My Ex Husband

My Ex Husband
Nota.



...•••••...


...Saya terima nikah dan kawinnya Naisilla Ira Putri dengan mahar berupa segelas air putih dibayar tunai....


Kata-kata itu terus perputar-putar di kepalanya, lalu Sisil kembali menitikan air mata.


Acara yang harusnya lebih meriah, dihadiri banyak teman dan saudara, juga mas kawin yang indah luput begitu saja hanya karena kejadian tadi malam.


Tidak ada tamu undangan atau pun mas kawin indah, karena sang ibu hanya mengusulkan segelas air putih untuk dijadikan sebagai mahar.


Hidup yang penuh kejutan! kehilangan selaput dara, kejujuran tentang aku yang bukan putri mereka, bahkan saat sudah menjadi orang tuaku selama 22tahun lamanya, tiba-tiba dinikahi seorang pria yang hanya beberapa kali ku temui, kenapa aku merasa Tuhan sedang menghukum ku, lantas kesalahan apa yang aku perbuat, sampai engkau yakin dengan pundakku wahai dzat yang maha agung, aku tidak sanggup! batin Sisil menjerit.


Klek!


"Nak Sisil, ayok masuk sayang! jangan melamun terus." wanita itu tersenyum, menahan pintu apartemen yang sempat Sisil datangi, lalu mengulurkan tangan.


Dia tersenyum hangat.


Sisil mengusap pipi dan matanya dengan telapak tangan, dia berusaha tersenyum walau itu tampak dipakasakan, setidaknya Sisil sudah berusaha, membalas setiap senyuman hangat yang wanita itu berikan.


"Kemarilah, kamu melamun sampai di tinggal suamimu, Sil!" Rida kembali keluar, lalu berjalan kearah Sisil dan meraih tangan menantunya itu.


Tanpa ragu Rida menggenggam tangan Sisil, menuntunnya masuk dengan sangat perlahan.


Sisil masuk, dan hal pertama yang gadis itu lihat adalah wajah frustasi Alvaro, yang saat ini duduk di atas sofa bersama ayahnya.


"Mama antar ke kamar yah, sepertinya kamu butuh istirahat!" Rida membawa Sisil masuk ke kamar Alvaro.


Dadanya terasa sesak, saat iya melihat kamar yang masih tampak berantakan. Memori itu kembali berputar, sampai tanpa Sisil sadari dia menepis tangan Rida, lalu berjongkok dan menutup kedua telinganya dengan tangan.


"Aku mohon jangan!" lagi-lagi Sisil menangis kencang.


Rida panik, dan memeluk tubuh Sisil erat.


"Sepertinya kamu butuh dokter." ucap Rida, sambil mengusap punggung Sisil lembut.


Sementara dua pria yang terkejut, dia berlari kearah kamar dan menghampiri keduanya.


"Al, siapkan mobi mu ... sepertinya Sisil butuh penanganan medis."


"Psikolog?" Bayu bertanya kepada istrinya.


"Mama tidak tau!" ucap Rida.


"Baiklah, ayok ... mobil Al ada di basemen." pria itu berbicara.


Dengan cepat Alvaro mendekat, lalu meraup tubuh Sisil, memangku nya dan berjalan cepat kearah luar.


"Gadis malang!" Rida menatap punggung Alvaro sendu.


"Entah kenapa, tapi Papa senang .. karena dengan cara seperti ini, akhirnya putra kita menikah, dan mungkin Sisil bisa membantu Al melupakan Mika." Bayu menimpali.


"Bahas ini di rumah saja Pah!" sergahnya sambil terus berjalan mengikuti Alvaro.


...•••••...


"Kenapa menantu saja Dok, apa harus di rawat?" Bayu melangkah saat seorang prempuan dengan jas putih berjalan kearahnya.


Prempuan itu tersenyum.


"Keadaannya tidak terlalu parah, menantu bapak hanya terlalu banyak pikiran. Sampai membuatnya drop seperti ini!"


"Tapi dia histeris teru Dok!?" Rida ikut mendekat.


"Sudah saya suntikan obat, dia hanya butuh istirahat. Sepertinya dia kurang tidur."


"Apa boleh pulang?"


Rida terlihat lebih tenang, saat mengetahui kondisi menantunya itu.


"Boleh, nanti saya kasih vitamin agar menantu ibu dan bapak cepat pulih."


"Sisil tidak depresi kan Dok?" Bayu berbisik.


Dokter itu menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Dia sudah baik-baik saja, bahkan sudah mau di ajak bicara suaminya."


Seketika pandanganya tertuju pada Sisil yang sedang berbaring dengan Alvaro di sampingnya, mereka tampak sedang berbincang.


"Ah syukurlah, kalau begitu terimakasih Dokter ... Rina!" Rida menatap papan nama yang menempel di jas putihnya.


"Sama-sama, nanti saya panggil ya pak, bu! kalo begitu saya tinggal dulu." katanya lalu beranjak kearah meja kerja miliknya.


Bayu dan Rida mengangguk.


"Saya mohon jangan seperti ini Sil, saya tau saya salah ... jadi maafkan saya atas kejadian semalam." Alvaro berbicara dengan nada pelan dan terdengar lembut.


Sisil mengangguk.


Sisil mengalihkan pandangannya, menatap langit-langit ruang UGD, dengan tatapan kosong.


"Apa kita harus membuat sebuah perjanjian?" kata Sisil tanpa mengalihkan pandangan.


Pria itu membisu.


"Bapak tidak mencintai saya bukan? maka ayok kita buat sebuah perjanjian di atas materai." Sisil menoleh, menatap Alvaro yang sedang membisu.


"Apa itu perlu?"


Sisil mengangguk.


"Setidaknya kalau aku tidak hamil, bapak bisa melanjutkan hidup bapak, begitupun dengan saya!"


Alvaro mengangguk pelan.


"Kita bicarakan itu nanti, sekarang kau harus pulih dulu, agar aku tidak terus-menerus merasa bersalah!"


Sisil tidak menjawab, sampai keadaan kembali hening untuk beberapa saat.


Hampir satu jam Sisil terus berbaring disana, akhinya Bayu dan Rida datang menghampiri.


"Ayok pulang, obat kamu sudah Mama tebus." Rida tersenyum ke arah Sisil.


Sisil menjawab dengan anggukan, dia bergerak untuk bangkit, namun Alvaro menahan lengannya.


"Biar saya bantu!" katanya, lalu kembali memangku tubuh Sisil, begitupun dengan gadis itu yang melingkarkan kedua tanganya di bahu Alvaro, pria yang hari ini resmi menjadi suaminya.


Langit sudah mulai menghitam, saat mereka keluar dari rumah sakit itu.


"Hati-hati Al!" Rida memperingati, saat putranya membungkuk dan memasukan Sisil kedalam mobil.


Alvaro meletakan tubuh Sisil dengan sangat hati-hati, menarik sabuk pengaman dan memasangkannya.


Entah dia baik, atau memang sedang berpura-pura karena ada kedua orang tuanya!


Batin Sisil berbicara, seraya memandang wajah pria itu dari jarang yang sangat dekat.


"Pulanglah, jaga istrimu dengan baik Al. Jangan mempermalukan kami kepada orang tua Sisil, ini obat Sisil! Kami akan naik taksi, mumpung jarak dari sini kerumah tidak terlalu jauh!" jelas Bayu kepada putranya.


"Tidak pulang ke apartemen?"


"Tidak, kasian Nova menunggu kita. Tadi dia sangat ingin ikut, tapi dia harus sekolah." Katanya lalu Rida memeluk tubuh putranya.


"Sisil, Mama pulang ya sayang. Kapan-kapan kalian berkunjunglah kerumah, Nova pasti sangat menunggu kedatangan kalian." Rida tersenyum.


"Iya Bu, hati-hati!" Sisil tersenyum.


"Mama ... panggil Mama seperti Alvaro, kalau begitu kami pamit, lekas sembuh yah!" Rida mengusap kepala menantunya, dan ...


Cup!


Rida mencium kening Sisil. "Oh cantiknya menantuku!" Rida tersenyum.


Sisil terkejut.


Setelah berpamitan kepada anak dan menantunya, Bayu dan Rida pun berjalan menjauh, untuk segera mendapatkan taksi dan segera pulang ke rumah mereka yang terletak cukup jauh dari apartemen Alvaro.


"Apa kamu ingin makan sesuatu? di apartemen saya tidak ada stok makanan, jadi kita harus beli." pria itu duduk, menutup pintu mobil dan segera memasangkan seatbelt.


"Terserah bapak!" sahut Sisil.


"Jangan terserah, bicaralah saat ini kau ingin makan apa?"


"Aku tidak adak uang."


"Tidak apa, biar ku notakan .. dan kau boleh membayarnya nanti awal bulan."


Sisil mengangguk.


"Saya mau Seblak cimol pake tulang!"


"Baiklah, ayok kita cari." katanya lalu melajukan mobil keluar dari area rumah sakit, dan segera melesat dengan kecepatan tinggi.


...•••••...


Masih ada yang punya vote? ish lemparlah kesini : )


Bunga mawar, atau kopi? lempar juga lah, biar nanti malem lanjut satu eps lagi!!


Jangan lupa! like sama komen mah wajib ya hehehe ...