
Kehadiran seseorang itu kadang direncanakan, kadang tidak. Namun kehadiran Haleth dalam hidupnya, adalah sebuah rencana Tuhan paling mengesankan baginya. Begitulah pikir pria lajang berumur 29 tahun berkebangsaan Jepang itu.
Niel Hideki, dia itu Dokter muda dengan paras yang kental akan penduduk Negeri Sakura. Jika ditanya tampan atau tidak, pria itu tampan. Mapan, berwibawa, murah senyum, dan lagi masih lajang. Tak sedikit wanita yang mendamba sosok Niel. Terlebih di usianya yang hampir menginjak kepala tiga, pria itu masih belum juga mendapat tambatan hati.
Sejauh ini hanya seperti itu, karena seseorang yang berhasil memikat hati Niel belum juga tunjukkan reaksi akan menerima perasaannya.
"Selamat pagi, Haleth," Niel beri senyuman terhangat nya pada wanita yang baru saja muncul dari lobby.
Sang wanita pun membalas, ukir senyum hangat yang bahkan dulu tidak pernah Niel lihat sebelumnya. Dilihat dari reaksi yang baru saja Haleth berikan padanya, dalam hatinya Niel ia berasumsi, pasti ada hal menyenangkan yang baru saja Haleth alami.
"Mood mu terlihat baik." basa-basi Niel ucapkan hal tersebut.
"Memang kemarin-kemarin mood ku jelek?" tanya Haleth lantas terkekeh kecil.
Aneh. Sangat aneh bagi Niel. Kapan terakhir kali ia melihat Haleth yang gampang tersenyum seperti sekarang?
"Ah, mungkin memang aku saja yang kurang memperhatikan. Kau juga tampak cerah sekali," ujar Niel seraya usap tengkuknya.
"Duh, ada-ada saja. Aku, mau masuk ke ruangan ku kalau kau tidak keberatan,"
"Oh, tidak apa-apa. Aku juga harus menemui pasienku segera. Selamat bekerja."
Niel terima anggukkan kepala Haleth sebelum wanita itu masuk. Sekujur wajahnya menghangat seketika. Jantungnya pun bahkan berdebar-debar kala melihat sosok Haleth dengan senyum seindah itu.
Ya Tuhan, ingin sekali Niel berhasil rengkuh Haleth dalam genggamannya. Jika masih bertanya-tanya siapa wanita yang berhasil memikat hati dokter muda tersebut, benar, Haleth orangnya.
Wanita anggun, dan pintar itu sudah menjerat hati Niel dari beberapa tahun yang lalu. Niel pikir dulu Haleth masih lajang, ternyata sudah mempunyai 1 anak. Namun meski begitu, Niel tidak menyerah, justru semakin gencar berikan afeksi pada Haleth begitu Niel tau Haleth sudah bercerai dengan mantan suaminya.
Hanya saja, Niel hingga saat ini belum berani mengungkapkan perasaannya pada ibu tunggal itu. Penyebabnya sebelumnya hanya 1. Yakni respon Haleth terhadap pria-pria. Namun begitu tau mantan suami sang pujaan hati kembali, entah mengapa bagi Niel itu merupakan sumber masalah yang pastinya akan menghambat keseriusannya pada Haleth. Apalagi saat Niel melihat langsung bagaimana kedekatan kedua orang yang dulu pernah membuat cerita itu mulai terjalin kembali. Rasanya, tidak rela dan ingin menyingkirkan orang yang Niel anggap sebagai parasit dalam hubungannya dengan Haleth yang sama sekali belum dimulai.
...***...
NIEL POV
Dulu, kedua orang tuaku pasti tak akan lupa berpesan padaku. Apapun yang kamu inginkan, pastikan kamu mendapatkannya. Apapun itu rintangannya, terjang. Karena semuanya itu butuh namanya sebuah pengorbanan. Begitu katanya. Setiap saat, bahkan sampai di usiaku sekarang aku masih mengingatnya.
Maka aku sendiri pun sudah tak heran dengan diriku yang ambisius. Bahkan di dalam hal percintaan sekalipun.
Aku selalu mengajak Haleth dan Tasha, anaknya untuk makan malam bersama saat lenggang. Mengajak jalan-jalan, kemanapun itu. Dengan begitu aku bisa mendekatkan diri dengan Tasha juga, mengakrabkan diri dan bersikap seperti aku adalah calon ayah yang mengagumkan. Namun nyatanya itu semua seperti sia-sia saja. Haleth, selalu menolak.
Sedikitpun tak ada rasa ingin menyerah meski aku tau bagaimana sosok Haleth terhadap pria. Justru aku merasa tertantang untuk terus berjuang. Demi wanita yang aku idamkan, aku tidak akan mundur. Merasa percaya diri aku akan menang, karena disaat pria-pria lain merasa lelah dengan sikap acuh tak acuh Haleth, maka hanya aku satu-satunya yang bertahan dan berhasil luluhkan hatinya.
Ekspektasi yang bagus bukan? Terlihat begitu lurus dan aku pikir semuanya berjalan tanpa gangguan. Namun ternyata gangguan itu datang, saat aku hendak mencapai puncak kemenangan.
"Haleth, mau kemana?" itu yang aku tanyakan pada Haleth saat dia baru saja keluar dari ruangan.
Tidak sendiri, Haleth keluar bersama pria yang kini statusnya sebagai mantan suami, Ayah biologis Tasha sekaligus ancaman bagiku. Sumber masalah, seperti yang aku katakan sebelumnya.
"Hi! Aku, Tasha mengajakku untuk makan siang. Jadi, Adam menjemput ku." jawabnya.
Aku melirik sekilas ke arah Adam yang tampak sunggingkan senyum angkuh. Kurang ajar. Aku sama sekali tidak menyukai pria ini. Tapi mengingat kini tengah ada Haleth, maka aku memilih untuk tak berikan atensi pada sosok tersebut. Melihat Adam tersenyum seperti itu saja sudah membuatku kesal setengah mati. Seolah-olah menertawai ku, yang tak kunjung dapatkan atensi dari Haleth.
"Besok, mau makan siang bersamaku?" aku berharap untuk kali ini Haleth akan menerima tawaranku.
Namun saat aku lihat Haleth dan Adam saling berpandangan, entah mengapa rasanya aku tidak yakin ini akan berhasil.
"Hm, mungkin lain kali ya? Aku, kau tau kan, Tasha ingin terus bersama Daddy nya jika Adam pulang. Maaf?"
Benar kan. Kehadiran Adam memang menjadi pembawa sial. Penghambat hubunganku dengan Haleth. Bukankah lebih baik mantan suami Haleth itu enyah dan biarkan Haleth menjalani kehidupannya dengan tenang?
Meskipun begitu aku hanya beri anggukkan maklum, beri senyum seolah itu bukan hal yang buruk. Ya, aku sembunyikan rasa jengkel bukan main dengan baik, kan?
"Kalau begitu, aku dan Adam pergi dulu."
"Ah, okay. Hati-hati,"
Sekali lagi aku sunggingkan senyum pada Haleth, sebelum keduanya melewati ku begitu saja. Namun sebelum itu, Adam beri tatapan angkuh padaku, lantas berbisik, "Keep trying, Man."
Kesal bukan main. Makin panas hati saat pinggang Haleth direngkuh posesif oleh pria itu. Hanya bisa pandangi kepergian pujaan hatiku dengan mantan suaminya dengan rasa iri.
Bukankah seharusnya aku yang ada di posisi itu? Menemani Haleth dan Tasha makan siang, makan malam, atau bahkan jalan-jalan. Bukankah seharusnya aku?
Aku dengar-dengar hubungan Haleth dengan Adam berakhir karena alasan yang buruk. Mendengar itu saja aku sudah yakin, Haleth tidak akan sudi menerima pria brengsek seperti Adam lagi. Tapi, melihat mereka berdua sedekat tadi, aku benar-benar merasa harapanku perlahan-lahan mulai terkikis. Sebenarnya, mereka itu sedang mencoba memperbaiki hubungan mereka yang sempat hancur, atau hanya formalitas di depan anak mereka agar terlihat baik-baik saja?