
...•••••...
Klek!
Sisil membuka pintu kamarnya perlahan, lalu menyembulkan kepala, melihat keadaan di luar kamar.
Masih ngamuk nggak yah!? batin Sisil berbicara.
"Ngapain ngintip-ngintip kaya gitu?"
Sisil langsung menegakan tubuhnya, saat tiba-tiba saya suara Alvaro terdengar menyambar seperti petir.
"O'oh itu ... ahahaha saya takut kalo bapak masih ngamuk, eh ngambek maksudnya!" Sisil tertawa gugup.
Sementara pria yang sedang berdiri dengan kedua tangan yang ia selipkan di saku celana hanya memutar kedua bola matanya.
"Sampai kapan mau berdiri disana? kalau kau tidak lapar, aku makan saja sendiri!" katanya lalu memutar tubuh dan kembali berjalan ke arah dapur.
Sisil menghela nafasnya pelan, lalu memejamkan mata seraya mengusap dadanya kencang.
"Yang udah aku akuan, tapi ambekan ya bukan main. Padahal cuma ngintip doang, eh masih jadi masalah lagi!" Sisil bergumam.
Prempuan itu berjalan gontai ke arah dapur, lalu pandangannya teralih kepada sosok pria yang tengah sibuk menatap setiap hidangan diatas meja makan sana.
"Bapak masak?"
Alvaro melirik kearah Sisil sekilas.
"Heummm!"
"Oh, bapak belanja yah?"
"Heummm!"
Sisil diam, berdiri tidak jauh dari kursi meja makan dengan mata yang terus memperhatikan suaminya.
Aduh, nggak enak hati nih gue. Udah pulang telat, nggak ikut belanja, nggak masak ... tapi kalo nggak makan laper.
"Duduklah, makan sambil berdiri tidak baik." sindir Alvaro, lalu duduk dan segera menyantap makanannya.
Namun prempuan itu masih tetap berdiri di tempat yang sama.
"Apa kau tuli? aku hanya menyuruh mu duduk, tapi sepertinya kau masih tidak mau mendengarkan perkataan ku!" Alvaro berbicara tanpa mengalihkan pandangannya.
"Mmmm ... aku beli sajalah pak, bapak terlalu repot-repot untuk menyiapkan semuanya, lagi pula uang yang bapak berikan tadi pagi masih ada sisa lumayan banyak." ucap Sisil pelan, lalu dia segera beranjak dari sana.
Alvaro meletakan sendoknya begitu saja, dia menghempaskan punggung ke sandaran kursi, lalu memejamkan mata seraya menghembuskan nafasnya kasar.
"Menikahi anak kecil memang rumit, apa-apa harus di bikin masalah!" dia bangkit, berencana untuk segera menyusul istrinya.
Dan benar saja, Sisil sudah berjalan kearah pintu keluar dengan Hoodie milik Alvaro yang ia kenakan.
Alvaro berlari, kemudian meraih prengelangan tangan Sisil.
Tap!
Langkah Sisil terhenti, lalu dia menoleh, menatap tangannya yang sedang di cengkram, dan beralih menatap wajah suaminya.
"Begitu saja marah, makanlah dirumah!" katanya pelan.
Sisil menarik lengannya lalu menggelengkan kepala.
"Yang marah kayanya bukan aku deh, tapi bapak." sergah Sisil lalu kembali berbalik arah seraya membuka pintu.
Namun Alvaro kembali meraih tangan istrinya, sampai prempuan itu kembali berbalik menatapnya.
"Bapak maunya apa sih!?" Sisil kesal.
"Hanya mengajak mu makan!" jawab Alvaro santai.
"Nggak mau, .. nanti saya sakit perut kalo makan tapi yang ngasih makanya nggak ridho!" jelas Sisil.
"Tidak, ayoklah. Saya kelaparan, menunggu mu dari jam tujuh malam tadi."
"Makanlah, kenapa pulak ngejar saya sampe sini! aku nggak tau kenapa bapak jad kaya gini ... kayanya apa yang aku lakuin hari ini bikin bapak kesel mulu!"
Sisil meluapkan isi hatinya, sampai membuat Alvaro bungkam.
"Yasudah, maafkan aku. Kalau sikap ku hari ini membuat mu bingung, atau mungkin sedikit kesal juga!" katanya, dia maju beberapa langkah lalu menutup pintu apartemennya, dan segera menarik tangan Sisil kembali ke arah dapur.
Prempuan itu tersenyum, dengan pandangan yang terus tertuju kepada tangannya yang terus Alvaro genggam.
"Kapan-kapan kalo bapak mau saya melakukan sesuatu bilang saja. Harus pergi berbelanja atau mau di masakin apa gitu misalnya, masa tiap hari mau dingin-dinginan, eh sekarang malah makin parah kaya gini."
Sisil menarik kursi meja makan, lalu duduk tepat dihadapan suaminya.
Melakukan kewajiba boleh tidak?
Alvaro mengangguk, kemudian mereka makan bersama dengan suasana hening dan pikirannya masing-masing.
...•••••...
David berjalan masuk kedalam kamarnya, lampu ruangan itu masih menyala, namun keadaan didalam sana sudah sangat sunyi. David menatap dua prempuan yang sudah bergulung selimut di atas tempat tidur, lalu berjalan kesana setelah meletakan tas kerja dan jasnya terlebih dulu.
"Ann, apa kau sakit sayang? kata ibu hari ini kau hanya berdiam diri di kamar dan tertidur?" pria itu berjongkok tepat di hadapan Anna yang sedang berbaring.
Anna membuka matanya perlahan, saat ia merasakan kepalanya di usap dengan lembut.
Dia tersenyum saat melihat David berada dihadapannya dengan stelan kerja yang masih pria itu kenakan.
"Selarut ini baru pulang?" Anna bergumam pelan, namun David masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Pria itu tersenyum, mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Anna singkat.
"Aku harus menyelesaikan beberapa desain, Alvaro pulang lebih cepat. Jadi aku melakukannya sendiri!"
"Emmm ... kamu bau roko!" Anna menjengit, sampai kulit keningnya berkerut.
David tertegung saat melihat ekspresi wajah Anna.
"Hanya dua batang, tadi aku merasa bosan." David terkekeh.
"Yasudah sana mandi, ... kamu bau!" cicit Anna.
"Tumben sekali kamu bilang begitu? biasanya aku pulang kerja, belum mandi juga main peluk aja! kamu kenapa sih?"
"Kamu bau!" Anna menjerit, dia bangkit saat David merangsek lebih mendekat.
David tertawa kencang, saat melihat Anna terus berusaha menjauh dengan dua jari yang menjepit hidungnya.
"Stop mas ... aku nggak kuat!" mata Anna berkaca-kaca dan sedikit terlihat memerah.
"Jangan berisik, nanti putri kita bangun!" tukas David kepada istrinya.
"Iya, maka dari itu pergilah bersihkan dirimu. Bau nafas mu sungguh membuat ku ingin muntah!"
David mengira Anna sedang mengerjai nya, sampai dia terus berjalan mendekat dengan satu sudut bibir yang terangkat, dia tersenyum tipis.
Tangan David terulur, meraih pinggang Anna dan memeluknya erat.
"Kau marah? karena aku pulang malam, heumm?" David berbisik.
Duk!
Anna mendorong tubuh pra itu kencang, lalu berlari kearah kamar mandi.
"Ann kamu tidak sedang bercanda?" David panik, dan segera menyusul istrinya.
"Uwek .. uhuk .. uhuk!" Anna membungkuk di depan washtafel dengan kran air yang menyala.
"Kamu kenapa sayang? tapi pagi masih baik-baik saja! apa perkataan ibu benar, kalau kamu sakit?" David memijat tengkuk Anna perlahan.
Anna kembali menegakan tubuhnya, lalu meraih tissue dan mengusap wajahnya yang basah.
"Mas mandi gih, gosok gigi pake odol yang banyak, kalo perlu ulangi sampai tiga kali, haduh baunya sungguh tidak enak .. oh ya jangan lupa kumur-kumur!" Anna memperingati, kemudian kembali berjalan masuk kedalam kamar.
David mematung, dia memandang Anna dengan tatapan aneh.
Perlahan David mendekatkan telapak tangan kearah wajahnya.
"Hah .. hah .. hah. Perasaan biasan aja, ini yang aneh kamu apa hidung aku yah!" keningnya menjengit, mencari bau yang Anna maksud.
"Kamu ngelindur ... orang bau rokoknya juga mint!" ucap David lagi, dia merasa tidak terima.
...••••••...
Jangan lupa like, komen, hadiahnya dong.
Klik favorite juga yah, biar othor makin semangat updatenya.
~Sayang kalian~