My Ex Husband

My Ex Husband
Seblak level 30.



...•••••...


Klek!


Pintu rumah terbuka, kemudian munculah sosok gadis kecil yang terlihat riang. Dia berteriak, lalu berlari ke arah Anna yang sedang menata makan malam di meja makan.


"Maama?" katanya lalu memeluk tubuh Anna sangat kencang, sampai berbunyi 'Bug'.


"Asik sekali kalian ini! sampai lupa jam pulang yah! Lihat ... ini sudah jam tujuh lebih lho!" Anna sedikit mengomel.


"Aqis yang nggak mau di ajak pulang Bu, dia asik main time zone, tiketnya sampe habis seratus ribu!" Sisil mengadu, gadis itu berjalan kearah pintu kamarnya.


"Oh ya?" Anna memincingkan mata kepada putrinya.


"Hanya telat beberapa jam Mama .. jangan bawel." sergah Balqis dengan senyum tak tahu malu.


"Yaudah sana bersih-bersih, mandi sendiri! biar teh Sisil juga mandi yah?" Anna mengusap kepala Balqis.


"Mana notanya? beli skincare apa saja?" kata Anna kepada Sisil yang beridiri di ambang pintu kamar yang ia tempati.


Sisil mengangguk, gadis itu masuk kedalam kamarnya, lalu kembali dengan sebuah kertas yang ia berikan kepada Anna.


"Tujuh ratus! beli apa saja Sil?" Anna cukup terkejut.


"Beli ini .." Sisil kembali masuk kedalam kamarnya, lalu memberikan satu kantong plastik berwarna hijau kepada Anna.


Anna mengeluarkan belanjaan Sisil, dan hanya ada dua kotak berukuran sedang saja.


Satu paket body care dan satu paket skincare!


Lalu pandangannya kembali tertuju kepada Sisil.


"Kamu lagi jatuh cinta sama siapa sih? cerita dong .. kok sampe segininya mau glow up!?" Anna memincingkan mata, dengan senyum penuh ejekan.


Seketika wajah Sisil memerah, bahkan bagian pipi lebih mencolok seperti baru saja kena tamparan keras.


"Adalah bu! nggak usah saya kasih tau .. soal nya saya sedang mencintai dalam diam." Sisil tersipu, namun hatinya terasa nyeri.


"Yasudah ... sana mandi! uang kamu biar Papanya Balqis yang ganti." Anna tersenyum, lalu memberika kantung plastik itu.


Sisil mengangguk, meraih kantung itu kemudian segera masuk kedalam kamar.


Sambil menunggu Balqis selesai mandi, Anna duduk disana terlebih dulu, sampai suara seseorang menuruni tangga pun terdengar.


"Sudah selesai?" Anna bertanya.


Pria itu mengangguk, kemudian duduk di samping Anna.


"Cukup nggak? soalnya lemari pakaian yang kosong tinggal yang bawah."


"Cukup sayang, baju kerjanya aku gantung. Yang di lipat baju biasa saja." ujar David kepada istrinya.


"Nanti tolong gantiin uang Sisil yah? tujuh ratus ribu!" Anna tersenyum.


"Mereka sudah pulang?" David balik bertanya.


Anna mengangguk. "Lagi mandi," kata Anna kepada suaminya.


Tidak lama setelah itu Balqis keluar, dengan dress rumahan bermotif kartun Disney.


"Paapa!" gadis itu memanggil.


David yang sedang fokus berbalas pesan dengan Alvaro pun seketika meletakan ponselnya, lalu menoleh kearah Balqis.


"Hey ... anak Papa sudah pulang? kenapa sore sekali, apa yang kalian lakukan tanpa Mama dan Papa?" kata David.


Balqis terus tersenyum, balita itu naik keatas pangkuan David.


"Aku main Boneka, tapi nggak dapet terus!" katanya.


"Kenapa tidak beli saja? itu lebih mudah." David menatap wajah Balqis dari jarak yang sangat dekat.


"Itu beda Paapa!" Balqis mendelik.


"Sudahlah, kita makan dulu. Duduk yang benar, jangan di situ .. Papanya juga mau makan."


Anna bangkit, lalu berjalan kearah pintu kamar Sisil yang tidak terlalu jauh dari sana.


Tok .. tok ..


"Sil? ayok makan!" panggil Anna.


Klek!


"Sisil nanti saja Bu, kalau sudah beres berkemas." Sisil tersenyum canggung.


"Beneran?"


Sisil mengangguk.


"Barengan sama ibu dan mbak Ratmi saja. Mereka nginep disini kan."


"Yasudah, nanti habis makan tolong bantu saya siapin semua yah?"


Sisil kembali mengangguk, kemudian menutup pintu kamarnya setelah Anna kembali kemeja makan.


Anna membawa piring, mengisi dengan beberapa sendok nasi merah.


"Ini buat Papa!" Anna meletakan piring itu di hadapan David.


Kemudia Anna kembali membawa piring plastik kecil berbentuk bunga, dan segera mengisinya dengan nasi dan memberinya potongan chicken steak pesanan Balqis tadi siang.


"Papa lauknya ambil sendiri yah .. handphone nya boleh di simpan dulu!?" Anna menatap David.


Pria itu tersentak, kemudian mematikan ponselnya dan meletakan begitu saja.


"Terimakasih Mama!" ucap David.


"Iya Mama .. terimakasih sudah masak malam ini." timpal putri kecilnya.


Anna hanya tersenyum, lalu duduk.


"Selamat makan." kata Anna kepada dua orang yang duduk bersebelahan di hadapan Anna.


Setelah sekian lama, akhirnya rumah ini terasa hangat. Oh .. aku bahagia tuhan! terimakasih sudah mengembalikan cintaku, untuk yang sekarang. Kumohon! jagalah rumah tangga kami.


Batin Anna berbicara.


"Mama nggak makan?" Balqis bertanya.


Anna tersadar dari lamunannya.


"Oh iya .. Mama sampe lupa mau ambil sup." Anna tertawa, namun wajahnya memarah karena gugup.


Aku ini kenapa?


Umpat Anna sambil terus berjalan kearah dapur, dan membawa sup daging kedalam mangkuk kecil.


"Supnya enak seperti biasa." ucap David saat Anna kembali duduk di kursi meja makan.


"Hanya sup daging Mas, rasanya pasti seperti itu!" sahut Anna.


Pria itu kembali menyantap makan malamnya, kemudian menggelengkan kepala, tidak setuju dengan pendapat istrinya.


"Masakan mu agak berbeda, dan aku sangat menyukainya .. tidak hanya soal masakan, tapi yang lain juga."


Uhuk .. uhuk ..


"Sayang pelan-pelan!" David langsung memberika tissue.


Pelan-pelan katanya?


Anna berbicara dalam hati, lalu menyusut sudut bibirnya dengan tissue.


...•••••...


"Haabis!" Balqis menggeser piring yang sudah tampak kosong.


"Hebat." Anna bangkit lalu mengacungka jempolnya.


"Terimakasih Mama Ann. Chicken steak nya enak banget!" kata Balqis, kemudian meneguk segelas air putih hangat yang sudah Anna siapkan.


Anna mulai merapikan meja makannya, setelah melihat David juga selesai.


"Jangan semuanya kamu yang lakukan! pungsinya Sisil disini untuk apa? aku membayarnya cukup malah Anna!" David menatap Anna.


"Hanya membersihkan meja makannya saja, sisanya Sisil yang kerjakan." sergah Anna.


"Tidak ada! pekerjaan rumah harus Sisil yang pegang, toh sekarang Balqis udah gede, bisa main sendiri, kadang juga nemepelin kamu." kata David lagi, pria itu sedikit mengomel karena Anna tidak mau mendengarkan perkataannya.


Balqis turun dari kursinya, kemudian meraih tangan David.


"Temenin aku bobo ya Pah? Mama mau beres-beres .. soalnya besok berangkat pagi!" Balqis menarik David.


"Baiklah, ayok Papa temani." David bangkit, memutari meja.


Cup!


David mencium pipi Anna ketika mereka berpapasan.


"Saya Mama Anna .. terimakasih Sup dagingnya enak." David berseru, kemudian naik ke lantai atas bersama putrinya.


Selesai merapikan meja makanya, Anna langsung mengetuk kamar Sisil, agar gadis itu bisa membantu Anna berkemas.


Dengan sangat telaten Sisil menyiapkan semua keperluan Balqis, sementara Anna memasukannya kedalam koper kecil berwarna pink.


"Sudah? apa ada lagi?" Anna bertanya.


Sisil mengangguk.


"Baiklah, kalau selesai kamu boleh berbenah punya kamu." kata Anna.


Mereka berduapun keluar dari kamar Balqis.


Klek!


Bu Ningsih dan Ratmi masuk, dengan tas gendong yang dibawa masing-masing.


"Cie .. mau pada kemana?" ledek Anna pada keduanya yang kini berjalan masuk.


"Ibu mau kepuncak .. lihat hamparan kebun Teh yang warnanya nyeeees dimata sama hati!" Bu Ningsih tertawa.


"Yasudah, kalo kamar Sisil nggak cukup. Kalian isi saja kamar Balqis, itu kosong!" jelas Anna.


Bu Ningsih mengangguk.


"Terimakasih, terus saya juga mau bilang selamat. Tadi Sisil bilang kalo Neng Anna sudah nikah lagi sama Papanya Non Aqis yah?"


Seketika mata Anna melirik Sisil.


"Kamu bocor Sil!" cicit Anna.


"Cuma sama ibu, nggak ke yang lain." Sisil membela diri.


"Saya malah baru tau, kalau begitu selamat ya Bu Anna. Semoga Non Aqis cepet dapet adek." kata Ratmi.


"Terimakasih .. kalau begitu saya naik dulu, takutnya Balqis belum tidur." pamit Anna.


Ketiga prempuan itu mengangguk, kemudian berjalan kearah dapur.


Anna berjalan pelan, berharap anak dan ayah itu sudah terlelap. Jujur saja, malam sekarang lebih gugup dari pada malam pertamanya dulu.


K-klek! ( slow motion )


Anna menekan handle pintunya pelan, bahkan sangat pelan, agar tidak menimbulkan suara.


Suasana kamar sudah terlihat gelap, menandakan Balqis sudah tertidur, karena kalau belum, tidak mungkin gadis kecil itu mau diam didalam ruangan gelap, meski ada David atau Anna bersamanya.


Anna masuk, menutup pintu kamarnya perlahan.


"Sudah selesai?" tiba-tiba saja suara David terdengar, sampai membuat Anna terkejut bukan main.


"Mas belum tidur?" Anna melihat sosok pria bertubuh tinggi itu duduk di sofa.


"Kenapa tidak menyalakan lampu tidur? ini gelap, kamu kelihatan karena ada cahaya dari balik gorden di belakang mu, mas!" ucap Anna.


Trek!


Anna menyalakan lampu tidur.


"Mau kemana lagi?" David bertanya, namun posisinya tetap duduk di sofa dekat jendela.


"Mau cuci muka, sama ganti baju." kata Anna lalu masuk kedalam kamar mandi.


Suara kran terbuka sudah jelas terdengar, David bangkit, menuju pintu kamar lalu menguncinya.


Trek!


David juga mematikan kembali lampu tidur yang sudah Anna nyalakan, dan kembali duduk di sofa berukuran sedang kamar Anna.


Akhirnya, setelah sepuluh menit David menunggu, Anna keluar dengan drees tidur panjangnya, sampai menutupi lengan dan juga menjuntai hingga mata kaki.


Ini gelap, aku hanya bisa melihatnya samar. Tapi sungguh, dia terlihat sangat cantik. Bahkan saat akan tidur.


"Mas masih belum tidur? besok kita berangkat pagi. Eh .. mas belum tentu ikut yah!"


"Kemarilah!" David merentangkan tanganya kepada Anna.


Tanpa curiga Anna mendekat, meraih tangan David. Pria itu menarik tangannya, sampai Anna terus berjalan mendekat, kemudian duduk mengangkang di pangkuan David setelah pria itu menarik pinggangnya.


"Aku ikut, mana tega aku mengabaikan keinginan Balqis. Putriku .. putri sulung kita!" David memandang wajah cantik Anna, mengukirnya dengan seksama, lalu mengaitkan beberapa anak rambut yang terurai kebelakang telinga.


Anna membisu, dia diam dengan mata yang juga terus beradu dengan David.


"I love you!" kata David.


Anna mengangguk.


"Hemm .. i love me too!"


David tidak memperdulikan ucapan Anna, ia tau Anna berusaha mengalihkan nya.


Cup!


David mencium singkat Bibir Anna.


Mereka diam, dengan nafas yang sudah terdengar menderu-deru.


Anna yang masih berada diatas pangkuan David, kepalanya sedikit membungkuk, kemudian menyatukan bibir mereka.


David terkejut, pria itu tidak menyangka Anna akan memulainya terlebih dulu.


Melihat Anna sudah meresponnya dengan sangat baik. David langsung membalas ciuman Anna dengan menggebu-gebu.


Keduanya terlihat sudah terhalang kabut gairah, sampai decapan bibir keduanya memenuhi kamar Anna.


Tangan David mengusap punggung Anna, berusaha mencari pengait br*, namun ia tidak menemukannya.


Cumbuan itu terjeda, dengan kedua kening yang menempel satu sama lain.


"Kamu tidak memakainya?" suara David terdengar berat.


Anna mengangguk, lalu menuntun tangan David dan meletakkannya disana.


"Ahh .. kenapa kau lebih nakal sekarang!?" David berusaha mengendalikan hasratnya, dia tidak mau terburu-buru.


"Aku tau Mas ingin bermain dulu! tapi kita berpacu dengan waktu, aku takut kita kesiangan, atau Balqis akan terbangun .. dan itu akan membuat mu pusing." Anna berbisik, dengan suara menggoda.


Prempuan itu bangkit, menarik drees panjangnya, hingga kini ia terlihat polos tanpa apapun.


David tertegung, cahaya temaram justru membuat Anna semakin terlihat menggoda.


David berdiri, pria itu menarik kaos yang dikenakannya.


"Kemarilah, kita berpacu dengan waktu bukan?" David meraup tubuh Anna, lalu meletakkannya di atas sofa.


"Bisakah kamu sedikit menahan suara mu?" ia bertanya sambil membuka seluruh kain yang ia pakai, sampai kini mereka sama-sama polos tanpa busana.


"Aku tidak janji, kamu selalu lepas kendali. Sampai mas selalu membuat ku berteriak." Anna kembali berbisik.


(Dih mereka bisik-bisikan)😌


David menyeringa, lalu meraih bibir Anna. Menyesa*nya perlahan, lalu turun ke leher dengan tangan yang juga terus bermain di area kembar favorite nya.


Suara erotis itu mulai terdengar, kini David benar-benar tidak bisa menahan diri.


Cup!


David mencium bibir Anna, lalu mengarahkan senjatanya kearah gerbang surga dunia.


Anna bangkit, menjadikan dua tangannya untuk tumpuan dengan pandangan yang ia tujukan kearah sana.


"Nggghh ..." kepala Anna mendongak, dengan mata yang juga terpejam saat David mulai mendorong pinggulnya perlahan.


Tatapan David terus tertuju kepada wajah Anna.


Dia semakin seksi!


"Maass .. ah


"Shuuttt .. jangan berisik!" pria itu berbisik sambil terus berpacu di atas tubuh Anna.


Sekuat mungking Anna menahan diri, meng-gigit bibirnya kuat agar suaranya tetap terkendali meski susah.


Anna meremat rambut David, hingga erangan pelan pria itu terdengar.


De*ahan Anna terus tertahan, tangannya terus bergerak mencari sesuatu untuk ia berpegangan saat David terus berpacu semakin kencang dan tidak terkendali.


"Mas ... aku .. oh..


"Aku selesai Anna!" David menggeram, lalu membungkam bibir Anna saat prempuan itu juga berteriak.


Keduanya diam, nafasnya memburu dengan peluh yang membasahi sekujur tubuh.


"Apa orang dibawah akan mendengar suara aku mas?" Anna berbisik.


"Entahlah, semoga mereka tuli malam ini!" David terkekeh.


Cup!


"Terimakasih, permainan berpacu dengan waktu yang sangat indah." ucap David, kemudian menghujani wajah Anna dengan kecupan.


Setelah selesai melepaskan tautan tubuh keduanya, David langsung menghambur kedalam kamar mandi, sementara Anna. Prempuan itu tampak terlelap, dengan tubuh yang David tutupi selimut sebelum ia masuk kedalam kamar mandi tadi


...•••••...


Wahai readers! kalian menyiksaku🤧🤧


Jangan lupa! di like, di komen. Kasih hadiah gitu, ini ngetik sambil hahoh hahoh, kaya abis maraton.


2ribu kata lho😳


Yasudah, othor nggak punya hutang lagi! mau bobok dulu lah💃💨💨💨💨💨


Likenya inget jangan lupa .. like .. like woi like😌


"Aku pusing .. aku kleyengan .. kalian senang?"