejak lama. Sekarang saya hina, bahkan tidak lebih baik dari seorang pel*cur!" Sisil terus merancau, dengan air mata yang juga terus berderai.
"Tengang dulu, maksudnya apa?" Anna bingung.
"Pria itu menawarkan saya tumpangan untuk pulang, tapi dia malah merenggut semuanya!"
"Kamu tidak pulang semalaman?"
Sisil tidak menjawab, gadis itu hanya menangis.
David yang mengerti apa yang di maksud Sisil langsung berlari ke arah luar, sampai membuat semua orang semakin bingung.
"Mas mau kemana?" Anna berteriak.
"Menyeret dia kesini Ann." sahut David.
Anna memejamkan matanya sesaat, ia tidak menyangka akan sekacau ini.
"Sil, boleh kita bicar? maafkan kami jika memang ini kesalahan kita, tapi malam itu Balqis tidur, Papanya membawa kita pulang, dan membiarkan mu terus benbincang, karena kamu terlihat senang." tukas Anna.
"Aku takut Bu! bagaimana pandangan pria lain terhadap ku, aku kotor." Sisil terus merintih.
"Maafkan suami saya Sil, niat dia baik. Hanya saja kejadian ini di luar kendali dia!"
Anna menatap Syaif yang sedang menyimak pembicaraan mereka, bahkan pria itu tampak terkejut dengan pengakuan Sisil.
"Apa kamu juga ada masalah? jujur, aku merasa ada yang aneh setelah aku meminta Sisil bekerja bersama mu?!"
Syaif diam.
"Saya cukup terkejut saat Sisil sudah tiba di rumah sangat pagi-pagi sekali!"
"Jadi, kemarin neng Anna nggak nyuruh Sisil datang?" Irwan bertanya.
"Sudah saya katakan, tugas Sisil sudah beralih, bahkan saya mengatakannya di hadapan Bu Ning." jelas Anna.
Irwan menatap istrinya.
"Saya berbicara bahwa Sisil tidak pantas ada di posisinya sekarang, mungkin Sisil tersinggung. Saya tau saya salah, tapi sejak kemarin saya menunggu, bahkan berusaha menemui Sisil untuk meminta maaf, tapi nihil. Bahkan aku menunggu di pinggir jalan, berharap dia pulang dan aku bisa mengakhiri kesalahpahaman ini." Syaif menjelaskan.
"Sisil, maaf. Mungkin kekesalan saya kemarin membuat kamu sakit hati!"
"Aku pusing, ibu bisa antar aku masuk ke kamar?" Sisil menatap ibunya.
Wanita itu mengangguk, dan segera meraih tangan Sisil untuk menuntunnya masuk kedalam kamar.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, kamu tetap kamu, putri kesayangan ibu dan bapak!" kata Ningsing kepada Sisil, sembari menarik selimut sampai menutupi tubuh putrinya.
"Aku salah ya Bu? tapi malah nyalahin Bu Anna yang bahkan tidak tau apa-apa!"
"Jangan di pikirkan dulu, istirahatlah. Ibu harus membuat minum untuk Mamanya Balqis dulu!"
Ningsing mencium kening putrinya untuk beberapa detik, kemudian beranjak meninggalkan Sisil agar dia bisa menenangkan diri kembali.
...••••••...
Like, kome, sama hadiahnya dongs!!
Klik favorite juga jangan lupa yah : )
~Zeyeng kalian~