
...•••••...
Di salah satu supermarket pada hampir sore harinya.
Alvaro terlihat sangat fokus, meneliti dan membaca setiap tulisan yang tertera di bagian belakang kardus berisikan susu khusus ibu hamil yang dia genggam di tangan kiri dan kanannya.
Sementara Sisil istrinya tampak duduk, menunggu dengan raut wajah gusar, menatap sekeliling ketika merasa terus di perhatikan beberapa konsumen lain.
Dia malu.
"Abang, sudah belum?" Sisil memanggil suaminya.
Alvaro menoleh, melihat Sisil lalu tersenyum dan kembali fokus kepada barang yang ada di dalam genggaman kedua tangannya.
Astaga tuhan, kenapa dia ini!
Batin Sisil dengan raut wajah yang terlihat berubah muram karena merasa malu saat terus menjadi perhatian banyak orang.
Lama menunggu akhirnya Sisil bangkit, dan berjalan mendekat kearah suaminya.
"Abang nanti kesorean!" Sisil menggoyangkan lengan Alvaro.
"Naisilla! siapa yang mengizinkan mu berdiri? tunggu disana .. dan duduklah nanti anak kita kelelahan di dalam perut sana." Alvaro menatap Sisil tajam.
"Abang nyari apanya sih? semuanya sama, ambil aja ayok!" cicit Sisil.
"Sedang mencari susu dengan kandungan asam folat yang banyak. Kamu tau, asam folat untuk ibu hamil itu sangat baik."
Sisil memejamkan mata, lalu mengusap wajahnya kasar.
Prempuan itu frustasi.
"Sama saja, ambil mana yang Abang mau pilihkan. Sesudah itu ayok pulang, aku lelah!" suara Sisil memekik.
Alvaro memincingkan mata.
"Ohh ... sudah berani membentak aku yah!"
"Bukan membentak ...
"Naisilla, duduk dan tunggu disana!" Alvaro menatap bangku yang ia minta tadi kepada pegawai supermarket.
"Bayinya mau pulang!" Sisil merengek.
"Bayi?"
Sisil menjawab dengan anggukan pelan, dia cemberut dengan raut wajah yang ia buat se-menyedihkan mungkin, agar pria itu iba.
Alvaro diam.
"Papa ... dedek mau pulang!" Sisil kembali merengek.
Aih, geli sekali rasanya aku memanggil dia seperti itu! ucap Sisil dalam hati.
Alvaro tersenyum.
"Baiklah, ayok pulang! kita ambil rasa strawberry sama kopi saja yah, biar kamu tidak mual-mual nanti."
Dengan perasaan senang Alvaro meletakan susu khusu ibu hamil itu kedalam troli yang mereka bawa sejak tadi. Bahkan mereka sudah membawa banyak sekali makanan ringan di dalam sana, dan pelakunya tetap pakmil. Dia khawatir bayinya akan kelaparan di dalam rahim sana.
"Apa ada sesuatu yang kamu inginkan lagi? buah dan makanan lainnya sudah Abang pilihkan, tinggal kamu!" Alvaro menoleh kearah samping, dimana Sisil berjalan sambil memegangi lengannya.
"Pulang saja!" tegas Sisil.
"Tidak mau ke rumah ibu? bukannya kita mau memberitahu kabar bahagia ini!?"
"Kerumah ibu? malu nggak yah!" Sisil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalo aku bilang hamil, berarti ibu dan bapak tau dong kita sudah melakukan itu!" celetuk Sisil.
Pria itu berpikir.
"Awal kita menikah mereka sudah tau kita melakukan sesuatu!" tukas Alvaro.
"Iya ya .. ah tapi itu nggak langsung jadi bayi, buktinya janin kita baru saja 3 Minggu. Ih, aku takut mereka membayang kan ...
"Dasar ngaco!" sergah Al. "Memangnya kenapa kalo mereka tau? kita sudah sah."
"Ya aku malu, anak gadis mereka sudah mengandung. Dan ini hasil dari pacaran kita, yang di lakukan hampir setiap malam, eh!" Sisil mengatupkan mulut.
"Dih pikiran aku kenapa? kok malah keinget roti sobek kamu!" Sisil terkekeh.
"Diam dulu, kita sedang mengantri. Jangan sampai orang di samping mendengar pembicaraan kita." Alvaro berbisik, dia menatap Sisil dengan bibir tersenyum.
...•••••...
Mobil hitam itu menepi, melaju pelan memasuki pekarangan rumah kedua orang tua Sisil yang masih terlihat ramai.
"Ck!" Alvaro bedecak, tatapan matanya lurus kedepan.
"Kenapa?" prempuan itu menoleh, melihat suaminya dengan seksama.
"Tutup mata, dan berpura-pura tidur yah!" kata Al.
"Diam dan turuti saja apa yang Abang katakan. Ingat! pura-pura tidur, diam dan pejamkan mata kamu rapat-rapat yah."
Alvaro tersenyum, kemudian dia turun terlebih dulu saat mobilnya benar-benar sudah berhenti.
"Kenapa aku harus pura-pura tidur!?" cicit Sisil, tanpa mengalihkan pandangan kepada sosok pria yang sedang berjalan memutari mobil.
Pintu mobil di sampingnya terbuka. Lagi-lagi Alvaro tersenyum penuh arti kepada Sisil.
"Cepat tutup matamu, ... ibu sedang berjalan kesini, begitupun dengan teman dan cinta pertama mu!" Alvaro berbisik.
Sisil menjengit, dia menatap Alvaro penuh tanya.
"Aba ...
"Cepat!" katanya lalu meraup tubuh Sisil, dan membawanya keluar dari mobil.
"Sisil tidur? apa dia sakit?" Ningsih berjalan mendekat, menyambut anak dan menantunya dengan senyuman seperti biasa.
Sesaat Alvaro diam, dia melirik pria yang berjalan mengekor di belakang tubuh ibu mertuanya.
Alvaro mendelik, lalu kembali menatap Ningsih.
"Kami sudah dari rumah sakit, bayi di dalam perutnya membuat Sisil terus tertidur. Mau dirumah, di jalan atau dimana pun dia terus begini ... bawaan bayi." kata Alvaro lantang, sengaja agar di dengar pria yang kini tampak menatapnya tajam.
Ningsih menatap Sisil, dengan raut wajah berbinar.
"Bayi? apa maksudnya ibu akan mempunyai cucu?!" dia berujar tidak percaya.
Alvaro hanya tersenyum.
"Al bawa Sisil masuk dulu Bu!" katanya lalu melangkahkan kaki.
Duk!
Bahu Al menabrak bahu Syaif. Kadua sorot mata dua pria itu saling menusuk, bahkan pandangan Syaif sampai mengikuti masuk kearah dalam sana.
Sialan! umpat Syaif dalam hati.
Klek!
Al manutup pintu kamar Sisil, lalu mata prempuan itu terbuka.
"Kenapa harus pura-pura?" kata Sisil saat Alvaro merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Karena ada pria yang terus berusaha mencari perhatian mu, dan itu membuatku sedikit tidak nyaman." dia berbisik dari jarak yang sangat dekat.
"Bang Syaif?"
Cup!
Alvaro mengecup singkat bibir istrinya, lalu menyatukan kening keduanya.
"Jangan sebut nama dia, Abang tidak suka!" suara pria itu terdengar sangat rendah, sampai-sampai membuat Sisil merinding ngeri.
Sisil segera mendorong bahu pria yang mengungkung setengah tubuhnya.
"Emmm ... sepertinya kita jangan begini dulu, Abang harus puasa." Sisil terbata-bata.
Alvaro tersenyum.
"Hanya seperti ini, tidak akan membuat sesuatu di dalam diriku bangun sayang. Apalagi ada dia, Abang akan berusaha menahannya!"
"Iya aku tau ... tapi aku yang nggak bisa nahan, eh!" dengan cepat di mengatupkan mulutnya, saat Sisil menyadari kekonyolan apa yang baru saja dia katakan.
"Cih, dasar nakal!" ucap Al seraya menarik hidung Sisil kencang, hingga menyisakan bekas kemerahan di hidungnya.
"Abang yang ngajarin aku." kata Sisil malu-malu.
"Anak pintar, bisa mengerti banyak hal dengan sangat cepat."
Alvaro tertawa kencang, sampai kepalanya mendongak dengan mata terpejam.
"I love you!" kata Sisil pelan, dia tersenyum malu-malu.
Alvaro langsung diam.
"Bisa ulangi?" Alvaro menatap Sisil lekat.
Sisil tersenyum, sedikit mendekat kemudian meraih bahu kekar itu dan melilitkan tangannya.
"Aku mencintai mu ... suamiku!" katanya lagi, dan ...
Cup!
Sisil mencium bibir suaminya lembut.
...••••...
Maaf telat update, othor masih dalam masa pemulihan ini :)
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya cuyung!!!