My Ex Husband

My Ex Husband
Lelah.



...•••••...


Suara tawa Balqis terus terdengar, gadis kecil itu terlihat bersemangat, berlarian kesana kemari bersama David di halaman Villa are resort yang mereka sewa.


Sementara Anna, prempuan itu duduk di bangku, melihat pemandangan yang baru pertama kali ia lihat.


"Papa cape!" David menghempaskan punggungnya di atas rumput.


"Yah! ... Papah payah!" gadis kecil itu tertawa terbahak-bahak.


"Serius, dada Papa sesak." katanya dengan nafas tersengal-senggal.


"Maaa ... Papanya suruh bangu! aku masih mau main bola." Balqis merengek, kemudian berjalan kearah Anna dengan bola karet di tangan kirinya.


Prempuan itu merentangkan kedua tangannya, lalu memeluk tubuh kecil itu.


"Tunggu dulu, kasian Papanya cape. Dari pagi bawa mobil, Aqis tidur makanya sekarang nggak cape, jadi boleh yah? Papanya istirahat dulu?" Anna menatap wajah Balqis, lalu mengusap keringat yang bercucuran di atas keningnya.


"Tapi aku masih mau main." Balqis mendongak.


"Gimana kalo keliling resort .. di temenin teteh sama mbak Ratmi dan Bu Ningsih?" Anna bertanya.


"Keliling?" Balqis bersemangat.


Anna mengangguk.


"Mau .. mau!" kakinya melompat-lompat.


"Baiklah, biar Mama panggilkan dulu yah?" ucap Anna kemudian bangkit dan segera masuk kedalam Villa.


Suasana di area Villa tampak sedikit sepi, hanya ada beberapa bangunan dengan jarak yang cukup jauh. Namun ini membuat suasana sangat nyaman.


Klek!


Anna masuk, matanya mencari keberadaan para pekerjanya. Samar suara orang berbincang, di selingi canda dan tawa, membuat Anna menoleh kearah pintu belakang.


Anna kembali melangkahkan kakinya, lalu mendekati pintu tersebut.


"Nggak apa-apa, kalo emang cinta kejar terus jangan nyerah!" Ratmi tergelak.


"Ish .. aku nggak mau ah. Nanti om Aip kalo nggak suka aku gimana? ujung-ujung nya malah jauhin aku!"


"Fokus kerja, jangan mikirin cowok!" Bu Ningsih menepuk bahu putrinya.


"Iya Bu, ini aku fokus. Lagian om Aip seleranya mirip-mirip Bu Anna, mana mau sama aku!" katanya sambil tertawa.


Sementara Anna berdiri di ambang pintu, mendengarkan obrolan mereka bertiga.


Tok .. tok ..


Anna mengetuk pintu, sampai ketiga prempuan itu menoleh kearah Anna bersamaan.


"Eh ... ibu!" Sisil langsung bangkit dari duduknya, dia terlihat gugup.


"Tolong temenin Balqis keliling resort boleh yah? Papanya mau istirahat, tapi Aqis tetep keukeuh mau main bola." pinta Anna.


"Kita bertiga?" Ratmi bertanya.


"Iya, siapa tau kalian juga mau melihat-lihat." Anna tersenyum.


"Baiklah, kita jalan-jalan sore." kata Sisil.


"Balqis nungguin di taman depan, saya ke atas dulu." pamit Anna kemudian berlalu begitu saja.


Anna kembali memutar tubuhnya, lalu berjalan menaiki setiap anak tangga dengan perlahan.


"Maksud Sisil apa yah? jangan bilang feeling aku bener, kalo Syaif memang sedikit ada rasa kepadaku!"


"Ah .. tapi tidak mungkin!"


Anna berbicara, sambil terus menaiki tangga.


Sesampainya di kamar utama yang terletak di lantai atas, Anna langsung menutup pintu kamar, lalu berjalan kearah sofa.


Dia duduk, matanya menatap kearah kaca yang terhalang tirai putih. Prempuan itu memperhatikan Balqis, gadis kecil itu terus menggoda sang ayah yang kini masih terlihat berbaring di atas rumput.


"Sebahagia itu kah kamu nak? kamu gadis kecil yang selalu ceria, tapi keadaannya berbeda saat Papa kamu terus berada disisi kita?" Anna bermonolog.


Anna menyandarkan kepalanya, kemudian memejamkan mata saat rasa lelah dan kantuk itu kembali terasa.


Klek!


Pintu kamar utama villa itu terbuka, dan munculah David, pria itu berjalan gontai kearah sofa, dimana Anna terdiam dengan mata terpejam.


David membungkuk, lalu mendekat kearah pipi Anna.


Cup!


"Sayang kamu tidur lagi?" tanya David, kemudian duduk di samping Anna.


"Tidak, aku hanya lelah dan sedikit mengantuk. Tapi tidak tidur kok!" Anna kembali menegakan tubuhnya, seraya membuka mata yang terlihat sedikit sayu.


David meraih tangan Anna, kemudian menariknya agar prempuan itu bersandar di dada bidang miliknya.


"Apa kamu sakit? tidak bisanya kamu jadi pendiam seperti ini!?" David menyentuh kening Anna.


Pria itu tersenyum, mengusap kepala Anna lembut. Entahlah, berada di dekat Anna membua dadanya selalu berdesir, bak dipenuhi ribuan kupu-kupu berterbangan.


"Sayang?" suara David terdengar pelan.


"Iya mas .. kenapa?" dia bangkit, lalu menatap wajah suaminya.


David diam dengan bibir yang terus mengulas senyum.


"Mas lapar? mau makan?" Anna bertanya. "Yasudah, aku bikinin mie atau roti isi mau?" katanya lagi, lalu bangkit.


Tap!


David meraih pergelangan Anna.


"Aku lapar, tapi tidak mau makanan yang itu!" pria itu mendongak menatap Anna dengan raut wajah berbinar.


David kembali menarik tangan Anna pelan, sampai Anna kembali duduk di atas pangkuannya.


"Papa ... aku lelah!" Anna mengusap pipi suaminya kemudian tersenyum.


David diam, seraya menatap lekat prempuan yang duduk diatas pangkuannya.


"Satu ronde?"


"Mas, aku nggak bohong. Aku lelah, badanku terasa lemas, kepala ku pusing .. ngantuk terus lagi!" kata Anna.


David memeluk Anna, kemudian berkata.


"Baiklah, maafkan aku karena sudah membuatmu kelelahan!" suara David lirih.


Anna mengusap punggung David, mendengar perkataan David harusnya dia bahagia, tapi entah kenapa Anna justru merasa tidak enak, bahkan merasa sedikit bersalah.


"Istirahatlah, aku akan kebawah dulu sebentar." David mendorong pinggan Anna, sampai keduanya sedikit berjarak dan bisa menatap wajah satu sama lain.


"Mas marah?" tanya Anna.


David tersenyum, lalu menjawabnya dengan gelengan kepala.


"Tidurlah, aku tidak akan menggangguk mu." David mulai bangkit.


"Kenapa tidak menemaniku? kenapa harus kebawah, Balqis kan sedang jalan-jalan sore bersama Sisil." Anna menahan lengan David.


Pria itu berhenti, dan kembali menoleh.


"Aku takut memaksamu kalau terus berada disini."


David tersenyum, namun rasa kecewa jelas tergurat di wajahnya.


Anna yang melihat perubahan raut wajah David pun mendekat, lalu berjinjit untuk meraih bibir suaminya.


"Baiklah, ayok!" kata Anna setelah melepaskan tautan bibir keduanya.


David diam, lalu menggelengkan kepala.


"Kau lelah, jadi istirahat saja."


"Mas marah?" Anna berkata lirih.


"Tidak, aku hanya pusing." David terkekeh.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan juga? kita masih banyak waktu, melakukannya saat santai itu sepertinya lebih nyaman, dari pada berpacu dengan waktu bukan? aku takut kalau Balqis kembali dengan cepat." Anna tersenyum.


"Jangan marah Paah!" Anna menusuk-nusuk pipi David dengan jemarinya.


"Ahh .. kau memang sangat menggemaskan, tau cara menghilangkan rasa gundah ku!" kata David.


"Papah tidak marah?"


"Sedikit, tapi sudah tidak lagi sekarang." David mencubit, lalu menarik hidung Anna cukup kencang.


"Baiklah, ayok kita kelilingi resort ini. Pemandangannya pasti bangus."


"Tapi berjanjilah!"


"Apa?" Anna menjengit.


"Malam ini kita akan melakukannya," David mengeratkan alisnya keatas dan bawah.


"Baiklah Papa ... ayok!" Anna menarik tangan suaminya, berjalan kearah luar kamar yang berada tepat di lantai dua Villa itu.


...••••••...


Maaf othor telat update, jagoannya othor lagi hepibesdey dulu, jadi agak sibuk gitu!


Tetep, jangan lupa like, komen, hadiahnya juga dongs!


Klik favorite untuk notifikasi update-an setiap eps terbarunya.


Ig. @_anggika15.