My Ex Husband

My Ex Husband
Es batu.



...••••••...


pagi hari, di kediaman kedua orang tua Sisil.


Tampak seorang wanita paruh baya tengah sibuk mengupas satu kantong besar bawang putih. Dia duduk bersandar pada dinding, saking fokus dengan pekerjaannya sampai tidak menyadari ada dua prempuan cantik yang datang.


Tok .. tok ..


Ningsih terkesiap saat mendengar ketukan pintu di belakangnya.


"Sibuk banget sampe nggak sadar aku datang!" Sisil tersenyum kepada sang ibu.


Pandangan Sisil menengadah, menatap dua prempuan yang sedang berdiri di ambang pintu dengan tatapan berbinar.


"Ehh ... siapa ini?" katanya, Ningsih bangkit.


Dia langsung bergegas berjalan kearah washtafel untuk membasuh tanganya.


"Masuk, Nov." ajak Sisil kepada adik iparnya.


"Adiknya Abang Bu, baru datang tadi pagi." jelas Sisil kepada ibunya.


Ningsih mengangguk pelan, dia tersenyum seraya berjalan mendekat, dan meraih uluran tangan Nova, saat gadis itu akan mencium punggung tanganya.


"Cantik sekali, mau menginap disini?" wanita itu menatap Nova dengan seksama.


Sementara gadis itu hanya tersenyum malu-malu.


"Abang tidak ikut?"


"Tidak, Abang kerja." sahut Sisil.


Sisil menggenggam tangan Nova, kemudian dia menariknya kearah dalam, mengikuti langkah Ningsih yang sudah lebih dulu berjalan kearah ruang tengah.


"Rumahnya nggak sebesar punya Mama, tapi mudah-mudaha kamu betah."


Sisil berucap, pandangan prempuan itu menoleh kearah samping, melihat gadis yang tingginya hampir sepantaran.


"Kayanya aku seneng liburan disini, dari pada Abang ajak pulang lagi!" katanya dengan suara pelan.


...~Flashback~...


Suara bell dan ketukan pintu terus bersahutan, sampai membuat dua orang yang sedang berjibaku di hadapan kompor saling menatap.


"Apa Nova datang sepagi ini?" Al menjengit, dengan tatapan penuh tanya.


Sementara Sisil hanya mengendikan bahu, lalu kembali fokus pada teflon dan telur mata sapi di dalamnya.


"Astaga anak itu! sudah ku bilang jangan menyusul kesini nyah!" Alvaro menggerutu.


Segera Al beranjak, meninggalkan dapur dan Sisil yang masih berada disana.


"Gitu! kalo kesel logaknya tiba-tiba jadi orang Batak dia!" umpat Sisil dengan suara yang terdengar sangat pelan.


Sementara Alvaro terus menrancau, raut wajahnya bahkan tampak di tekuk.


Klek!


Dia membuka pintu apartemennya.


Saat pintu itu benar-benar terbuka, seorang gadis cantik langsung tersenyum, kemudian memghambur kedalam pelukannya.


Brugh!


"Kangen Abang!"


Tubuh Alvaro sedikit terjerembab ke belakang.


"Ka Sisil mana, bang?" pandangan Nova menengadah.


"Ada lagi bikin sarapan, berangkat jam berapa bisa sampai sepagi ini?" Al balik bertanya.


Tanpa menjawab Nova melepaskan lilitan tangan di pinggang Kaka laki-lakinya, kemudian beranjak pergi.


"Astaga, selain Kaka yang terbuang, sebentar lagi kau akan menjadi suami yang terbuang, Al! mereka kalau sudah bersama pasti kaya lem .. lengketnya minta ampun!"


Alvaro kembali menutup pintu apartemennya, dan segera kembali ke dapur, dimana istrinya berada.


Suasana apartemen langsung terasa ramai, saat Nova terus berbicara banyak hal, menceritakan semua yang ia alami kepada Kaka iparnya yang tampak antusias.


Namun berbeda dengan Al, pria itu terus terdiam, menatap Nova tidak suka.


"Yank, aku ajak Nova kerumah ibu yah?" Sisil meminta izin.


Seketika pria yang duduk di hadapnya berhenti mengunyah, memandang Sisil dengan raut wajah datar.


"Nggak ada, kalian tetap di rumah. Abang pulang kita langsung berangkat antar kamu!" katanya dan kembali menyantap roti isi telur buatan Sisil.


"Abang apaan sih! masa Nova baru Dateng udah mau di anterin pulang lagi! biarkan saja dia menikmati liburannya, aku bawa kerumah ibu biar ada suasans baru .. siapa tau mau ikut keladang sama bapak atau kerja sama Bu Anna gitu!" ujar Sisil panjang lebar.


"Sepertinya kamu yang lebih bersemangat! kenapa? seneng yah mau ketemu anak bau kencur itu!"


"Negatif thinking mulu!" sergah Sisil.


"Jangan di denger ka, kita pergi aja pas Abang berangkat ... orang kaya Abang tuh sesekali di bantah juga nggak apa-apa, cara dia berpikir udah salah banget menurut aku." Nova menyela.


Alvaro menghembusakan nafasnya pelan, dia menjejalkan potongan kecil roti miliknya, mengunyah dengan cepat kemudian meneguk segelas air putih hangat sampai tandas.


"Jaga Kaka mu itu! jika dia berdekatan dengan seorang pria, maka tarik dan kurung di dalam kamarnya." ucap Al bersungguh-sungguh kepada adik perempuannya.


Nova memutar kedua bola matanya, Nova jengah.


"Jangan di dengar!" kata Sisil. "Cepat habiskan sarapan mu, kita pergi setelah Kaka bersiap-siap, dan Abang sudah berangkat."


"Ingat itu Nova! jika istri ku macam-macam, maka manusia yang beridiri di jajaran paling depan Kaka mu ini adalah kamu." Alvaro tidak mau kalah.


"Ngaco!" cicit Sisil.


"Jika gagal, besok atau nanti malam saja Abang balikin kamu ke rumah Mama dan Papa!" Al mengancam.


Nova langsung mengusak rambutnya kencang, kemudian berteriak.


"Astaga, drama rumah tangga!" suara Nova memekik.


"Ingat!" Al menatap Nova tajam, dia bangkit kemudian meninggalkan dua prempuan yang masih duduk di kursi meja makan.


Nova dan Sisil saling menatap, dan secara bersamaan mereka mengendikan bahu.


"Kalo es batu di kasih nyawa kaya gitu ka, selain dingin, hambar dia juga keras kepala." celetuk Nova hingga membuat tawa Sisil menyembur, dan menggema memenuhi seluruh ruangan.


Begitupun dengan seorang pria yang sedang berada di dalam kamar mandi. Dia berdecak sebal saat mendengar tawa Sisil yang terdengar begitu renyah.


...•••••...


Klek!


"Ini kamar Kaka, Nov. Boleh kamu pake kalau mau liburan disini!" kata Sisil saat dia membuka pintu kamarnya.


Nova mengangguk, di terus berjalan masuk dan duduk di tepi ranjang bersama Sisil yang sudah terlebih dulu berada disana.


Sementara Ningsih hanya berdiri di ambang pintu, memperhatikan gadis cantik dan pemalu yang putrinya bawa.


"Mau berapa hari disini?" tanya Ningsih.


"Seminggu, atau lebih mungkin." sahut Nova.


"Tidak apa-apa kan kamu menginap disini? di apartemen cuma ada satu kamar, masa mau tidur di ruang tengah, nanti sakit badan." Sisil bertanya, dan langsung di jawab anggukan oleh Nova.


"Sepertinya kita harus berbicara kepada Mama nya Balqis, siapa tau dia mau rekrut Nova." ujar Ningsih.


"Emmm ... nanti dulu deh Bu, Nova nggak kerja dulu kayanya, mau kuliah kan yah?"


Nova kembali menganggukan kepala.


"Ya, lumayan .. liburan sambil cari uang.' kata Ningsih lagi, wanita paruh baya itu tampak lebih semangat.


"Ibu seneng banget kayanya?" dahi Sisil menjengit.


"Seneng dong, ada Nova rumah ibu rame lagi! apalagi kalau kalian nginep juga, pasti rame banget!"


Sisil menggaruk kepalanya.


"Yang satu seneng, yang satu malah nggak suka ... aneh!" gumam Sisil pelan saat ekspresi wajah datar suaminya melintas.


"Yasudah, ibu kupasin bawang lagi." Ningsing berpamitan, kemudian dia pergi.


"Kayanya bagus juga kalo aku bantuin ibu ya ka? itung-itung magang."


"Iya, sekarang istirahat saja dulu. Nanti sore kalo Abang pulang kita keliling kota."


...••••••...


Maaf telat update ..


Jangan lupa like, komen dan hadianya ..


Klik favorite juga jangan lupa!


~Papayo~