My Ex Husband

My Ex Husband
Han Seohyun.



...•••••...


David berjalan di depan Anna, menyusuri area resort yang luas dan terasa begitu sejuk saat langit mulai menguning, dengan jemari tangan yang saling terpaut satu sama lain.


Anna yang saat ini berada di belakang David pun terus tersenyum tipis, dengan pandangan yang juga tertuju kepada tangannya yang di genggam erat David.


Namun tiba-tiba saja David menghentikan langkahnya, lalu menoleh kebelakang, menatap wajah Anna.


"Apa kita harus kembali ke Villa?" katanya yang membuat Anna menjengit kebingungan.


"Kenapa? kita sudah jalan lumayan jauh Mas!" seru Anna kepada suaminya.


Semilir angin menyapu, hingga beberapa helai rambu Anna menutupi wajah cantiknya, yang semakin menawan saat cahaya kuning keemasan menyorot.


Oh astaga, dia sangat cantik.


Batin David berbicara, hatinya berdebar dengan sedikit sengatan yang mulai menjalar keseluruh tubuh.


"Mas! ish ... kamu aneh!" suara Anna memekik.


Pria itu hanya tersenyum, kemudian mendekat untuk beberapa langkah.


"Udaranya sangat dingin, kamu harus memakai jaket terlebih dulu!" suara David terdengar sangat rendah, lalu menyematkan rambut Anna yang terus tertiup angin di belakang telinganya.


Anna mematung, dia menatap mata suaminya lekat.


"Ayok kembali, aku tidak mau kamu kedinginan." ucapnya lagi, seraya mengusap pipi Anna lalu berputar arah.


"Mas?" Anna menahan tangannya.


Langkah David kembali terhenti, ia menoleh.


"Heumm? kenapa?"


"Sudah jauh, ayok kita lanjutkan. Area taman bermain sudah dekat!" Anna berujar.


"Tapi ini dingin sayang? angin sore disini berbeda dengan angin di tempat kita. Disana hangat, disini dingin sekali!"


"Aku memakai gaun lengan panjang mas, ini memang sejuk, yang kedinginan itu kamu, lengan kaos mu pendek."


David melihat dirinya, kemudian kembali menatap Anna.


"Apa iya?"


Anna mengangguk.


"Ayok, kita susul Balqis. Dia sedang asik bermain apa bersama Sisil!" kata Anna sambil tertawa pelan. Saat mengingat beberapa kali Balqis berbuat konyol kepada pengasuhnya itu.


"Sungguh ... apa kamu tidak merasa kedinginan?" David kembali bertanya.


"Sungguh ... aku merasa baik-baik saja. Asl bersama mu!" Anna tersenyum, dia meraih rahang David kemudian mengusapnya.


"Ayok cepat, sekalian makan malam. Atau kita cari gorengan di luar saja? sambil menikmati hamparan kebun teh yang sangat luas dan hijau?"


David tersenyum.


"Baiklah istriku, semuanya untukmu. Aku tidak tega untuk menolak!" katanya lalu berjalan terlebih dulu, dan menarik tangan Anna perlahan.


Astaga jantung ku! Anna memegangi dadanya sendiri.


Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Anna dan David sampai di salah satu taman area bermain.


Mata Anna meneliti sekitar, mencari sosok gadis kecil berambut panjang. Dan disanalah Balqis, bermain jungkat-jungkit bersama seorang anak laki-laki berkulit putih dengan mata yang sipit.


"Sayang, ayok kita lihat kebun teh!" Anna datang menghampiri.


Balqis menoleh.


"Maama, aku ada temen. Namanya Seo!" Balqis menarik Anna untuk mendekat.


"Hallo?" Anna membungkukkan tubuhnya, saat menyapa bocah laki-laki tampan itu.


"Hay!" balasnya sambil tersenyum kemudian melambaikan tangan kearah Anna.


"Aku Anna, Mamanya Balqis."


"Aku Han Seohyun!" dia tersenyum.


Mata Anna berbinar, kemudian menoleh kearah samping, dimana seoran prempuan berseragam ungun berdiri.


"Dari Korea cus? kok bahasa Indonesianya lancar?" Anna bertanya.


"Papanya orang Korea Bunda, tapi Mamanya Indonesia tulen." jelas Babysitter itu.


"Oh ... tampannya!" Anna menyentuh pipi Seohyun.


"Kalo begitu Balqis pamit dulu yah .. sampai bertemu di lain hari Han Seohyun!" Anna berpamitan, lalu meraih tangan Balqis.


"Papayo Seo ... nanti ketemu lagi yah!" Balqis menoleh seraya melambaikan tangan.


"Papay, nanti kalau sudah besar aku akan mencar mu lagi." Seo berteriak, hingga membuat Balqis kembali menoleh, dan melambaikan tangannya kembali.


David yang duduk di kursi taman pun langsung menatap Balqis dan Anna bergantian.


"Siapa?"


"Temen aku, dia nemenin aku terus dari tadi pas aku nggak ada temen. Iyakan teh Sisil?" Balqis menatap Sisil yang berada di belakang Anna.


"Iya pak." jawab Sisil singkat.


"Ratmi sama ibu kamu mana?" David bertanya.


"Itu ..!" Sisil menunjung dua wanita yang asik ber-selfie ria dengan berbagai macam gaya.


"Astaga! ku rasa mereka lebih narsis dari mu Sil!" gumam David.


"Memang ... galeri hape saya sampe penuh sama foto mereka berdua." sahut Sisil yang langsung membuat David terkekeh.


"Cepat panggil mereka, kita jalan keluar, nyari jagung bakar atau apapun yang anget-anget." kata Anna, lalu berjalan terlebih dulu bersama anak dan suaminya.


Balqis terdengar terus merancau, bercerita banyak hal tentang sosok pria kecil yang tadi terus menemaninya.


Sementara Anna dan David terus tersenyum, seraya menggenggam kedua tangan putrinya yang berjalan di himpit oleh mereka.


...••••...


"Baiklah sayang." sahut David, lalu menepikan mobilnya tepat di depan sebuah warung kecil.


Pria tua yang tampak sudah bungkuk itu menatap David yang turun dari mobil dan berjalan kearah warungnya, dia tersenyum.


"Gorengannya Den?" Kakek itu bertanya.


David hanya mengangguk, kemudian menoleh kearah Anna, dia berjalan bersama yang lainnya.


"Gorengan Neng?"


Anna tersenyum, lalu menganggukan kepala.


"Berapaan Bah?" Anna mendekat.


"Lima ratus Neng, ada sambel kacangnya juga!" katanya sambil terus tersenyum.


Seketika hati Anna terenyuh, menatap punggung yang sudah membungkuk, kulit wajah yang juga terlihat sudah sangat berkerut, namun semangatnya mancari rejeki tidak pudar bergitu saja.


"Saya makan disini, Bah. Kasih tatakan saja yah, kami duduk di dalam." kata Anna.


"Mangga di antos ( Silahkan di tunggu )."


Anna mangangguk, lalu berjalan kedalam.


"Sayang are you okay?" David menatap wajah Anna lekat.


Prempuan itu tidak menjawab, Anna hanya mengulas senyum dengan mata yang tampak memerah dan berkaca-kaca.


"Hey?" David berbisik, kemudian menggeser tubuhnya agar semakin mendekat.


"Maama kenapa?" Balqis ikuta mendekat, lalu memegangi kedua pipi Anna dengan tangan kecilnya.


Anna tersenyum. "Maama oke sayang, Mama baik-baik saja!" jelas Anna, meski dadanya sesak, saat ia merasa rindu dengan sosok mendiang ayahnya.


Sementara Bu Ningsih, Ratmi dan juga Sisil. Mereka hanya diam saat melihat Anna mulai berkaca-kaca.


"Gorengannya neng?" kakek itu datang, kemudian meletakan sebuah tempat berukuran sedang, berisi berbagai macam gorenga di atas meja yang saat ini mereka tempati.


"Terimakasih Abah, boleh duduk dulu disini?" pinta David.


Pria tua itu tersenyum sambil mengangguk, lalu duduk di bangku plastik berhadapan dengan David.


"Abah sudah lama jualan gorengan?"


"Sudah hampir lima belas tahun."


"Sendirian?" Anna mulai bersuara.


"Dulu sama Ninik. Tapi Ninik sudah pulang duluan!"


Dada Anna semakin sesak.


"Meninggal maksud nya Bah?"


Pria itu mengangguk.


"Jadi Abah tinggal sama siapa?" suara Anna bergetar.


"Ya sendiri neng."


"Anak-anak Abang kemana? kenapa mereka nggak bantuin abah?"


"Ada, cuma mereka sudah berkeluarga, nengokin kalo lebaran saja, kadang lebaran juga nggak pulang neng. Tapi namanya orang sudah berumah tanggakan punya kesibukan sendiri."


"Nama Abah siapa?"


"Abah Muha neng."


"Abah mau ikut saya?" tiba-tiba saja Anna bertanya seperti itu, hingga membuat Bu Ningsih terlihat sangat kaget.


Keadaan hening, sementara Anna mati-matian menahan air mata yang mulai tergenang.


"Tidak .. tidak! Abah disini saja, malu kalo harus nyusahain orang."


"Saya nggak punya orang tua, mereka sudah pulang juga sama kaya Ninik. Kalo Abah mau ikut hayu!"


Kake itu hanya tergelak.


"Kalo Eneng kangen Abah tinggal tengokin atuh kesini! da Abah mah nggak kemana-mana!"


David mengusap punggung Anna, sambil terus berbisik, jika istinya itu harus sabar.


"Abah kedepan dulu, lagi goreng pisang." katanya lalu pergi.


"Eh .. dimana ayok! kenapa jadi pada diem?" Anna mengeser tempat gorengan itu.


Balqis yang tau ibunya menangis pun langsung memeluk Anna, lalu mencium pipinya beberapa kali.


"Aqis sayang Mama." dia merintih, seolah akan ikut menangis.


David tersenyum, lalu memeluk keduanya bersamaan.


"Sudahlah, kita kesini mau senang-senang. Kenapa jadi nangis-nangisaan!?" David berbisik.


"Aku cuma nggak habis pikir, kok ada anak yang lupa nengokin orang tuanya. Mana tinggal satu, udah tua lagi! kok bisa mereka setega itu." akhirnya Anna menangis tersedu-sedu.


"Iya iyaa aku ngerti, nanti kita sering-sering mampir kesini yah. Jadi jangan sedih lagi." David berbisik.


Anna mengangguk.


"Nah, makanlah. Ada tahu isi, bakwan, kroket ... ini juga sambelnya pasti enak, jadi ayok makan." titah David kepada istrinya.


...••••••...


Jangan lupa like, komen, share, dan hadianya juga jangan lupa!


Klik favorite untuk notifikasi setiap update-an eps terbarunya...


~Cuyung kalian~


Ig. @_anggika15