
Haleth pergi meninggalkan rumahnya dari 10 menit yang lalu, dengan keadaan yang terlihat kurang vit. Efek dari mabuknya semalam masih terasa, yang alhasil membuat Haleth menyetir mobil Porsche yang ia kendarai dengan laju yang cukup pelan.
Ngomong-ngomong masalah mobil yang Haleth kendarai, ah! Mungkin itu bisa dijelaskan nanti. Karena sekarang, rasa paniknya makin menjadi saat teleponnya setiap 8 detik sekali bergetar tanda ada panggilan masuk. Itu dari Niel, memastikan dirinya baik-baik saja karena dia sudah 1 jam lebih terlambat dari jam yang ditentukan.
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di jalanan, Haleth akhirnya sampai di tujuannya.
Ketukan stiletto yang ia kenakkan menggema di penjuru koridor rumah sakit. Langkahnya tergesa, bahkan ia hanya menarik senyum sekilas ketika rekan kerjanya menyapa. Begitu Haleth sampai di ruangannya, wanita itu dengan segera mendudukkan dirinya di kursi.
Ia menghela nafas berat, lantas mengigit bibirnya. Di balik meja kerjanya, Haleth melepaskan stiletto nya. Sekilas melihat ke arah kakinya. Haleth mendecak ketika mendapati kaki bagian atas tumitnya lecet. Perutnya juga terasa perih, bahkan kepalanya masih terasa pening. Jika Haleth memutuskan untuk tidak berangkat ke rumah sakit, itu sama saja artinya membuat depresi diri sendiri. Setelah apa yang terjadi antara dirinya dengan Adam, tidak mungkin Haleth bisa melihat wajah pria itu. Alhasil, Haleth pun bergegas untuk bersiap-siap pergi, melupakan sarapan, dan satu kesialan lagi, mobilnya masih ada pada Emery.
Ketika wanita itu memutuskan untuk berangkat dengan taksi, Adam bersikeras agar Haleth membawa mobilnya saja. Dan jika wanita itu menolak, Adam akan mengancam mengantarkannya sendiri ke rumah sakit sehingga Haleth akhirnya menerima kunci mobil itu meski terpaksa.
Tak ada henti batin Haleth mengutuk mantan suaminya itu. Baru satu kali menidurinya setelah sekian lama, sudah berani memerintah dan mengancamnya. Kurang ajar!
Haleth kembali menghela nafasnya, lantas memutar kursinya hingga menghadap jendela. Matanya menatap jauh ke arah luar. Kurang lebih 6 menit lamanya Haleth bertahan di posisi itu, sampai seseorang mengetuk pintu ruangannya. "Silahkan masuk!" ia berseru.
Kembali ke posisi awal, dan sosok Niel berjalan menghampirinya.
"Hei! Kau sudah datang? Aku pikir kau absen hari ini. Tidak biasanya kau terlambat. Boleh aku duduk?"
"Yeah, sure,"
Niel memperhatikan Haleth yang tak mengangkat wajahnya. Wanita itu tampak pucat meski sudah tertutup polesan make up. Dan juga, terlihat lesu, tidak seperti biasanya. Memancing rasa penasaran Niel, apa yang sudah menimpa wanita yang duduk bersebrangan dengannya itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Niel yang reflek membuat Haleth mengangkat wajahnya.
"Huh? Maksudnya? Aku baik-baik saja." jawab Haleth tanpa ekspresi.
Niel menyangga dagu. "Kau terlihat pucat sekali. Apa kau sedang tidak enak badan?"
"Aku baik-baik saja. Bukankah lebih baik kau kembali ke ruangan mu, Niel?"
"Aku mengkhawatirkan mu, Haleth."
"I'm totally fine, thank you,"
"Excuse me!" Haleth dan Niel bersamaan menolehkan kepala ke arah pintu yang baru saja diketuk dan dibuka oleh salah seorang rekan kerja Haleth yang kerap dipanggil Sarah. "Oh! I'm sorry. Haleth, seseorang mencari mu."
"Siapa?" Haleth meninggalkan kursinya, begitu juga Niel.
"I'm not sure. Aku belum pernah melihatnya, tapi dia mirip sekali dengan Adam Legrand,"
"Ah, okay Sarah!" wanita itu mendecak usai memotong ucapan Sarah. "Thanks. Aku akan menemuinya." katanya
"Hm, okay! Dia di luar ruangan mu by the way. Jadi, aku akan pergi sekarang!"
"Thank you Sarah," ucap Haleth kembali berterima kasih bersamaan dengan Sarah yang menutup pintu kembali.
Helaan nafasnya lantas terdengar. Terlihat jelas ekspresi wanita itu begitu lelah. Niel menyadarinya. Mereka berdua tau, seseorang yang kini menunggu Haleth membuka pintu memang benar Adam.
"Kau akan menemuinya?" pertanyaan Niel kembali membuat Haleth menghela nafasnya. Haleth juga tidak langsung menjawab, karena bimbang. Jika harus jujur, Haleth tidak sudi menemui mantan suaminya itu. Tapi jika dia menolak, dan tau ada seorang Niel di ruangan tersebut, keadaan mungkin akan lebih kacau mengingat pertemuan awal kedua pria itu tidak berjalan baik.
Maka dari itu, tidak ada pilihan lain. "Beri aku waktu untuk berbicara dengannya." ucap Haleth.
Itu diluar ekspektasi Niel. Pria itu pikir Haleth tidak akan menemui Adam karena ia tau, hubungan mereka tidak baik.
Melihat Haleth yang melangkah mendekati pintu dan perlahan membukanya, membuat Niel tak mengubah posisinya sampai ia melihat Adam. Mereka saling menatap untuk beberapa detik, sebelum akhirnya Niel melangkah mendekati Haleth.
"Sampai jumpa saat jam makan siang, Haleth!" pamit Niel lantas pergi.
Haleth mempersilahkan Adam untuk masuk ke ruangannya dan menutup pintu. "Kau tidak bisa seenaknya menemui ku di rumah sakit." peringat Haleth.
"Apa yang dia lakukan di ruangan mu?" tetapi pria itu justru menanyakan hal yang tak penting.
Haleth memasukkan kedua tangannya di saku coat nya kemudian mendengus. "Itu bukan urusanmu. Untuk apa kau kemari?"
"Kau melupakan sarapan mu. Aku membawa sup untuk meredakan mabuknya. Makanlah," jawab Adam tak lagi menyinggung perihal Niel. Karena ia tau, Haleth tak akan mau menjelaskannya.
Wanita itu sekilas menatap sebuah lunch bag yang Adam bawa.
"Perut mu pasti tidak nyaman, kan?"
"Itu salahmu,"
"Yeah, Forgive me," Adam menyerahkan bag yang ia bawa pada Haleth, tetapi wanita itu tak menunjukkan reaksi apapun. "Makan ini, Haleth. Aku tidak mau kau kenapa-napa."
"Siapa yang tau kau meracuni makanan itu atau tidak,"
Adam merotasi bola matanya. "Haleth,"
"Kali ini jangan menolak ku. Kau selalu menolak apa yang ku katakan, tapi jangan untuk yang satu ini," potong nya dan memaksa Haleth untuk menerima lunch box itu. "Makanlah selagi hangat. Aku membuat sendiri sup itu untukmu."
"Kau tidak meracuniku kan?" tanya wanita itu kembali memastikan.
"Ck! Bilang sekali lagi, aku akan melanjutkan yang semalam di sini,"
"Sial!" Haleth melemparkan sebuah pen hingga mengenai dada Adam agar pria itu tak melanjutkan ucapannya. "Tutup mulut kotor mu itu, Mr Legrand!"
"Kalau begitu makanlah!"
"Okay, aku makan nanti."
"Kenapa segala nanti?! Kan aku bilang makan selagi hangat!"
"Ah! Kau ini, merepotkan sekali! Sudah sana pulang saja!" seru Haleth kini mulai kesal.
Adam tak memberi respon apapun. Lelaki itu justru berjalan menuju sofa dan duduk di sana, menatap Haleth dari atas hingga ke bawah. Sambil menyangga dagu, pria itu tersenyum jahil.
Hal itu membuat Haleth reflek memicingkan matanya tak suka. "Lihat apa kau?"
"Kau," sahut Adam lirih.
Haleth mendecak. "Dasar tidak jelas! Pulang saja sana!"
"Aku akan pulang jika kau sudah makan sup nya,"
"Tidak mau!" tolak Haleth mentah-mentah. "Pulang Adam! Justru aku tidak akan makan sup itu kalau kau masih di sini!"
"Aku hanya memastikan kau memakannya,"
Haleth mulai jengah. Ia berjalan menghampiri Adam, memaksa pria itu untuk pergi dengan cara menarik tangannya. Terjadi perdebatan kecil di antara mereka. Di mata Haleth mungkin itu menjengkelkan. Tapi bagi Adam, dia seolah mulai bisa kembali mendekatkan diri pada mantan istrinya itu.
Adam menerima caci maki Haleth sambil tersenyum. Melihat wanita itu kesal, akan menjadi favoritnya sekarang.
"Adam!"
"Yes, Baby?"
Menghela nafasnya, Haleth lantas menunjuk pintu. "Get out!"
"Kemari," tiba-tiba saja pria itu menariknya hingga terjatuh di pangkuannya. Haleth meronta dan kembali memaki Adam, namun pria itu justru melingkarkan tangannya di pinggang Haleth lebih erat. "Aku tidak akan lama, jadi diam sebentar." ucap Adam setengah berbisik.
"Kamu jangan kurang ajar ya!" Haleth mulai menyentak.
"Kurang ajar bagaimana? Apa aku menelanjangi ku, lalu memperkosa mu?"
"Legrand?!"
Pria itu tersenyum, mendekat mencium wangi khas Haleth yang tak berubah. Sadar akan posisi yang cukup ekstrim itu membuat Haleth akhirnya diam. Mengantisipasi hal yang tidak diinginkan terjadi.
Namun di balik diamnya Haleth, wanita itu juga merasa tak nyaman.
"Jangan macam-macam, Adam! Ini sedang di rumah sakit!" peringat Haleth dengan nada rendah.
"Jadi, jika tidak di rumah sakit aku boleh melakukan hal yang macam-macam?"
"Kurang ajar! Bukan seperti itu,"
"Haleth?"
Haleth kian kuat meronta saat mendengar seseorang memanggilnya. Saat berhasil terlepas dari rengkuhan Adam, wanita itu berbalik menatap ke arah pintu dan melihat sosok Niel berdiri di sana. Sial! Terkutuk mantan suaminya itu! Bahkan Haleth dibuat tuli secara tiba-tiba, karena saat Niel membuka pintu, Haleth tak mendengar apapun!
"Ya?" sahut Haleth dengan ekspresi datarnya, seperti biasa.
Niel melirik ke arah Adam sejenak, sebelum kembali fokus pada Haleth. "Bukankah kau ada janji dengan Mrs White? Dia sudah datang,"
"Oh, ya. Mrs White bisa masuk ke ruangan ku segera. Thank you, Niel."
"Ah, anytime."
"Dan kau, Adam," Haleth beralih pada Adam yang masih duduk manis di sofa. "Bisakah kau meninggalkan ruangan ini? Aku harus bertemu dengan pasien ku."
"Okay," pria itu mengangguk setuju. Melangkah menuju Haleth, Adam kemudian kembali menatap ke arah Niel yang masih pada posisinya itu dengan pandangan meremehkan. "Sampai jumpa saat akan siang, Baby!"
Ucap Adam sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu begitu saja.