My Ex Husband

My Ex Husband
(Like father like daughter)



...•••••••...


Klek!


Pintu kamar mandi terbuka sangat lebar, kemudian keluarlah Anna dari ruangan tersebut, dengan keadaan segar dan dress tidur panjangnya.


Dia menatap kearah tempat tidur, dimana sosok gadis kecil masih sibuk dengan Ipad-nya, meringkuk dengan selimut kecil yang membungkus tubuh Balqis.


"Tidur, Ka ... sudah malam, jangan main iPad terus!" ucap Anna ketika prempuan itu naik keatas tempat tidur, dan menyandarkan punggung di beberapa tumpukan bantal di belakangnya.


"Mau nunggu Papa, .. Maa!" dia menjawab, tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.


"Kenapa harus mainin iPad, belajarlah. Kan sebentar lagi mau sekolah!" tukas Anna seraya mengusap perutnya yang mual membulat.


"Ini Kaka lagi belajar mamski!" katanya lalu menunjukan layar iPad.


Anna terdiam, saat melihat game yang di mainkan Balqis. Tampak beberapa bunga yang harus gadis itu jumlahkan.


"Baiklah, maaf!" Anna mengusap kepala putrinya. " Mama kira lagi main, eh ternyata main sambil belajar yah?" Anna tersenyum.


"Kata Papa Aqis harus jadi Dokter yah?" dia menyimpan benda pipih itu, lalu menatap ibunya.


Anna menggelengkan kepala.


"Tidak juga, Kaka maunya apa .. ya kami dukung!" jelas Anna.


Balqis merangsek lebih mendekat, kemudian berbaring tepat di samping perut Anna dan ikut mengusapnya dengan sangat pelan.


"Tapi kata Papa begitu, biar Aqis bisa bantuin banyak orang yang sakit kanker!"


Anna mengulum bibirnya kuat, lalu ingatannya kembali dimana ia berjuang berdua dengan Marni, walau akhirnya wanita renta itu menyerah dengan keadaannya dan penyakit yang terus menggerogoti.


"Jika mau, kenapa tidak!"


"Tapi Aqis sukanya gambar, bukan suntik orang Ma, Aqis takut darah ... Aqis nggak suka!" gadis itu tampak mengeluh.


Tentu saja, di dalam dirimu mengalir darah seorang pen-disain hebat!


"Like Papa." celetuk Balqis. "Aqis suka kalo liat Papa Gambar di iPhone nya!" lanjut gadis itu.


"Ya, Papa seorang desain interior. Jadi kerjaannya menggambar." Anna berujar, dia menatap Balqis yang terus mengusap-usap perutnya lembut.


"Adik bayi saja yang jadi Dokter yah, Kaka nggak mau." katanya lirih, lalu mencium perut sang ibunda.


Tanpa mereka sadari seseorang terus berdiri di ambang pintu masuk, memperhatikan keduanya dengan raut wajah yang tidak bisa di gambarkan oleh kata-kata.


(Tanpa ekspresi).


"Papa marah tidak kalau Aqis nggak mau jadi Dokter?" Balqis mendongak.


"Mana bisa Papa marah sama kamu, tau sendiri bagaimana nurutnya Papa sama Aqis." Anna mengusap pipi Balqis dengan kedua sudut bibir yang terlihat melengkung.


Klek!


David menutup pintu kamarnya, sampai membuat pandangan dua wanita beda usia teralih kepada dirinya.


"Papa!" ucap Anna dan Balqis bersamaan.


Pria itu tersenyum, berjalan menenteng jas ke arah mereka.


"Hai, kenapa belum tidur?" katanya sembari meletakan jas itu di atas sofa.


"Kok aku nggak tau kamu pulang? tau-tau sudah tutup pintu." raut wajah Anna sumringah.


David tidak menjawab, dia berjalan kearah kamar mandi terlebih dulu, kemudian keluar setelah beberapa detik saat selesai membasuh tangannya.


"Kalian asik mengobrol, sampai Papa masuk tidak ada yang menyadari!" sahut David, pria itu duduk di tepi ranjang, kemudian membungkuk, mencium perut Anna dan wajah Balqis bergantian.


Cup!


Dan ciuman itu berakhir di bibir Anna.


"Papa denger yah aku ngobrol sama Mama?" tatapan mata wajah polos Balqis meneliti netra David.


David tersenyum.


"Jika kamu menjadi Dok ...


"Maas!!" sergah Anna, lalu meraih tangan suaminya untuk ia genggam.


Seketika David mengatupkan mukut, lalu dia menatap Anna.


"Jangan dulu, Balqis masih sangat kecil untuk membicarakan ini!"


"Aku hanya ingin, tidak ada Anna yang lain di luar sana! kau tau, itu terlihat sangat menyakitkan." ucap David lirih.


Anna tersenyum, lalu mengusap pipi David dengan sangat lembut.


"Tapi kamu bilang aku sangat cengeng, dengan ekspresi wajah dingin mu itu!" Anna terkekeh.


David mengehal nafas, dia terlihat memejamkan matanya sesaat.


Seketika Anna tertawa kencang, hingga membuat Balqis kebingung saat memperhatikan sikap kedua orang tuanya.


"Udahlah, mau bobo aja!"


Balqis melepaskan dekapannya, dan segera memposisikan diri senyaman mungkin.


"Tidak mau mengobrol dulu?" David menggoyangkan tubuh kecil Balqis.


"Nggak, ngobrol sama Papah gitu-gitu aja, bosan!" kata Balqis dengan mata yang sudah terpejam.


"Yasudah, Papa ngobrol sama adik saja."


Pria itu langsung berbaring, dan memeluk Anna, meletakan wajahnya tepat di hadapan perut yang sudah sedikit membulat itu.


Gadis kecil itu tidak menjawab, dia sudah benar-benar memejamkan mata dengan nafas sudah teratur.


"Dia benar-benar tidur?" David menengadah, menatap Anna yang sedang tersenyum, juga memberikan sedikit tepukan kecil di bahunya.


"Iya, dia lelah ... seharian ini bermain, sudah itu belajar." jelas Anna.


"Ahh, waktu ku dengan kalian semakin kurang saja. Padahal aku ingin sekali seharian di rumah, menemani kalian dan melakukan banyak hal."


"Biarkan saja, mereka sedang menikmati waktu bersama."


"Apa Sisil sudah memberi kabar kepada dirimu, sayang?" David bertanya.


Anna menggelengkan kepala dengan cepat.


"Tidak, memangnya kenapa?"


"Alvaro menelfon ku tadi!"


"Telfon? telfon untuk apa?"


"Alvaro junior sudah hadir." kata David, dia tersenyum.


"Akhirnya dia sudah benar-benar menerima Sisil, dan melupakan masa lalunya."


Anna terkesiap, dengan mata berbinar.


"Sisil hamil?"


David mengangguk.


"Astaga! Alvaro mempunyai bibit unggul juga yah." Anna tertawa kencang.


"Pelankan suara mu, nanti Kaka bangun! dan dia akan mengomel. Kau tau, aku merasa Balqis agak cerewet dan sedikit galak akhir-akhir ini."


"Ya ... persis dirimu bukan? akan mengomel dan terus marah jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan isi kepala mu!"


"Tidak begitu."


"Tentu saja begitu, kalian ini tidak jauh berbeda."


Akhirnya David mengalah, dan dia memilih diam untuk kemudian kembali menciumi perut Anna.


"Hai ... kamu tim Papa yah! soalnya Mama dan Kaka mu sudah satu tim, jadi bantulah Papa jikalau nanti dua prepuan ini mengomel." seru David.


"Sudah? jika sudah cepatlah mandi, ini sudah malam, aku siapkan makan atau kopi jika kamu mau!"


David mengangguk, dia menjauhkan diri dari Anna.


"Aku sudah makan, jadi makan yang lain saja."


Ucapnya santai, lalu dia bangkit dan segera berjalan kearah pintu kamar mandi, lalu menutup dan menguncinya dari dalam.


"Makan yang lain?" Anna menggelengkan kepala. "Aku takut kalo denger kata-kata itu!" ucapnya pelan.


Anna mulai berbaring, mendekat kearah Balqis dan memberinya ciuman hangat penuh cinta di kening dan pipi Balqis.


"Good night cutiepie."


Anna memandang wajah Balqis sesaat, prepuman itu tersenyum.


"Like Father like daughter!" Anna terkekeh.


Dia berbaring, menarik selimut hingga menutupi bagian teratas tubunya, kemudian dia memejamkan mata.


"Good night Papa, ... bobo duluan yah! aku takut di makan bulat-bulat."


...•••••...


Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah yang banyak ...


Maaf, othor tumbang lagi, nggak tau kenapa gejalanya susah hilang, padahal cuma kaya mau flue :)


Semoga bisa benar-benar pulih ya .. othor kangen up 2-3 bab sehari, apalagi sama komenan kalian, yang bikin mood othor bagus.


~Sayang kalian banyak-banyak~