My Ex Husband

My Ex Husband
Flashback 21.



...••••...


Audi R8 berwarna hitam milik David melesat dengan kecepat tinggi. Membelah jalan raya yang terlihat padat dibeberapa sudut kota.


Perlahan lajunya melamban, ketika lampu merah di perempatan jalan terlihat menyala. David memejamkan matanya sesaat, memijat pelipis yang sudah terasa sangat pening.


"Ini memang pasti terjadi bukan! bahkan jauh sebelum dia kembali aku sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan aneh ini." David bergumam.


Riuh suara kendaraan melaju kembali terdengar, diselingi suara klakson mobil yang meminta David segera melajukan mobil mewah nya yang masih diam.


Dengan cepat pria itu menarik kesadarannya, menginjak pedal gas, kemudian mobil Hitam itu kembali melesat kearah jalan pulang yang selalu ia lewati disetiap harinya.


Dering notifikasi ponsel David berbunyi, lalu pria itu merogoh benda pipih tersebut dari dalam saku jas yang dikenakannya.


"Ada apa Al?" ucap David ketika sudah menempelkan ponselnya di telinga.


—Bapak dimana? bukanya sore ini harus bertemu klien. Mereka ingin segera menerima desain interior yang pernah bapak tawarkan!


"Bisa kamu tangani?" tanya David dengan mata yang terus fokus kearah depan.


—Bisa pak, tapi bukannya mereka meminta bertemu secara langsung dengan bapak!?


"Katakan saja aku ada urusan yang tidak bisa ku tinggalkan, kau tahu Al? sudah beberapa hari ini Anna sakit, dan aku mengkhawatirkan keadaan nya!" David beralasan.


Alvaro diam.


"Atau kau batalkan saja pertemuannya, dan cari hari yang tepat. Besok atau lusa mungkin!" usul David.


—Baik pak, apa anda sekarang di perjalanan pulang?


"Ya, jadi harus ku tutup karena menelfon sambil berkendara itu sangat berbahaya." kata David.


—Emm .. bagaimana dengan Mika pak?


"Saya sudah mengatakan semuanya, kalau bisa tanganilah teman mu itu! aku pria beristri yang tidak mungkin kembali kepadanya."


Alvaro mengangguk, seolah David dapat melihatnya dari kejauhan.


—Baik pak, nanti saya akan membantu berbicara kepada Mika.


"Ya."


Lalu sambungan telfon kedua nya terputus, David kembali fokus mengemudi setelah melemparkan ponsel miliknya ke atas kursi samping kemudi.


Satu jam berlalu, akhirnya mobil mulai menepi. Berhenti tepat di samping gerbang besar rumah milik kedua orang tuanya.


Seseorang yang selalu berjaga didalam pos security tampak bergegas, segera membuka gerbang itu agar David dapat kembali melajukan mobilnya kearah garasi rumah.


"Selamat sore pak?" sapa security itu ketika mobil David melintas tepat dihadapannya.


David mengangguk, lalu menekan klakson sebagain jawaban.


David langsung mematikan mesin mobilnya, membuka seatbelt dan segera menarik handle pintu.


Dia melempar pintu mobil mewah itu sangat kencang, kemudian berlari kearah pintu rumah yang terbuka dengan raut wajah yang terlihat muram.


"Dav! kamu pulang?" Rosa yang sedang duduk di sofa besar ruang keluarga menyapa.


Namun putra semata wayangnya seolah tuli dan tidak dapat melihat keadaan sekitar. Pria itu hanya terus berlari kearah pintu kamarnya yang tertutup sangat rapat.


"Apa terjadi sesuatu!?" Rosa menjengit, ia ikut panik, namun ketika ia akan bangkit, Daniel menahannya.


Rosa menoleh, menatap suaminya penuh tanya.


"Biarkan saja, .. dia sedang takut kehilangan. Bukan karena terjadi sesuatu yang serius kepada putri kita." jelas Daniel.


Rosa menjengit. " Maksudnya apa?" prempuan itu kembali duduk disamping suaminya.


"Aku mendapat kabar dari Rifan, Mika datang ke kantor kita hari ini." ujar Daniel.


"Astaga! terus bagaimana?" mata Rosa membulat sempurna.


"Tidak apa, David tau kemana harus pulang sekarang, dan wanita mana yang pantas untuknya." tukas Daniel, pria itu tersenyum.


"Terus apa hubungannya dengan sikap dia sekarang!?"


"Mungkin David takut Anna tahu, terus marah!" Daniel mengendikan kedua bahunya secara bersamaan.


Klek!


David menekan handle pintu kamar sangat kencang, sampai membuat prempuan yang baru saja keluar dari kamar mandi tersentak kaget.


David menutup pintu kamarnya kembali, kemudian berjalan cepat kearah istrinya yang masih berbalut kan handuk di tubuh semampai itu.


"Mas, kamu ...


Belum selesai Anna berbicara, David langsung memeluk tubuh Anna sangat erat.


"Mas kamu tidak apa-apa kan?"


David diam.


"Mas, kamu kenapa?" Anna menepuk lengan David.


"Sayang, aku merindukan mu!" Davis berkata dengan suara lirih.


"Hem?" Anna mengerutkan Dahi, prempuan itu sedikit bingung dengan perubahan sikap David sore hari ini.


"Kamu sakit?" Anna menempelkan punggung tangannya di kening David. "Tidak panas!" Anna bergumam.


"Aku hanya rindu!" pria itu tersenyum, kemudian segera menarik Anna agar prempuan itu kembali dalam dekapan nya.


Namun dengan cepat Anna mundur, sedikit menjauh dari David.


"Sayang .. kenapa?" David merengek.


"Aku belum pake baju, mas!" cicit Anna, prempuan itu langsung membuka lemari pakaian di sampingnya.


David tersenyum, kemudian ia beranjak ke arah sofa, duduk sambil terus melihat Anna yang tengah berpakaian di hadapannya Tampa tahu malu.


Pandangan David terus tertuju kepada Anna, hingga bibirnya terus tersenyum ketika Dadanya mulai terasa lebih lega dari pada sebelumnya.


"Mas tumben sudah pulang!?" Anna berjalan kearahnya.


"Aku rindu kamu!" ucapnya sambil menggelengkan kepala, kemudian tertawa. "Sini!" David menepuk pahanya.


Anna terhenyak.


"Aku belum selesai, mungkin satu atau dua hari lagi." pipinya merona.


"Aku hanya ingin memeluk mu!" katanya, lalu meraih tangan Anna dan menuntunnya hingga prempuan itu duduk di pangkuannya.


Tangan kekar itu menelusup diantara celah lengan dan pinggang Anna, kembali memeluknya erat lalu meletakan kepalanya di ceruk leher Anna yang masih menyisakan bau sabun mandi.


"Apa mas tidak enak badan? atau bagaimana?" suara Anna terdengar sangat lembut.


"Aku lapar, sekaligus merindukan mu."


"Mau makan? biar aku ambilkan." Anna bertanya sambil terus mengusap kepala suaminya pelan.


"Aku mau makan masakan mu!"


"Apa? sup daging kah!?"


David menggelengkan kepala.


"Boleh bikinin roti isi telur mata sapi, terus dikasih saus mayo? seperti yang pernah kamu buatkan beberapa waktu lalu!"


Cup!


Anna mencium kening David, lalu tersenyum.


"Kamu aneh, kamu manja, dan kamu tampan!" ucap Anna lalu tertawa.


"Kamu yang mengubah ku menjadi pria dewasa yang manja." David pun ikut tersenyum.


"Baiklah, aku buatkan duku!"


"Tunggu dulu." David menahan pinggang Anna yang akan segera bangkit dari pangkuannya.


"Apalagi?"


"Mau sun boleh?" David berbisik.


"Tadi sudah!"


"Kurang, masih ada pipi dan bibir yang belum mendapatkannya." kata David.


"Aku tidak mau!" sergah Anna.


"Ayolah, kumohon!"


"Nonono!"


Seketika raut wajah pria dihadapannya berubah menjadi masam.


"Hemm, .. pergilah!" Davi mengalihkan pandangannya, sementara Anna hanya terkikit pelan.


Cup!


Cup!


Cup!


"Jangan marah!" ledek Anna dengan telunjuk yang menusuk-nusuk pipi David.


"Aku buat rosi isi nya dulu, mandilah agar kamu semakin tampan, dan membuat ku semakin mencintai mu, oh suamiku!" Anna merancau, lalu bangkit dan segera berjalan ke arah luar.


"Hadeuh!" David menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa. " Dia memang selalu menggemaskan." ucapnya seraya menahan senyum.


"Oh astaga, aku sudah gila. Pikiran ku sekarang dipenuhi Anna, kerjaan ku saja kalah!" David kembali berbicara, lalu menutup wajahnya dengan telapak tangan ketika merasa malu.


Iya malu sama readers, tadi panik sekarang senyam-senyum😒


...••••...


Seperti biasa! tong poho alias Don't forget untuk like, komen, hadiah, dan votenya. Klik favorite juga agar tidak tertinggal di setiap eps terbaru yang update.


...Instagram: @_anggika15...


~Cuyung kalian readers ku~