My Ex Husband

My Ex Husband
gadis manis.



...•••••...


Setelah puluhan menit melaju, akhirnya Alvaro menepikan mobilnya tepat di depan rumah gerbang Anna.


"Jangan membuat keributan, ingat?" Alvaro berpesan.


Mikaila mengangguk seraya tersenyum samar kepada pria yang saat ini duduk di sampingnya itu.


"Tunggulah, aku janji hanya sebentar. Itupun kalau Anna memang ingin ku ajak bicara!" seru Mika lalu membuka pintu di sampingnya.


Alvaro menatap Mika yang sedang berjalan perlahan, berdiri di depan pintu gerbang kemudian masuk setelah beberapa saat.


Alvaro menyandarkan kepadanya di sandaran kursi, memejamkan matanya dengan helaan nafas yang beberapa kali terdengar.


"Hati ada apa dengan mu?" Alvaro bergumam.


Perasaan pria itu sedikit terasa tidak nyaman, seharusnya ia bahagia dengan perubahan sikap Mika, namun hatinya seolah mempunyai firasat yang tidak baik.


Dreuk!


Alvaro tersentak ketika pintu mobilnya kembali terbuka.


"Sudah?" Alvaro menjengit, pria itu heran ketika Mika kembali dengan cepat .


"Tidak ada jawaban, rumahnya sepi." jelas Mika setelah ia duduk dan kembali memasang tali seatbeltnya.


"Mungkin belum pulang setelah mengantar Balqis tadi!" sambung Mika.


"Baiklah, aku antar pulang saja." Alvaro berujar, kemudian mulai melajukan mobilnya kembali.


...🍃🌼🍃🌼...


Ponsel yang berada di atas nakas itu terus bergetar, berdering dengan sangat kencang sampai membuat Anna tersentak dan segera meraih benda pipih itu.


"Ya, halo?" sapa Anna seraya mendudukan diri di tepi ranjang.


Namun mata Anna terus terpejam, ketika rasa pusing masih terasa menjalar di seluruh kepalanya.


—Kami sudah pulang Bu, ibu sudah berangkat?


Anna terkejut, ia menoleh kearah jam yang sudah menunjukan pukul 12:30.


"Astaga, Sil! saya ketiduran. Adek gimana? dia ngambek nggak?" Anna sedikit panik.


—Udah cemberut.


"Oke .. oke! bawa dia ke kantin dulu, belikan es atau apapun kesukaannya, saya kesana sekarang!" titah Anna kepada Sisil.


Teh! telfon Papa aja kalau Mama nggak bisa jemput.


Suara rengekan Balqis terdengar sangat jelas.


"Jangan! jangan telfon David, tunggu saja di kantin. Bilang saja Mama sedang di jalan!" sergah Anna.


—I-iya Bu, saya bujuk Adek dulu.


"Tunggu saya tidak akan lama!" kata Anna, lalu mematikan sambungan telfonnya.


Anna berlari memasuki pintu kamar mandi, membasuh wajahnya dengan cepat kemudian melesat kebawah untuk segera menjemput Balqis yang sudah menunggu jemputan nya.


Sekitar 45 menit Anna memacu Expander berwarna putih itu, akhinya ia sampai tepat didepan gerbang sekolah Balqis yang sudah tampak sepi.


Anna turun, kemudian berlari ke dalam sana setelah menutup pintu mobilnya terlebih dahulu.


Anna tersenyum, saat melihat Balqis sedang menikmati sebuah minuman dingin berwarna hijau.


Gadis kecil itu mendongak, menatap prempuan cantik yang baru saja sampai dan berdiri di sampingnya.


"Mama sakit yah?" Balqis bertanya, lalu ia meletakan punggung tanganya di kening sang ibu.


Anna tersenyum.


"Cuma ketiduran, nggak sakit!" kata Anna, lalu kembali mencium pipi milik putrinya.


"Kata teteh kalo Mama suka ketiduran itu artinya Mama sakit, cuma nggak mau bilang." gadis kecil itu menatap Sisil.


"Ayok ah pulang, teteh udah ngantuk dari tadi." Balqis menunjuk pengasuhnya.


Sisil tersentak, hingga matanya menatap Anna dengan segera.


"Kamu bergadang yah? ngapain? pacaran?" ledek Anna.


"Ng-nggak! siapa yang pacaran Bu, emang ngantuk aja kalo suasana sepi." sergah Sisil.


"Sudah bayar?" Anna menatap Sisil.


"Sudah, uang jajan yang pak David kasih masih banyak." katanya, lalu merapihkan barang bawaan milik Balqis.


Anna mengangguk, meraih tangan mungil Balqis kemudian segera beranjak dari kantin sekolah yang sudah terlihat sangat sepi.


"Maah?" Balqis menatap Anna.


"Iya sayang, kenapa?" Anna menundukan pandangannya, lalu tersenyum.


Rasa bahagia itu terus muncul ketika wajah manis itu terus terlihat berbinar.


"Aku sudah bilang ke Jazlyn, kalo aku di jemput Mama sama Papa!" ucapnya.


"Ya .. terus kenapa lagi?"


"Mama sama Papa nggak datang, jadi Jazlyn nya keburu pulang deh, padahal aku juga mau ngasih tau kalo aku punya Papa sama Mama kaya dia."


Anna hanya diam dan terus mendengarkan.


"Aku suka dikatain tau Mam, katanya nggak punya Papa, kalo ada Papa katanya nggak punya Mama."


Anna yang menuntun Balqis naik ke atas kursi mobil pun menjengit.


"Siapa? kenapa mereka berkata seperti itu?" Anna bertenya.


"Laura ... dia suka kalo liat aku sedih." katanya.


"Kenapa tidak bilang ke ibu guru? biar ibu guru yang kasih tau." jelas Anna seraya memasangkan sabuk pengaman di tubuh putri kecilnya.


"Sudah, tapi Laura suka begitu terus setiap hari!"


Sesaat Anna menatap nanar wajah menggemaskan Balqis, lalu tersenyum agar gadis kecilnya selalu merasa baik-baik saja.


"Jangan didengar, cukup belajar dan jadi anak yang pintar untuk Mama dan Papa." Anna mengusap kepala putrinya, lalu menutup pintu di samping Balqis.


Apa yang dialami Balqis semacam perundungan? apa aku harus berbicara dengan gurunya, atau harus berbicara kepada Mas David juga!? batin Anna terus berbicara.


"Aih .. fokus dulu Ann, jangan memikirkan banyakhal." katanya lalu memasuki mobil dan segera melaju dengan kecepatan sedang.


...•••••...


Jangan lupa like😚 maaf telat upload, baru dapet hate komen dan seketika mood amburadul🤭