
Tak terhitung berapa jam terlewati oleh Adam serta Haleth yang masih enggan tinggalkan ranjang besar di salah satu kamar hotel berbintang. Keduanya semula masih terlelap dengan nyenyak, sebelum Adam membuka mata dan lihat langit yang mulai gelap. Rambutnya diremas kala rasakan pening tiba-tiba datang menyerang kepalanya. Tangan kekar itu lantas terulur, raih segelas air putih untuk basahi tenggorokannya yang terasa kering.
Beberapa sekon setelahnya Adam tolehkan kepalanya ke arah yang berlawanan. Senyum tanpa sadar mengembang di bibir Adam, dapati Haleth yang terlelap memunggunginya. Punggung seputih porselen yang sempat menjadi kanvas tanpa noda, kini penuh dengan bercak kemerahan.
Tampak indah, dan begitu kontras dengan warna kulit Haleth.
Adam beringsut dekati tubuh yang hanya ditutupi oleh putihnya selimut. Memajukan kepalanya untuk berikan kecupan kupu-kupu di punggung Haleth yang terekspos.
"Mhh, stop kissing my back, Legrand," hal tersebut akibatkan Haleth terbangun. Bukannya berhenti, Adam justru kian bubuhkan ciuman-ciuman yang menjalar hingga ke leher Haleth.
"I miss you,"
"Stop saying that. I'm here," dengus Haleth seraya ubah posisi tidurnya.
Saat netra nya saling bersitatap dengan lembutnya netra Adam, Haleth hanya mampu hela nafasnya perlahan.
Seketika teringat peristiwa beberapa jam yang lalu. Dimana Haleth hanya bisa pasrahkan diri kala lihat kembali sisi dominan Adam. Serukan nama Adam dengan erotis yang alhasil kegiatan mereka selesai setelah 4 jam kemudian.
Keduanya dikuasai oleh rasa rindu. Oleh rasa saling membutuhkan satu sama lain yang terhalang oleh rasa gengsi. Bayang-bayang masa lalu selalu menghantui, tingkatan keraguan Haleth pada sosok Adam. Namun hari ini entah mengapa Haleth tak ingin mengingat itu semua. Menghempas masa lalunya dengan Adam yang rumit, biarkan semuanya menguap dibawa oleh hembus angin.
Kini Haleth sudah berhasil dibawa oleh Adam terjun ke jurang kenikmatan yang bisa Haleth rasakan secara nyata. Sadar total tanpa pengaruh sesuatu yang memabukkan. Karena satu-satunya hal yang paling memabukkan adalah Adam, dengan afeksi nya yang telak meluluhkan Haleth.
"Lelah?" sang pria bertanya seraya singkirkan anak rambut yang terjatuh menutupi paras jelita di hadapannya.
"Menurutmu?"
"Menginap di sini saja kalau begitu. Sudah malam juga,"
Sejenak Haleth alihkan pandangan ke arah jendela yang tak tertutup oleh tirai. Benar apa yang Adam katakan. Akibat tubuhnya yang sudah tidak bisa dibuat berdiri, tentu saja Haleth habiskan waktu lama untuk istirahat. Hingga tanpa sadar, langit sudah dikuasai oleh pekatnya malam.
"Bagaimana?"
"Tidak mau," jawab Haleth lantas duduk di samping Adam. "Kalau aku tidak pulang, Mama pasti akan curiga dan mewawancarai ku nanti."
"Bukankah Emery sudah curiga dari awal kita pergi tadi?" koreksi Adam sambil terkekeh.
Lagi-lagi pria itu beringsut dekati Haleth. Dan kini baringkan kepalanya ke paha sang wanita. Kedua tangan Adam melingkari pinggang Haleth dengan posesif, seraya sesekali beri kecupan di atas pusarnya.
Mau layangkan protesan pun juga untuk apa? Daripada itu, Haleth lebih memilih respon perlakuan Adam dengan usapan lembut pada rambut sang pria. Haleth paham dan bisa rasakan, cinta Adam padanya, masih teramat besar jika dipertanyakan.
Namun apa daya Haleth hanya bungkam. Tak pertanyakan bagaimana hubungan mereka kedepannya setelah semuanya terjadi begitu saja. Namun daripada mempertanyakan tentang kepastian, sepertinya memang lebih baik seperti ini. Tak terikat oleh hal yang bisa melukai untuk yang kedua kali, dan biarkan semuanya mengalir sebagaimana mestinya terjadi.
...***...
Tepat pukul 11 malam Haleth sampai di depan gerbang rumahnya. Wanita itu melarang keras agar Adam tidak mengantarnya hingga masuk ke dalam. Mengenai hal tersebut, Haleth sudah paling malas dengan interogasi sang Ibu yang selalu menghambat aktivitas Haleth yang lebih penting.
Setelah ucapkan sampai jumpa pada Adam, Haleth buru-buru keluar dan masuk ke halaman rumahnya yang sepi. Begitu sampai di depan pintu utama, Haleth untuk sejenak berhenti. Dalam batinnya ia berharap, semoga saja sang Ibu sudah tidur sehingga Haleth tidak akan menghadapi wanita itu malam ini.
"Pulang juga kamu,"
Astaga Ya Tuhan. Bagus sekali! Memang sepertinya Haleth lebih baik tidak pulang saja.
Baru saja buka pintu, Emery sudah menyambut sambil bersidekap di sofa. Sudah seperti remaja yang tertangkap basah main tanpa izin oleh orang tua. Padahal umur Haleth ini sudah hampir menginjak kepala tiga. Benar-benar tidak habis pikir.
"Mama pikir kamu bakal menginap dengan Adam,"
Hembuskan nafasnya kesal, Haleth rotasi bola matanya sebelum ambil tempat duduk tak jauh dari Emery.
Alih-alih menjawab, Emery justru dengan kesenangan setengah mati duduk di samping Haleth. Benar kan? Haleth sudah seperti anak gadis yang baru saja melanggar jam malam dan akan dicecar banyak pertanyaan. Namun untuk kali ini, beda persoalannya.
"Apa sih Ma? Malas deh kalau Mama banyak tanya. Haleth lelah, mau tidur,"
"Iya, Mama tau kamu lelah. Dari tadi siang sampai malam begini, aduh untung saja Adam tidak membuatmu lumpuh,"
"Astaga, Ma!" potong Haleth dengan pandangan nyalang. "Apa-apaan?!"
"Sudah, nggak usah denial deh. Selangkah lebih maju ini hubungan kalian," kekehan Emery yang terdengar menyebalkan makin menambah kegugupan Haleth.
"Kalian ini, sudah berani berciuman di depan anak sendiri, masih saja mencoba menyangkal. Lalu sekarang, sudah tidur berdua lagi kan? Apa lagi yang mau ditunda-tunda? Anak kamu nuntut adik tuh."
Haleth tolehkan kepala, tatap sang Ibu dengan sebelah alis terangkat. "Tidak berciuman di depan Tasha!"
"Tapi Tasha tau? Tasha lapor ke Mama tadi, 'Oma, tadi Tasha lihat Momy berciuman dengan Daddy. Kalau Tasha minta adik lagi, mereka mau tidak ya?' Hahaha, dasar,"
Haleth sontak usap wajahnya yang menghangat. Sudah dipastikan wajahnya merona sekarang. Namun Haleth sembunyikan itu agar Emery berhenti menggodanya.
Namun kini di pikirannya juga langsung teringat sosok Tasha. Bagaimana anak itu bisa-bisanya tau, padahal Haleth dan Adam sudah memastikan bahwa Tasha belum meninggalkan food truck sama sekali? Memalukan. Pantas saja disepanjang jalan pulang, Tasha tak henti mengembangkan senyumannya. Dan lagi, tak pernah terpikirkan oleh Haleth, Tasha ternyata mengadu pada Emery yang gaya menggodanya mengesalkan minta ampun.
"Hahaha, sudah ah. Mama tunggu hasil saja ya? Mama tidak akan ikut campur lagi tentang kamu maupun Adam. Semoga cepat deh prosesnya, terus kalian rujuk deh!" Emery kembali lancarkan aksinya. "Sudah, Mama mau ke kamar. Kamu istirahat yang benar. Besok masuk pagi kan?"
"Hm, iya," jawab Haleth seadanya.
"Kalau begitu Mama duluan."
Setelahnya Emery tinggalkan Haleth sendirian di ruang tamu. Sampai suara gesekan sandal dengan marmer menghilang, dan suara pintu ditutup terdengar, baru Haleth beranjak dari tampat tersebut.
Ia hela nafas panjang. Benar-benar tidak mengira bisa sampai seperti ini. Entahlah. Sebenarnya yang Haleth lakukan ini benar atau tidak.
Haleth untuk kedua kalinya terpenjat, kaget. Jika tadi sang Ibu, kini pelakunya adalah anaknya sendiri. Figur Tasha yang mungil tengah menyandar di ranjangnya, dengan iPad menyala yang semula dari pusat atensi. Tasha tersenyum lebar pada Haleth, meletakkan IPad nya lantas duduk manis.
"Momy, Tasha ingin tidur bersama Momy, boleh?" gadis itu meminta izin.
Seketika rasa kesal yang semula membumbung hilang begitu saja. Pasalnya, kapan lagi Tasha mau tidur bersama Haleth? Kalau bukan Haleth yang berinisiatif, mereka bisa dikatakan jarang sekali bisa tidur bersama.
Tanpa berpikir panjang Haleth angguki itu. "Boleh Tasha. Boleh sekali. Kalau begitu Momy ganti baju dulu, ya?" ucap Haleth kemudian menutup pintu dan masuk ke kamar mandi.
Tak lama kemudian Haleth kembali keluar, sudah mengenakkan baju tidur yang cukup tertutup, lalu berbaring di samping Tasha. Haleth biarkan putrinya itu berbaring di atas lengannya, kemudian meringkuk di dekapan sang Ibu. Manis sekali. Haleth, merindukan Tasha nya yang seperti ini.
"Momy, tadi dengan Daddy pergi ke mana?" tanya Tasha seraya memutar jari mungilnya di baju tidur bermotif avocado milik sang Ibu.
"Oh? Yang tadi? Momy hanya berbicara dengan Daddy. Tenang saja, kami tidak bertengkar kok," jawab Haleth seraya tersenyum.
"Benarkah? Apa Momy dan Daddy mau tinggal bersama lagi?"
Kedua alis Haleth mengernyit. "Kenapa Tasha berpikir begitu?"
"Soalnya tadi Tasha lihat Momy dan Daddy berciuman. Apa itu artinya Daddy sudah tidak nakal lagi, dan Momy mau memaafkan Daddy?"
Senyum hangat terulas tanpa sadar. Haleth belai surai Tasha yang lembut, mengecup puncak kepala gadis kecil itu dan mengangguk. "Momy selalu memaafkan Daddy, Tasha."
"Kalau begitu, Tasha boleh tidak minta adik?"
Huh? Apa?