My Ex Husband

My Ex Husband
(Kamu hebat)



...•••••...


Jam berganti hari, hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan.


Kini usia kandungan Sisil sudah memasuki bulan ke delapan. Dimana tubuh prempuan itu mengalami banyak perubahan, berat badan yang naik drasti, kaki yang terlihat membengkak, juga bulatan perut yang semakin membesar, namun aura cantik Sisil justru semakin terpancar.


Dering notifikasi ponsel berbunyi nyaring, hingga membuat Sisil yang tengah duduk bersandar di atas tempat tidur terkesiap.


Dengan cepat Sisil meraih benda itu, menggeser tombol hijau, dan segera mendekatkan kearah telinga.


"Sayang, sepertinya hari ini Abang pulang telat."


"Kenapa? katanya kita mau makan di luar!" nada bicaranya terdengar kecewa.


"Pak David pulang, Abang harus menyelesaikan beberapa desain. Mamanya Balqis sudah berada di ruang operasi." jelas Al, sontak membuat Sisil menegakan duduknya.


"Bu Anna mau melahirkan?" Sisil berteriak.


"Hey, tidak boleh panik!"


"Aku nggak panik, hanya terkejut. Terus Balqis bagaimana? sama siapa dia sekarang?" Sisil mencecar suaminya dengan banyak pertanyaan.


"Dia, ... aku belum dapat kabar, semua panik sayang, Pak David saja langsung pergi tanpa berpesan sepetah katapun, ketika Bu Rosa mengabari bahwa Bu Anna sudah berada di ruang operasi, karena ketubannya sudah pecah terlebih dulu."


Sisil bangkit dari tempat tidurnya, dan berjalan kearah lemari pakaian.


"Aku mau lihat Balqis ya Bang, kasian kalo semua sibuk sama Bu Anna, dan Balqis sendiri, sementara dia juga pasti khawatir dan takut."


Al diam, tidak ada jawaban dari sebrang sana.


"Abang!?" panggil Sisil kembali.


"Dirumah saja! aku khawatir jika kamu harus bepergian cukup jauh!"


"Aku tidak apa-apa, Abang aja yang suka berlebihan."


"Bukan berlebihan, Abang hanya takut terjadi sesuatu kepada kamu dan Junior."


Mendengar kekhawatiran suaminya Sisil tersenyum, tidak menyangka bahkan ada pria yangencintainya sedalam ini.


"Jadi aku harus bagaimana?" Sisil bertanya.


"Nanti Abang yang tanya ke rumah sana, kalau Balqis di rumah, biar di antar Pak Yasir saja, kalau nggak aku yang kesana, masalah kerja bisa Abang kerjakan malam."


"Serius, aku tidak boleh pergi?"


"Nope! kalian tetap di rumah. Aku takut sesuatu terjadi kepada Junior dan juga kamu."


"Baiklah Papa, jangan terlalu banyak pikiran. Bisa aja ngomong sama orang jangan panik, padahal sendirinya panik juga!" kata Sisil lagi kepada suaminya.


Pria yang berada jauh disana pun hanya tersenyum. Entah kenapa dirinya bisa berubah seperti sekarang ini, mempunyai banyak kekhawatiran untuk seorang prempuan yang masuk kedalam hidupnya karena sebuah insiden.


"Tunggu yah, Papa pulang sekarang."


"Iya Papa."


Lalu sambungan telfon itu terputus.


"Astaga manisnya!" ucap Alvaro gemas.


...••••••...


Sebuah mobil melesat dengan kecepatan penuh, melewati beberapa kendaraan di depannya tanpa merasa takut sama sekali, bahkan ketika sebuah kendaraan besar melaju dengan cepat dari arah berlawanan, hingga kelakson kencang terus terdengar, namun David berhasil melewatinya.


Sungguh, pria itu terlihat sangat panik, hingga wajahnya memerah karena rasa gelisah yang terus menguasai dirinya.


"Bertahanlah sayang!" ujar David pelan.


"Astaga kenapa ini terjadi, padahal perkiraan lahir masih dua Minggu lagi!" ucapnya kembali.


Sekitar empat puluh lima menit berkendara, akhirnya David sampai di rumah sakit tempat Anna dan orang tuanya berada.


Dia berlari menyusuri lorong, menerobos beberapa kerumunan untuk segera sampai di ruang operasi.


Langkahnya terhenti, jantungnya seakan meledak saat melihat Balqis yang terus menangis di pangkuan Rosa.


David mengambil udara sebanyak mungkin, kemudian menghembuskan ya perlahan.


"Hey, kenapa menangis sayang?" David berusaha tenang, bahkan dia tersenyum agar Balqis tidak merasa lebih panik dari dirinya.


"Papah, Mama kenapa? perutnya sakit, terus pipisnya nggak berhenti." dia bingung, turun dari pangkuan Rosa dan berjalan kearah sang ayah yang berjongkok sambil merentangkan kedua tangan.


Sementara David menatap Rosa, berusaha mencari jawaban atas apa yang baru saja terjadi.


"Anna harus segera di tindak, air ketubannya sudah kering, dan itu akan membahayakan bayi yang ada di perut Anna." ucap Rosa pelan.


"Ayah kenapa kesini? kenapa tidak istirahat saja untuk kesehatan ayah!" David beralih kepada Daniel yang tengah duduk di kursi tunggu, sembari menundukan kepala.


Pria tua itu tampak terus berdoa.


"Tidak apa, ayah hanya ingin menyambut kedatangan cucu ayah."


David mengangguk.


Tiba-tiba saja pintu ruang operasi terbuka, dan munculah seorang prempuan dengan pakaian serba hijau.


"Bu Anna menginginkan suaminya, apa beliau sudah tiba?"


"Saya Sus!" David bersuara.


"Baiklah, mari ikut saya terlebih dulu."


"Tunggu sama Kakek, Nenek oke? Papa mau lihat Mama dulu."


Balqis mengangguk, kemudian dia kembali berjalan kearah Daniel, dan duduk di sampingnya.


"It's okey, Mama dan Adik akan baik-baik saja!" Daniel meraup tubuh kecil itu, kemudian memeluknya.


"Tapi Mama tadi teriak, katanya sakit sambil nangis pas kita di taman belakang."


"Tidak apa-apa, Mama berteriak hanya ingin memanggil kami, jadi sudah ya? bantu Kakek dan Nenek berdoa."


Balqis pun mengangguk, seraya mengusap pipinya yang basah.


Setelah melapisi pakaiannya dengan pakaian steril, kini David berjalan masuk bersama seorang perawat yang memanggilnya tadi.


Seluruh tulangnya terasa lemas, saat melihat Anna terkapar tidak berdaya di atas berangkar dengan sebuah kain membentang dan beberapa orang yang juga berdiri di sana, dengan lampu besar menyorot kearah tubuh bagian bawah Anna.


David duduk tepat di atas kepala Anna, prempuan di mendongak, dia tampak tersenyum lemas dengan sebuah selang oksigen yang sudah terpasang di hidungnya.


"Papa!" Anna berbisik.


David mencium kening Anna, dan tanpa ia sadari sebuah air mata jatuh membasahi kening prempuan yang kini sedang berjuang untuk kehidupan dia dan anaknya.


"So sorry, aku hampir tidak bisa bersama di masa tersulit mu." David kembali berbisik.


Satu tangan Anna bergara, dia mengusap wajah yang kini sangat dekat dengan dirinya.


"Semua akan baik-baik saja! doakan aku mas, doakan anak kita."


Anna terus tersenyum, namun berbeda dengan David yang terus menitikan air matanya.


"Bagaimana dulu kamu tanpa aku? apa kamu setegar ini juga?" suara David lirih.


Anna tidak menjawab, tubuhnya yang melemah membuat ia tidak memiliki banyak tenaga.


"Kalian kuat, kalian hebat. Papa yakin kita bisa melalui ini bersama-sama!"


Cup!


Cup!


David menghujani Anna dengan banyak kecupan di kening.


"Dok, apa semuanya akan baik-baik saja?" David menatap seorang pria yang berdiri di samping tubuh Anna, dia tampak fokus dengan apa yang ada di hadapannya.


Seketika pria itu menoleh, dia tersenyum kepada David.


"Semuanya baik-baik saja, tapi kami juga butuh doa dari anda, agar semuanya bisa berjalan dengan lancar."


...••••••...


Cukup komen dan like, itu sudah membuat othor bahagia ...


Maaf telat update, author pusing terus nih nggak tau kenapa. Kebanyakan mikir kosa kata kali yah, kepala othor sampe terasa berat begini.


~Papayo, cuyung kalian~


Eh menuju akhir nih ... gimana udah siap cerita hot selanjutnya belum?