
...••••...
Tepat pada pukul sepuluh malam Anna keluar dari Mall tersebut, berjalan beriringan dengan Rika, sementara Edgar membawa Balqis yang sudah terlelap di bahunya.
"Ed .. di kursi depan yah!" ucap Anna.
Pria itu tersenyum, kemudian segera membuka pintu mobil sebelah kiri. Dengan sangat hati-hati Edgar meletakan tubuh Balqis di kursi itu, mengaturnya sedemikian agar Balqis tetap nyaman selama perjalanan.
Klik!
Tali seatbeltnya terpasang sempurna.
"Selesai!" Edgar kembali menegakan tubuhnya, lalu menutup pintu mobil milik Anna.
"Terimakasih Uncle Ed, kapan-kapan mainlah kerumah. Bawa Onti juga sekalian." ujar Anna dengan senyum manis seperti biasa.
Pria itu mengangguk. "Hanya sedikit bantuan. Tidak apa-apakan, kalo Rika pulang sama saya?" tanya Edgar.
"Tentu, dia kekasih mu!" Anna terkekeh pelan.
"Dia juga sahabat mu! jika keberatan aku tidak akan mengajaknya pulang bersama ku?" Edgar menatap keduanya bergantian.
Anna menoleh ke arah sahabatnya, tiba-tiba saja Rika tersenyum gugup.
"Karena aku sejalan sama Ayank .. eh Edgar maksudnya! jadi ikut Edgar ya Ann, nggak apa-apa kan?" pipi Rika merona.
"Pergilah, aku akan baik-baika saja." Anna tersenyum.
Senyum di bibir Rika pun ikut mengembang, ia sampai memeluk Anna dengan debaran yang terus meningkat.
"Anna .. hati gua kaya mau copot." prempuan itu berbisik, tepat di telinga Anna.
"Iya gua tau! sana pulang." Anna mendorong bahu Rika, sampai prepuan itu sedikit terjerembab.
Sementara Edgar diam, memperhatikan Anna dan kekasihnya yang bersikap sedikit aneh.
Itu menurut Edgar, karena menurut readers kekonyolan mereka sudah biasa terjadi : )
"Papay Mama Ann! hati-hati bawa mobilnya." Rika melambaikan tangan, dan segera memeluk lengan Edgar kemudian berjalan kerah mobil yang entah terparkir dimana.
Saat pandangan Anna sudah tidak bisa melihat sosok Rika lagi. Dengan cepat ia memutari mobil, dan masuk untuk segera pulang.
Derum mesin mobil terdengar ketika Anna memutar kunci mobilnya ke arah kanan. Untuk beberapa saat Anna diam, memutar playlist agar ia tidak merasa kesepian saat diperjalanan pulang nanti.
Alunan musik sudah terdengar dengan volume sedang, lalu Anna mulai memundurkan mobilnya perlahan, memutar setir mobil itu dengan sangat lihai dan segera memacu kendaraan roda empat miliknya itu keluar dari area parkiran mall.
Oh mungkinkah diri ini
Dapat merubah buih
Yang memutih
Menjadi permadani
Seperti pinta
Yang kau ucap
Dalam janji cinta
Juga mustahil bagiku
Menggapai bintang dilangit
Siapalah diriku
Hanya insan biasa
Semua itu
Sungguh aku
Tiada mampu
Salah aku juga
Karena jatuh cinta
Insan seperti dirimu seanggun bidadari
Seharusnya aku
Cerminkan diriku
Sebelum tirai hati
Aku buka
Prempuan itu terus bernyanyi berteriak seolah meluapkan isi hati, tanpa menyadari sosok kecil yang sudah terlelap mulai mengerjapkan mata.
"Maa?" Balqis menatap Anna.
Namun tidak ada respon dari Anna, prempuan itu hanya terus bernyanyi dengan tatapan yang terus fokus kedepan.
"Mama!"
Anna masih belum mendengar.
"Maamaa .. berisik aku ngantuk!" Balita itu berteriak, sampai membuat Anna menoleh karena terkejut.
Mata Balqis terlihat merah, tatapannya sayu dengan raut wajah yang juga tampak kesal.
"Kamu bangun?" Anna bertanya.
"Mama teriak-teriak ... aku kebangun lho!" cicit Balqis yang mulai memejamkan matanya kembali.
"So sorry!" Anna mengigit bibir bawahnya.
"Nggak sopan!" Balqis berujar pelan, namun masih bisa Anna dengar dengan sangat jelas.
Ehh!
Anna tersentak.
"Itu juga kata Mama! katanya kalo ada orang bobo jangan berisik, nggak sopan!" ucapnya kembali.
Dia mengingatnya dengan sangat baik, pikir Anna.
Anna sedikit terkejut, sampai ia menjengit ketika gerbang rumahnya terbuka sangat lebar.
"Mas David ngapain malem-malem kesini?" Anna berseru ketika mobilnya sudah masuk dan berhenti tepat di belakang mobil milik ayah putrinya.
Pria yang sedang duduk sambil memainkan ponsel di bangku teras pun terlihat bangkit, memasukan ponselnya kedalam saku celana dan berjalan kearah mobil Anna yang baru saja berhenti.
"Kenapa pulang selarut ini?" tanya David ketika Anna keluar dari mobil.
"Habis makan sama Rika, sama Edgar juga." jelas Anna dengan kaki yang terus melangkah kesisi lain mobil.
Edgar? siapa lagi itu! pikirnya.
"Biar aku saja!" sergah David yang tiba-tiba menggeser bahunya.
Anna hanya mengangguk, ia enggan menanggapi David malam ini.
Entah apalah tujuannya! batin Anna berbicara.
Dengan sangat hati-hati David memindahkan tubuh Balqis kedalam pangkuannya, seolah Balqis adalah barang yang sangat berharga, hingga takut membuatnya tergores.
David berjalan lebih dulu, memasuki rumah dan segera membawa gadis kecil yang sangat dicintainya masuk kedalam kamar yang terletak di samping kamar Sisil.
Anna diam, prempuan itu tidak memberi David perintah apapun termasuk Balqis yang tidak pernah tidur di kamarnya sendiri. Tentu saja Anna tidak mau pria itu kembali memasuki kamarnya.
"Sil?" Anna memanggil pengasuh putrinya.
"Iya bu?" suara Sisil terdengar dari arah dapur.
Dan benar saja, Sisil terlihat keluar dari sana dengan secangkir kopi yang ia bawa.
"Sejak kapan Papanya Balqis datang?" Anna sedikit berbisik.
"Baru saja." jawab Sisil.
"Malem-malem?"
Sisil mengendikan kedua bahunya secara bersamaan. "Saya juga nggak tau, tiba-tiba bapak membuka gerbang lalu masuk." jelas Sisil.
Prempuan itu menghela nafasnya kasar.
"Simpan kopinya di luar saja! saya mau ke kamar dulu." kata Anna kepada Sisil.
Anna menaiki setiap Anna tangga dengan langkah cepat, namun David melangkahkan kakinya lebih cepat hingga dapat menggapai lengan mantan istrinya itu.
"Kita bicara." suaranya terdengar sangat lembut.
"Aku lelah, mau tidur." balas Anna singkat, tanpa menoleh sedikitpun.
"Ann .. kumohon!" suara David terdengar lirih, bahkan jika Anna melihat raut wajahnya, prempuan itu pasti luluh.
"Tidak!" sergah Anna, ia menarik tangannya kemudian segera naik setelah terlepas dari cengkraman David.
David memejamkan matanya sesaat, ia tak bisa tinggal diam, sampai ia memutuskan untuk kembali mengejar Anna yang sudah membuka pintu kamarnya.
Dukk!
Anna menjengit ketika sesuatu membentur pintu kamarnya yang hendak ia tutup.
"Anna biarkan aku bicara." netra keduanya saling bertemu.
"Pulanglah .. ini sudah malam, aku tidak mau ada yang berpikir tidak-tidak terhadapku." sekuat tenaga Anna menahan pintu itu agar David tidak bisa masuk.
Keduanya terlibat aksi dorong-mendorong.
"Ann, apa aku harus menggunakan semua tenagaku?" ucap David dengan ekspresi dingin.
"Coba saja kalo bisa!" Anna membulatkan mata ketika menyadari kekonyolannya.
Astoge, gua salah ngomong. Kesannya malah nantangin inimah! kata Anna dalam hati.
Dengan sekali dorongan David membuat pintu kamar Anna terbuka lebar. Pria itu masuk, meraih lengan Anna, menutup pintu kamar itu rapat dan mengungkung tubuh semampai itu diantara kedua tangan kekarnya.
"Mas ... kamu!" Anna berdebar, apalagi ketika melihat tatapan tajam dari David.
"Aku bilang ingin bicara! kenapa kau sangat keras kepala sekali, Kyara Anna!" ucapnya dengan nada rendah, namun penuh penekanan.
"Ba-baiklah .. baiklah." Anna gelagapan.
Pria itu diam, memperhatikan wajah Anna dari jarak yang sangat dekat.
Mata bulat, buku mata yang sedikit terlihat lentik karena bantuan maskara, dengan bibir tipis yang tampak menggoda. Hingga David tidak sadar wajahnya semakin mendekat, untuk meraih bibir yang sudah ia inginkan sejak lama.
"Stop!" Anna menghalangi bibir David dengan telapak tangannya.
Keduanya terdiam, dengan mata yang terus menatap satu sama lain.
"Jangan melakukan itu! jangan membuat diriku lebih hina lagi." Anna berbisik.
David menyingkirkan tangannya.
"Tidak begitu maksud ku, aku hanya merindukan prempuan yang sudah meluluh-lantahkan hidupku." David juga berbisik.
Anna diam, dengan posisi yang tetap sama.
"Apa kau tidak merindukan cinta pertama mu ini?"
David hendak mengusap wajah Anna, namun dengan cepat Anna tepis, lalu mendorong dada milik David hingga ia hampir tersungkur. Beruntung saja, pria itu masih bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Aku tunggu di teras!"
Anna membuka pintu kamar hingga terbentur tembok sangat keras, dan berlari meninggalkan David begitu saja.
"Tuhan .. harus dengan cara apa agar aku bisa meluluhkan ya kembali." David meremat rambutnya kuat.
Nahkan! Om bewok pusing sendiri : )
...•••••...
Hayoo!! di like ngape sih😌 biar makin semangat updatenya ini. Mawar sama kopinya juga, yang punya boleh di donasikan ke om bewok ... biar makin semangat ngejar cintanya Mama Ann.
Tapi tetep.
~Othor cuyung kalian semua, luar biasa juga setiap eps nya tembus 100 like, coba othor minta, bisa 200 nggak? kalo bisa nanti updatenya 3 bab sehari ... kalo sehat lho yah~
Follow Ig othor juga. @_anggika15