
...•••••••...
Sebuah mobil putih tampak berbelok, memasuki sebuah rumah yang masih terlihat ramai pada sore hari ini.
Dengan hati yang berdebar, juga rasa bersalah yang terus menghantui, akhinya pria itu memutuskan datang kerumah orang tua Sisil. Dia turun setelah mobilnya terparkir dengan rapi, dan segera berjalan kearah pintu dapur yang terbuka.
Tok .. tok ...
Syaif berdiri di ambang pintu, melihat kearah dalam, dimana semua temannya sedang membantu Ningsih mengemas sambal yang baru saja selesai ia masak.
"Eh, Syaif! sini masuk." Ratmi menyapa, dia tersenyum seraya menggerakkan tangan agar pria itu segera mendekat.
Begitupun dengan Ningsih, wanita paruh baya itu tersenyum hangat seperti biasa.
"Mau ambil barang? nggak besok aja biar sekalian?" Anis bertanya.
Syaif masuk, melangkahkan kakinya perlahan, lalu duduk di samping Faiqa yang terlihat sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Sisil, sakit ya bu? kok udah empat hari nggak masuk kerja?" pria itu menatap Ningsih dengan hati yang berdebar.
Syaif takut.
Seketika Ningsih menghentikan aktifitasnya, dia terlihat bingung dengan ucapan Syaif barusan.
"Apa dia nggak bilang, kalau tiga hari kemari Sisil jagain Balqis dulu? ibunya Balqis masuk IGD."
Syaif menggelengkan kepala.
"Saya kira dia marah atau di larang suaminya bekerja bareng Syaif bu!"
Deg!
Anjir, keceplosan dong gue!
Syaif mengatupkan mulutnya.
"Maksudnya gimana? kenapa Sisil harus marah dan di larang Al untuk bekerja?" kata Ningsih.
Syaif tidak menjawab, apalagi saat semua temannya menatap penuh selidik kepada dirinya.
"Kenapa Ip? bukanya mbak Sisil itu hampir nggak pernah marah yah, setau gua dia ramah banget sama kita-kita." timpal Anis.
"Pikiran lu Ip .. Ip!" Faiqa menggelengkan kepala.
"Nggak gitu, kita kan kerja satu kantor! bilang ajalah begitu! nah gimana kalo suaminya larang karena cemburu? hati manusiamah kagak ada yang tau!" sergah Syaif.
"Setahu ibu, tiga hari Sisil kerja jagain Balqis lagi. Nah hari ini sama satu Minggu kedepan minta izin ke neng Anna .. izin apanya ibu juga nggak nanya lagi!"
"Sisil masih suka nanyain kabar ibu kan?" Syaif penasaran.
Ningsih mengangguk-anggukan kepala, lalu dia tersenyum.
"Tadi malem baru telfon, dia tetap anak ibu meski sudah hidup bersama suaminya."
"Menurut ibu .. apa Sisil bahagia sekarang?"
"Kelihatannya bahagia, bahkan beberapa hari ibu tidak melihatnya. Ibu merasa dia sedikit agak berisi, wajahnya jadi bersih bersinar lagi, tapi nggak tau mungkin ini cuma perasaan ibu aja."
"Begitu yah!" raut wajah Syaif jadi muram.
Kenapa? apa sekarang dia mulai menyukai Sisil atau bagaimana!
Batin Faiqa bertanya.
"Mas Aip, mending bantuin sini! dari pada nanyain istri orang melulu, mending bantu-bantu biar bisa cepet pulang, ini udah kesorean lho ... apalagi ini harus di antar ke jasa pengiriman barang pagi-pagi!" ucap Ratmi.
Prempuan itu tampak sedikit bersemangat, sementara Faiqa menatap Ratmi tidak suka, terlihat dari matanya yang beberapa kali mendelik tanpa mereka sadari.
"Kagak jelas!" kata Faiqa sangat pelan.
...•••••••...
Cahaya matahari sudah lama memudar, berganti dengan cahaya rembulan ketika langit biru berubah warna menjadi hitam pekat.
Tepat pada pukul sepuluh malam, mobil David terlihat berbelok memasuki garasi rumahnya saat seseorang berdiri membuka gerbang rumah besar itu.
"Selamat malam pak Yasir?" sapa David sebelum dia berjalan kearah pintu rumah.
Pak Yasir terlihat mengangguk, lalu kembali menarik gerbang rumah itu agar kembali tertutup.
Klek!
David memasuki rumah yang sudah tampak temaram, hanya ruang keluarga yang lampunya masih terlihat menyala, dan suara tivi yang juga masih terdengar nyaring.
"Ayah belum tidur?" dia bertanya, sambil melepaskan jas yang masih melekat di tubuhnya.
Daniel menoleh, menatap putranya yang masih berdiri, kemudian duduk di sampingnya.
"Belum, mungkin sebentar lagi .. acara komedi malamnya masih sangat seru!" jelas Daniel.
"Kerjaan semakin banyak? atau ada masalah?" Daniel balik bertanya.
"Apa Alvaro sudah mengajukan cutinya?"
David mengangguk.
"Bahkan dia sudah meliburkan diri sepihat tadi pagi, aku sangat kesal ... tapi bagaimana pun dia tetap Asisten ku dan, aku harus memberinya sedikit keringanan."
"Turunkan lah kadar sikap mu yang satu itu, hanya dia yang sanggup bersama mu Dav." Daniel berujar.
"Ayah dan Balqis selalu berbicara seperti itu, bedanya putri ku selalu berbicara soal umur .. nanti Papa cepat tua, begitu katanya." David mendengus kesal.
Sementara Daniel tertawa lepas.
"Gaya bicaranya persis seperti kamu dulu!" Daniel mengingat momen saat David masih kecil sama seperti cucunya.
"Iyakah? sepedas itu kalau aku bicara?!" David tidak percaya.
"Balqis itu masih lebih mending. Kamu selalu bilang, jangan terlalu sibuk berkerja ayah nanti cepat mati!" katanya lalu terkekeh.
David menundukan kepala, dia tersenyum.
"Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya, kecuali kalau terkena angin!" kata David.
"Seperti kau." tukas Daniel.
David tertawa kencang, sampai dia mendongak.
"Hah .. aku nakal yah dulu?"
"Menurut mu bagaimana?"
"Aku ingin bilang tidak, tapi kenyataanya ya .. begitu!"
"Masuklah, sejak tadi Anna keluar masuk kamar, mencari keberadaan mu." titah Daniel kepada putranya.
David mengangguk, dia bangkit dan meraih remote untuk mematikan televisinya.
"Dav ...
"Jangan marah-marah, nanti ayah cepat tua. Istirahat, tidur yang cukup agar ayah masih berada di samping ku, sampai adik dari adiknya Balqis yang lain lahir." kata David kemudian dia berlalu meninggalkan ayahnya begitu saja.
Daniel membisu, dia memandang bahu kokoh yang terus berjalan menjauh, dan menghilang saat dia masuk kedalam kamar miliknya bersama Anna dan satu putrinya.
"Cara mu menyatakan cinta dan kasih sayang kepada ku memang berbeda." kata Daniel lirih, namun dia tersenyum.
Pria itu itu kembali meraih remote, dan menekan tombol power agar televisi itu kembali menyala.
"Sayang kau sudah tidur?" David sedikit berteriak, dia menatap Anna yang sudah berbaring miring membelakanginya.
Anna tampak sedikit mengangkat kepalanya, dia menoleh kearah David.
"Pulang malam?" Anna bangkit, dia duduk di tepi ranjang.
David berjongkok di depan istrinya, lalu memeluk Anna dan menghujani perut Anna dengan ciuman.
"Hari ini Al sangat konyol, dia baru tiba dan langsung pulang setelah mengetahui aku masuk kerja, sayang." dia merengek, seperti anak kecil yang mengadu kepada ibunya.
Anna menundukan pandangan, lalu mengusap kepala David lembut dengan senyum samar yang tampak terbit di kedua sudut bibirnya.
"Papa kesal?"
David mengangguk.
"Yasudah, mandi sana! aku mempunyai sesuatu agar kamu tidak kesal lagi." kata Anna.
David menarik diri, kemudian mendongak menatap wajah Anna lekat.
"Apa itu?" pria itu masih merengek.
"Mandilah dulu, nanti ku beritahu." Anna mendekatkan diri, lalu mencium kening suaminya.
"Malas sekali aku mandi." ucap David.
"Ayoklah, aku serius ingin memberikan sesuatu." Anna terkekeh.
"Baiklah, aku mandi dulu, oke!"
Cup!
David mencium singkat bibir Anna, dia bangkit dan segera berjalan kearah pintu kamar mandi.
Kenapa dia jadi seperti itu? bahkan aku merasa kepribadian kita terbalik jika kita hanya berdua.
Ucap Anna dalam hati.
...•••••...
Selamat hari Minggu ...
Jangan lupa like, komen, sama kasih hadiah yang banyak. Klik favorite jangan lupa yah ... sama nanti malem vote mulai turun, jangan lupa lempar ke sini cuyung nya om David sama Al, juga Onti Anna sama Sisil : )