My Ex Husband

My Ex Husband
Air hangat.



...•••••...


Tok .. tok ...


Sisil berdiri di depan pintu rumah, kemudian munculah seorang asisten rumah tangga, berjalan kearahnya.


"Encus, masuk aja!" wanita itu tersenyum ramah.


Sisil menganggukan kepala.


"Bu Anna sudah pulang, Bi?"


"Belum, masih di jalan." Bibi menjawab.


"Ayuk masuk, Balqis ada di ruang tengah lagi nonton tivi."


Dengan cepat Sisil masuk kedalam rumah besar itu, berjalan kearah ruang tengah untuk mencari keberadaan gadis kecil yang sudah lama ia asuh.


Disanalah Balqis, berbaring menatap televisi dengan sebuah wadah berisi kripik kencang.


"Shut .. shut .. cewek?" Sisil memanggil gadi kecil itu.


Balqis tidak mendengar, dia tetap fokus pada tontonan di hadapannya.


"Cewek, godain aku dong!" Sisil kembali memanggil.


Seketika pandangan Balqis teralihkan, dia menatap Sisil sesaat, kemudian berlari ketika menyadari siapa yang berdiri dan terus memanggilnya.


"Tetehhh ...!" Balqis turun dari sofa, dia berlari kearah Sisil yang sudah berjongkok dan merentangkan kedua tangannya.


Bugh!


Tubuh Sisil dan Balqis berbenturan cukup kencang.


"Teteh kok nggak pernah kesini lagi, nakal yah udah nggak ajakin Aqis main sekarang." bibir Balqis mengerucut.


"Teteh sibuk jualin sambel punya Mama, makanya baru bisa main sekarang." Sisil menjawab.


"Yaudah, .. ayok kita nonton Minions sama aku." katanya lalu menarik tangan Sisil dan menuntunnya kearah sofa.


Seolah menjadi sebuah obat, kedatangan Sisil justru membuat Balqis melupakan kesedihannya. Apalagi sejak tadi ia terus menanyakan keberadaan Anna kepada Rosa.


"Eh ... Encus dateng?" Rosa menyapa, dia terlihat berjalan dari arah lain kearah mereka.


Sisil tersenyum, kemudian menganggukan kepala.


"Selamat siang Bu Rosa, maaf tidak mengabari terlebih dulu." katanya.


Rosa mengangguk, dia terus tersenyum ramah kepada pengasuh cucunya itu.


"Sudah lama?" Rosa kembali bertanya, setelah dia duduk di sampinnya.


"Tidak Bu, saya baru saja sampai."


"Hah .. Mama pulang!" Balqis menunjuk kearah David yang kini tengah berjalan memangku tubuh Anna yang terlihat masih lemas.


Raut wajah Balqis semakin berbinar, dia berjingkrak kegiranagan, kemudian menarik tangan Sisil mengikuti David yang membawa Anna masuk kedalam kamarnya.


Beberapa orang masuk, mereka tampak tersenyum ramah, dengan beberapa peralatan di tangan masing-masing.


"Selamat siang Bu?" sapa mereka bersamaan.


Rosa mengangguk.


"Apa keadaan cucu dan menantu saya baik-baik saja?"


"Baik Bu, hanya saja keadaan Bu Anna yang selalu muntah dan mual, membuat kandungannya lebih lemah. Apalagi tadi pagi sampai jatuh karena pusing, untung janinnya masih bisa kami selamatkan."


Rosa kembali mengangguk. Prempuan itu menyusul kedalam kamar Anna, begitu juga dengan suaminya Daniel, keadaan sekarang membuat kedua mertuanya itu sangat khwatir, namun kini bisa bernafas lebih lega, karena keadaan Anna sudah terlihat lebih baik.


...•••••...


Hari terus merangkak semakin larut. Langit sudah terlihat menghitam, jam sudah menunjukan pukul sebelas malam.


Alvaro berjalan cepat kearah pintu unit apartemen miliknya, dengan jas dan dasi yang sudah pria itu lepaskan.


Plip .. klek!


Dengan penuh semangat Al mendorong pintu apartemen itu agar terbuka dan membiarkannya masuk.


Nahas, keadaan disana sepi, bahkan lampu di setiap ruangan terlihat padam dengan gorden yang juga masih terbuka.


"Naisilla, kau sudah tidur?" Al meletakan jas dan dasi nya di atas sandaran kursi, matanya meneliti sekitar, kemudian beranjak kearah pintu kamar yang tertutup.


Klek!


Keadaan sama, sunyi sepi tanpa pematangan sedikit pun. Alvaro berjalan kearah lain, meraih saklar lampu dan menyalakannya.


"Sayang apa kau sedang mengerjai aku?!" panggil Al kembali.


Namun tetap hening, hanya suara jarum jam yang terdengar.


Al kembali ke luar, dia berjalan kearah dapur, namun dia masih tidak menemukan istrinya.


"Kau ini dimana? tidak tahukah kamu bahwa aku sangat merindukan mu!" pria itu menggerutu, dan segera merogoh ponselnya untuk menghubungi Sisil.


Lama Alvaro menunggu, akhirnya sambungan telfon itu terhubung.


"Sayang kamu dimana?" pria itu langsung bertanya, dengan nada yang hampir berteriak.


Sisil yang sudah terlelap beberapa jam lalu pun tampak mengerjapkan mata, mengusapnya beberapa kali dan melihat jam dinding.


—Astaga, aku ketiduran!


Katanya sampai membuat Al menjengit.


Alvaro mengehela nafas pelan, lalu dia mengusap wajahnya kasar.


"Aku cepat pulang karena sangat .. sangat merindukan mu, kenapa kamu malah tidak ada di apartemen?" suaranya terdengar sangat rendah.


—Tapi kayanya aku nggak bisa pulang deh, Aqis lagi nempel sama aku. Kasiahan kalo aku pergi sekarang, pas bangun dia nyariin aku gimana?


"Apa! nggak pulang? yang benar saja Sisil!" pria itu bedecak sebal.


—Maaf ya bang, tapi kayanya kerjaan aku juga sibuk kaya Abang, Balqis pasti menempel untuk beberapa hari kedepan, Samapi Bu Anna pulih dan Balqis bisa kembali menempel kepada Bu Anna.


"Hhhhhh!"


—Abang?


"Yasudah, tutup saja telfonnya!" ucap pria itu ketus.


—Abang marah?


"Tidak .. hanya sedikit kesal dan itu karena aku sangat merindukan kamu Naisilla!"


—Apa aku harus pulang?


"Tidak usah, ini sudah larut. Kenapa kau tidak mengabari Abang terlebih dulu, seandainya Abang tau kamu masih disana, tadi sekalian Abang jemput." pria itu terus menggerutu.


—Tapi Abang marah.


"Dan aku akan lebih marah jika kau pulang, dan terjadi sesuatu kepada dirimu!" Alvaro memperingati.


—Abaangg!


"Sudahlah, tutup dan tidur saja lagi! tidak apa kalau kau juga akan sibuk disana, setidaknya aku bisa bekerja dengan santai."


—Abang .. tapai ..


"Nanti kalau Abang selesai, Abang jemput."


—Aku disini dulu?


Sisil menjengit.


"Heumm .. itu lebih baik kurasa, dari pada hanya menungguku di apartemen sendirian hingga larut.


—Baiklah, maafkan aku.


Tut .. Tut ..


Sambungan telfon itu terputus secara tiba-tiba.


Sisil menatap layar ponselnya sendu. Di satu sisi dia merasa sangat bersalah kepada suaminya, di sisi lain dia juga merasa tidak tega untuk meninggalkan Balqis sementara gadis kecil itu sedang membutuhkan teman, seperti dulu saat mereka masih sering menghabiskan waktu bersama.


Brugh!


Al menghempaskan diri keatas tepat tidur, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, ya sama seperti suasana hatinya saat ini.


"Astaga tuhan! ini baru berjalan satu bulan. Tapi lihatlah bagaimana dia mengubah semuanya, bahkan aku merasa kesal dan kesepian secara bersamaan, saat istriku tidak ada disisiku!" katanya.


"Saat kerja ingin cepat pulang, namun saat ingin berangkat rasanya susah sekali! dia selalu memenuhi pikiran ku! bagaimana ini, apa aku sudah kecanduan dengan gadis lugu itu? seorang Babysitter yang ku kenal beberapa tahun lalu .. bukan maksud ku, aku menemuinya beberapa tahun silam saat dia di ambil pak David untuk mengurus putrinya."


Alvaro mengusap wajahnya kasar.


"Bertemu beberapa kali, hampir tidak pernah berbincang, tiba-tiba menikah. Dan aku sangat mencintainya sekarang! lucu sekali dunia ini!" dia terus bermonolog.


Plipplup!


Suara notifikasi pesan masuk kedalam ponsel Alvaro.


Mandinya pakai air hangat, Abang kebiasaan kalau kesal pasti guyur kepalanya pakai air dingin. Jangan yah ganteng, nanti sakit .. kalo Abang sakit siapa yang bakalan hajar aku nanti.


Begitulah isi pesan dari Sisil, hingga pria itu tidak menyadari, seulas senyum tipis terbit di kedua sudut bibirnya.


"Lama-lama aku gila karena kau Naisilla!" dia terkekeh kemudian bangkit, dan berjalan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


...•••••...


Hayoloh! jangan lupa di like, komen, kasih mawar gitu biar semangat update.


Klik favorite juga jangan lupa!


Kalian memang luar binasa, sehari nggak nulis tuh kaya ngerasa bersalah sama kalian ini!!


~Cuyung kalian~


Emmm .. aku mau banyakin part gerahnya Sisil sama Abang nih! gimana menurut kalian? : )