My Ex Husband

My Ex Husband
Resmi bercerai.



...Flashback 24....


...••••...


Klek!


Mika menyembulkan kepalanya, tampak wajah yang terlihat sangat pucat, kemudian tersenyum ketika melihat David melirik kearahnya.


"Sayang!" ia masuk seraya menutup pintu, lalu berlari mendekat kearah David yang tampak sibuk dengan laptop menyala dihadapannya.


David terdengar menghela nafas, pria itu memejamkan mata ketika lagi-lagi prempuan itu datang, sosok yang tidak pernah David harapkan kedatangannya.


"Kenapa kau datang?" David mendengus kesal.


"Tidak ada, aku hanya menggantikan Anna karena dia sudah tidak pernah datang lagi bukan!?" prempuan itu tersenyum, lalu duduk di pangkuan David sosok yang memperistrinya beberapa Minggu ini.


"Berhentilah, kau membuat masalah semakin rumit!" David mendorong tubuh Mika agar menjauh dari dirinya.


"Aw ...


Prempuan itu memekit, sampai membuat David berhenti mendorong dengan raut wajah yang terlihat sangat khawatir.


"So-sorry!" kata David.


"Luka pasca operasinya belum benar-benar sembuh, kenapa kamu begini!" Mika memajang wajah sedih.


Klek!


Anna masuk tampa aba-aba.


"Maka dari itu, ku bilang juga kau harus banyak istirahat." ujar David kepada prempuan yang sedang duduk di pangkuannya.


"Ups .. sorry!"


David tersentak.


"Sayang kamu datang?" wajah itu berbinar, seraya tersenyum hangat.


Anna tersenyum samar, kemudian duduk di sofa ruangan milik David.


"Aku hanya sebentar!" seru Anna dengan bibir yang terus tersenyum.


"Apa kau sudah memaafkan aku?" tukas David yang saat ini sudah duduk di sofa berhadapan dengannya.


Lagi-lagi Anna tersenyum, wajah yang terlihat lebih berseri dari pada biasanya.


"Setelah berbicara dan berusaha meyakinkan ayah, akhirnya aku bisa memberikan ini kepada mu." Anna meletakan sebuah map di atas meja, lalu menggesernya kearah David.


Pandangan Anna tertuju kepada Mika yang sedang berdiri mematung.


"Mbak Mika? duduklah! ah sorry ... maksud ku Dira." kata Anna.


"Apa ini?" David menjengit.


"Buka dan bacalah, tidak mungkin aku harus meminta Al untuk membacanya agar kalian berdua bisa mendengarnya secara bersamaan." Anna menyeringai.


David menatap Anna lekat, sosok prempuan manja yang sangat dicintainya berubah menjadi wanita angkuh yang selalu menatapnya penuh ejekan.


"Aku tidak mau membacanya!" David kembali menggeser map tersebut.


Tentu saja feeling-nya mengetahui isi dari surat yang terbungkus map berwarna coklat itu.


"Aku tidak akan memaksa, kalau begitu aku pamit." jelas Anna kemudian bangkit, dan berniat akan segera pergi, namun David meraih pergelangan tangannya.


"Anna berhentilah bersikap seperti ini! ini bukan Anna yang ku kenal!" pria itu berbicara penuh permohonan.


"Saya memang bukan Anna yang cengeng itu .. yang beberapa Minggu lalu menangisi kebodohan suaminya." Anna terkekeh.


David semakin tercenung, dia mengira ini awal yang baik, karena hari-hari sebelumnya Anna hanya membisu.


"Apa yang harus aku lakukan? agar kamu bisa memaafkan ku, Anna!?" suara David terdengar lirih.


Anna menaikan satu alisnya.


"Yakin ingin tau?" Anna tersenyum lagi.


David mengangguk.


"Berikan aku tanda tangan mu!" kata Anna.


"Tanda tangan?"


Anna diam.


"Apa maksudnya?" David menjengit ia tak paham sama sekali.


"Talak aku, maka aku akan memaafkan mu." jelas Anna.


"Tidak mungkin! aku tidak mau." David mengeratkan rahangnya, sampai bunyi decitan gigit jelas terdengar.


"Baiklah, dengan atau tanpa tanda tangan itu, ayah sudah membantuku." Anna menghempaskan tangannya, lalu cengkraman tangan David pun terlepas.


"Anna berhentii!" sergah David.


Anna tidak mendengar, dia hanya terus berjalan kearah luar tanpa memperdulikan siapapun, termasuk Alvaro yang sejak tadi berdiri di depan pintu, meneliti dengan wajah yang terlihat sangat terkejut.


"Alvaro! kau ini bodoh atau apa!?" David menatap Asisten pribadinya.


Alvaro mengangguk, lalu berusaha menahan Anna.


"Tu-tunggu sebentar Bu, mungkin bapak masih mau bicara!" pria itu menyentuh tangan Anna.


Plak!


Anna yang berbalik langsung menampar Alvaro, sampai David dan Mika yang berusaha menusulpun terhenyak.


"Itu pantas kau dapatkan juga!" kata Anna.


Alvaro menatap Anna lekat.


"Apa kau mau tanya salah kau apa? apa saya harus menjabarkan juga kesalahan kau semuanya!?"


"Ck! manusia tidak bermoral." Anna tersenyum getir.


Dengan cepat David mendekat, lalu meraih tangan Anna dan menuntunnya berjalan kearah lift.


"Saya bisa jalan sendiri, tidak usah di tuntun seperti orang sakit seperti ini." prempuan itu berujar, namun tetap mengikuti arah kaki David melangkah.


...••••...


"Kita harus berbicara kepada ayah, aku tidak mau bercerai!" seru David, kemudian membuka pintu mobil dan segera keluar.


Anna tidak banyak bicara, prempuan itu jangan menurut dan segera menyusul David yang sudah berdiri di dekat pintu keluarnya.


Mereka berjalan berdampingan, memasuki rumah bersar dan mencari keberadaan orang tuanya.


"Kau meninggalkan kantor sepagi ini?" Daniel berujar, sembari menatap ke arah jam dinding yang baru saja menunjukan pukul sepuluh.


"Kami harus bicara." jelas David, lalu duduk dan membawa Anna di sampingnya.


Daniel menjengit.


"Anna, ada apa lagi? sudah ayah katakan ayah mendukung keputusan mu." Daniel menatap Anna.


Prempuan itu tersenyum.


"Iya, Anna tau yah." prempuan itu mengangguk.


"Oke ... berarti hanya kau yang ingin bicara padaku David." Pria itu beralih menatap putranya.


David mengusap wajahnya kasar, menatap Anna sesat kemudian kembali memandang Daniel yang tengah duduk nyaman di hadapannya.


"Apa ayah mau kita bercerai!?" suara David terdengar bergetar.


"Jika itu yang Anna inginkan, ayah tidak akan menahannya. Percuma jika aku harus memohon agar Anna tetap bersamamu, karena aku sendiri malu, menjodohkan gadis sebaik Anna dengan pria brengsek seperti putraku." cecar Daniel.


Sementara Anna diam, ia berusaha mati-matian menahan air matanya ketika dadanya kembali terasa sesak.


"Kenapa kalian tidak mau mendengarkan aku? aku bilang ini hanya sampai Mika sembuh, karena aku takut dia mati dan rasa bersalah itu akan menggerogoti ku seumur hidup."


"Ya, maka tetaplah bersama dia. Mas tidak usah merasa bersalah padaku." sahut Anna.


"Anna, apakah kamu tidak mengerti? apa kamu juga tidak merasakan bahwa aku sangat mencintai mu!?" pria itu tampak menangis.


Anna menganggukan kepala.


"Jika mas memang mencintaiku, ini semua tidak akan terjadi. Aku mundur, dan kalian bisa tetap bersama, bahkan tidak hanya sampai mbak Dira sembuh, tapi selamanya kalian akan tetap bersama."


"Anna! tapi ...


"Mas, aku mau kita bercerai. Tanda tangani suratnya, lalu kita selesai dan tidak akan menyakiti satu sama lain lagi."


"Ayah ada jalan tengah jika kau mau mendengarkan!"


"Apa itu?" David dengan antusias.


"Talak Mika, dan kembalilah kepada istrimu!"


David mengangguk.


"Aku akan menalaknya!" pria itu bangkit.


"Ayah, Anna tetap mau bercerai!" cicit Anna kepada Daniel. "Bukankah ayah janji akan mendukung ku? makan dukunglah keputusan ku, aku tidak mau hidup bersama pria yang bahkan sudah berani mendua." Anna bersimpuh di hadapan Daniel.


"David, jika kau masih ingin mempertahankan Anna, maka perjuangkan dia walau sampai meja persidangan." Daniel menatap putranya.


...••••...


Beberapa Minggu kemudian.


Dan disanalah Kyara Anna, duduk sendiri di bangku persidangan. Berusaha terlihat tegar, namun dia tataplah Anna, seorang prempuan yang rapuh dan selalu butuh sandaran.


Beberapa pertanyaan telah hakim katakan, dan dengan lantang Anna menjelaskan setiap alasan kenapa ia sampai tidak bisa mempertahankan rumah tangganya.


Sementara David dia masih berada di ruma sakit, ia tengah panik menangani prempuan itu yang kembali drop.


Wajahnya pucat, seluruh tubuhnya begitu lemas sampai David dan kedua orang tuanya memutuskan untuk membawa prempuan itu kerumah sakit dengan segera.


"Apa dia tidak meminum obatnya lagi?" David tampak kesal.


Namun kedua orang tua Mika hanya diam.


"Kalian ini kenapa? dia tinggal bersama kalian tapi tidak kalian perhatikan. Apa harus aku semua? sampai pagi-pagi kalian menghubungi ku, dan meminta agar aku segera menangani Mika! ayolah, siang ini aku ada persidangan." David frustasi.


"Semalaman dia mengunci diri didalam kamarnya, kami tidak bisa memastikan keadaan Mika, yang pasti putri kami hanya terus menangis." kata ayah Mika.


"Saya harus pergi." David berujar.


Namun Dokter tiba-tiba datang menghampiri.


"Pasien ingin suaminya!" Dokter itu menatap ketiga orang yang sedang menunggu secara bergantian.


"Tanganilah putri kalian, saya harus pergi."


"Nak David, temui putri kami sebentar saja! kami mohon." wanita paruh baya itu kembali memohon.


"Hanya menemui Mika!" tegas David seraya menatap tidak suka kearah orang tua Mika.


David bergegas masuk kedalam ruan pemeriksaan.


"Ada apa? kenapa kau tidak meminum obat mu lagi? apa kau sengaja melakukan ini!"


Mika yang sedang berbaring menggelengkan kepalanya.


"Tidak, David. Pergilah, semoga rumah tangga kalian bisa di pertahankan, aku sudah lebih baik." Mika mengusap punggung tangan David. "Pergilah!" Mika tersenyum.


David tersenyum.


"Jangan lupa minum obat mu, aku harus pergi!" tanpa menunggu lebih lama lagi David langsung beranjak meninggalkan Mika.


Hhmmm .. semoga berhasil! ya semoga berhasil David Julian. Batin Mika berbicara, lalu tersenyum menyeringai.


...••••...


Tuk .. tuk .. tuk


Ketua hakim mengetuk palu.


Anna memejamkan matanya, menghirup udara sebanyak mungkin ketika apa yang diinginkannya terkabul.


Entah harus bahagia atau sedih, tapi yang jelas kini Anna merasa lega. Ketidak hadiran David membuat semuanya semakin mudah, hingga sidang pun bisa selesai dengan cepat.


Anna bangkit, lalu berjalan ke arah Rosa yang tampak menangis.


"Lihat, beberapa kali sidang, bahkan dia tidak pernah datang." Daniel menatap Rosa.


"Hmmm .. entah apa yang sudah mereka lakukan kepada putraku." Rosa terus menangis.


"Maafkan Anna, ayah ibu?"


"Tidak .. tidak! maafkan kami Anna, sudah membawa mu kedalam jurang patah hati yang paling dalam." Daniel berucap.


"Kalian tau? kasta tertinggi mencintai adalah merelakan. Dan aku sangat mencintai mas David, jadi akan ku biarkan dia bahagia dengan wanita pilihannya." Anna tersenyum, sungguh dia menjadi wanita yang sangat kuat hati ini.


"Aku pulang." Anna memeluk keduanya bersamaan.


"Kabari kami, jangan pernah membuang kami begitu saja, Ann!" sergah Rosa.


"Iya, aku masih disini Bu." kata Anna lalu beranjak pergi.


Disisi lain, David beru saja memarkirkan mobil miliknya, ia keluar lalu berlari ke arah pintu masuk ruang sidang.


David menjengit ketika Anna memasuki taksi.


"Apa sidangnya di undur lagi?" seulas senyum terbit . "Syukurlah, masih ada harapan." katanya lagi.


Tidak lama setelah taksi yang Anna tumpangi pergi, Daniel dan Rosa keluar, berjalan kearah mobil mereka yang terparkir.


"Ibu, ayah?" David datang menghampiri.


"Kau datang?" Rosa menangis.


"Iya, apa sidangnya di undur kembali? kapan sidang selanjutnya?"


"Dasar bodoh! kau tidak perlu menunggu jadwal sidang selanjutnya, tapi kau tunggu saja akta cerai mu!" sergah Daniel.


Tubuh David mematung, aliran darahnya terasa berhenti dan membeku, ketika Daniel mengatakan hal tersebut.


"Hakim mengabulkan permintaan Anna?"


"Ya, karena kau tidak datang hingga beberapa kali persidangan, jadi Anna dengan mudah menceraikan mu." jelas Daniel lagi.


David diam, pria itu sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Pulanglah kerumah istri siri mu, kami juga akan pulang." kata Rosa kemudian mereka berlalu.


"Akhhhh! kenapa jadi begini?!" David meremat rambutnya kuat.


"Aku hancur, hidupku hancur!" David bergumam.


Biar lebih sedep om nyanyi lagunya Olga Syaputra dah😌😌


...•••••...


Jangan lupa di like, kome, hadiah sama votenya yah! Klik favorite juga jangan lupa.


Ig: @_anggika15


~Zeyeng kalian~


Selamat hari Senin, selamat hari ngevote😚