My Ex Husband

My Ex Husband
Pertemuan yang Tidak Terduga



Sebenarnya Haleth tidak tau bagaimana jelasnya hubungannya dengan Adam. Mereka selalu saling terhubung, saling memberi kabar, bahkan saling tau aktivitas masing-masing meski hanya lewat sebuah pesan singkat. Ditanya nyaman tidaknya, Haleth jujur nyaman nyaman saja. Justru lebih nyaman seperti ini daripada harus terikat hubungan yang menyakitkan seperti di masa lalu.


Maka dari itu Haleth selalu luangkan waktu untuk sekedar menerima telepon, membalas pesan, atau bahkan menerima panggilan video dari Adam yang jauh darinya. Seperti sekarang, yang mana Haleth baru saja mengakhiri panggilan video dengan sang wira, lantaran sebentar lagi Haleth akan pulang karena hari ini jadwalnya sudah selesai.


Haleth menghela nafasnya, letakkan ponsel di pinggiran meja guna berinya ruang untuk amati schedule dari laptopnya yang menyala.


Helaan nafasnya lagi-lagi terdengar. Akhir-akhir ini entah mengapa Haleth merasa begitu malas datang ke rumah sakit. Baru kali ini, Haleth membutuhkan cuti untuk berlibur dengan anak serta sang Ibu. Ini semua perkara vertigo yang tiba-tiba menyerangnya tiap malam. Mengacaukan sosok Haleth yang biasanya selalu produktif.


Haleth tak lagi merasa, bahwa dirinya mempersembahkan hidupnya untuk karir. Semenjak dirinya kembali memulai hubungannya dengan Adam, Haleth mulai bisa paham, mengapa Tasha seolah-olah jauh darinya. Jati dirinya sebagai Ibu, ternyata lenyap dari pandangan anaknya. Dalam pikiran Tasha, Haleth adalah seorang wanita karir, yang bebas dari gangguan, maupun tak dapat diganggu oleh apapun.


Maka Haleth benar-benar sudah memutuskan dengan matang, ia akan mengambil cuti untuk beberapa hari. Tak perlu lama, asal beberapa hari itu ia bisa manfaatkan waktu dengan benar untuk putrinya. Selanjutnya yang ia lakukan adalah menemui Niel. Tentu saja untuk meminta izin sebelum mengurus cutinya dan memperbaharui jadwal.


Kaki jenjang beralas flat shoes itu melangkah melewati lorong rumah sakit yang senyap. Letak ruangan Niel dengan ruangan Haleth memang berjarak cukup jauh. Dan kebetulan sekali, Haleth menemukan sosok Niel baru saja keluar dari ruang laboratorium sebelum Haleth sampai di ruangan pria tersebut.


"Tumben sekali lewat sini, Haleth? Ada keperluan di gedung sebelah ya?" tanya Niel begitu sadar akan kehadiran rekan kerjanya tersebut.


Haleth gelengkan kepala, sesaat tatap ke dalam ruang laboratorium dari kaca pintu sebelum menjawab pertanyaan Niel.


"Ingin bertemu denganmu. Ada hal yang ingin aku bicarakan."


"Oh, okay. Mau ke ruangan ku saja?"


"Yeah. Of course."


Sampai di ruangan Niel yang hampir tidak pernah Haleth kunjungi, Haleth langsung mengatakan alasan mengapa ia hendak menemui Niel. Sebagai atasan, tentu saja Niel paham terhadap situasi tersebut. Haleth adalah wanita yang pekerja keras. Hampir seluruh waktunya digunakan oleh Haleth untuk bekerja. Tidak heran jika wanita itu jarang memiliki waktu untuk sekedar berlibur dengan putrinya.


Niel dengarkan segala ucapan Haleth dengan seksama. Terjadi negosiasi yang cukup singkat diantara mereka. Namun, sayang sekali. Liburan bersama Tasha yang Haleth susun dengan rapi berantakan begitu saja.


"Kamu, belum diperbolehkan cuti, Haleth." itu semua disebabkan oleh pernyataan Niel yang diluar perkiraan Haleth.


"Can you give me a reason?"


"We need you. I'm so sorry. Aku belum bisa memberimu izin mengambil cuti untuk bulan ini." jelas Niel dengan nada yang cukup menyesal. Sejujurnya pria itu tak tega menolak keinginan Haleth. Namun mau bagaimana lagi, Niel pun tak bisa menentang prosedur rumah sakit.


"Tetapi jadwalku sudah cukup padat bulan ini." Haleth masih tak ingin menyerah.


"Ini kebijakan dari rumah sakit, Haleth. Jika aku bisa mengatur, mungkin aku akan memberimu izin. Tapi itu diluar tanggung jawabku. Maaf. Mungkin jika bulan depan, itu bisa dipertimbangkan."


Haleth hanya bisa menghela nafas. Ia anggukkan kepala sebelum bangkit dari duduknya.


"I know. It's okay. Thank you Niel,"


"I'm so sorry Haleth."


"Nah, nevermind. Aku bisa menunggu sampai bulan depan nanti." segaris senyum terbit di bibir Haleth. Niel tau wanita itu kecewa. Namun Niel sendiri juga tidak bisa asal memberi izin, terlebih masalah libur yang membutuhkan waktu yang tidak cukup satu atau dua hari saja.


Haleth keluar, tak menunggu respon Niel setelah dirinya pamit. Langkah kaki jenjang itu membawa Heleth untuk memasuki lift guna menuju basement. Melihat pantulan dirinya di pintu lift, Haleth sadar raut wajahnya begitu tak sedap dipandang. Datar, tampak mengesalkan. Hal tersebut disebabkan oleh kegagalannya meminta izin cuti itu. Haleth tidak tau bagaimana ia mengekspresikan rasa kesalnya. Maka tanpa sadar, Haleth merubah ekspresinya yang semula tampak segar dan senang menjadi begitu muram. Meski cutinya bisa dipertimbangkan di bulan depan, tetap saja Haleth merasa tak puas karena ekspektasinya hancur berkeping-keping.


Sesampainya di basement, Haleth bergegas menemukan mobilnya. Haleth ingin segera sampai rumah dan mengistirahatkan tubuhnya yang luar biasa letih hari ini. Namun tak disangka-sangka, saat Haleth hendak membuka pintu mobilnya, sebuah mobil yang terparkir tepat disamping mobil miliknya terbuka, dan seseorang yang begitu tak asing keluar menghampiri Haleth. Sontak Haleth urungkan niatnya, beralih perhatikan sosok tersebut.


"Haleth?"


"Iris?"


"Oh my God. Hi!" Haleth mematung sesaat ketika wanita di hadapannya itu memeluknya.


"What's bring you here?"


Iris lepaskan pelukan singkatnya. "My healthy, duh."


"No, I mean here, California."


"Ah, my job. As always. Aku ada pemotretan di California. Dan aku ke rumah sakit untuk check up saja karena merasa asam lambungku naik tadi." Iris terkekeh canggung saat Haleth hanya respon penjelasannya dengan sebuah anggukan dan tidak mengatakan apapun.


"And you? What are you doing here?" Iris menyambung bertanya, setidaknya untuk menghilangkan kecanggungan itu.


"Aku bekerja disini." jawab Haleth.


"You must be a doctor, right? Adam, always talk about you."


Tak langsung menjawab, Haleth dengan susah payah telan saliva nya. Tak terpikir olehnya, Adam dan Iris tinggal di Negara yang sama. Tak terpikir olehnya, mungkin saja Adam dan Iris masih menjalin hubungan yang dekat. mendengar tuturan Iris yang seolah-olah Adam selalu berbicara dengan publik figur itu, membuat Haleth sukses kepikiran. Haleth melupakan banyak hal yang menyangkut kedua orang itu. Melupakan, bahwa Adam dan Iris lah yang membuatnya hancur di masa lalu.


Tetapi Haleth sadar bahwa dirinya pernah berkata, ia ingin berdamai dengan dirinya sendiri. Tak ingin memendam rasa benci yang tak akan ada habisnya. Maka Haleth tak mau terlalu overthinking, sebab Adam pun sekarang mulai kembali memperlihatkan keseriusannya. Pria itu juga tampak tak ingin melukai Haleth kembali, jadi Haleth beri Iris senyum teduhnya dan menjawab, "Yeah. I'm a doctor."


"Okay, sepertinya aku harus segera masuk karena ini sudah melewati jam janji. Ayo minum kopi kapan-kapan."


"Kamu punya asam lambung, tidak baik mengonsumsi kopi yang berlebihan." peringat Haleth.


Desah kesal Iris terdengar. Wanita itu terlihat jelan akan protes.


"Coffee is my life, Haleth!"


"Untuk publik figur sepertimu, kamu harus bisa menjaga kesehatan. Kurangi minum kopi, dan perbaiki pola makan. Segera temui dokter mu untuk konsultasi lebih lanjut."


"Ugh, I know, okay. Kalau begitu aku akan masuk. Sampai jumpa lagi nanti?"


Haleth tersenyum singkat serta menganggukkan kepalanya. "Sampai jumpa lagi nanti." balas Haleth sebelum akhirnya Iris pergi meninggalkan basement.


Pun dengan Haleth. Wanita itu segera memasuki mobil setelah 2 menit Iris pergi. Haleth bergegas menyalakan mobilnya, meninggalkan basement tersebut untuk segera pulang dan menyimpan ceritanya hari ini dengan beristirahat.