
...•••••...
Sore harinya, tepat pukul 16:30.
Tap .. tap .. tap
Balqis yang sedang asik menonton tv bersama Sisil pun menoleh, memandang ke arah Anna yang sudah siap dan perbakaian rapih.
"Mama pergi?" Balqis bertanya, bahkan gadis kecil itu sampai beranjak mendekat kearah ibunya.
"Iya sayang, hanya sebentar!" Anna mengusap kepala Balqis yang saat ini sudah memeluk pinggangnya.
"Mau kemana? kenapa Aqis nggak boleh ikut?" Balqis mendonga, menatap Anna penuh tanya.
Anna diam.
"Mama ih!" Balqis tampak kesal.
Raut wajahnya berubah muram, seolah kecewa lagi-lagi Anna tak membawanya.
"Mau antar om Ed dulu .. Aqis ingat? tadi om Edgar minta bantuan Mama." jelas Anna.
"Yang kita makan sama Onti Rika?" Balqis bertanya.
"Iya, sekarang om Edgar sudah nunggu Mama di luar!" Anna tersenyum. "Tunggu sama teteh sebentar yah? nanti Mama beliin makanan." kata Anna.
Balqis diam, dengan kedua tangannya yang juga terus memeluk pinggang Anna.
"Sayang, ayoklah! kasian om Edgar kalo nunggu lama!"
"Mau ikut!" balita itu merengek.
"Tidak, luka di keningnya masih basah. Aqis juga pasti masih pusing .. nah terus bibirnya gimana? nanti dilihatin orang." Anna mencoba menjelaskan kepala Balqis. "Istirahat yang cukup, biar nanti saat liburannya tiba, Aqis sembuh." sambung Anna.
Gadis kecil itu cemberut, lalu melepaskan pelukan di pinggang Anna dengan terpaksa, setelah Sisil muncul dan meraih tangan mungil itu untuk kembali ke arah sofa.
"Kita nonton saja, sambil ngemil oke?" kata Sisil kepada putri asuhnya.
Gadis kecil itu menoleh sesaat ke arah Anna, mendelikan mata mengisyaratkan ketidak sukaannya.
Aih anak itu! batin Anna berbicara.
"Pergi sana! Aqis mau nungguin Paapa aja, nanti mau minta jalan-jalan!" ucapnya ketus.
Anna menghela nafasnya perlahan.
"Baiklah .. Mama janji cuma sebentar!" kata Anna kepada putrinya.
"Titip Balqis ya Sil! saya dan Edgar ada janji sama temen saya." Anna beralih menatap gadis itu.
"Iya Bu."
"Hanya memilih cincin tunangan, jadi tidak akan lama!" katanya sambil berlalu pergi.
Setelah itu Anna berjalan ke arah luar, meninggalkan Balqis dengan keadaan sedikit merajuk bersama Sisil.
"Pulang harus bawa sesuatu ini! biar ngambek nya nggak kelamaan." gumam Anna yang terus berjalan menuju pintu gerbang.
Sebuah Mobil silver sudah tampak menunggu.
"Ann .. ayolah!" pria itu melambaikan tangan ketika kaca mobilnya terbuka.
Anna tersenyum seraya menganggukan kepala.
...•••••...
"Mas take away yah!" David berkata.
Pria yang berdiri tepat dihadapan David pun mengangguk, dengan senyum ramahnya.
"Mau pesan apa Pak?" tanya pria tersebut.
"Weffel saus madu nya dua, cheese burger dua, kentang goreng dua juga ... ukuran besar yah! sama Apple pie dan iced coffe jelly masing-masing tiga!" pesan David.
"Ada tambahan lain?"
David menggelengkan kepala.
"Itu cukup!" katanya, yang langsung dijawab anggukan juga.
Setelah memesan sekaligus membayarnya, David bergeser. Menunggu pesanannya berdiri tidak jauh dari meja tersebut. Hingga sekitar 15menit menunggu, akhirnya semua pesanan milik David selesai.
Pria itu pergi, berjalan menuju mobilnya terparkir.
"Papa pulang sayang .. bawain kalian makanan!" pria itu bergumam, kemudian tersenyum bahagia.
Rasa percaya dirinya muncul, merasa ia mempunyai pendukung yang sangat Kuta saat Balqis terus berbicara ingin bersamanya.
David masuk, menyimpan belanjaan nya di samping kursi kosong, dan mulai memacu Mazda CX-5 hitam miliknya keluar dari parkiran restoran cepat saji tersebut.
Lajunya bertambah saat David terus menginjak pedal gas, sampai mobil itu melesat dengan kecepatan tinggi.
Yang ada dipikirannya kini hanyalah Anna dan Balqis, dua prempuan yang benar-benar sudah mengubah harinya sejak dari pagi, sampai rasa bahagia itu terus memenuhi dada.
Hatinya berdebar, tubuhnya berdesir seperti ada sengatan dan ribuan kupu-kupu berterbangan didalam dirinya
Oh bahagianya aku saat ini!
Sekitar satu jam tiga puluh menit berkendara, akhinya David memasuki gerbang utama perumahan yang Anna tempati saat ini.
Mata David memicing, memperhatikan seseorang yang keluar dari dalam rumah Anna, menghampiri sebuah mobil Silver yang menepi tidak jauh dari gerbang rumahnya.
"Apa dia Anna? mau kemana dia? kenapa kembali meninggalkan Balqis, sementara putriku sedang sakit!" David bergumam, saat melihat seorang pria menyembulkan kepala dan melambaikan tangannya kearah Anna.
Hatinya kembali terasa sesak, harapan yang sudah melambung tinggi tiba-tiba saja terjatuh, sampai terasa sakit dan sesak secara bersamaan di dalam dadanya.
Entah kenapa, bukannya David masuk kedalam. Pria itu justru kembali melajukan mobilnya perlahan, tepat di belakang mobil yang Anna tumpangi tadi.
Jantungnya terus berdebar, matanya memerah dengan hawa yang terasa semakin panas, sampai David membuka jas dan dasi nya sekaligus.
"Mobilnya rusak!? kenapa AC nya tidak dingin!" David menjengit.
"Ini tidak bisa dibiarkan!" David berteriak, lalu memukul stir mobilnya sangat kencang, hingga klakson mobilnya berbunyi nyaring.
Drrt ... drrt
Seketika fokusnya hilang, saat ponsel miliknya bergetar. Dengan cepat David merogoh sakut celana, dan menarik benda pipih itu dari sana.
David menepikan mobilnya terlebih dulu.
"Sisil!" kata David lalu menggeser tombol hijau.
"Iya Sil, ada apa?" sapa David dengan ekspresi wajah yang di tekuk.
Tentu saja pria itu masih merasa sangat kesal.
—Paapa?
Suara lembut menyapa, memberinya angin sejut kedalam hatinya sampai membuat David kembali tersenyum.
"Iya sayang .. kenapa?" tanya David lembut.
—Papa masih kerja? kapan pulang?
"Ini sudah pulang, lagi dijalan .. kenapa?" kata David kepada putrinya.
—Pulang ke rumah Mama? ayok sini! Balqis bosan.
Balqis terdengar merengek.
"Memangnya Mama kemana?" David pura-pura tidak tahu.
—Mama pergi sama om Edgar, terus nggak mau ngajak aku!
Deg!
Astaga! dadaku terasa sangat sakit.
—Papa?
"Papa kesana sekarang, bawa cheese burger sama waffel." ucap David.
—Yaudah, Aqis tutup dulu telfonnya. Papah hati-hati dijalan, ingat .. jangan ngebut!
"Baiklah." David tersenyum, menjauhkan ponselnya dari telinga dan memutuskan sambungan telfonya.
David meremat rambutnya kuat, mengusap wajahnya cukup kasar, lalu terdengar helaan nafas kasar yang keluar dari mulutnya.
Dengan sangat berat hati David kembali berbalik arah, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Anna, dimana putrinya sedang menunggu saat ini.
...•••••...
Tok .. tok .. tok
David berdiri di depan pintu rumah Anna, dengan sebuah kantung besar berisi makanan di tangan kanannya.
Klek!
Sisil membuka pintu.
"Sil, tolong bukain yah!" David memberikan bungkusan tersebut.
"Paapah!" gadis kecil itu berteriak, berlari dan langsung memeluk tubuh ayahnya erat.
"Hey .. pelan-pelan! nanti kalau jatuh lagi bagaimana?" pria itu meraup tubuh Balqis, kemudian menggendongnya.
"Papa beli apa?" Balqis bertanya.
"Makanan." seru David sambil terus berjalan masuk.
"Aku bete .. Mama nggak mau ngajak aku!" Balqis mengadu.
Sementara David yang berusaha mengendalikan perasaannya hanya tersenyum, duduk di sofa dengan Balqis bersamanya.
"Sil? memangnya ibu kemana?" David bertanya.
"Katanya, mau beli cincin tunangan. Ibu bilang begitu tadi sebelum pergi." sahut Sisil, lalu meletakan beberapa kota berisi waffel, burger dan Apple pie.
"Kamu ambil juga Sil! minumnya juga ambilah." titah David kepada gadis itu.
"Baik Pak, terimakasih. Kalau begitu saya makan di belakang saja."
David hanya mengangguk.
"Pah, aku mau ke rumah Nenek!" Balqis menatap ayahnya lekat. "Boleh yah?" katanya lagi.
"Sekarang?" keduanya saling menatap dalam jarak yang cukup dekat.
"Hu'um.." balita itu menganggukan kepala.
"Serius? tidak mau nungguin Mama dulu?" David kembali bertanya.
"Iya .. aku mau marah sama Mama, biarin Mama sendiri disini!" Balqis merancau.
David diam.
"Papa ... ish!"
Balqis merengek seraya menggoyangkan lengan ayahnya.
"Oke, habiskan dulu burger nya .. baru kita berangkat." seru David yang langsung diangguki putrinya.
Bapak sama anak kompak yah! : ) kesel aja barengan ...
...•••••...
Jangan lupa! like, komen, hadiah dan votenya.
Klik favorite juga jangan lupa.
~Othor sayang kalian~