
Niel mengusap telinganya saat lantunan musik yang kencang secara tiba-tiba menyapa indera pendengarannya. Banyak orang yang tengah menari di lantai dansa, wanita penari tiang, maupun para pelayan wanita yang menemani para pria berdompet tebal. Meski Niel sudah tidak asing dengan hiburan malam seperti itu, tetap saja rasanya berbeda saat ia masuk dengan orang yang mungkin bisa Niel sebut sebagai rivalnya.
Dengan hati-hati Niel melangkah mengikuti Adam, dan sesekali memperhatikan setiap orang yang menunduk hormat ketika Adam melewatinya. Meskipun ia tau latar belakang Adam yang kerap disebut-sebut sebagai billionaire, tetapi Niel tidak sepenuhnya tau siapa sebenarnya pria yang berjalan di depannya itu.
"Adam, mereka semua tampaknya mengenalmu. Hebat sekali!" puji Niel dengan suara yang cukup keras.
Sesampainya mereka di sebuah tempat di mana para bartender menyediakan berbagai jenis minuman, Adam mempersilahkan Niel untuk duduk disusul dirinya yang menduduki kursi yang tepat bersebelahan dengan Niel. "Bar ini milikku." jawab Adam.
"Wow. Kau memang orang yang hebat. Tidak heran wanita-wanita di ujung sana selalu memperhatikanmu." kekeh Niel yang bahkan tak menarik sedikitpun senyum di bibir Adam.
"Tidak usah pedulikan mereka. Minumlah sesuatu yang kau inginkan. Kau adalah tamuku di sini." Adam meraih gelas shot berisi whiskey yang baru saja diberikan oleh bartender, lantas meminumnya dalam sekali teguk.
"Samakan saja denganmu, Adam."
"Kau bisa minum?" tanya Adam kembali meminum whiskey nya sekali lagi.
Niel mengangguk. Ia menerima gelas yang sama dengan milik Adam, dengan isi yang sama juga. "Tentu saja. Sejenis whiskey seperti ini tidak gampang membuat saya mabuk. Sayang sekali Haleth tidak bisa minum, jadi saya selalu mengurungkan niat untuk mengajaknya."
Adam spontan meletakkan gelasnya sedikit keras hingga menyebabkan bunyi yang membuat Niel meliriknya sekilas. "Kau tau banyak tentang nya?"
"Sorry?"
Adam kembali menuangkan whiskey ke gelasnya. "Haleth. Kau tau banyak tentang nya?" Niel menatap Adam, lantas meletakkan gelasnya.
"Ya. Dia, tidak bisa minum alkohol,"
"Then?"
"Dia benci terhadapmu,"
"Mhm,"
"Dia juga alergi semua seafood. Dan, banyak lagi."
Adam mendengus lalu meneguk whiskey nya lagi. "Ku ralat poin kedua. Dia, benci semua lelaki yang mendekatinya. Termasuk dirimu."
"Ah, saya tidak tau apa yang kau bicarakan."
Adam tak langsung kembali bersuara, melainkan mengambil alih botol whiskey dari tangan bartender yang tengah menuangkan minuman beralkohol itu ke dalam gelasnya. Adam meneguk beberapa kali cairan berwarna kuning kecoklatan itu langsung dari botolnya, lantas mendengus kembali.
"Kau menyukai mantan istriku. Benar?"
Niel memicing, menghapus ekspresinya yang semula tersenyum tipis. "Itu hal yang tidak perlu kau tau." katanya.
"Dia adalah mantan istriku."
"Lantas? Apa ada yang salah jika saya mendekati Haleth yang statusnya sudah menjadi mantan istrimu? Toh, dia juga tidak akan mau menerimamu lagi."
Adam terkekeh datar sambil meletakkan botolnya. Ia memutar posisi duduknya hingga berhadapan dengan Niel yang masih tak berekspresi, dan seringai kemudian tercetak di bibir Adam.
"Tidak, seorang pun, bisa mendekati Haleth ku. Dia, hanya, milikku, Mr Niel Hideki. Apa itu cukup bisa membuatmu untuk menjauh dari milikku?"
"Wah! Mr Legrand. Pernyataan mu, cukup egois dan otoriter sekali ya! Terlebih lagi terhadap seseorang yang tidak terikat oleh siapapun," ucap Niel dengan tatapan meledek. "Pantas Haleth tidak ingin berurusan lagi denganmu. Kau, posesif yang menyebalkan."
Niel bergerak menepuk bahu Adam, dan turun dari kursi yang ia duduki. "Terima kasih sudah mengajak saya minum. Kau, ingin membicarakan hal ini saja kan? Kalau begitu saya pulang dulu," mereka berdua saling menatap untuk beberapa detik, sebelum akhirnya Niel kembali menepuk bahu Adam, "Perihal menjauhi Haleth, maaf mengecewakanmu, Adam. Karena saya, tidak akan melakukannya. Selamat malam, Mr Legrand." dan berlalu meninggalkan Adam yang tengah mengepalkan tangannya.
Jika ditanya Adam marah atau tidak, tentu pria itu marah. Kalau saja Niel bertahan lebih lama dengannya, mungkin saja pria itu sudah terkapar dan dilarikan ke rumah sakit, atau bahkan ke rumah duka. Tapi sayang sekali pria itu pergi sebelum Adam melayangkan pukulan.
Adam menghabiskan whiskey di botol nya dalam beberapa tegukan, dan meletakkan botol itu kembali ke meja bar dengan sedikit keras. Ia mengacak rambutnya kesal. "Brengsek! Berani-beraninya Dokter rendahan sepertinya berbicara seperti itu padaku!" geramnya.
"Okay, Boss!"
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Adam bergegas keluar dari tempat tersebut. Adam memasuki mobilnya, meletakkan bawaannya di kursi sebelah, dan melaju membelah jalanan yang masih cukup ramai. Tak ada pikiran untuk pulang ke rumahnya saat ini. Adam menginjak pedal gas nya untuk melaju lebih cepat, menuju rumah Haleth.
Sesampainya Adam di depan gerbang kediaman Haleth, ia kemudian bergegas keluar dan memencet intercom.
"Frank! Buka gerbangnya!" perintah Adam saat terdengar suara dari intercom tersebut.
"Baik Mr Legrand." gerbang otomatis terbuka begitu Frank yang bekerja sebagai penjaga di rumah Haleth itu selesai berbicara.
Sebelum Adam masuk, tak lupa ia mengambil paper bag berisi whiskey yang ia dapatkan dari Cecil tadi. Saat ia melangkah masuk, Adam mendapati sosok Frank keluar dari pos nya dan membungkuk memberi hormat pada Adam.
"Ada yang bisa saya bantu, Mr Legrand?" Frank bertanya setelah kembali berdiri tegak.
"Parkir kan mobilku. Apa Emery sudah pulang?"
"Baik Mr Legrand. Untuk Madam Emery, beliau belum pulang. Tetapi Mrs Haleth sudah pulang sedari tadi."
Adam kemudian pergi begitu saja, berjalan menuju rumah yang letaknya sekitar 15 meter dari pos tempat Frank berjaga. Jalannya sedikit terhuyung, mungkin akibat Adam meminum Whiskey dengan kadar alkohol yang cukup kuat tadi.
Beberapa kali Adam memencet bel rumah Haleth, dan lebih dari 1 menit menunggu, sosok yang Adam harapkan muncul di hadapannya.
"Hei, selamat malam Ibu Dokter!" sapa Adam dengan senyum seringai.
"Apa yang membawamu kemari?!" Haleth merapatkan kimono satin yang menutupi gaun tidurnya, dan memajukan kepalanya untuk mengendus bau menyengat yang berasal dari Adam.
"Ugh! Kau habis minum-minum?! Bau alkohol nya kuat sekali!"
"Duh, hanya satu botol! Aku masih sadar, Ibu Dokter!"
"Kalau masih sadar, mau ngapain ke sini?!" selidik Haleth dengan nada tak suka.
"Hei, look," Adam memperlihatkan paper bag yang ia bawa pada Haleth. "Ayo kita minum bersama. Aku bawa Whiskey dari bar tadi."
Haleth reflek saja bersidekap, mundur beberapa langkah dan hendak menutup pintu. "Go home, stupid! Aku tidak minum, dan tidak mau minum denganmu!"
"Haleth, wait!" Adam menahan pintu yang Haleth tutup menggunakan kakinya, membuka pintu itu kembali membuat Haleth mendecak.
"Aku sudah bilang, aku tidak akan minum,"
"Listen," potong Adam pelan. "Just, one time. C'mon,"
"Jangan konyol Adam! Aku tidak bisa minum yang seperti itu!" Haleth bersikeras menolak.
"Apa seteguk saja membuatmu tak sadarkan diri?" Adam menatap wanita di hadapannya itu dalam-dalam, benar-benar berharap Haleth mengiyakan ajakannya.
"C'mon. I feel so depressed, and I need you so bad!"
Haleth menghela nafasnya. "Pulanglah Adam! Aku masih baik terhadapmu!"
"No! Please! Untuk kali ini saja!"
"Aku besok harus ke rumah sakit pagi-pagi! Jangan mengada-ada kamu! Apalagi sampai mengajakku minum!"
"Please," Adam meraih tangan Haleth, dan wanita itu spontan menarik tangannya. Haleth kembali mendecak, yang kemudian secara terpaksa mempersilahkan Adam masuk.
"Sial! Segeralah pergi setelah kau puas minum!" gerutu Haleth sambil berjalan mendahului Adam yang tersenyum lebar.