
...•••••••...
Hening.
Keduanya saling menatap dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan hembusan nafas mereka saling menyapu satu sama lain, menghadirkan sebuah rasa yang tidak bisa di gambarkan oleh kata-kata
Alvaro membingkai wajah istrinya dengan jemari, memandangnya penuh damba dengan seulas senyuman tipis yang terus terbit.
Perlahan Alvaro mencondongkan tubuh, mendekatkan diri kearah daun telinga istrinya.
"Sungguh? kita akan melakukannya disini?" pria itu berbisik, seraya memberinya sedikit gigitan kecil di daun telinga Sisil.
Prempuan itu diam, dia membeku dan mengigit bibirnya kencang.
"Kau yakin?" Alvaro menempelkan kening keduanya.
"Apa aku bisa menolak? sementara kita sudah sama-sama polos seperti ini!?" dua tangan Sisil menyetuh pipi, turun ke tulang rahang, lalu melilit erat di bahu suaminya.
Alvaro menyeringai, satu tanganya bertumbu di sisi kiri, sementara satu tangan Al menarik paha Sisil dan sedikit menenkannya perlahan saat dia mulai mengarahka sesuatu miliknya kearah gerbang surga dunia.
Sisil menatap lekat manik hitam milik Al, dia menahan nafas saat sesuatu mulai terasa masuk ke dalam inti tubuhnya.
Perlahan mata Sisil terpejam, dengan mulut yang juga mulai terbuka ketika dibawah sana terasa sesak dan penuh.
"Slowly, .. babe!" Sisil merintih.
Satu tangan prempuan itu terus berpegangan kepada pria di atasnya, sedangkan satu tangan lain mencengkram sebuah kain penutup tempat tidur.
"It's oke babe, ... junior akan baik-baik saja."
Ucap Al sembari menahan geraman, saat merasakan tangan Sisil terus mendorong perutnya.
Ritme permainan keduanya mulai meningkat, seiring hasrat yang juga kian menanjak.
Alvaro terus berpacu, tangan dan bibirnya tidak pernah diam. Dia terus mengusap, menyentuh bagian tubuh prempuan yang sedang berusaha mati-matian menahan suara yang akan keluar dari mulutnya.
"Ini gila ... Ahhhh!" Sisil mulai merancau.
"Tujuanku memang itu, membuat mu gila di setiap permainan ku." kemudian Alvaro membungkuk, untuk kembali berbisik di telinga Sisil.
Wanita yang berada di bawah kukungan Al terlihat kembali mengigit bibirnya. Tubuh Sisil bergerak tidak beraturan, bahkan rintihannya terdengar sedikit kencang saat Alvaro mulai lepas kendali.
"Ngh ... sayang .. akuu!" Sisil mencengkran kuat rambut suaminya.
Kedutan di bawah sana sudah semakin jelas terasa, begitupun dengan sesuatu yang terus mencengkram miliknya, hingga membuat Alvaro menambah tempo hentakan di pinggulnya.
Wajah Sisil tampak memerah, bahkan prempuan itu terdengar menarik nafasnya panjang.
Dengan cepat Alvaro membekap mulut Sisil, mencengah jeritan yang akan segara keluar dari mulut istrinya.
Dan sampailah Sisil pada pelepasan pertamanya.
Alvaro diam, dia menatap wajah Sisil yang terlihat sangat merah dengan kedua mata yang terus tertutup dan nafas yang tersenggal-senggal.
"You oke babe?" Alvaro bertanya, satu tangannya mengusap wajah Sisil perlahan.
Cup!
Cup!
Pria itu mencium bibir Sisil beberapa kali.
"Abang sudah?" suara Sisil terdengar sangat pelan.
Dia terlihat begitu kelelahan setelah berlari mengejar sesuatu yang terasa sangat indah ... dan nikmat tentunya.
Mata cantik itu mulai mengerjap, lalu menatap Alvaro yang saat ini juga tengah menatapnya dengan bibir yang terus tersenyum.
"Kamu sudah, Abang belum." ucap Al enteng, kemudian dia kembali menggerakan pinggulnya pelan, dan menjadi lepas kendali setelah beberapa saat.
"Astaga, ... menahan sesuatu membuat kepala ku pusing." keningnya menjengit keras.
"So sorry, tapi kamu harus menahannya. Kalau tidak ... ini akan sangat memalukan jika di dengar ibu dan bapak mu!"
"Ohhh ... stoppp! jangan terlalu kencang, junior akan ter ...
Mendengar Sisil yang terus berbicara banyak hal, dia kembali membungkam mulut Sisil, menyesap nya dengan penuh perasaan tanpa menghentikan permainannya.
"Nghhh ...
"Aku selesai Naisilla ... aku selesai sayaangg! argghhh!" Alvaro menggeram panjang, saat dia sampai di puncak gairah, dan menyemburkan miliknya kembali kedalam rahim Sisil saat hujaman itu terasa begitu kencang.
"Junior!" cicit Sisil seraya mengusap perutnya.
"Dia kuat, ... dia juga pasti baik-baik saja!"
Cup!
Al mencium kening Sisil, melepaskan tautan tubuhnya untuk membungkuk, dan memberi kecupan di atas perut Sisil.
...••••••...
"Sisil masih tidur?" Ningsing menatap Al yang berjalan menghampirinya.
Alvaro memutuskan keluar kamar setelah beberapa menit dia diam, dan membersihkan diri terlebih dahulu tentunya.
"Bawaan bayi, Bu!" Al tersenyum. "Al ambil makan deh, ... kayanya Sisil harus Al bangunin." katanya kepada sang ibu mertua.
"Boleh, tunggu sebentar." Ningsing mendekat kearah rak piring, lalu berjalan kearah rice cooker berada.
Alvaro berdiri, menatap kearah luar. Dia memandang heran, saat mobil Anna belum juga pergi dari sana.
"Dia menunggu Sisil?!" Alvaro bermonolog.
Pria itu terus menatap tidak suka pria yang duduk di kursi luar bersama tiga rekan kerjanya.
"Ini nasi dan lauknya ... minumnya biar ibu yang antar ke kamar!"
"Tidak usah, nanti Al balik lagi!" sergah Alvaro.
*Yang benar saja, Sisil masih polos. Dan hanya berbalut selimut untuk menyembunyikan tubuh te*anjangnya*.
Langkah kaki Alvaro melangkah dengan sangat cepat.
"Sayang, cepat pakai bajumu, sepertinya ibu akan kesini." Alvaro sedikit panik, saat melihat Ningsih membawa sebuah nampan dan dua gelas di atasnya untuk wanita itu isi dengan air.
Sisil mengangguk, dia bangkit dan menghambur kedalam kamar mandi.
"Dia bangun?" suara itu tiba-tiba terdengar, sampai membuat Al menoleh karena terkejut.
"Emm .... Su-sudah Bu, Sisil sedang membasuh wajahnya!" Alvaro gelagapan.
Ningsing mengangguk, pandangannya meneliti sekitar. Bahkan wanita itu menatap sesuatu yang tergeletak, dan berceceran memenuhi lantai kamar.
Sepertinya sudah terjadi gempa lokal! umpat Ningsih saat dia menyadari sesuatu.
"Baiklah, makan yang banyak. Sepertinya kalian kehilangan banyak tenaga yah!?" Ningsih berujar, dia meletakan nampan tersebut di atas meja rias, lalu dia keluar kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.
Alvaro tertegung.
"Apa ibu mengetahui sesuatu?" dia mengusap wajahnya kasar.
"Mustahil kalau ibu mempunyai indera ke tujuh." Alvaro terus bergumam heran.
Klek!
Pintu kamar mandi terbuka. Sisil berjalan masuk dengan handuk yang menutupi bagian atas tubuh hingga paha. Dia membungkuk, dan memunguti pakaian miliknya.
"Astaga, pantas saja!" kata Alvaro dengan rasa frustasi dan malu secara bersamaan.
"Kenapa?" Sisil bingung.
"Tidak ada, pakai saja baju mu cepat." suara pria itu terdengar lemas.
"Oh .. aku kira Abang kenapa, wajahnya sampe merah begitu. Kaya kepiting rebus tau!" Sisil terkekeh, bahkan hampir tertawa lepas.
"Tentu, karena seseorang sudah menyadari kejadian apa yang terjadi di dalam kamar ini."
Deg!
Mata Sisil membulat.
"Ibu?" suara prempuan itu memekik pelan.
Alvaro mengangguk.
"Tuhan! mau aku simpan dimana muka ku ini." dia mengusap rambutnya kencang.
"Tidak. Jangan berlebihan, respon ibu bahkan biasa saja." Alvaro berusaha menenangkan Sisil.
"Biasa bagaimana? wajah kamu bahkan memerah seperti kepiting saus Padang!"
"Biarlah, .. mereka bahkan lebih dulu menjadi seorang pengantin baru. Jangan terlalu di pikirkan, lebih baik makan! kasian Junior."
Katanya, lalu Al menarik Sisil untuk duduk, kemudian membawa nasi dan beberapa lauk dalam satu piring untuk mereka makan berdua.
...•••••...
Jangan-jangan ibu denger :)
Vote dulu lah ...
Like, sama komen wajib itu mah .. gratis alias gerong ... Klik favorite juga jangan lupa!
~Cuyung Kelen semua~