My Ex Husband

My Ex Husband
Glow up.



...••••...


Keesokan harinya.


Tepat pukul sepuluh pagi, Edgar mendatangi restoran tempat dimana Rika bekerja saat ini. Wajahnya berbinar, dengan pakaian yang juga terlihat sangat rapih berbeda dari biasanya, yang sering mengenakan kaos dan celana pendek saja.


Kini pria itu sedikit berbeda, Edgar mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru tua, melipat lengan kemejanya hingga sikut, di padukan dengan celana denim blue light hingga membuatnya terlihat semakin tampan.


Pria itu berjalan masuk, tampak ada beberapa pelanggang yang sudah terlihat memenuhi tempat itu.


Pandangan Edgar mengedar, Mecari sosok prempuan yang sudah membuat hatinya luluh. Dan disanalah Rika, berdiri bersama teman pria di depan meja kasir, prempuan itu tampak serius.


Edgar tersenyum, lalu mengangkat satu tangannya.


"Hallo!" Edgar sedikit berteriak, dengan tangan yang ikut melambai.


Seketika pandangan Rika mencari, suara pria yang sangat dikenalinya.


"Ed, ngapain pagi- pagi? pake baju rapih pulak!" Rika berjalan menghampiri.


"Sayang, kamu nggak ke toko?" Rika bertanya, lalu duduk tepat di bangku kosong di samping kekasihnya.


Pria itu tidak menjawa.


"Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi jangan terkejut! apalagi merasa sedih karena ini jauh dari apa yang kau harapkan, Rika." Edgar berujar.


Gadis itu terkejut, seketika pikiran buruk berputar didalam otaknya.


"Apa kamu mau kita putus?" suara Rika terdengar sangat pelan.


Edgar mengulum senyum, dia berdiri kemudian merogoh sesuatu didalam saku celananya.


Edgar bersimpuh, lalu memperlihatkan sebuah cincin emas putih, dengan permata berukuran sedang ditangahnya.


"Aku tahu kita baru sebentar, aku tahu juga aku tidak romantis. Tapi .. Rika, bersediakah kamu menikah dan menjadi istriku selamanya?" Edgar terus tersenyum, meski hatinya berdegup kencang karena merasa gugup.


Seluruh pandangan tertuju pada keduanya, termasuk Fajar yang mematung saat melihat Rika di lamar di hadapan banyak orang.


"Te-ri-ma .. Te-ri-ma .." gemuruh suara itu terdengar memenuhi restoran.


Wajah Rika memerah, matanya juga terlihat berkaca-kaca.


"Ini serius? bukannya kamu mau mengenal aku dulu ... bukannya kamu bilang hubungan kita baru 7bulan, dan itu waktu yang sangat sebentar untuk saling mengenal?" Rika mulai menangis.


Edgar tersenyum.


"Maaf sudah mematahkan harapan mu waktu itu, tapi setelah ku pikir, aku juga takut ada pria yang lebih berani, dan segera meminang mu." jelas Edgar.


"Jadi bagaimana? apa kau mau menikah dengan ku, menjadi ibu dari anak-anak ku kelak?" Edgar kembali mengutarakan niatnya.


Tanpa ragu Rika mengangguk.


Edgar segera memasangkan cincin itu yang terlihat pas di jari manis Rika, lalu memeluk tubuh Rika dengan erat.


"Cie .. nikah nih!" semua teman Rika bersorak.


Prempuan itu hanya menoleh sesaat, kemudian memeluk tubuh Edgar kembali, untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah basah karena air mata bahagia.


"Kenapa terus menangis?" Edgar bertanya.


"Aku bahagia .. Cincinnya juga pas, padahal kamu nggak pernah nanya apa-apa sama aku!" ucapnya lirih, sambil tersedu-sedu.


"Kamu berhutang banyak hal kepada Anna, karena dia membantu ku kemarin. Dari ukuran sampai desainnya, dia yang pilihkan." kata Edgar sambil tertawa.


"Oh tuhan ... dia memang sahabat ku!" Rika berujar.


...••••...


"Sisil, saya sama Balqis berangkat dulu yah! kamu tolong jaga rumah." Anna berbicara dengan suara yang terdengar sedikit berteriak.


Gadis yang di maksud Anna pun muncul, dia berlari dari arah dapur mendekat kepada Anna yang kini duduk di sofa seraya menyisir rambut panjang putrinya.


"Iya Bu." jawab Sisil dengan anggukan kepala.


"Kebutuhan kamu apa saja yang habis? kirim via chat biar saya nggak lupa!" seru Anna.


"Semuanya masih ada sih, cuma pembalut aja. Tapi boleh nggak Bu, aku nitip body care sama perawatan lainnya?" jelas Sisil.


Anna mengangguk, namun ekspresi wajahnya terlihat sedikit bingung.


"Mau merk apa? atau kebutuhan kulit kamu apa? biar saya sesuaikan."


"Saya nggak tau, kebutuhan kulit aku apa. Nggak pernah pake skincare atau body care juga, ini mau pake juga pengen glow up aja kaya temen-temen aku!" wajah Sisil bersemu merah karena menahan malu.


Sementara Anna terkekeh degan penuturan Sisil tersebut.


"Kamu lagi suka sama siapa? sampe mau merubah penampilan?" Anna menatap Sisil lekat.


"Adalah ... ibu nggak usah kepo!" wajahnya terlihat semakin memerah.


Anna tidak kembali berbicara, dia bangkit kemudian meraih tangan Balqis.


Anna menggenggam tangan Balqis, menuntunya keluar menuju mobil putih milik Anna yang masih berada dalam garasi.


"Hati-hati!" kata Anna kepada putrinya.


"Aku sudah besar Mam!" cicit gadis kecil itu saat naik dan masuk kedalam mobil.


"Coba, bisa tidak pasang seatbelt nya sendiri?"


Balqis mengangguk, kemudian menarik sabuk pengaman itu dan segera memakainya hingga berbunyi klik.


"Lihat? Aqis sudah besar Mama!" dua bahunya ia naikan secara sengaja, dengan raut wajah yang di buat sok galak dan satu alis terangkat.


Namun itu membuatnya semakin menggemaskan.


"Baiklha, kalau sudah besar berarti bisa bantuin Mama jualan sambel yah?" Anna mencubit pipi Balqis.


"Bisa dong!" ucapnya penuh percaya diri.


"Yasudah, Mama tutup pintunya. Awas kaki dan tangan kamu!" tukas Anna lalu menutup pintu di samping Balqis.


...••••...


Sekitar 30menit Anna berkendara, akhirnya ia sampai di salah satu supermarket terbesar di dekat tempat tinggalnya.


Suasana tampak ramai, setiap orang berlulu-lalalang dengan troli beserta belanjaan yang terlihat didalamnya.


"Biar Mama saja sayang!" sergah Anna saat putrinya mulai menarik salah satu troli besar.


"Aqis bantu Mama .. kenapa semuanya tidak boleh aku lakuin?" gadis kecil itu sedikit menggerutu.


"Bukan begitu, takutnya Balqis keberatan. Jadi biar Mama saja, bukannya tidak boleh!"


"Yasudah, biar aku yang dorong, Mama tinggal bilang harus kearah mana."


"Baiklah, gadis 5tahun yang sudah merasa besar." kata Anna.


Balqis berjalan terlebih dulu, mendorong troli dengan Anna yang berjalan dibelakangnya.


"Kemana dulu Mam?" Balqis menoleh kebelakang.


"Kita ketempat daging dulu .. sudah dari sana baru kita ke tempat makanan ringan." jelas Anna.


Gadis kecil itu mendorong trolinya tanpa banyak berbicara, menyusuri setiap lorong berisi berbagai macam kebutuhan dapur, lalu berhenti tepat di depan etalase berisi berbagai macam daging ayam, sapi dan ikan.


"Aku mau chicken stik yah!" ucap Balqis kepada Anna.


"Jadi kita harus beli dada ayam?" katanya yang langsung Balqis jawab dengan anggukan.


"Baiklah .. mau apa lagi?"


"Udang saus mentega, cumi goreng tepung- sama ... apalagi yah?" matanya meneliti.


"Jangan laper mata, kita beli yang bener-bener mau di makan, jangan mubazir!" tukas Anna.


"Nggak Mama ... beli beef sama pasta, nanti sore Mama masakin aku yah!"


"Serius?"


"Iya .. aku lagi kangen masakan Mama. Masakan teh Sisil enak, tapi masakan Mama lebih enak!" gadis itu merancau.


"Oke .. okee! kita ketempat lain lagi." kata Anna.


Balqis kembali mendorong trolinya yang sudah berisi beberapa ikan yang ia inginkan.


"Liburan ke puncaknya kapan, Mam?" tanyanya sambil terus berjalan.


"Ya besok, makanya kita belanja dulu. Biar nanti pulang makanan di rumah kumplit."


"Papa ikut?" Balqis mendongak.


"Tidak tau, sepertinya Papa sibuk kerja." ujar Anna.


"Ish ... padahal aku mau lho, liburannya lengkap. Kan nggak pernah aku liburan sama Papa!"


Anna menghela nafas, pandangannya menatap kebawah, melihat wajah Balqis yang saat ini juga tengah menatapnya.


"Mama bilang nggak tau lho .. jadi belum tentu, kalo nggak sibuk siapa tau bisa ikut. Jangan sedih gitu dong, katanya sudah besar!" Anna mengusap pipi Balqis.


Ibu dan anak itu terus berbincang, melakukan semuanya bersama, memilih bumbu dan kebutuhan lainnya sampai tidak menyadari sedari tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan kegiatan keduanya.


...••••...


Jangan lupa like, komen, hadiah dan vote! Klik favorite juga agar notifikasinya berbunyi saat othor update eps terbaru.


Alhamdulilah .. viewernya tembus 10k. Tapi yang like dan komen masih bisa othor hitung, bukannya nggak bersyukur, tapi bolehkan kalian muncul wahai silent readers, klik favorite gitu! lumayan banget lho kalo stengah nya muncul : )


~Tapi othor tetep cuyung kalian kok~