
...••••...
"Teh?" Balqis menepuk pelan lengan Sisil yang sudah tertidur pulas di samping tempat tidurnya.
Pandangan gadis kecil itu mengedar, meneliti seluruh ruangan dengan raut wajah sendu.
Dia merindukan Anna.
"Maa?" Balqis mencoba memanggil Anna.
Namun suasana rumah tetap hening, begitupun dengan Sisil yang terus terlelap, sampai membuat Balqis sedikit ketakutan.
"Teh ... aku mau Mama!" gadis itu kembali melirik Sisil, prempuan itu tetap terlelap, hingga tidak ada pergerakan sedikit pun.
Balqis memandang pintu kamarnya cukup lama, lalu ia terlihat turun dari atas tempat tidur dan segera berjalan menuju pintu kamar yang tampak tertutup rapat.
Trek!
Balqis membuka kunci, kemudian menekan gagang pintu hingga terbuka sangat lebar.
"Mamah?" suasana terasa sangat hening, matanya meneliti segala arah, berharap Anna muncul ketika mendengar panggilan darinya.
Nihil, prempuan yang sedang dicari Balqis tak kunjung menampakan diri dihadapan nya.
Balqis memberanikan diri, dia berjalan kearah pintu ruang kerja Anna.
Klek!
"Mamaa!" ruangan itu kosong.
Wajah Balqis langsung terlihat pucat, dengan mata memerah yang mulai digenangi air mata.
"Aqis takut!" dengan cepat balita itu berlari menaiki tangga.
Berharap Anna ada di kamarnya.
Klek .. brak!
Pintu kamar itu terbuka dengan sangat keras. Gadis kecil berlari kearah tempat tidur, namun ia tetap tidak menemukan Anna.
Balqis menangis lirih, mencari sosok prempuan yang tak kunjung ia temukan. Hingga suara derum mesin mobil terdengar, Balqis langsung berlari kearah kaca, menyibak gorden tebal dan melihat kearah luar.
"Mah!" katanya yang langsung menghambur, berlari kearah luar kamar ketika melihat mobil Anna baru saja tiba.
Sementara Anna, prempuan itu terlihat santai. Keluar dari dalam mobil dan berjalan kearah gerbang untuk menutupnya kembali.
"Bu Anna .. baru pulang!" sapa seorang security yang sedang patroli malam.
"Oh, iya pak." Anna menganggukan kepala sambil tersenyum ramah.
"Mari Bu, saya keliling lagi!"
"Pak, ini buat beli kopi sama martabak telur." Anna memberikan dua lembar berwana biru.
"Nggak usah Bu ...
"Dosa lho nolak rejeki!" sergah Anna. "Ini buat beli martabak, biar jaga malemnya nggak suntuk." ucap Anna lagi.
Pria itu mengangguk seraya tersenyum canggung.
"Terimakasih ...
Tiba-tiba suara jeritan di dalam rumah terdengar begitu kencang. Anna menoleh, menatap pintu rumah dan segera berlari.
"Balqis!" suara Anna memekik, ia segera mencari kunci cadangan rumah yang dibawanya, lalu membuka pintu itu dengan sekali dorongan.
Brak!
Dadanya bergemuruh, apalagi ketika melihat Sisil yang saat ini sedang berlari kearah tangga.
"Balqiis!" Anna berteriak, menjatuhkan tas yang dibawanya begitu saja, kemudian berlari kearah suara rintihan itu terdengar.
Deg!
Mata Anna membulat saat melihat darah yang keluar dari kening dan bibir Balqis dengan sangat deras.
"Sil anakku kenapa?" Anna menjerit, kemudian meraup gadis kecil yang terus-menerus menjerit.
"Maaf Bu, saya ketiduran!" Sisil panik.
"Ada yang bisa saya bantu Bu Anna?" security yang tadi menyapanya mengahampiri.
"Tolong bawa anak saya ke mobil pak." titah Anna.
Pria itu mengangguk, meraup tubuh Balqis dan membawanya keluar.
"Sil bawa tas saya, tutup pintu dan kunci rumahnya." Anna berteriak dengan kaki yang tak hentinya melangkah.
"Maama!" Balqis terus menangis.
"Ini Mama sayang, tunggu sebentar! kita ke klinik terdekat." jelas Anna.
"Sisil? ayo cepat masuk, gendong Balqis. katanya lalu masuk kedalam mobil dan segera menghidupkan mobilnya.
"Pak tolong tutup pintu gerbangnya." kata Anna lalu memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
...••••...
Setelah beberapa menit, akhinya Anna sampai di sebuah rumah sakit terdekat, ketika ia tidak menemukan klinik yang masih buka pada jam hampir tengah malam.
Tanpa menunggu lebih lama Anna keluar, berlari kesisilain kemudian mengambil alih Balqis yang masih menangis memanggil namanya.
"Maamaaa!!" Balqis merintih.
"Kenapa Bu?" seseorang menghampiri ketika Anna sampai didalam ruang Intensif Gawat Darurat.
"Anak saya jatuh Sus, tolong!"
"Adeknya duduk di atas tempat tidur dulu boleh? biar tente periksa yah!" Suster itu berbicara.
"Mau sama Mama!" Balqis meremat pakaian yang saat ini ibunya kenakan.
Anna tersenyum.
"Aduh! sobeknya agak gede!" Suster itu bergumam.
"Mama disini." Anna duduk di kursi yang tersedia.
"Nggak mau suntik." Balqis kembali histeris ketika beberapa orang datang menghampiri.
"Nggak .. cuma di pakein plaster biar darahnya stop." Anna mengusap punggung putrinya, mencoba menenangkan Balqis yang masih terus berteriak.
Sementara Sisil hanya berdiri di depan pintu masuk, hatinya terus berdebar ketika ia benar-benar melakukan kesalah fatal. Walau selama bekerja Anna belum pernah memarahinya, tetap saja. Kali ini kelalaian nya membuat Balqis sampai terluka.
"Aaaa ... Aqis takut Maa!" suara Balqis memekik.
"Sebentar lagi pinter .. adeknya hebat lho ini." seorang Dokter pria berkata.
"Mau Mamaaa!" Balqis kembali menangis.
"Oke! selesai." katanya lalu menyimpan guntin dan beberapa alat lainnya ketempat semula.
"Keningnya tiga jahitan ya Bu, kalo bibinya hanya sobek sedikit, jadi pake kain kasa saja sudah cukup." jelasnya kepada Anna.
Prempuan itu mengangguk.
"Terimakasih Dok," Anna tersenyum.
"Sama-sama! lekas sembuh yah." Dokter muda itu mengusap kepala Balqis.
"Boleh minta surat .. em maksud saya untuk izin kesekolahan."
Pria itu mengangguk.
"Saya kasih obat pereda nyeri, tiga kali sehari yah! sekarang ibu boleh ke bagian administrasi dulu."
Anna meraih kertas itu, lalu mencari keberadaan Sisil.
"Sil, jaga Balqis dulu. Saya mau tebus obatnya!" kata Anna saat menemukan Sisil yang sedang berdiri di ambang pintu dengan wajah yang terlihat pucat sambil terus memainkan jemari tangannya.
Setelah Sisil datang, Anna segera beranjak menuju sisilain yang berada di rumah sakit tersebut untuk segera menebus obat yang sudah Dokter tampan itu berikan untuk putrinya.
...•••...
"Kamu kenapa Sil? Balqis kok bisa jatuh dari tangga?" tanya Anna tanpa mengalihkan pandangannya.
"Maaf, Bu! saya sakit gigi. Tadi minum obat pereda nyeri, jadi tidurnya bablas." jelas Sisil ragu-ragu.
"Saya tidak marah, karena keadaan kamu juga lagi sakit. Tapi lain kali kalo memang sakit, kasih tau saya, jadi saya nggak pergi atau manggil Bu Ningsih biar bisa gantiin kamu." jelas Anna.
"Jangan Bu, ibu Anna emang nggak marah sama saya. Tapi ibu saya yang akan memarahi saya habis-habisan!" katanya.
"Jangan di ulangi, saya lelah. Tapi pas sampai rumah malah dibikin nggak bisa tidur, untung nggak harus di rawat, kalo iya apa yang harus saya katakan sama Papanya Balqis nanti kalo tau anaknya sampe kaya gini!" ucap Anna kembali.
"Iya Bu."
"Gimana giginya? tau sakit gigi tadi sekalian periksa." tukas Anna.
"Nggak usah Bu, saya takut di cabut! gigi saya bolong." sergah Sisil.
"Baiklah, kejadian ini jangan sampe terulang yah!"
"Iya Bu."
Setelah itu keadaan kembali hening. Anna sibuk mengemudi, sementara Sisil juga diam sambil memeluk Balqis yang sudah kembali terlelap.
...••••...
Jangan lupa like, komen, hadiah dan vote di setiap hari Senin.
Klik favorite untuk notifikasi setiap update-an eps terbaru.
~Cuyung kalian, selamat malam, selamat mimpi om bewok dan mama Anna. Papay~
Follow juga. @_anggika15