My Ex Husband

My Ex Husband
End. ( Happy Ending ).



...•••••...


Klek!


Sebuah pintu kamar mandi kembali terbuka, dan munculah seorang prempuan dengan perut besar, berjalan pelan kearah tempat tidur dimana suaminya sudah terlelap di bawah gulungan selimut tebal.


Sisil duduk di tepi ranjang. Dia terlihat gelisah, bahkan beberapa kali meringis sambil terus mengusap perutnya pelan pelan.


"Abang?!" Sisil menggoyangkan tubuh suaminya pelan.


Tidak ada sahutan.


"Aduh!" rintihnya cukup kencang, ketika perutnya terasa kembali mulas.


"Abang!?" Sisil kembali menepuk-nepuk Alvaro, namun pria itu tidak merespon panggilannya sedikitpun.


"Sayang bangun!" kini kedua matanya terpejam, saat perutnya benar-benar terasa sakit.


Alvaro mulai mengerjap, saat samar suara Sisil terus memanggilnya.


Alvaro yang berbaring membelakangi prempuan itu menoleh, kemudian bangkit saat benar-benar melihat Sisil duduk di tepi ranjang, dia menundukan kepala.


"Yank, kamu kenapa?" Alvaro berangsur lebih mendekat, satu tangannya terangkat, kemudian mengusap punggung Sisil, seperti yang prempuan itu minta hampir disetiap malam.


Sisil tidak menjawab, dia hanya terdiam, dengan kepala menunduk dan kedua tangan mencengkram kuat kain pelapis tempat tidur miliknya.


"Hey, jangan membuat ku panik. Katakan sesuatu, aku harus berbuat apa?" Alvaro semakin mendekat, kemudian meraup tubuh Sisil untuk ia peluk dengan sangat erat.


"Kram!" cicit Sisil pelan.


"Apa? bisa katakan kembali?" pintanya sembari mengusap pipi istrinya.


"Perut aku sakit, terasa kencang dan tidak nyaman, punggung aku juga panas banget, Abang! aku nggak kuat." katanya, kini dia menangis pelan.


"Kamu mau melahirkan?" Alvaro tersentak.


"Tunggu, aku akan bertanya kepada ibu dulu!" Alvaro langsung melepaskan dekapannya kepada Sisil, dan meloncat dari atas tempat tidur, untuk meraih ponselnya yang terletak di atas nakas.


"Abang nggak usah, kita hanya perlu pergi ke rumah sakit, kabarinya nanti saja jika semuanya sudah terkendali dengan baik, jangan sekarang nanti mereka khawatir." jelas Sisil hampir berteriak.


Perkataan Sisil sontak membuat Al berhenti, namun dia terlihat linglung.


"Cepat bawa koper yang sudah kita siapkan, lalu pergi kerumah sakit, rasa mulasnya semakin menjadi-jadi!" Sisil kembali merintih.


Rasa sakit kini berpadu dengan rasa kesal, akibat melihat Alvaro yang tidak sigap justru malah terlihat linglung dan bingung.


"Oke oke, tenangkan dirimu sayang. Teriakan mu membuat pikiran ku buyar!" akhirnya dia berlari kearah lemari pakaian, dan membawa satu koper hitam berukuran sedang yang terletak di samping kotak penyimpanan baju.


Alvaro juga membuka satu pintu lemari baju, membawa dua jaket untuk ia dan Sisil kenakan.


"Pakai dulu, masih tengah malam dan udara di luar pasti sangat dingin." seru Al, lalu memakaikan jaket itu kepada istrinya


Sisil hanya menurut, dia diam saat Alvaro memakaikan jaket lalu mengikat rambutnya yang terlihat semakin memanjang.


Alvaro meraih gagang koper itu, lalu membantu Sisil berdiri, dan mulai berjalan kearah luar untuk segera pergi kerumah sakit.


Mereka berjalan beriringan, dengan Sisil yang terus memegangi lengan Alvaro erat. Sesekali mereka menghentikan langkahnya, saat rasa mulas itu kembali timbul, dan melanjutkan langkah saat Sisil kembali merasa dirinya sedikit membaik.


"Hati-hati!" kata Alvaro saat Sisil mulai masuk, dan duduk di kursi samping kemudi.


Tubuh pria itu sedikit membungkuk, meraih seatbelt dari sisi lain tubuh istrinya, kemudian menariknya pelan agar bisa melilit sempurna di tubuh Sisil.


Cup!


"Aku mencintaimu Naisilla, aku mencintaimu."


Sisil tersenyum, dan di detik berikutnya Al menutup pintu mobil di samping Sisil.


...•••••...


Mobil yang saat ini Sisil dan Alvaro tumpangi melaju dengan kecepatan sedang. Menyusuri jalanan kota yang masih terlihat ramai, meski jam sudah menunjukan pukul dua dini hari.


Sisil kembali merintih, mencengkram gaun tidur panjang yang di kenakannya dengan mata yang lagi-lagi ikut terpejam.


"Kita sampai sayang, bersabarlah!" Alvaro merentangkan tangan, lalu mengusap perut Sisil.


"Hey, jangan membuat Mama mu sakit yah. Junior kan anak pintar!" ucap Alvaro cukup kencang, berharap anak yang masih berada di dalam perut itu bisa mendengarnya.


Mobil hitam milik Alvaro berhenti tepat di depan sebuah pintu ruang Unit Gawat Darurat.


Alvaro keluar, dia segera memutari mobil untuk menghampiri Sisil.


"Bawa kopernya saja! aku bisa bangun sendiri." titah Sisil.


"Sakitnya hilang lagi?"


"Iya."


Alvaro pun mengangguk, lalu beranjak meninggalkan Sisil untuk membawa koper yang dia simpan di bagasi.


Sisil berjalan terlebih dulu, memasuki pintu UGD yang terbuka sangat lebar.


Beberapa orang petugas medis langsung menyambut kedatangan Sisil dengan senyum ramah.


"Ibu, ada keluhan?" tanya seorang bidan yang beberapa kali Sisil temui saat ia memeriksakan kandungannya.


"Perut saya sudah terasa mulas, pinggang saya juga terasa sangat panas, dan tidak nyaman tentunya!" jelas Sisil.


Prempuan itu mengangguk.


"Sudah mengabari Dokter Rina?" bidan itu bertanya.


"Ini tengah malah Bu, saya tidak enak jika harus menghubungi beliau."


"Aduh!" Sisil Kemabli merintih, dan memegangi perutnya.


"Sepertinya istri bapak akan melahirkan hari ini." prempuan itu tersenyum kepada Alvaro yang baru saja tiba, dengan satu tangan menggenggam pegangan koper.


"Lakukan semuanya yang terbaik untuk keselamatan istri dan anak saya." tegas Al.


Bidan itu tersenyum.


"Bantu berdoa ya pak. Sekarang saya bawa istrinya dulu untuk di periksa bukaan, sementara bapak boleh melakukan pendaftaran terlebih dahulu, agar bisa mendapat ruangan lebih cepat."


Alvaro mengangguk.


"Kalian akan baik-baik saja, Papa janji." Alvaro bergumam, dengan pandangan mata yang terus tertuju kepada ruangan yang baru saja Sisil datangi.


Tatapan Alvaro menjadi sendu, entah kenapa tiba-tiba dia merasa sedih, di waktu yang seharusnya dia bahagia karena akan segera bertemu dengan buah hati yang sudah sangat ia tunggu kehadirannya.


...•••••...


Setelah pemeriksaan awal menyatakan bahwa Sisil sudah mengalami bukaan ke Tiga. Akhirnya mereka berada di dalam satu ruangan bersalin.


Kini Sisil sudah benar-benar tidak bisa berbuat apapun. Rasa nyeri dan mulas yang semakin intens, membuat tenaganya sedikit terkuras.


Rintihan, lenguhan juga teriakan terus terdengar keluar dari mulut prempuan berwajah pucat itu.


Begitupun dengan Al, hatinya seolah teriris namun dia berusaha kuat, agar istrinya tidak patah semangat.


Tepat pukul delapan pagi seorang Dokter prempuan datang memasuki ruangan itu. Dia tampak menyapa Alvaro dengan senyuman ramahnya seperti biasa.


"Bagaimana?" Dokter Rina bertanya kepada salah satu Bidan.


"Bukaan sudah sembilan Dok, sebentar lagi Bu Sisil siap melahirkan." jelasnya.


Dokter Rina mengangguk, dan segera duduk di hadapan Sisil, yang saat ini berbaring dengan posisi bersandar dan kedua paha yang tampak di buka lebar.


Sementara Al berdiri tepat di samping Sisil, menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat.


"Aku tidak bisa, aku tidak sanggup!" Sisil merintih, dia berkeluh kesah kepada pria di sampingnya.


"No, tentu saja kamu mampu, kamu kuat sayang, kamu hebat." Alvaro tersenyum, namun sebuah air menetes membasahi pipi.


Alvaro menangis.


"Nghh, ... ahh sakit!" Sisil kembali merintih saat Dokter kembali memeriksakan bukaannya.


"Sudah siap, jika terasa ingin buang air besar, ngeden yah! jangan pakai suara, lakukan seperti kita benar-benar ingin buang air besar." Dokter Rina tersenyum kearah Sisil.


Sisil tidak menjawab, prempuan itu terus mengatur nafasnya sesuai arahan bidan.


"Awh!"


"Jangan berteriak, nanti tenaganya habis." tegas Dokter.


Sisil menurut, dia diam dan mulai mendorong saat perut nya terasa sangat mulas.


"Eeeeeee-hhh!"


"Bagus, pintar sekali. Lakukan seperti itu lagi yah."


"Ayok sayang, kamu bisa." ucap seorang pria sambil terus mencium kening Sisil.


Prempuan itu kembali menghirup udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskan ya perlahan, berbarengan dengan dorongan di bawah sana saat perutnya semakin terasa sakit.


"Good job, rambutnya sudah kelihatan .. lebih kuat lagi oke?"


Sisil mengangguk, dan kembali melakukan hal yang sama.


Keringat bercucuran, urat-urat di lehernya tampak mengencang saat dia mendorong bayi di dalam perutnya sekuat tenaga.


Cup!


Al kembali mencium pipi istrinya, seraya berbisik;


"Kamu hebat, kamu kuat sayang .. ayok sedikit lagi!"


"Eeeeee,..." Sisil mencengkram kuat tangan suaminya.


"Bagus, pintar sekali!" ucap Dokter sambil membawa sesuatu yang baru saja terasa keluar dari dalam inti tubuh Sisil.


"Oee ... oee ..."


"Seperti perkiraan kita, bayinya laki-laki."


Bayi itu menangis kencang saat Dokter meletakannya di atas dada Sisil.


"Ya tuhan!" ucap Sisil pelan.


Kali ini Alvaro benar-benar menangis, air matanya bercucuran deras.


"Hallo anak Papa." sapanya pelan dengan suara bergetar.


Sosok kecil dan mungil, berkulit putih seperti Sisil, berhidung mancung seperti Al, dia tampan dengan rambutnya yang terlihat lebat.


"Welcome to the world, Junior Alexander." Alvaro berujar.


Senyumnya terus terpancar, saat melihat bayi kecil miliknya yang sudah ia lihat dan berada sangat dekat.


"Terimakasih sudah mau berjuang, untuk aku, kamu dan juga putra kita."


Cup!


Alvaro kembali mencium kening istrinya.


"Sudah ku duga." katanya lemas.


"Apa?" Al menatap Sisil lekat.


"Dia pasti mirip kamu!" cicit Sisil.


"Ya, dia tampan." ucap Alvaro dengan penuh percaya diri.


...•••••...


...Tamat~...


...Terimakasih untuk para readers yang selalu menemani om bewok sampai sekarang....


...Akhirnya kita sampai di akhir sebuah cerita~...


...Othor mau bilang terimakasih banyak untuk dukungan yang selalu kalian berikan....


...Eits, jangan sedih apalagi unfav yah! othor ada season 2~ follow Ig othor untuk semua informasi, othor juga bakalan spill sediki cerita awalnya disana....


...@_anggika15...


...~Papayo, cuyung kalian, sampai bertemu di season 2~...