
Haleth membaringkan tubuhnya di ranjang dengan mood yang buruk. Selalu seperti ini. Tak absen dari sebuah kata pertengkaran saat dirinya bersama Adam. Hal itu sudah berlangsung hingga beberapa tahun lamanya setelah mereka resmi bercerai. Meskipun tak ada masalah baru yang membuat mereka saling beradu mulut, tetapi Haleth sering sekali mengungkit masa lalu hingga akhirnya emosinya tersulut. Tidak mengherankan, bila hubungan keduanya tak kunjung membaik.
Haleth meraih ponselnya yang tergeletak sedari tadi di ranjang, lantas menghubungi Emery yang masih belum menginjakkan kaki di rumah. Wanita itu berkali-kali menghela nafasnya lantaran panggilannya tak kunjung dijawab oleh Emery. Sampai panggilan keenam, barulah panggilan itu di terima.
"Hi, Haleth?"
Haleth menghela nafas. "Pulang," pintanya singkat.
"Tapi Tasha masih ingin jalan-jalan,"
"Pulang saja. Aku sendirian. Aku ingin bertemu anakku,"
"Adam tidak menemanimu?"
"Kenapa begitu berharap Adam ada di sini? Apa Mama yang merencanakan semuanya?"
Tak ada sahutan dari Emery dari seberang. Ah, sudahlah. Meskipun tak dijawab pun, Haleth tau betul semua yang terjadi di sini adalah hasil kerjasama Emery dengan Jessica.
"Ma, bawa Tasha pulang."
"Okay," dan setelah itu, panggilan itu diakhiri oleh Emery.
Haleth kembali meletakkan ponselnya. Menyandarkan tubuhnya pada ujung ranjang, wanita itu kemudian menatap kosong televisi mati yang berhadapan dengan ranjangnya. Berbagai pertanyaan terlintas dalam pikirannya. Entahlah. Mengapa Haleth seolah perlu mendapat jawaban atas apa yang terjadi selama beberapa hari ini.
Ada apa? Mengapa semuanya ingin dirinya mengulang masa lalunya yang menyedihkan? Dengan seseorang yang sama? Yang menggores luka dengan bekas yang tak akan pernah hilang meski berbagai cara dilakukan untuk mengobatinya? Dan sekarang, orang itu ingin masuk kembali ke dalam kehidupannya? Apa yang ingin orang itu lakukan? Apa ia ingin menggores luka lagi untuk yang kedua kalinya?
Cih!
Jika memang begitu kenyataannya, tidak akan Haleth lengah dan terjerat tipu daya Adam lagi! Hidupnya tentram tanpa pria itu. Biarlah pria itu fokus dengan tanggung jawabnya sebagai seorang Ayah dari Tasha, tanpa harus mengusik kehidupan pribadinya.
Terlalu lama melamun membuat kantuk datang menyerangnya. Haleth membaringkan tubuhnya, lantas menutupi tubuh hingga lehernya dengan selimut. Matanya tertutup perlahan, menyembunyikan manik kecoklatan nya yang lelah dalam tidur nyenyak nya.
Sementara itu, Adam masih bertahan di ruangan yang sama. Pria itu masih terduduk tanpa suara, sesekali menghela nafas. Tak lama kemudian getaran yang berasal dari ponselnya menginterupsi lamunannya.
Tertera nama Carlioz Aston saat Adam melihat layar ponselnya. Pria itu lantas menempelkan layar ponselnya ke telinganya setelah menerima panggilan tersebut.
"Ada apa?"
"Maaf Boss. Ray dan seluruh bawahannya sudah menemukan lokasi dimana Mr. Warren berada. Apa anda ingin segera menemuinya?"
"Di mana si tua bangka itu?"
"Texas,"
"Siapkan helikopternya. Aku datang 1 jam lagi,"
"Baik Boss."
Adam menatap khawatir ke arah tempat di mana kamar Haleth berada. Adam ingin bertahan lebih lama di rumah tersebut. Tetapi Carl menghubunginya lantaran ada pekerjaan yang harus Adam selesaikan. Adam kali ini tidak bisa menyerahkan tugasnya pada asistennya itu. Yang pada akhirnya, membuatnya mau tak mau harus meninggalkan rumah Haleth tanpa berpamitan.
...***...
Haleth membuka matanya saat terdengar suara alarm mobil dari arah luar. Haleth tak ingat berapa lama ia tertidur. Tetapi sepertinya cukup lama. Karena terakhir kali ia melihat langit, matahari masih bersinar dengan terik. dan kini langit mulai menggelap dengan semburat jingga di sana. Kepalanya terasa pening saat ia langsung meninggalkan ranjangnya guna melihat siapa yang datang dari jendela kamar.
Derap langkah yang terdengar tergesa mengalihkan perhatian Haleth. Tak lama kemudian pintu kamarnya terbuka, dan sosok Tasha berlari menghampirinya lantas memeluk Haleth yang reflek berlutut untuk menyamakan tinggi dengan putrinya itu.
"Momy!"
"Hi! Kau terlihat bersenang-senang!"
"His home, I guess," jawab Haleth meski ia tidak tau menahu tentang keberadaan pria itu. "Apa yang kau dapatkan dari jalan-jalan bersama Oma?"
"Banyak sekali! Aku ingin lebih lama bersama Oma, tapi Momy ingin Tasha pulang."
"Ah, I'm so sorry. Momy merindukanmu. Momy pikir kita bisa makan siang bersama karena Momy pulang awal sekali. Tapi Daddy bilang, kamu sedang berjalan-jalan bersama Oma. Itu menyakiti perasaan Momy," ungkap Haleth dengan wajah sedih yang dibuat-buat.
Tasha secara spontan pun ikut menekuk bibirnya ke bawah. Seraya menangkup kedua pipi Haleth, gadis kecil itu berkata, "I'm sorry Momy. Tapi, Tasha ingin menginap lagi di rumah Daddy. Bagaimana kalau Momy ikut? Pasti menyenangkan karena Oma Emery juga ikut kesana!"
Haleth mematung. Lagi-lagi, tawaran itu. Terucap dari bibir putrinya sendiri terlebih lagi.
"Momy, c'mon! Ayo kita tidur bertiga. Tasha tidak pernah tidur bersama Daddy dan Momy." gadis cilik itu memohon.
Matanya lantas bergulir menatap Jessica yang berjalan menghampirinya. Menepuk bahu ibu muda itu dan berbisik, "Adam sedang perjalanan menuju Texas, dan mungkin tidak akan pulang untuk beberapa hari ini. Turuti saja permintaan Tasha, Haleth."
"Ke Texas?" Haleth mengernyit. "Untuk?"
Jessica mengendikkan bahu. "I don't know. Pekerjaan mungkin."
Masih dengan raut bingung, Haleth kembali menatap Tasha. Ia membatin, sejak kapan Adam meninggalkan rumahnya? Apa saat ia tidur sehingga ia tidak mengetahui perginya pria itu?
"Ayo Haleth. Bereskan apa-apa saja yang ingin kau bawa." celetuk Emery.
Wanita itu masih berpikir. Adam tidak ada di kota ini untuk sekarang. Tetapi Haleth tidak tau kapan Adam akan kembali. Jessica bilang pria itu akan kembali ke California setelah beberapa hari. Jadi, tidak ada salahnya kan untuk menuruti keinginan Tasha untuk sekarang?
"Momy?"
"Ah ya," Haleth tersenyum sambil mengusap pipi Tasha lembut. "Baiklah, Momy ikut. Kalau begitu Momy siap-siap dulu, okay?"
Kata Tasha berbinar. "For real?! Yeay! Kalau begitu Tasha tunggu di luar ya Momy!"
"Iya, okay."
Senyum mengembang di bibir Haleth. Gadis kecilnya berlari meninggalkan ruangan tersebut, menyisakan Haleth dengan Jessica dan juga Emery di sana.
Tatapan kedua wanita paruh baya awet muda itu begitu mengintimidasinya. Haleth bangkit, dan berdeham. "Aku hanya akan menginap, menemani Tasha. Setelah Adam datang, aku akan pulang." katanya.
"Jangan begitu. Kau boleh menginap selama yang kau mau, Haleth. Rumahku selalu terbuka untukmu." sahut Jessica seraya mengusap bahu mantan menantunya itu
Haleth hanya menarik senyuman tipis, lantas melangkah mengemasi barang-barangnya yang akan ia bawa. Kedua wanita paruh baya itu juga meninggalkannya tak lama kemudian, memberinya waktu untuk bersiap-siap.
Sebenarnya Haleth masih ragu untuk menginjakkan kaki di rumah itu lagi. Banyak kenangan buruk yang terjadi di sana saat dirinya masih bersama Adam dulu. Tapi apa boleh buat? Ia tidak ingin Tasha meninggalkannya hanya karena muak dengan keegoisannya. Ia tidak akan mengampuni dirinya sendiri jika Adam berhasil membawa Tasha ke Abu Dhabi, dan bersama wanita itu,
"Ah! Hanya kali ini saja. Ini akan cepat berlalu." ia bergumam seraya melangkah untuk mulai bersiap-siap.
Selesai dengan urusannya, Haleth keluar untuk menemui yang lain. Mereka sudah menunggu di ruang tamu.
"Kita hanya bawa 1 mobil. Haleth, apa kau tidak keberatan menyetirnya untuk kami?" pinta Jessica seraya menyerahkan kunci mobil padanya.
Haleth menerima kunci itu dengan senang hati. "Yeah. Of course!"
"Okay! Let's go then!"
Jessica pun lantas melangkah terlebih dahulu keluar dari rumah Haleth, disusul Tasha dan Emery dibelakangnya. Namun Haleth tak kunjung melangkah sampai beberapa detik berlalu, lantaran merasa gelisah dan juga bingung. Tangannya meremas kunci mobil itu, mencoba meyakinkan dirinya bahwa menginap di rumah itu untuk beberapa hari bukanlah hal yang buruk.
"Ayo Haleth. Ini, hanya sebentar!"