
...•••••...
Suara dering Alarm sudah jelas terdengar menggema di dalam kamar sebuah hotel yang masih tampak temaram. Sementara dua sejoli yang baru saja bisa menikmati indahnya surga dunia, masih terlelap saat mereka baru selesai hampir jam tiga pagi.
Mendengar suara bising akhirnya Rika mengerjapkan mata, meraih ponsel Edgar yang berada di atas nakas samping tempat tidur, lalu mematikannya.
Mata Rika memincing silau, saat cahaya layar ponsel itu menyorot metranya dengan jarak yang sangat dekat.
Seulas senyum terbit, ketika melihat sosok prempuan yang sedang tersenyum terpampang jelas disana, siapa lagi kalau buka dia sendiri.
Rika menoleh, hingga prempuan itu sedikit tersentak saat dirinya melihat Edgar yang sudah bangun dan sedang memperhatikannya.
"Jangan diliatin, nanti kamu cemburu. Dia foto pacar aku tau!" Edgar tersenyum, lalu meraih ponsel itu dan meletakkannya kembali di atas nakas.
Edgar merangsek agar mereka semakin mendekat, lalu kembali memeluk tubuh Rika erat setelah mereka tak berjarak sama sekali.
"Mau lagi boleh?" Edgar berbisik.
"Apa tidak puas? kamu menghajar aku semalaman tanpa ampun!" sahut Rika.
"Sekali aja!" katanya lagi, lalu mencium telinga Rika. "Ayoklah sayang," katanya lagi.
"Sudah jam sepuluh siang, kita bahkan melewatkan sarapan. Dan sekarang aku lapar, Sampai tubuh aku tidak mempunyai tenaga."
Edgar tersenyum dengan mata yang sudah kembali terpejam, apalagi saat ia kembali mengingat permainannya semalam, itu sungguh membuatnya bersemangat. Bagaimana tidak suara rintihan di selingi d*Sahan membuatnya menggila semalaman.
Pria yang saat ini tengah bertelanjang dada pun menyingkap selimut, lalu bangkit dan berjalan kearah gorden yang masih membentang menutupi kaca besar hotel itu.
Edgar menariknya hingga ke sudut, dan terlihatlah, pemandangan yang sangat indah dari atas ketinggian.
Pria itu berjalan kembali ke arah dimana Rika masih betah berbaring di bawah gulungan selimut, menyembunyikan tubuhnya yang masih polos tanpa mengenakan apapun.
Edgar berjongkok tepat di samping Rika, sampai pandangan keduanya saling beradu.
Pria itu tersenyum lagi, mengulurkan satu tanganya lalu mengusap pipi Rika sesaat, dan menyematkan beberapa helai anak rambut yang terlihat sedikit menggangguk wajah cantiknya ke daun telinga.
"Kenapa? Ayank seneng banget kayanya!" Rika ikut mengukir wajah Edgar.
Edgar mengangguk, kemudian ia lebih mendekat untuk meraih bibir prempuan yang sudah sah menjadi istrinya.
Cup!
"Morning kiss!" kata Edgar, dia terkekeh pelan.
"Aku nggak nyangka, kita bakalan sampai dititik sekarang."
Rika hanya diam, sambil menatap dan mendengarkan Edgar.
"Kenapa?" Rika tersenyum.
"Kita hanya beberapa kali ketemu di toko, entah itu kamu yang beli handphone atau temen kamu yang cowok itu."
"Hu'um ... terus kenapa?" Rika terus memancing agar Edgar berbicara.
"Ya kamu sudah godain aku, jadi akunya seneng gitu. Sampe nungguin kamu datang ke toko .. tapi kalo di pikir-pikir juga .. mana ada kamu datang buat beli hape setiap hari bukan?" Edgar tertawa.
"Eh .. aku bukan godain yah, tapi suka bercanda," jelas Erika.
Edgar mengangguk.
"Iya, tapi aku tergoda sama pesona kamu. Tapi tiba-tiba ngilang, tau nggak sih? itu kaya kita di tinggal pas lagi sayang-sayangnya!" Edgar tergelak.
"Lho ... kok gitu, orang kamunya yang aku ajak bercanda cuek melulu, kadang aku nyesel udah bercandaan-in bapak Edgar, responnya cuek sih!" ledek Rika.
"Kaya, seolah kamu tuh bilang .. Ni cewek apaan sih, gitu!" Rika tertawa kencang. "Ini kisah kita, nanti kalo anak-anak nanya mama-papanya ketemu dimana, ya jelasin kita ketemu di toko hape kamu!" sambung Rika lagi.
"Untung banget! pas hari itu aku Dateng nemuin temen aku yang lagi makan di tempat kerja kamu, jadi secara tidak langsung kaya nemuin jalan gitu .. seneng banget aku!" Edgar berseru.
Rika kini terdiam, menatap Edgar yang sedang menceritakan kisahnya dengan mata berbinar.
"Semoga baby-nya langsung on the way, buat kado aku ulang tahun bulan depan."
Rika menjengit.
"Eh .. padahal aku ada rencana buat ditunda dulu!" ujar Rika.
"Nggak boleh, tahun ini aku udah tiga lima, kalo di tunda akunya keburu tua sayang. Langsung aja yah?" kata Edgar.
"Tiga lima itu masih muda lho, Anna aja sahabat aku nikahnya dulu sama cowok yang lebih tua dari umur kamu sekarang.
Anna dua empat ... Om Davidnya tiga enam apa tiga tujuh gitu, aku lupa!"
"Dia juga langsung ada bayi kan?"
Rika mengangguk.
"Yasudah ... aku juga udah mau bayi!"
"Kalo nikah sama yang lebih tua tuh semuanya pengen buru-buru yah!" sergah Rika.
"Nantilah bahas umurnya, sekarang kamu mandi, kita ke bawah cari makan."
"Baiklah."
Rika bangkit, dia duduk di tepi ranjang seraya merapatkan selimut yang kini menjadi penutup tubuhnya.
"Mandi bersama boleh?" Edgar merentangkan tangan.
"Boleh Ayank, apa si yang nggak!" kata Rika lalu meraih tangan suaminya, dan berjalan kearah pintu kamar mandi.
...•••••...
Sementara itu di tempat lain, David terlihat menuruni anak tangga bersama seorang gadis kecil dengan kedua tangan saling berpegangan.
"Papa harus kerja, kasian om Al kalo Papa tinggal terus!"
"Ahh!" Balqis tampak tidak semangat.
"Nanti kesini lagi, tapi sekarang kita harus pulang dulu," jelas David kepada gadis yang sedang di tuntunnya menuruni setiap anak tangga.
"Aih .. gimana kalo nggak ketemu lagi? gimana kalo Seo pulang ke rumah Daddy nya di Korea?" Balqis merancau.
"Tinggal kita susul!" katanya lalu duduk di sofa, dan menarik Bali's bersamanya.
"Harus pake pasawat lho Pah!"
"Iya, Papa tau,"
"Emang ada uangnya?" Balqis menatap wajah David penuh tanya.
Pria itu berdecak.
"Dih, nggak tau bapak nya siapa!"
"Emangnya siapa?"
"Pewaris tunggal Daniel Julian loh Papah ini, kok kamu kaya ragu gitu kalo Papa punya uang terus bisa ajak kalian kemana aja!"
Balqis memincingkan mata.
"Aku udah pernah ke Bali sama Mama dulu, berenang pake bikini ... aih seru! Papa nggak ikut sih ... waktu itu!" jelas Balqis.
Seketika David membulatkan mata.
"Apa ... kalian pakai bikini?" David menjengit, ia merasa tidak terima.
"Hu'um, liburan sama temen-temennya Mama. Onti Rika juga ikut waktu itu."
"Ada cowoknya nggak!?" David membenarkan duduknya, dengan perasaan yang terasa tak karuan.
"Ada Om Fajar ... Om siapa lagi ya aku lupa, pokonya banyakan!"
Deg!
"Sudah selesai semua? kalo udah ayok kita check out!" Anna berjalan menuruni tangga, kemudian berjalan kearah belakang terlebih dulu, lalu mendekat kearah Balqis dan David yang sudah menunggu di sofa ruang tengah.
"Ratmi, tolong ambilin koper saya di atas yah!" Kata Anna saat berpapasan dengan prempuan itu.
"Siap Bu." jawabnya, dia tersenyum lalu naik ke lantai atas.
"Ayok pulang!" Anna tersenyum lalu duduk di samping David.
Balqis mengangguk sambil tersenyum, namun David diam, dengan tatapan mematikan.
"Aqis, Papa kenapa?" Anna menatap putrinya.
"Nggak tau, emangnya Papa kenapa?" tangan Balqis meraup wajah David, menarik kearahnya sampai pandangan kedua bertemu.
"Ish .. Papa jelek kalo lagi kesel!" celetuk Balqis.
Anna menahan tawanya yang akan segera menyembur.
"Kenapa Papa kesal? Aqis nakal yah?"
Dengan cepat Balqis menggelengkan kepala.
"Aku cuma bilang kalo kita pernah liburan ke Bali!" kata Balqis.
"Hu'um .. terus kenapa Papa jadi kesel?"
"Nggak tau, padahal aku cuma bilang kita berenang pakai bikini ... kok Papa jadi ambekan ya Maa?"
Anna terkesiap, jantungnya terasa berhenti saat tatapan David terasa lebih menusuk.
"Ahaha .. oh itu yaa! yang pakai bikini cuma Bu Elsa mas, akumah enggak .. berenangnya pake baju tidur!"
David masih diam, bahkan saat ini matanya meneliti Anna dari atas hingga bawah.
"Apa ini!?" David ketus. "Apa kau selalu ingin kelihatan cantik dimana semua laki-laki?" dia kesal.
Rambut coklat panjang yang terlihat sedikit bergelombang, gaun berlengan pendek di atas lutut berwarna biru muda, dengan anting bulat yang Anna pakai, begitu dengan tas kecil berwarna senada, membuatnya semakin terlihat elegan dan seksi dengan bagian atas yang sedikit terbuka.
"Pakai jaket denim ku!" titah David.
"Lho kenapa? ini panas!" cicit Anna.
"Pakai, capat!" tegas David lagi.
"Nggak mau, ini panas!"
Melihat kedua orang tuanya yang sedang berselisih paham, Balqis menggelengkan kepala, lalu menepuk jidatnya kencang, sampai kepala gadis itu mendonga.
"Aku pusing!" Balqis berbicara pelan.
...•••••...
Jangan lupa like, komen, hadiahnya kalo ada : )
Klik favorite juga jangan lupa! selain membantu mendukung othor, kalian juga tidak akan tertinggal di setiap update-an eps nya.
~Zeyeng kalian~
Ig. @_anggika15