
“Siapkan pesawat untuk ke Roma pukul 1 dini hari nanti. Aku ingin istirahat sebentar.” Ucap Adam seraya merebahkan dirinya di ranjang. Setelah berjam-jam beraktivitas tanpa henti, Adam akhirnya sampai di penthouse nya dengan Carl.
“Apa sebaiknya tidak besok saja, Bos? Baru datang di Honduras, Bos langsung mencari markas Lowell. Bos belum istirahat sama sekali.”
Adam melirik Carl saat dirinya sudah beberapa menit memejamkan mata. Adam juga tak mengatakan sepatah kata pun, yang pada akhirnya membuat Carl menunduk dan pergi. Carl sendiri pun tau, satu perintah yang sudah terucap oleh Adam, tak dapat lagi ditawar.
Setelah kepergian Carl Adam kembali memejamkan mata. Pria itu tertidur dengan lelap untuk beberapa menit, karena tepat di menit 20, Adam kembali membuka mata dan mengambil ponselnya. Vibrasi yang berasal dari benda pipih itu mengalihkan atensinya. Adam amati nama yang tertera di layar ponsel tersebut, latas segera menerima panggilan.
“Hei, Hun,”
“Baru sempat menelepon, maaf. Aku baru saja pulang.” Itu Haleth.
Adam mengaktifkan loud speaker dan meletakkan ponselnya di nakas. Sementara tangannya, dijadikan bantal seraya memejamkan matanya kembali.
“That’s okay, Honey. Ada cerita apa hari ini?”
Meski Adam tengah memejamkan mata, pria itu tidak tidur dan mendengar segala keluh kesah Haleth melalui panggilan telepon. Dari Adam sampai di Honduras, pria itu hanya satu kali memberi pesan pada Haleth, itupun memberitahu bahwa dirinya sudah sampai. Setelah itu, mereka tak saling memberi kabar hingga malam. Mungkin jika Haleth tidak menelepon, mungkin Adam sudah lupa untuk sekedar memberi kabar lagi pada wanita itu.
“Jadi, kamu pergi makan malam dengan atasanmu itu?”
“Ya. Karena sudah lapar, aku iya kan saja.”
Adam menyunggingkan senyumnya. “Terlambat makan malam terus. Aku tidak mau kamu sakit loh, Baby.”
“I know, I’m sorry. Kalau kamu, sudah makan malam?”
Sontak membuka mata, Adam tampak mengingat-ingat dirinya sudah makan malam atau belum.
“Aku tebak, pasti belum.” Sambung Haleth yang seolah-olah hapal kebiasaan mantan suaminya itu.
“Sorry, ughh. Aku sibuk sekali hari ini. Besok aku juga harus segera berangkat ke Roma.”
“Ke Roma? Ada pekerjaan apa lagi di sana?”
Tidak mengejutkan Haleth bertanya seperti itu. Tentu saja Haleth tidak mengetahui pekerjaan Adam yang satu ini. Yang Haleth tau, mantan suaminya itu hanya seorang Presiden Direktur yang mengendalikan perusahaannya sendiri di Abu Dhabi. Perihal pekerjaan kedua Adam, Haleth sama sekali tidak tahu menahu, bahkan dari awal mereka menikah sekalipun. Maka dari itu dari cara bicara Haleth, wanita itu tampak bingung. Pasalnya, Adam bukanlah orang yang gampang ditemui jika ada pertemuan, sekalipun itu dengan klien terpenting. Carl lebih sering mengambil alih posisi Adam saat pertemuan berlangsung, sementara Adam akan menyibukkan diri dengan pekerjaan lainnya. Makanya jika sekali Adam mau hadir dalam sebuah pertemuan, klien itu pasti beruntung sekali. Selebihnya, klien lainnya hanya akan berhadapan dengan sang asisten Presdir.
“Ah itu, rumit sekali Hun. Carl sudah angkat tangan, makanya harus aku sendiri yang turun tangan.” Pada akhirnya Adam berdusta. Pria itu tak ingin Haleth tahu mengenai pekerjaan gelapnya itu. Selain itu, Adam juga tidak ingin, Haleth serta putrinya menjadi incaran orang-orang yang selama ini menjadi musuh Adam.
“Tapi aku usahakan aku pulang cepat, okay?”
“Jika belum selesai jangan memaksakan diri. Aku tidak masalah jika kamu harus membutuhkan waktu yang lama.”
“Are you sure you’re okay?”
Terdengar kekehan Haleth di seberang. “I’m totally fine, Adam. That’s not a big deal.”
“Well, alright then. Thank you Hun,”
“No need. Make sure you’re okay, and stay healthy.”
Dan di malam itu, Adam habiskan waktu istirahatnya dengan bercengkerama dengan Haleth. Rasa lelah yang semula seolah meremukkan tubuhnya, seketika hilang saat Adam mendengar suara mantan istrinya. Tepat tengah malam, Adam matikan sambungan telepon, karena Haleth tak lagi merespons obrolan. Sudah dipastikan bahwa wanita itu tertidur. Ponsel itu Adam letakkan di nakas. Kedua netranya menatap langit-langit yang temaram. Matanya tak lagi mengantuk. Yang alhasil Adam tetap terjaga sampai jam penerbangan yang ditentukan.
...***...
Pagi harinya, Haleth terbangun oleh suara alarm yang lupa ia setting ulang. Hari ini Haleth tidak ada jadwal pagi, dan harusnya Haleth bisa tidur lebih lama. Tapi jika sudah terbangun seperti itu, Haleth tak lagi bisa menutup kata dan memutuskan untuk cek ponselnya. Beberapa pesan dari Adam bergegas Haleth buka. Pria itu memberinya kabar perihal keberangkatannya menuju Roma. Haleth tak tahu dengan jelas masalah apa yang kini tengah melanda Adam. Yang Haleth tahu, Adam seorang pria yang teramat terobsesi dengan pekerjaan. Seorang Adam tidak akan puas dengan hasil jika itu tidak sesuai dengan apa yang Adam inginkan. Maka jika asistennya sendiri sudah tidak sanggup menangani, pria itu memilih untuk menanganinya sendiri daripada harus bekerja dua kali.
Haleth tak membalas pesan itu, karena kemungkinan besar Adam masih berada di pesawat. Beberapa saat kemudian Haleth memutuskan untuk meninggalkan kamar untuk menuju dapur dan berkutat di sana. Dan seperti biasa, Emery sudah terlebih dahulu berada di sana.
Emery mendengus mendengarnya. Dengan tidak terburu-buru, wanita paruh baya itu menyiapkan menu sarapan di meja.
”Daripada memikirkan itu, bukankah lebih baik kamu memperbaiki tidurmu dulu? Jadwal istirahat mu berantakan.” balas Emery.
Emery memang bukanlah tipe orang tua yang memberatkan urusan rumah pada sang anak. Selagi Emery masih bisa, dan tidak keberatan, Emery akan melakukannya dengan senang hati. Toh Haleth juga bekerja setiap hari. Haleth lah yang kini banting tulang untuk menghidupi Emery serta Tasha. Meskipun Adam andil, tetapi Haleth lah yang senantiasa menjaga Emery dan Tasha. Maka dari itu tidak tega juga jika Emery membebankan segala urusan finansial dan juga pekerjaan rumah pada Haleth.
“Aku istirahat dengan baik, Ma. Adam akan memarahiku jika aku tidak istirahat dengan benar.”
Emery tertarik. Wanita itu spontan duduk di samping Haleth untuk menanyai lebih lanjut.
“Benarkah?”
“Iya. Dia mengancam akan membeli rumah sakit tempatku bekerja jika aku tidak mengikuti kemauannya. Ck, daripada dia terus-terusan mengusik karierku, lebih baik aku ikuti kemauannya. Aku tidak ingin karierku dikontrol oleh Adam.”
Menarik. Sangat-sangat menarik. Terakhir kali Emery menasihati Haleth agar beristirahat dengan benar, Haleth akan menentangnya dengan keras. Membangkang semua nasihat Emery, dan lebih buruknya lagi, Haleth akan begadang hanya untuk pekerjaan.
Dan kini lihat bagaimana Adam mengatasi semuanya. Sampai-sampai Haleth tunduk begitu, bukankah suatu kemajuan yang begitu Emery tunggu?
Keadaan di ruang makan pun kemudian hening. Emery kembali berkutat di dapur, sedangkan Haleth menunggu dengan raut yang tampak begitu gelisah. Jemarinya tak henti mengetuk meja makan berbahan marmer tersebut. Tatapannya bergulir memindai seisi ruangan. Belum ada tanda-tanda Tasha sudah bangun. Lantas Haleth jatuhkan atensinya pada Emery yang sedang membuat kopi. Haleth berdiri, kemudian melangkah mendekati meja bar. Di dudukinya salah satu kursi tinggi. Emery dengan curiga menatap Haleth, tatap dengan bingung Haleth yang tampak teramat bimbang.
“Ada yang mau kamu katakan pada Mama, Haleth?” tebak Emery.
“Aku bingung Mama. Sebenarnya, yang Haleth lakukan ini benar atau tidak.” ucap Haleth lirih.
Emery mengernyit. “Konteks?”
”Hubunganku, dengan Adam.” Haleth menghela nafas saat sadar Emery menjeda aktivitasnya. “Setelah hampi 7 tahun, kenapa baru kali ini Haleth bisa menerima Adam kembali?”
Kembali mencuri perhatian Emery, wanita itu kemudian singkirkan cangkir kopi yang baru terisi setengah.
“Maksud Haleth, agak membingungkan, Ma. Apa ini wajar? Itu, sama saja Haleth memaafkan perselingkuhan Adam di masa lalu, kan?”
”Haleth,” Emery melangkah hampiri putrinya untuk mengusap punggung sang anak. “Mama tidak memihak diantara kalian berdua. Mungkin, kesalahan di masa lalu itu terjadi karena kurangnya komunikasi diantara kamu dan Adam. Komunikasi di sebuah hubungan itu sangatlah penting, Haleth. Terlebih untuk kamu dan Adam yang sama-sama keras kepala.” terang Emery.
“Tapi melihat berubahnya pola hidup kamu yang cukup signifikan, membuat Mama berasumsi, pasti kamu dan Adam selalu menyempatkan waktu untuk berbicara berdua. Apa kalian dulu bisa berbicara berdua sesering sekarang? Tidak kan?” Haleth mengangguk, membenarkan ucapan Emery.
“Jadi jika kamu bertanya hubungan kalian sekarang wajar atau tidak, bagi Mama ya wajar-wajar saja. Toh kamu juga kelihatannya tidak keberatan. Kalian berdua melakukannya atas kemauan kalian sendiri. Yang Mama lihat, kalian itu sedang belajar kembali. Belajar mengontrol emosi. Belajar kembali bagaimana caranya untuk membangun rumah tangga yang benar. Di sini Mama tidak memihak siapa-siapa. Semua keputusan ada di tangan kamu dan Adam.”
Seluruh perkataan yang terlontar dari bibir Emery perlahan meresap ke dalam relung hati Haleth. Wanita itu menatap sang Ibu yang tak henti memberi kenyamanan pada punggungnya. Senyum Emery yang begitu tulus membuat Haleth seketika memikirkan keputusan yang sudah terlalu lama mengendap dalam pikirannya.
Sekali lagi Haleth menghela nafas. Jemarinya mengusap lengan Emery yang sudah sedikit keriput itu
Haleth adalah wanita dewasa. Dia sudah menjadi seorang Ibu. Dan dia, adalah wanita karir yang mandiri. Seharusnya, Haleth mampu jika hanya memutuskan sesuatu.
Maka dari itu Haleth kemudian balas senyuman Emery dengan hangat.
“Kalau begitu, Haleth akan memberinya kesempatan.”
Emery membelalak, terkejut bukan main. “Sorry?”
Hatinya sudah mantap. Haleth sudah mengambil keputusan itu, dan dia akan menerima konsekuensi apapun atas keputusannya.
“Iya Ma. Haleth, akan rujuk dengan Adam.”