
...•••••...
"Maamaaa..."
"Maaa..."
Sayup terdengar seseoran memanggil dirinya. Perlahan Mata Anna mengerjap, kemudian segera bangkit ketika suara ketukan pintu sangat jelas terdengar.
Tok ... tok ...
"Mama? dibawah ada Onti Rika!" suara Balqis kembali memanggilnya.
"Iya sayang ... sebentar!" Anna berteriak.
Anna terus mengerjapkan mata ketika kepalanya terasa sedikit pusing, lalu berjalan kearah pintu kamarnya.
Klek!
Prempuan itu tersenyum ketika melihat Balqis yang sedang berdiri menunggu di ambang pintu.
"Mamaa sakit?" gadis kecil itu memeluk pinggang ibunya, lalu mendongak, menatap wajah Anna yang tampak agak sembab dengan hidung yang sangat merah.
Anna mengusap kepala Balqis penuh kasih sayang.
"Hanya sedikit flu!" Anna berbohong. "Apa Onti sudah lama?" prempuan itu berjongkok, mensejajarkan pandangan keduanya.
"Baru aja, terus Onti bawa Donat." mata Balqis berbinar. "Variannya juga banyak, kata Onti itu buat Aqis semua!" balita itu terus merancau.
"Baiklah, Aqis turun duluan! Mama mau cuci muka dulu!" seru Anna sambil menepuk gemas pantat milik putrinya.
Balqis mengangguk.
"Oke .. Mama!" Balqis berbalik, merapatkan tubuhnya kearah tembok, lalu menuruni setiap anak tangga seraya berpegangan kepada gagang kayu yang tersedia.
"Be careful, cutiepie!" cicit Anna.
"Yes Mama." katanya tanpa menoleh sedikitpun.
Setelah memastikan putrinya menuruni tangga dengan baik, Anna kembali melangkahkan kakinya kedalam kamar, lalu masuk kedalam kamar mandi dan segera membasuh wajahnya.
Dinginnya air menyapu kulit wajah yang terlihat memerah, sesaat Anna menatap wajahnya dari pantulan cermin, lalu ia berdecak.
"Aih ... kenapa pake baper juga sih! sia-sia banget air mata cuma buat dipake nangisin masa lalu doang." Anna bergumam, lalu menutup kran air dan segera beranjak dari sana.
Tap .. tap .. tap ..
Langkah kaki Anna terdengar jelas saat prempuan itu menuruni tangga.
"Emmmh ... aku suka rasa tiramisu Onti! nanti beliin yang banyak lagi yah?" ucap Balqis yang saat ini berada diatas pangkuan Rika.
"Siap .. tapi uangnya minta Mama!" tukas Rika lalu tertawa.
Sementara Anna terus mengulum senyum, kemudian duduk disamping sahabatnya.
Rika menoleh, menatap Anna lekat.
"Kenape?" Rika menjengit sampa kedua alisnya nyaris bertemu.
"Apaan?" Anna ikut menjengit.
"Dih .. itu muka kenape bengep gitu? abis kena pukulan siape?" Rika terus menatap Anna.
"Ish, nggak ada! kenapa diliatin terus dah, ntar gua beper loh!" ujar Anna seraya terkekeh pelan.
Rika diam, namun pandanganya terus menusuk Anna, sampai prempuan itu sedikit gugup.
"Nangis lu yah!" Rika berbisik.
Anna mengendikan kedua bahunya.
"Kagak, gua mau flu ini..
"Ann! lu bisa cerita sama gua!" Rika terus berkata pelan, agar gadis kecil yang berada diatas pangkuannya tidak mendengar.
Anna diam.
"Annaa ish!" Rika mulai jengkel.
"Nanti dulu, ada Balqis." jelas Anna.
Rika menghela nafas, ia ikut meraih donat varian coklet almond lalu memberikannya kepada Anna.
"Btw, mau gua kenalin sama teman gua nggak?"
Anna meng-gigit donat itu, mengunyahnya dengan perlahan, lalu menggelengkan kepala.
"Nggak usah, makasih! mending buat elu daripada dijodohin ke gua, gua nggak mau main cinta-cintaan lagi, males ... sakitnya sampe ke ginjal!" ucap Anna sambil tertawa.
"Ihh .. gau mah udah ada!" Rika tersenyum.
Anna terkejut, namun raut wajahnya tampak bahagia.
"Widiih! siapa tuh?" Anna menyenggol bahu Rika.
"Rahasia." ucap Rika.
"Ah nggak asik, main rahasia-rahasiaan."
Mereka tertawa secara bersamaan, namun tidak dengan Balqis, gadis itu hanya fokus dengan donat tiramisu miliknya.
Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, namun Rika masih terlihat asik berbicara banyakhal dengan sahabat yang sudah ia anggap seperti sodaranya itu.
Keduanya duduk di sofa ruang tengah, sambil menyantap mie instan yang Anna buatkan beberapa menit yang lalu.
"Saya masuk kamar dulu, Bu!" kata Sisil.
Gadis itu terlihat baru saja turun dari kamarnya.
"Adek udah tidur?" prempuan itu menoleh, kearah gadis yang baru saja turun dari lantai 2.
"Sudah." Sisil mengangguk.
"Sini aja makan mie, atau mau donat juga masih ada ini." kata Anna lagi.
"Boleh makan dikamar nggak Bu?" tanya Sisil, dia tersenyum malu-malu.
"Boleh!" seru Anna dengan mulut yang penuh dengan mie. "Ambil gih, kalau mau mie masak aja." Anna menggeser kota yang masih berisi beberapa donat.
"Makasih, Bu! tapi ini aja." Sisil meraih kota itu, lalu membawanya masuk kedalam kamarnya.
"Gimana mantan sugar Daddy lu, Ann!?" Rika kembali memulai pembicaraan.
"Ya gitu, udah hidup bahagia sama istrinya! udah ah .. jangan bahas dia, males!" kata Anna.
"Gimana hubungannya sama Balqis!?"
"Baik, dia udah mau dideketin Papanya, malah dia bahagia banget Rik, gua sebagai ibu ya ikut seneng juga."
Rika mencebikan bibir.
"Dulu kemana dia? sekarang aja tau anaknya cantik, di ikutin sampe kemana juga." sergah Rika dengan raut wajah yang terlihat sedikit kesal.
Anna menghela nafasnya, lalu meletakan mangkuk yang sudah kosong di atas meja, dan segera menyusut kedua sudut bibirnya dengan tissue.
"Dia nggak salah kalo soal Balqis, gua yang nggak ngasih tau kalo gua hamil." Anna menatap sahabatnya.
Rika mengangguk-anggukan kepala.
"Iya sih, tapi se-nggaknya dia nyariin, mastiin elu gitu." kata Rika.
"Nggak usah, gua kagak mau belas kasihan orang, kecuali elu." Anna terkikik pelan.
Tiba-tiba saja Rika tertawa, saat ia mengingat Anna ngidam, dan menginginkan es cendol tengah malam.
"Nah .. kemsambet dah tu!" Anna mendelik.
"Inget nggak sih, kita nyari es cendol tengah malem?" prempuan itu masih tertawa.
"Iya, gua inget itu!" Anna tersenyum. "Maaf ya, tapi waktu itu gua beneran pengen, minta sampe uring-uringan tapi lu tetep sabar." sambung Anna kembali.
"Tapi sayang!" cicit Rika pelan.
"Kenapa?"
"Balqis malah mirip bapaknya daripada gua, Ann."
Duk!
Anna memukul punggung Rika dengan sangat keras.
"Emmm ... gua masih makan mie loh, Ann!" Rika memegangi lehernya.
"Ya gimana nggak mirip, David bapaknya gimana sih!" Anna tertawa.
Rika diam.
"Anna, lu masih wanita normalkan?" tiba-tiba saja Rika bertanya seperti itu.
"Menurut lu!?" Anna berujar dengan mata yang juga ikut mendelik.
"Terus gimana? elu kan orang yang pernah nikah, cara menuhin kebutuhan yang satu itu giamana?" Rika menggeser tubuhnya lebih mendekat.
"Bisikin aja!" Rika menggerakan alisnya naik-turun.
"Mie nya abis belum? pulang gih .. lu udah mulai ngaco!" kata Anna kepada sahabatnya.
"Di usir dong!" sindir Rika.
"Kaya nggak ada pembahasan lain tau nggak?" Anna mencebik.
"Gua cuma nanya Kyara Anna." Rika membela diri.
Lalu obrolan itu terus berlanjut sampai tengah malam, Rika baru benar-benar pulang setelah seorang pria menjemputnya di depan rumah Anna.
"Pulang yah, thanks mienya." Rika berteriak, lalu melambaikan tangan dan segera masuk kedalam mobil berwarna silver yang berhenti tepat di depan gerbang rumah Anna.
"Iya." Anna membalas lambaian tangan Rika. "Hati-hati!" Anna berteriak lalu di jawab dengan suara klakson mobil.
Setelah mobil itu melaju, Anna segera masuk, menutup pintu rumah rapat-rapat, lalu menguncinya.
...••••••...
Jangan lupa like dan komen. Othor cuma mau ngingetin, karena pada dasarnya manusia adalah mahluk pelupa hehehe ; ) Yang masih ada vote boleh lempar kesini, othor siap nampung.
follow Ig othor. @_anggika15
~Sayang kalian, terimakasih untuk setiap dukungannya~