
"Terima kasih untuk kerjasamanya."
Beberapa Dokter yang mengikuti meeting berdiri setelah sang tamu penting mendahului. Menjabat tangan Profesor Adlers usai meeting diakhiri. Pria yang berumur sekitar 50 tahunan itu kembali duduk dan meminta orang-orang yang ada di ruangan tersebut untuk kembali duduk seperti semula.
"Sudah lama sekali saya tidak kemari. Saya lihat rumah sakit ini semakin baik reputasinya. Saudara Niel memang sangat pintar mengontrol warisan Lionel."
"Terima kasih Profesor," Niel menunduk hormat pada pria paruh baya itu. "Itu juga sebagai tanpa hormat saya pada Tuan Lionel karena Nona Ansel yang masih enggan mengambil alih rumah sakit ini."
"Bagus sekali Niel. Apalagi ada Haleth yang membantu kamu. Pasti rumah sakit ini akan lebih berjaya. Mengherankan sekali kalau kalian ini tidak ada hubungan spesial lebih dari seorang rekan."
Keduanya saling menatap untuk beberapa detik. Sudah biasa sekali Haleth mendapat tudingan itu dari banyak atasan dan rekan kerja. Tidak panik, toh mereka tidak mempunyai hubungan yang seperti mereka katakan.
Haleth menyunggingkan senyum tipis menatap Profesor Adlers yang duduk berseberangan dengannya.
"Kami hanya rekan kerja saja. Tidak pernah terpikir oleh saya tentang hubungan itu. Saya lebih mencintai pekerjaan saya." katanya dengan nada bercanda.
Terdengar gelak tawa yang menggema di ruangan tersebut. Mau tak mau pun, wanita anak satu itu ikut tertawa meski terkesan terpaksa. Jika boleh jujur, dia lelah sekali di jodoh-jodohkan dengan Niel yang merupakan atasannya. Apalagi saat pria itu dengan percaya diri berkata, bahwa dirinya akan menjadi suami yang baik jika berhasil mendapatkan sosok Haleth. Entah apa yang membuat mereka yakin, bahwa dirinya dengan Niel adalah pasangan yang cocok. Haleth benar-benar tidak menyukai attitude pria tersebut. Tetapi jika berada di rumah sakit, Haleth akan bersikap biasa selayaknya rekan kerja.
"Sepertinya pertemuan kita sampai di sini saja ya! Saya dan juga asisten saya harus segera kembali,"
"Oh baiklah Profesor," semua orang berdiri secara bersamaan untuk mengantar kepergian Profesor Adlers.
"Sampai bertemu lagi,"
"Hati-hati Profesor. Sampai jumpa,"
Satu per satu orang-orang yang mengikuti kegiatan meeting keluar dari ruangan tersebut. Berakhir menyisakan Haleth dan Niel yang masih memberesi berkas-berkas milik masing-masing. Wanita bertubuh semampai itu mendahului Niel. Tetapi tangan seorang Direktur muda itu menahan Haleth sehingga wanita itu memberikan atensi penuh pada pria di sampingnya.
"Hei, ingin makan siang bersama?"
Haleth menggelengkan kepala dengan senyum tipis terukir. "No thanks. Maybe next time." tolaknya.
Niel sudah menduga akan begitu. Melupakan tawarannya di awal, pria itu memilih berjalan di samping Haleth begitu wanita itu mengambil langkah.
"Kelihatannya hubungan kalian membaik."
"Apa ya maksudnya?"
Kaki mereka melangkah perlahan, melewati koridor rumah sakit gedung selatan yang dimana letaknya berseberangan dengan kantor Haleth maupun Niel. Menuju gedung utara cukup menguras waktu karena jarak yang tidak bisa dibilang dekat. Hal tersebut dimanfaatkan oleh Niel untuk berbicara dengan sang pujaan hati mengenai hal yang mengganjal di hatinya.
"Kau, dan mantan suami mu,"
"Kenapa?" kembali, Haleth melontarkan kata bertanda tanya.
Niel mengusap tengkuknya canggung. Tau ini tidak sopan untuk ditanyakan. Tapi ini terlalu mengusik pikirannya, membuat Niel maju mundur untuk mendekati Haleth.
"Langsung saja pada poinnya."
Desakan wanita itu justru membuat Niel bungkam. Jantungnya mulai berdetak kencang karena gugup, sebenarnya juga takut untuk bertanya lebih lanjut.
"Jika tidak ada, aku akan segera kembali ke ruangan ku,"
"Tunggu," tahan Niel yang akhirnya berani membuka suara.
"Maaf membuatmu bingung. Aku, hanya penasaran sekali meski itu terlihat tidak sopan. Apa, kau dan Adam, sedang dalam proses rujuk?"
"Hah?!" dengan kilat Haleth menjawab dengan wajah terkejut.
"Gosip darimana lagi itu?!"
"Bukan gosip!" sangkal Niel.
Haleth merotasi bola mata seraya mendesah kasar. "Aneh-aneh saja. Lagipula itu kan masalah pribadi. Perihal hubungan ku dengan Adam, itu adalah hal yang tidak perlu kau ketahui."
Tak ingin memperpanjang, Haleth pun pamit untuk kembali ke ruangannya terlebih dahulu.
"Jadi, bagaimana hari ini?"
"Tentang?"
Adam menarik senyum tipis. "Hari mu, pekerjaanmu. Semuanya,"
"Seperti biasa, tidak ada yang spesial." jawab Haleth lalu menyesap minumannya. "Kau?"
"Kau bertanya tentang hariku?"
Kepala Haleth mengangguk tak ragu.
Usapan singkat pada rahang tegasnya menjadi awal sebelum Adam menyamankan posisi duduknya di kursi. "Aku seharian ini ada virtual meeting dengan kolega. Tepat sekali setelah aku pergi meninggalkan rumah sakit, Carl meneleponku karena meeting kali ini tidak bisa dia handle sendiri." terangnya memulai bercerita.
"Kolega rewel dari mana yang bisa membuatmu hadir dalam meeting?"
Adam terkekeh kecil. Ledekan itu mengingatkannya, pada sosok Haleth yang masih menjadi istrinya, yang mana ia begitu hapal jika seorang Adam sangat sulit dihubungi jika ada meeting dengan rekan-rekan bisnisnya.
"Dia dari Jerman. Oscar, kau masih ingat?"
"Astaga. Yang pernah kena skandal tentang dia seorang gay?"
"Ya! Benar-benar si Oscar. Setiap meeting, selalu harus aku yang memimpin. Padahal aku menggaji Carl ratusan ribu dollar bukan hanya untuk duduk di kursi saja. Kurang ajar,"
"Ah, memang dia dari dulu tidak pernah berubah. Lalu bagaimana dia sekarang? Kabarnya dia sudah menikah?"
"Ya, dia sudah menikah."
"Dengan perempuan kan? Karena saat dia terserempet skandal itu, dia tidak memberikan konfirmasi apapun."
"Hm, dengan perempuan. Saat pernikahan dilangsungkan di Italia, media langsung beranggapan bahwa pernikahannya dengan Lova istrinya hanya sebatas pengalihan isu. Tentu saja itu membuat Oscar marah dan mengancam media yang meliput pernikahannya agar menghapus berita itu."
"Ohh, yang di Italia itu pernikahannya Oscar. Aku ingat, kau, datang dengan Iris kan waktu itu?"
Astaga. Batin Adam merutuk kesal. Baru saja mendapat topik yang bagus untuk dibicarakan, Haleth justru menyinggung masa lalu yang sudah berlalu itu.
"Bagaimana kabarnya?" lanjutnya lantas kembali meraih garpu untuk menyantap pastanya.
"Kau ini, mengapa suka sekali mengganti topik dengan tiba-tiba?"
Terdengar tawa kecil dari Haleth yang sontak membuat Adam mengernyitkan dahinya. Haleth kembali menyesap minumannya lantas mencoba menetralkan dirinya yang entah mengapa cukup berbeda. Adam juga merasakannya.
"Hanya bertanya. Memangnya kenapa?" tanya Haleth.
"Aneh saja. Tidak biasanya kau mau membicarakan Iris, mengingat kau benci sekali padanya."
Kembali Haleth terkekeh. "Sudahlah. Aku tidak bisa terus-terusan seperti itu. Masa lalu, biar jadi masa lalu," lantas wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah keluar jendela. Ia menatap lalu lalang pejalan kaki maupun kendaraan roda empat yang membelah jalanan di malam hari itu dengan tatapan penuh arti.
"Aku, ingin berdamai dengan diriku sendiri."
Enam kata yang Haleth lontarkan membuat Adam termenung. Menatap wanita di hadapannya itu lamat-lamat, sebelum akhirnya mencoba memberanikan diri menyentuh jemari lentik Haleth.
Haleth tidak menolak, dan ia juga mengalihkan atensinya pada sang mantan suami.
"Cih, jangan begitu bodoh." katanya baru ia menarik tangannya. "Aku berkata seperti itu bukan berarti aku menerima tawaran mu untuk rujuk."
"Lalu? Sial, Haleth. Aku sudah berharap sekali,"
"Entahlah," wanita itu dengan anggun menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Kedua netra kecoklatan itu saling bersirobok dalam waktu yang cukup lama, sebelum Haleth kembali menatap kearah keluar jendela.
"Aku tidak ingin dibelenggu oleh rasa benci yang terus mengendap. Dan juga, aku akan membiarkan mereka yang menaruh hati padaku untuk bersaing dengan baik, sampai hatiku terbuka dengan sendirinya dan siap untuk memutuskan."
Tunggu sebentar! Apa ini artinya, Adam mendapatkan sebuah kesempatan?!