My Ex Husband

My Ex Husband
Resah.



...•••••...


Hari ini aku pulang terlambat, pulang sendiri tidak apa-apa kan?


Begitulah pesan dari Alvaro beberapa menit lalu.


Sisil kembali memasukan ponselnya kedalam tas, kemudian dia bangkit dan berjalan kearah dapur, dimana ibu dan pekerja lainnya berkumpul.


"Kalian belum mau pulang? aku pulang duluan yah. Udah sore, Abang juga nggak jemput hari ini!" kata Sisil.


"Pulang sekarang? kenapa nggak nungguin sampai di jemput saja?" Ningsih bangkit dari duduknya.


"Sini mbak, makan bareng!" ajak Anis sambil menunjuk nasi dan lauk yang tertata rapih di atas daun pisang.


"Iya, makan dulu nasi liwetnya sini." timpal Syaif.


Sisil menggelekan kepala.


"Pulang sekarang aja, ... dari sini ke apartemen lumayan jauh." jelas Sisil.


"Yasudah, ini. Ibu bungkusin nasi liwet sama lauknya buat Al nanti, kamu tinggal dipanaskan yah!" Ningsing memberikan sebuah rantang.


Sisil menatap ibunya cukup lama, namun tak urung juga meraihnya.


"Abang suka nasi liwet emang? jengkol goreng, ikan teri, sambel sama lalapan?" Sisil menatap ibunya, dia terlihat bingung.


Wanita paruh baya itupun mematung, sampai keduanya diam dengan mata yang terus saling menatap.


"Coba aja dulu di kasih, kalo Al nggak suka ya ... tinggal Sisil yang habiskan."


"Lah, mulut aku bau dong!"


"Memangnya kenapa? kalo bau mulut ya godok gigi sama kumur-kumur!" Ningsih terlihat semakin bingung.


Sisil kembali diam, kemudian pikirannya tertuju pada kegiatan yang hampir setiap malam ia dan suaminya lakukan.


Bayangan Al kini mendominasi, pria itu mendekat, memeluknya seperti biasa, dan berakhir meraih bibirnya.


Tiba-tiba dia menjauh, raut wajahnya berubah masam.


Sayang kamu bau!


Deg!


"Nggak ah Bu, aku nggak mau bawa nasi liwet ke rumah. Nanti saja masak!" Sisil kembali memberikan rantang makanan itu.


"Lho! ini kesukaan kamu Sil .. jengkol goreng sama ikan teri!"


Sisil menggelengkan kepala, lalu menutup mulutnya dan segera beranjak ke arah luar. Ratmi, Faiqa, Anis dan Syaif yang memperhatikan sedari tadi pun menjengit, sampai pandangannya mengikuti pergerakan Sisil yang berjalan keluar rumah.


"Tu anak kenapa yah? kok jadi aneh tingkah lakunya, pake nutup mulut segala, kan nggak mungkin kalo rantangnya ibu paksa makan!" wanita itu geleng-geleng kepala.


Dengan berat hati Ningsih kembali membuka rantang itu, lalu menggabungkan dengan nasi dan lauk lainnya untuk ia dan teman kerjanya makan.


"Apa perlu saya antar Sisil Bu?" Syaif masih menatap Sisil yang sedang berjalan kearah jalan.


"Tidak usah, biarkan dia sendiri."


"Saya khawatir Bu, langit hampir gelap."


"Ibu lebih khawatir akan timbul fitnah." Ningsih serius, namun wanita itu masih tersenyum.


Syaif mengangguk, walau hatinya sedikit tidak rela.


"Ayok makan, nanti liwetnya keburu dingin!" titah Ningsih.


"Yaudah .. yok makan yok!" Faiqa terlihat lebih semangat.


Tak!


"Pelan-pelan kenapa dah, nggak ada yang bakal ngabisin ini!" Anis menepuk lengan temannya.


"Udah, ayok makan. Jangan ribut terus, itu sambalnya udah melambai-lambai!" Ratmi berujar.


Seketika keadaan pun menjadi hening, saat mereka mulai menikmati makan sore hari ini, setelah membaca doa masing-masing terlebih dulu.


...••••••...


Indahnya langit malam sudah menyapa, kelip bintang di langit seolah menemani Alvaro yang kini sedang duduk di kursi kemudi, dan memacu kendaraan roda empatnya dengan kecepatan tinggi.


Alunan musik terdengar pelan, beberapa kali pria itu memeriksakan ponselnya. Namun belum ada balasan pesan dari Sisil, untuk pesan yang Alvaro kirim sejak tadi sore.


Laju sedan hitamnya mulai melambat, menepi secara perlahan kemudian berbelok, memasuki sebuah kawasan gedung apartemen yang terlihat sedikit ramai.


Brugh!


Alvaro menutup pintu mobil cukup kencang, kemudian dia berlari untuk segera sampai di unit miliknya yang berada di lantai 6.


...••••••...


Klek!


Suara itu membuat Sisil yang sedang duduk di sofa ruang tengah menoleh, memandang kearah suara.


Munculah seorang pria tampan, yang hampir satu bulan ini menjadi suaminya. Kemeja yang terlihat sedikit kusut, begitupun dengan dasi dan jas yang sudah pria itu lepaskan.


"Hey .. belum tidur?" Alvaro meletakan jas dan dasi nya di sandaran sofa.


Dia mendekat, kemudian membungkuk untuk meraih kening istrinya.


"Abang mau minum?" Sisil menatap Al yang sudah duduk menyandarkan punggungnya di sofa.


Dia tersenyum, menyentuh kepala Sisil dan mengusak rambut yang prempuan itu biarkan terurai.


"Tolong ambilkan air putih hangat boleh?" katanya, lalu mengusap pipi Sisil.


"Sebentar yah!" Sisil mengangguk, kemudian dia bangkit dan segera berjalan menuju dapur.


Mata Alvaro mulai terpejam, saat rasa lelah yang ia tahan kembali terasa.


"Mau makan sekarang?" Sisil meletakan gelas berisi air diatas meja.


Alvaro mengerjap, dia mengubah posisinya dari bersandar menjadi duduk, lalu meraih gelas itu, dan meneguknya hingga hampir tandas.


"Kamu masak?"


Sisil mengangguk.


"Masak apa?"


"Cumi kecap, kerupuk sama tempe goreng." kata Sisil.


Alvaro tersenyum.


"Terimakasih, sudah mau bersusah payah meski kamu juga lelah bekerja."


Sisil mengulum senyum.


Semakin hari terlihat semakin manis, tapi kenapa aku malah semakin takut! batin Sisil berbicara.


"Kenapa melamun? apa yang kamu pikirkan? akhir-akhir ini kamu banyak memandang sesuatu dengan tatapan kosong, kalau ada sesuatu bicaralah, siapa tau aku bisa bantu kalau kamu ada masalah!"


Kini Sisil beralih menatap mata suaminya.


"Kenapa? kamu aneh sekarang." ucap Alvaro lagi.


"Mau makan sekarang atau mandi dulu?" Sisil mengalihkan pembicaraan.


Alvaro menggelengkan kepala.


"Jawab Abang dulu, kamu kenapa?" Al menggeser tubuhnya agar lebih merapat.


"Aku ... ng-nggak kenapa-napa! itu cuma perasaan Abang aja kali." Sisil tersenyum gugup.


Tangan Al meraih pinggang Sisil, lalu memeluk dan meyurukan kepalanya di tengkuk Sisil.


"Kamu sedang ragu?"


"Ragu kenapa?"


"Entahlah, tapi kamu sering mengigau. Dan bertanya niat ku ... juga perasaan ku terhadap mu!" jelas Alvaro seraya mengingat beberapa malam dimana Sisil terus mengingau dan tertidur dengan keadaan yang terlihat cemas.


Sisil mendorong bahu suaminya, memberikan jarak diantar mereka, Samapi pandangan keduanya kembali beradu.


"Mana ada aku mengigau!" elak Sisil.


"Ya kamu mana ingat!" cicit Al. "Ayok katakan kamu kenapa? suami istri dilarang main rahasia-rahasiaan." katanya lagi.


Sisil menatap manik kelam itu dengan seksama, mencoba mencari sisi buruk dari suaminya. Namun lagi-lagi dia tidak menemukan itu, baik dia sedang tertidur ataupun sedang saling menatap seperti ini.


"Apa pria akan melakukan sesuatu hanya karena nafsu, bukan cinta?" Sisil terlihat lebih serius.


"Mungkin ya .. tapi mungkin juga tidak. Karena sifat seseorang itu berbeda-beda, kembali kepada dirinya masing-masing."


"Kalau Abang?"


Alvaro diam.


"Termasuk kedalam golongan mana?" tanya Sisil kembali.


"Mungkin keduanya!"


Deg!


Bang Syaif benar? pikir Sisil.


"Sebelumnya Abang tidak bisa melakukan apapun kalau tidak di dasari cinta. Tapi sejak kejadian itu, Abang melakukannya bahkan bukan hanya karena nafsu, tapi juga kita tidak saling mengenal."


Jadi ini benar?


"Apa itu yang kamu khawatirkan? tenang aku tidak seperti itu sekarang." Al tertawa.


"Aku mandi dulu yah, nanti kita makan."


Alvaro mencium pipi Sisil, kemudian dia bangkit, meraih jas yang ia letakan di sandaran sofa tadi, lalu berjalan kearah kamar yang sudah dia tempati bersama istrinya sekarang.


Bagaimana ini? Abang termasuk kedalam dua golongan sekaligus! Bayangkan Sisil, kamu menikah karena insiden ini, dan Bu Mika masih ada. Dia pasti melakukannya juga kepada kamu dan dia ... astaga! apa nasib ku akan seperti Bu Anna dulu?


Wajah Sisil memerah, nafasnya memburu dengan mata yang juga ikut berkaca-kaca.


Sisil panik.


...•••••...


Jangan lupa, nanti waktunya nge-vote yes!!