
...••••••...
"Anna, belum tidur nak?"
Seorang pria tua menyapa, dia tampak berjalan pelan dengan tongkat yang selalu dibawanya.
Anna yang sedang duduk di kursi meja makan menoleh, menatap Daniel kemudian tersenyum.
"Belum, lagi minum susu dulu .. biar nggak mual." sahut Anna sambil tersenyum. "Ayah mau kemana?" Anna balik bertanya.
"Tolong ambilkan ayah air putih hangat yah! ibu sudah tidur, ayah nggak tega mau banguninnya." Daniel duduk di samping Anna.
"Iya ayah, apa ada sesuatu yang mau ayah makan? siapa tau ayah laper?"
"Tidak, hanya air saja. Ayah mau minum!"
Anna mengangguk, kemudian beranjak kearah dapur untuk membawa air putih yang ayah mertuanya minta.
Sementara itu di sisi lain rumah itu.
David terlihat sedang berbaring, mengusap kepala gadis kecil yang sudah mulai memejamkan matanya perlahan.
"Pah, kenapa ceritanya berhenti? aku belum bobo ini." dia melirik ayahnya sekilas.
Pria itu mengangguk, tersenyum samar sambil terus memperhatikan wajah putri sulungnya.
Wajah cantik dan polos, perpaduan antara wajahnya bersama Anna, namun sudah pasti wajah David lebih mendominasi.
"Lipatan mata Kaka sudah sangat tebal, itu artinya sudah mengantuk .. tapi kenapa susah sekali untuk tidur?!" David bertanya.
"Aku seneng denger cerita Papa yang suka sama Mama." gadis kecil itu masih menjawab.
"Baiklah! sekarang Papa tidak akan bercerita. Tapi Papa akan berpesan kepada mu." jelas David.
"Usia Papah jauh lebih tua dari pada Mama, Papah mau Balqis jaga Mama ya, dia kekasih Papah, dia belahan jiwa Papah. Jika suatu saat nanti Papah sudah tidak ada lagi, jaga dia dan adik-adik untuk Papah ... Papa bersyukur punya Aqis, tahu kenapa? karena Aqis bisa menyatukan Papah sama Mama kembali, setelah bertahun-tahun lamanya berpisah."
Mata Balqis sudah benar-benar terpejam, hembusan nafasnya bahkan sudah lebih teratur.
David tersenyum.
Cup!
David mencium kening putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Lucu memang, kalau Papah berbicara seperti itu kepada kamu. Gadis yang bahkan belum mengerti banyak hal, meski kamu sudah menjelaskan kalau kamu sudah besar, .. tetap saja, bagi Papah kamu putri kecil Papah."
Cup!
"Hava a nice dream's cutiepie!" katanya kemudian David bangkit, dan turun dari atas ranjang tidur perlahan.
Langkah kakinya terus berjalan pelan kearah pintu kamar yang tertutup, kemudian menekan handle pintunya perlahan dan keluar.
Pria itu menjengit, saat samar suara Daniel terkekeh, bersahutan dengan suara seorang prempuan yang tentu saja sangat ia kenali.
Langkah kaki David berhenti, dia mendengarkan obrolan keduanya dengan seksama.
"Dia itu nakal, di rumah sudah ibunya siapkan semua! mau makanan, ataupun buah-buahan, tapi tetap saja. Pasti ada tetangga yang datang dan marah karena buah mangga nya David ambil.
Anna tertawa pelan.
"Apa karena itu juga, kalian tidak akur sampai sekarang?" Anna bertanya.
"Mungkin dia masih merasa marah atau sakit hati, karena sering ayah hukum dulu."
Anna tampak mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ann, tetaplah bersama dia! karena hanya kamu yang mampu menerima dia apa adanya. Tanpa melihat dia anak siapa, dan dia memiliki apa!"
"Anna sudah disini yah, tidak akan kemana-mana lagi."
"Terkadang dia kelihatan dingin, cuek, terlihat tidak peduli kepada sekitar, termasuk kepada ayah. Mungkin kamu lebih tau sifat dia sekarang!"
"Mas David sayang ayah, jangan pernah menyesal atas apa yang pernah ayah lakukan, semua orang tua akan seperti itu jika anaknya berbuat salah.
Daniel tersenyum hangat, namun gurat kesedihannya terlihat dengan sangat jelas.
"Dulu kita dekat, dia menangis jika ayah akan berangkat ke kantor, belum bisa tidur jika tidak ayah temani. Namun kita semakin berjarak, saat dia memasuki sekolah menengah atas. Apalagi saat bertemu Mika, dia semakin menjadi pembangkang."
Anna mengusap punggung tangan ayah mertuanya.
"Nanti mas David tidak akan seperti itu lagi yah, karena dia sudah menjadi seorang ayah juga, apalagi jika Balqis besar nanti, dia pasti merasakan apa yang ayah rasakan."
Daniel mengangguk, dia kembali meraih mug besar berisi air putih yang tadi Anna ambilkan, dan meneguknya sampai tandas.
"Ayah ke kamar lagi yah, sudah malam juga ... kamu tidurlah, kasihan bayimu di dalam sama jika ibunya terus bergadang."
"Tidak usah, masuk saja ke kamar mu. Dan istirahatlah!"
"Baiklah, selamat tidur ayah."
"Selamat tidur putri ayah." dia tersenyum, kemudian berjalan kearah kamarnya.
David melangkah kan kakinya dengan cepat, saat derap langkah kaki Anna terdengar mulai mendekat.
"Mas, belum tidur?" tanya Anna saat dia masuk, dan menemukan David duduk di tepi ranjang, dengan ponsel menyala di genggamannya.
"B-belum, Balqis baru saja tidur!" David tersenyum gugup.
Anna menjengit, dia berjalan mendekat. Dan membungkukan tubuh saat sudah berada di hadapan suaminya.
"Mas lagi ngapain?" Anna menatap suaminya penuh tanya.
"Emm .. ini lagi baca artikel sayang."
"Artikel?"
David mengangguk dengan percaya diri.
"Iya, berita hari ini sayang."
"Dengan hape terbalik?!" Anna menatap lekat wajah suaminya.
Prempuan itu heran.
Seketika pandangan David langsung tertuju kepada layar ponsel, dan dia baru menyadari kebodohannya.
"Oh ... pantesan aku pusing!" dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Begitupun dengan Anna, prempuan itu langsung tertawa terbahak-bahak, sampai kepalanya mendongak.
"Awhhhh ... Astaga!" Anna berhenti, lalu memegangi perut bagian bawahnya.
"Sayang kenapa bayi kita?" David panik.
Namun lagi-lagi Anna tertawa.
"Aduh, perut aku kram, mas!" kata Anna.
"Makanya, jangan ketawain aku, anaknya marahkan?" David mengusap perut Anna.
"Habisnya kamu kenapa sih? nahan ngantuk yah? sampe baca artikel dengan layar hape yang terbalik, tapi baru nyadar pas aku udah ngomong."
"Sudahlah, nanti perutnya sakit lagi! terus bagaimana kalau Balqis bangun karena suara kamu yang sangat berisik ini!"
Dia mengomel saat Anna terus menertawakannya.
"Baiklah Papah, Mama mau tidur yah!" Anna naik keatas tempat tidur, dan merebahkan tubuhnya yang akhir-akhir ini sering terasa pegal.
David ikut menyusul, dia berbaring di samping Anna.
"Apa masih lock down?" David berbisik.
Mata Anna sudah terpejam, dan menjawab pertanyaan David dengan anggukan kepala.
"Zona merah sayang, tunggu sampe dedek kuat yah Pah." ucapnya tanpa membuka mata.
Helaan nafas David terdengar sangat jelas.
"Aku sudah vaksin kok sayang, lengkap sampe yang ke 2 juga."
"Tidak bisa mas, nanti kamu lepas kendali. Dan adik bayi terguncang di dalam sana!" Anna mengusap perutnya.
"Jadi benar-benar tidak boleh?" David merengek.
"Kita tanya pas pemeriksaan Minggu depan yah? kalau boleh, ya hayu." Anna menatap suaminya, lalu memainkan kedua alisnya naik-turun.
Hhhh!
"Baiklah, Mama Anna. Selamat tidur sayang ... bobok nyenyak, jangan muntah-muntah ya dek."
David mengusap perut Anna, kemudian memeluknya dan mulai memejamkan mata.
...••••••...
Jangan lupa like, komen, kirim hadiah yang banyak. Klik favorite jangan lupa! agar notifikasinya bunyi, saat othor update eps terbaru : )
~Papayo cuyung-cuyung nya othor~