
Mau dikatakan bagaimana pun juga, Niel Hideki memang seorang yang ambisius. Tak akan ada rasa lega dalam diri pria yang hampir menginjak usia kepala tiga itu sebelum keinginannya terwujud. Hal tersebut juga termasuk dalam hal percintaannya yang tidak bisa dibilang gagal, tapi belum bisa juga dibilang berhasil. Semua usaha Niel lakoni dengan sepenuh hatinya untuk mendapatkan sang pujaan hati. Namun tiap detik yang terlewati, entah mengapa terasa begitu sia-sia, semenjak kedatangan seseorang yang Niel anggap sebagai rivalnya.
Tetapi sudah 2 pekan ini Niel tak dapati pria bermarga Legrand itu berkeliaran di rumah sakit. Biasanya, Adam tak absen mendatangi Haleth, menjemput Haleth untuk sekedar membawa Haleth makan siang, ataupun mengirim bekal saat Haleth berada di jam senggang. Muak? Kesal? Tentu saja Niel rasakan itu semua. Tiap kali Niel hendak mengetuk pintu ruangan Haleth, dia selalu kalah start oleh Adam. Alhasil, Niel hanya bisa perhatikan bagaimana lengketnya Haleth dengan Adam saat itu.
Namun kini Niel seperti mendapat peluang besar dalam hidupnya. Selain Adam yang tidak menampakkan diri selama 2 pekan ini, Haleth yang kini tak lagi menjadi wanita tanpa ekspresi sudah seperti harta karun bagi seorang Niel. Meskipun Niel tau benar, siapa orang yang berhasil merubah sosok Haleth menjadi seorang yang murah senyum seperti sekarang. Mau kesal pun, ini merupakan keuntungan besar baginya. Karena percaya tidak percaya, respon Haleth terhadap Niel pun ikut berubah. Yang mana dulu Haleth hanya beri wajah datar saat Niel menyapanya, kini Niel dengan jelas bisa melihat senyum selalu mengembang sempurnakan iras sang puan yang menawannya bak Dewi Afrodit.
Derit pintu ruangan pertemuan terbuka, disusul munculnya seseorang yang sedari 30 menit yang lalu Niel tunggu-tunggu sosoknya. Tubuh semampai lengkap dengan coat berwarna putih itu urung melangkah kala dapati salah seorang rekan kerjanya di depan ruangan tersebut.
"Hei, sedang apa?" sapa Haleth tak lupa dengan senyumnya yang mengembang.
Sontak saja Niel dibuat mematung untuk beberapa detik. Senyuman Haleth, terlalu baru untuk diterima, dan hal tersebut sangat tidak baik untuk jantungnya.
Haleth masih tak ambil langkah sampai Niel beranjak dari tempat duduk, dan berdiri berhadapan dengan Haleth. Beberapa kali Niel usap tengkuknya lantaran gugup dan juga bingung untuk merangkai kata. Ditambah lagi detak jantungnya yang tidak beraturan, buat Niel makin salah tingkah tiap Haleth memanggil namanya.
"Aku sudah selesai dengan tamu. Dan ini sudah jam makan siang. Jika tidak ada yang dibicarakan, aku harus pergi,"
"Tunggu dulu, Haleth." Niel memotong ucapan Haleth setelah dirinya tak membuka suara selama kurang lebih 5 menit lamanya. Niel berdeham, coba netralisir rasa gugupnya itu untuk mengatakan apa yang hendak ia sampaikan pada Haleth.
Lantas Niel tarik nafasnya, menghembuskan nya perlahan lalu berkata, "Mau makan siang bersama?"
Tawaran tersebut sontak saja langsung merubah ekspresi wajah Haleth. Namun bukan yang terkesan dingin dan tanpa arti. Melainkan wajah Haleth kini tampak tengah memikirkan tawaran pria berkebangsaan Jepang tersebut.
"Okay. Hanya makan siang kan?"
Kedua netra Niel membola. Terkejut bukan main dengan persetujuan Haleth yang tidak terduga. Niel benar-benar mematung, sampai tak sadar Haleth sudah melangkah pergi. Namun tak lama berlalu, Niel menyusul langkah wanita tersebut melewati koridor yang cukup sepi.
"Kau, serius?" Niel bahkan sampai mempertanyakan jawaban Haleth untuk sekedar meyakinkan.
Yang ditanya hanya beri kekehan. Tak mempercepat tempo langkahnya, Haleth dengan beberapa berkas di dekapannya itu menoleh sebentar ke arah Niel yang wajahnya sudah semerah apel.
Haleth pun lantas kembali alihkan atensinya pada Niel, tangkap raut cemas yang tercetak semakin jelas seiring langkah yang membawa mereka. Haleth tentu saja tau permasalahan utama yang membuat Niel seperti ini.
"Tidak perlu mencemaskan Adam," Niel sontak gulirkan pandangannya ke arah wanita di sampingnya tersebut. "Dia sudah beberapa hari ini kembali ke Abu Dhabi untuk mengurus beberapa pekerjaan yang tidak bisa dia serahkan kepada asistennya." terang Haleth.
"Siapa tau dia menyewa bodyguard untuk mengamati aktivitasmu secara diam-diam,"
"Adam tidak akan melakukan hal itu," Haleth hentikan langkahnya saat sampai di depan ruangannya. Begitupun dengan Niel, pria tersebut dengarkan baik-baik semua ucapan yang keluar dari bibir Haleth.
"Kami memutuskan untuk saling percaya jika ingin memulai kembali hubungan kami," bagai tersengat aliran listrik yang melumpuhkan, Niel yang semula diselimuti rasa senang, langsung luntur usai Haleth berucap. Senyumnya pudar, tergantikan oleh senyum masam yang tidak begitu nampak. Tiba-tiba saja dadanya berdenyut sakit.
"Aku akan menyimpan berkas ini dulu, lalu kita ke cafe untuk makan siang." sambung Haleth sebelum kemudian figur wanita tersebut lenyap dari pandangan Niel.
Sial. Pada akhirnya, tidak ada kesempatan kah?
......***......
Bagi Niel, Haleth itu seperti malaikat tak bersayap yang ditakdirkan untuknya. Berparas elok, menawan, senyumnya yang sehangat mentari, dan semua yang ada di diri Haleth benar-benar terlihat sempurna di mata seorang Niel Hideki. Tak peduli percintaan di masa lalu wanita yang didamba oleh Niel itu pernah gagal. Karena baginya, Haleth tetaplah seorang Haleth.
Akhir-akhir ini Niel merasa dirinya yang sudah merasa tak mempunyai harapan, kembali bersemangat menjerat hati Haleth. Salah satu alasannya memang karena Adam yang sudah tak lagi terlihat wara-wiri di sekitar Haleth. Terlebih sikap Haleth yang berubah cukup signifikan. Hal tersebut makin-makin membuat Niel merasa dirinya memang pantas untuk diberi kesempatan.
Suasana kafe rumah sakit perlahan-lahan mulai sepi. Tersisa beberapa yang tinggal, termasuk Niel dengan Haleth yang belum menyelesaikan makan siang mereka. Lagipula jam istirahat belum usai. Mereka berdua mengobrol setelah selesai makan siang pun juga sepertinya tidak masalah.
Keakraban Niel dengan Haleth pun tak lepas dari sorotan rekan-rekan lainnya. Agak aneh saja, karena dulu Niel lebih sering ditolak oleh wanita anak satu itu, kini justru berakhir makan di satu meja. Desas-desus tentang kedekatan mereka pun tak terelakkan. Nama Adam pun bahkan ikut terseret-seret mengingat Haleth sebelumnya menempel sekali dengan Adam. Banyak yang mengira, hubungan Haleth dengan Adam memang sudah tidak bisa dilanjutkan lagi, dan Haleth memutuskan untuk menerima kehadiran sosok Niel dalam hidupnya.
Sudah kodratnya manusia itu punya rasa ingin tau yang besar. Sifat alami yang mutlak, dan tidak bisa hilang dari diri masing-masing orang. Andaikata mau menjelaskan panjang lebar, jika mata mereka sudah melihat, maka itulah yang menjadi kenyataannya. Jadi memang sepertinya percuma saja jika mau menyangkal apa yang publik lihat. Haleth lebih memilih diam, tak berkomentar apa-apa, dan membiarkan orang-orang di luar sana menyaksikan sendiri apa yang terjadi sebenarnya.