My Ex Husband

My Ex Husband
Iris Dan Masa Lalu



Pertemuan tanpa sengaja itu berakhir mengopi bersama. Adam dan Iris tampak begitu akrab, seperti teman yang sudah lama tidak bertemu, memang iya. Terlihat dari bagaimana Iris mendominasi percakapan, meskipun Adam hanya merespon seadanya dengan tangan bersidekap.


Permintaan Iris untuk meminum kopi bersama Adam di ruangan yang lebih privat dituruti oleh pria bermarga Legrand tersebut. Selain mengantisipasi ada paparazi yang mengenali, memilih ruangan VIP bisa membuat Adam dan Iris leluasa membicarakan banyak hal.


"Aku melihatmu tadi bersama Haleth. Sepertinya hubungan kalian mulai membaik." terdengar nada mengejek dari ucapan Iris.


Adam hela nafasnya perlahan, lantas sesap americano yang tersisa setengah itu. Dilihat dari segi manapun, sosok Iris masih seperti Iris yang dulu. Menyebalkan, dengan mulut yang asal jika berbicara. Adam yakin itu. Terlebih saat wanita berwajah culas itu tersenyum, Adam sudah bisa merasakan hawa tidak enak disekelilingnya.


"Jangan bertingkah lagi, Iris." tak ayal Adam selalu memperingatinya. Bahkan jika boleh jujur, Adam itu sudah lelah dengan tingkah Iris yang tidak berubah sadari dulu.


"Mengapa khawatir sekali?"


Kedua bola mata kecoklatan itu berotasi. Tentu saja Adam khawatir, segala ditanya. Apa Iris tidak ingat, peristiwa masa lalu yang menghancurkan bahtera rumah tangga Adam dengan Haleth?


"Haleth memberimu kesempatan?" Iris kembali lontarkan pertanyaan yang terdengar mengesalkan.


"Bukan urusanmu ah. Aku sudah memperingati mu ya, jangan bertingkah lagi seperti dulu. Kalau tidak,"


"Apa?" alis Iris terangkat menantang. Senyum miringnya tercetak, seolah beritahu Adam bahwa dirinya bukan seorang wanita yang gampang dikalahkan, bahkan oleh sebuah ancaman.


"Ayo bilang. Kalau tidak, apa? Kau mau membuang ku ke Taiwan lagi, lalu memblokir akses ku untuk pergi ke luar negeri?"


Adam hanya perhatikan Iris seraya mengusap dagunya bosan.


"Duh, itu kekanakan sekali, Adam. Kau tau aku ini tipe wanita yang gampang bosan jika di rumah terus-terusan! Butuh refreshing kemana-mana!" Iris luapkan protesan nya. Namun melihat Adam yang hanya beri respon dengusan, sontak buat Iris dongkol.


"Kurang ajar! Aku ini publik figur tau! Aku banyak job, bahkan sampai harus keliling dunia! Mengingat saat kau memblokir akses ku ke luar negeri dulu, ugh rasanya kesal sekali! Aku kehilangan jutaan dollar, bahkan waktu liburan ku yang berharga!"


"Salahmu sendiri?"


"Hello? Kau yang mulai?! Tidak sadar diri dasar!"


"Iris,"


"Ck, sudahlah. Kau ini selalu menekanku tiap bertemu. Menyinggung terus masa lalu seolah-olah semuanya salahku. Kau itu seorang pria bukan sih? Tinggal mengakui,"


"Memangnya mengakui apa?"


Wajah Iris mematung tak percaya. Bahkan setelah semuanya berlalu begitu lama, sosok pria yang dulu pernah mengisi hatinya itu masih tetap menjadi pria egois yang Iris kenal.


Yang ditanya lagi-lagi hanya rotasi bola mata, persis seperti Haleth jika sudah malas menjawab.


Namun berbicara tentang Haleth, Adam akhirnya tersadar bahwa dirinya berjanji pada dirinya sendiri untuk membawakan wanita itu makanan. Mengapa jadi terjebak dengan wanita licik ini di Coffee Shop? Akhirnya, Adam kembali minum americano nya hingga tersisa sedikit. Ia raih kunci mobilnya, lantas beranjak tarik tatapan tanda tanya Iris.


"Kemana?"


"Pulang."


"Kau tidak mau mengantarku ke hotel?!"


"Maybe next time. Bye,"


Tak beranjak, Iris tatap kesal ke arah pintu ruangan VIP yang baru saja tertutup.


"Sinting,"


...***...


Pertemuan tak terduga dengan Iris memang sebenarnya bukanlah hal yang mengejutkan. Di berbagai tempat pun, saat Adam jalani pekerjaannya, dia bisa saja bertemu dengan Iris yang tengah ambil job atau hanya sekedar liburan.


Jika ditanya hubungan mereka baik atau tidak, jawabannya adalah baik sekali. Mereka itu sudah seperti sahabat yang tidak dapat dipisahkan. Namun begitu. Ketika bertemu, keduanya tak akan mengalah untuk saling menyalahkan perihal masa lalu. Padahal semuanya sudah berlalu dari beberapa tahun lalu.


Peristiwa dulu menjadi rumit karena sebuah keisengan dan kebosanan sosok Iris sebagai publik figur. Hidupnya datar karena Iris hanya melakoni pekerjaannya, liburan, lalu pulang. Begitu-begitu saja tanpa ada sesuatu yang spesial.


Sampai suatu waktu Iris dipertemukan dengan Adam di sebuah lounge, di sebuah acara formal milik teman Adam. Mereka yang sebelumnya hanya saling mengenal, mulai menunjukkan ketertarikan satu sama lain. Mulai dari minum bersama, makan malam, bahkan diam-diam berkencan. Semuanya berlangsung cukup lama, tanpa sepengetahuan Haleth tentunya. Dan semuanya cukup aman, karena Iris yang notabene adalah seorang publik figur, pintar mengamankan diri dari paparazi yang berkeliaran.


Namun sayang sekali itu semua tak berlangsung lama. Tidak ingin berada di hubungan yang gelap seperti itu, Iris sukses buat dirinya tersandung skandal. Sulit dipercaya jika orang-orang tau kebenarannya, bahwa Iris melakukannya dengan sengaja. Dan dalam satu malam, artikel tentang hubungan Iris dengan Adam menjadi trending topik di sosial media.


Tentu hal yang membuat geger sampai di beberapa Negara itu sempat membuat Haleth khawatir. Pasalnya, banyak media yang tidak tau, bahwa Adam sudah menikah dengan Haleth. Maka saat itu, Haleth hanya bisa menunggu konferensi pers dari pihak Iris, dan juga klarifikasi Adam mengenai berita tersebut. Berharap bahwa itu hanya skandal, dan tidak benar adanya. Namun sampai beberapa hari menunggu, Haleth tak mendapatkan apapun. Kedua pihak yang bersangkutan pun masih tutup mulut, yang akhirnya makin membuat Haleth kalut. Lantas ingin memastikan sendiri, Haleth pun nekat menemui Adam di kantornya. Itu karena Adam sudah jarang menginjakkan kaki di rumah, bahkan telepon pun sangat sulit untuk dihubungi.


Alih-alih mendapat sambutan dari sang suami, Haleth justru disuguhi pemandangan di mana suaminya tengah mencumbu seorang wanita yang tengah terseret skandal bernama Iris itu. Dan saat itu Haleth paham, mengapa kedua belah pihak yang bersangkutan itu tidak pernah menyangkal berita yang beredar maupun memberi klarifikasi. Bahkan tak lama setelah itu, kembali beredar berita bahwa Adam membawa Iris ke sebuah pesta pernikahan temannya. Yang pada akhirnya hal itu semakin membuat Haleth yakin untuk meninggalkan Adam. Tak peduli Haleth tengah hamil sekalipun.


Haleth jalani hidup nya jauh dari koneksi keluarga Legrand. Haleth fokuskan diri untuk menimba ilmu dan berkarir, sambil menanti buah hatinya lahir. Namun ternyata itu semua tak semudah yang Haleth pikir. Setelah kelahiran Tasha, Haleth pontang-panting. Sulit membagi waktu untuk mencari uang, melanjutkan pendidikannya, dan menjaga Tasha. Meski saat itu Emery selalu di samping Haleth, entah mengapa itu sama sekali tidak membantu meredakan kedepresiannya kala itu.


Jika dipikir-pikir, sosok Adam di masa lalu memang pantas untuk ditinggalkan. Tak menyesal Haleth melangkah untuk pergi, daripada harus bertahan di antara perselingkuhan Adam dengan sang publik figur pujaan semua orang.